_________
Banyak tokoh suci dan pendiri tradisi besar seperti Muhammad, Isa, Musa, Ibrahim, hingga Buddha, mereka hidup pada masa ketika pengetahuan anatomi manusia masih sangat terbatas. Mereka belum mengenal konsep otak sebagai pusat kognisi, emosi, dan kesadaran sebagaimana yang dipahami dalam sains.
Yang mereka miliki hanyalah pengalaman batin, seperti rasa sedih, takut, cinta, tenang, dan gelisah, pengalaman yang secara intuitif terasa di dada. Dari pengalaman subjektif inilah lahir gagasan bahwa hati (qalb/heart/citta) adalah pusat pemahaman, moralitas, iman, dan kesadaran. Postingan ini ingin menunjukkan bahwa gagasan tersebut bukanlah kebenaran spiritual, melainkan refleksi dari keterbatasan pengetahuan biologis manusia kuno.
Dalam Al-Qur’an, pemahaman dan perasaan secara eksplisit dilekatkan pada hati, bukan otak. Ini bukan bahasa simbolik, melainkan pemahaman literal pada zamannya. Ada beberapa ayat Al-Quran yang menggunakan hati sebagai pemahaman.
Contohnya :
"Mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami…"
"Bukan mata yang buta, tetapi hati yang di dalam dada.."
"Dan sebutlah nama Tuhanmu dalam Hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut..." QS. Al-a'raf : 205.
Ayat-ayat ini dengan jelas menunjukkan bahwa pemahaman, penilaian, dan kesadaran dianggap sebagai fungsi hati. Tidak ada satu pun ayat yang secara eksplisit mengatakan bahwa manusia berpikir dengan otak yang berada di dalam tempurung kepalanya.
Dan justru, sampai detik inipun kalian masih sering menggunakan kalimat "dalam hati saya mengatakan..."
Ini bukti bahwa akal yang seharusnya menjadi fungsi otak, dipahami sebagai fungsi Hati/qalb.
Begitupun dalam tradisi Kristen dan Yahudi. Dalam Alkitab, heart adalah pusat pikiran, kehendak, iman, dan moral :
Matius 9:4
"Tetapi Yesus mengetahui pikiran mereka, lalu berkata : Mengapa kamu memikirkan hal-hal jahat di dalam hatimu?"
Markus 2:6–8
"…ahli-ahli Taurat berkata dalam hati mereka : Mengapa orang ini berkata demikian?"
Matius 5:28
"…setiap orang yang memandang perempuan serta menginginkannya, sudah berzina dengan dia di dalam hatinya.."
Lukas 21:14
"Sebab itu, tetapkanlah di dalam hatimu untuk tidak memikirkan pembelaanmu terlebih dahulu.."
Lukas 24:25
"Hai kamu orang bodoh, betapa lambannya hatimu untuk percaya…"
Matius 15:19
"Karena dari hati timbul segala pikiran jahat…"
Semua ayat tersebut menjelaskan bahwa pemikiran itu adanya dihati. Bahkan kalian sendiri pun sering menggunakan kata-kata gombal, bahwa "namamu terukir dihatiku selamanya.."
Atau misalnya, "dihatiku hanya ada kamu seorang.."
Ini menunjukan bahwa perasaan dan pemahaman, pusatnya di Hati.
Namun secara biologis, hati bukanlah pusat perasaan atau pemahaman. Hati adalah organ metabolik yang berfungsi mengolah zat kimia, menyaring racun, dan mengatur energi. Ia tidak berpikir, tidak merasa, dan tidak mengambil keputusan. Yang bekerja adalah otak, sistem saraf, neurotransmiter, hormon, dan sinyal listrik. Hanya saja bagi manusia kuno, otak adalah organ yang tidak terasa, tidak berdenyut, tidak "berbicara" langsung ke kesadaran.
Sedangkan jantung terasa nyata, ia berdebar saat takut/jatuh cinta, terasa sesak saat sedih, tenang saat bahagia. Maka manusia purba menyimpulkan secara intuitif bahwa
"Yang terasa, itulah yang berpikir..."
Inilah sebabnya hati dianggap sebagai pusat kesadaran.
Dalam Buddhisme awal, kesadaran juga dipahami sebagai citta (batin), bukan sebagai fungsi organ fisik tertentu. Ia juga tidak pernah dikaitkan dengan otak. Ini bukan karena spiritualitas itu benar secara biologis, melainkan karena pengetahuan anatomi masih terbatas, dan masih berbasis pengalaman subjektif tubuh, yang kemudian dipetakan kedalam konsep chakra, banyak di antaranya terpusat di dada. Sama seperti film anime Naruto.
Dan kekeliruan ini juga tidak hanya terjadi dalam agama, tetapi juga dalam filsafat, dimana Aristoteles menyatakan bahwa :" jantung adalah pusat pikiran, perasaan, dan kehidupan. Sedangkan otak hanya berfungsi untuk mendinginkan darah dan mengatur suhu tubuh.
Alasannya, karna jantung terasa aktif saat emosi, sedangkan otak dingin dan tidak terasa. Ini adalah kesimpulan berbasis intuisi tubuh, bukan eksperimen biologis.
Sedangkan bagi Plato, otak adalah “singgasana jiwa”, bersifat metafisik. Idea ataupun imajinasi bersifat bawaan dan independen dari pengalaman empiris padahal idea itu membutuhkan pengalaman empiris, jika anda buta sejak lahir, anda tidak akan tahu apa itu gelap. Anda harus melihat terlebih dahulu untuk tahu maksud dari gelap. Sehingga, tanpa pengalaman empiris, seseorang tidak akan memiliki layar mental, ia tidak bisa membayangkan apapun.
Namun ironisnya, jauh sebelum Plato dan Aristoteles, Hippocrates (460–370 SM) sudah menyatakan dalam On the Sacred Disease, bahwa :"Manusia berpikir, merasakan, dan memahami dengan otaknya..."
Namun pandangan ini ditolak keras oleh masyarakat saat itu. Mengapa? Karena masyarakat menganggap bahwa :"mereka tidak merasakan otak dibagian kepalanya.."
Sehingga perkataan Hypocrates ini ditentang oleh intuisi masyarakat yang saat itu masih merasakan emosi didada. Misalnya, seperti jantung berdebar saat takut, sesak saat sedih, tenang saat bahagia.
Makanya kalo anda sedang sedih atau sedang berduka cita, anda suka elus-elus dada. Atau saat anda sedang memohon kepada Tuhan, anda suka mengepalkan kedua tangan dibagian dada. Atau misalnya saat anda sedang bersabar atau menahan emosi, suka menempatkan tangan didada. Ini adalah cerminan refleksi orang-orang terdahulu
Sedangkan otak, tidak terasa apa-apa, tidak berdenyut, tidak "berbicara" ke kesadaran langsung. sehingga manusia kuno menyimpulkan bahwa :" yang terasa itulah yang berpikir.."
Saya tahu ini lucu. Kita merasa bahwa fikiran kita ada dikepala, karna sudah ada Sains, sehingga sudah tampak umum bagi kita. Tapi kalo anda hidup dijaman Yunani, Roma, Yahudi, Arab, dlsb di zaman penulisan kitab suci, anda juga gak akan percaya bahwa fikiran itu adanya didalam tempurung kepala. Justru anda akan menganggap bahwa fikiran, kesadaran, dan perasaan terletak di dada (hati/qalb) sebagaimana pemahaman masyarakat saat itu.
Jadi, Hippocrates itu pada dasarnya benar, hanya saja masyarakatnya saat itu belum siap menerimanya. Saya bisa memahami bagaimana rasanya hidup ditengah masyarakat yang belum memiliki pengetahuan yang cukup maju. Sehingga wajar jika masyarakat saat itu gak tau tentang otak. Karna anda pun kalo sejak lahir tidak pernah mengenal ilmu pengetahuan, saya yakin pemikiran anda sama seperti manusia kuno lainnya.
Apalagi dijaman dulu pembedahan mayat itu masih tabu. Sehingga mereka gak tau ada apa dibalik tempurung kepala mereka. Saya yakin, kalo saat ini hape dan internet belum ada, anda pun gak akan tau gambar otak itu kayak apa. Karna jika pun anda penasaran, gak mungkin anda sampe rela gali mayat dikuburan, hanya demi menjawab rasa penasaran ada apa dibalik tempurung kepala manusia.
Namun yang ironis. Ada beberapa dari mereka yang hingga sampai detik ini masih menganggap bahwa perasaan itu adanya di dada. Entah karna refleks sudah kebiasaan menyebut hati sebagai perasan, atau memang ia sadar sedang menolak sains, sebagaimana orang-orang yang masih meyakini bumi ini datar.
Yang jelas, beberapa dari mereka menolak fakta, bukan karena kurang bukti sains, tetapi karena mereka lebih nyaman memeluk warisan lama daripada menerima koreksi pengetahuan. Terlihat jelas, bagaimana kita atau agama saat ini, menolak pengetahuan medis tentang LGBT, perkara penolakan transfusi darah, perkara penolakan transplantasi oragan, pengguguran kehamilan oleh karena alasan medis, haram dan halal makanan, dlsb oleh karena apa yang tertulis di kitab suci tidak dilihat konteks teks penulisan zamannya, latar belakang penulisan pada zamannya, karakter penulisnya pada zamannya, peristiwa berpengaruh pada zaman penulisan, dlsb.
(05012026)(TUS)