𝗕𝘂𝗸𝗮𝗻 𝗞𝗲𝗷𝗮𝗽
PENGANTAR
Di tengah situasi kehidupan yang penuh dengan ketidakpastian yang bisa menumbuhkan ketakutan, lawatan Allah bukanlah sekadar peristiwa spektakuler. Lawatan-Nya ada dalam tindakan kasih yang lembut, namun menggetarkan, menyapu habis
ketakutan umat. Lawatan-Nya mengarahkan kita pada kepercayaan, keberanian, dan partisipasi dalam karya keadilan dan pendamaian Allah.
Baptisan Yesus bukan hanya tanda awal pelayanan-Nya, namun juga pengumuman publik dari surga bahwa Allah hadir dan bekerja. Baptisan ini adalah momen ilahi yang mengonfirmasi: "Inilah
Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan". Dalam
Kristus, Allah melawat dan mengusir ketakutan dengan kasih dan kuasa-Nya. Ada yang menarik dalam bacaan untuk hari raya Epifani hari ini, 6 Januari, yang diambil dari Injil Matius 2:1-12. Petulis Injil Matius menolak pendapat atau nubuat Nabi Mikha.
• Mikha 5:1 “𝘛𝘦𝘵𝘢𝘱𝘪 𝘦𝘯𝘨𝘬𝘢𝘶, 𝘩𝘢𝘪 𝘉𝘦𝘵𝘭𝘦𝘩𝘦𝘮 𝘌𝘧𝘳𝘢𝘵𝘢, 𝘩𝘢𝘪 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙩𝙚𝙧𝙠𝙚𝙘𝙞𝙡 𝘥𝘪 𝘢𝘯𝘵𝘢𝘳𝘢 𝘬𝘢𝘶𝘮-𝘬𝘢𝘶𝘮 𝘠𝘦𝘩𝘶𝘥𝘢, 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘢𝘯𝘵𝘢𝘳𝘢𝘮𝘶 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘣𝘢𝘯𝘨𝘬𝘪𝘵 𝘣𝘢𝘨𝘪-𝘒𝘶 𝙨𝙚𝙤𝙧𝙖𝙣𝙜 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙖𝙠𝙖𝙣 𝙢𝙚𝙢𝙚𝙧𝙞𝙣𝙩𝙖𝙝 𝙄𝙨𝙧𝙖𝙚𝙡, 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘢𝘴𝘢𝘭𝘯𝘺𝘢 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘴𝘦𝘫𝘢𝘬 𝘥𝘢𝘩𝘶𝘭𝘶, 𝘴𝘦𝘫𝘢𝘬 𝘻𝘢𝘮𝘢𝘯 𝘥𝘢𝘩𝘶𝘭𝘶.”
• Matius 2:6 “𝘋𝘢𝘯 𝘦𝘯𝘨𝘬𝘢𝘶 𝘉𝘦𝘵𝘭𝘦𝘩𝘦𝘮, 𝘵𝘢𝘯𝘢𝘩 𝘠𝘦𝘩𝘶𝘥𝘢, 𝙚𝙣𝙜𝙠𝙖𝙪 𝙨𝙚𝙠𝙖𝙡𝙞-𝙠𝙖𝙡𝙞 𝙗𝙪𝙠𝙖𝙣𝙡𝙖𝙝 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙩𝙚𝙧𝙠𝙚𝙘𝙞𝙡 𝘥𝘪 𝘢𝘯𝘵𝘢𝘳𝘢 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘮𝘦𝘳𝘪𝘯𝘵𝘢𝘩 𝘠𝘦𝘩𝘶𝘥𝘢, 𝘬𝘢𝘳𝘦𝘯𝘢 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘦𝘯𝘨𝘬𝘢𝘶𝘭𝘢𝘩 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘣𝘢𝘯𝘨𝘬𝘪𝘵 𝘴𝘦𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘱𝘦𝘮𝘪𝘮𝘱𝘪𝘯, 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙖𝙠𝙖𝙣 𝙢𝙚𝙣𝙜𝙜𝙚𝙢𝙗𝙖𝙡𝙖𝙠𝙖𝙣 𝙪𝙢𝙖𝙩-𝙆𝙪 𝙄𝙨𝙧𝙖𝙚𝙡."
Matius menolak pendapat atau nubuat Nabi Mikha bahwa Betlehem adalah 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘦𝘳𝘬𝘦𝘤𝘪𝘭 sehingga Matius mengubahnya menjadi 𝘴𝘦𝘬𝘢𝘭𝘪-𝘬𝘢𝘭𝘪 𝘣𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘦𝘳𝘬𝘦𝘤𝘪𝘭. Kata 𝘣𝘶𝘬𝘢𝘯 tentunya mengubah makna 180 derajat.
PEMAHAMAN
6 Januari, umat Kristen (Gereja Barat) merayakan Hari Epifani, Hari Penampakan Tuhan atau 𝘌𝘱𝘪𝘱𝘩𝘢𝘯𝘺 𝘰𝘧 𝘵𝘩𝘦 𝘓𝘰𝘳𝘥, sedang Umat Kristen Mesir atau Gereja Timur merayakan Hari Natal.
Menurut tradisi Gereja Barat Epifani dipahami sebagai saat-saat kunjungan orang-orang majus menjumpai Yesus atau penampakan Tuhan kepada bangsa-bangsa bukan-Yahudi (𝘨𝘦𝘯𝘵𝘪𝘭𝘦𝘴). Menurut tradisi Gereja Timur Epifani dipahami saat Pembaptisan Yesus (𝘉𝘢𝘱𝘵𝘪𝘴𝘮 𝘰𝘧 𝘵𝘩𝘦 𝘓𝘰𝘳𝘥) yang dimaknai sebagai penampakan Tuhan kepada publik atau penyataan Allah kepada dunia.
Minggu ini adalah Minggu pertama sesudah Epifani,11012026. Kalau anda masih ingat topik Sudut Pandang edisi Minggu II Adven (4 Desember 2022) pembacaan diambil dari Injil Matius 3:1-12. Perikop (𝘱𝘢𝘴𝘴𝘢𝘨𝘦) itu menampilkan kiprah Yohanes Pembaptis di padang gurun Yudea. Bacaan Minggu ini meneruskan perikop itu, yaitu Matius 3:13-17 yang didahului dengan Yesaya 42:1-9, Mazmur 29, dan Kisah Para Rasul
10:34-43.
LAI memberi judul perikop bacaan Minggu ini 𝘠𝘦𝘴𝘶𝘴 𝘥𝘪𝘣𝘢𝘱𝘵𝘪𝘴 𝘠𝘰𝘩𝘢𝘯𝘦𝘴. Minggu ini juga dikenal sebagai Minggu Pembaptisan Yesus (𝘉𝘢𝘱𝘵𝘪𝘴𝘮 𝘰𝘧 𝘵𝘩𝘦 𝘓𝘰𝘳𝘥). Kutipan dari Alkitab LAI TB II (1997).
𝟯:𝟭𝟯 Kemudian datanglah Yesus dari Galilea ke Yordan kepada Yohanes untuk dibaptis olehnya.
𝟯:𝟭𝟰 Tetapi Yohanes mencegah Dia, katanya, "Akulah yang perlu dibaptis oleh-Mu, namun Engkau yang datang kepadaku?"
𝟯:𝟭𝟱 Lalu jawab Yesus kepadanya, "Biarlah hal itu terjadi sekarang, karena demikianlah sepatutnya kita menggenapkan seluruh kehendak Allah." Yohanes pun menuruti-Nya.
𝟯:𝟭𝟲 Sesudah dibaptis, Yesus segera keluar dari air dan pada waktu itu juga langit terbuka dan Ia melihat Roh Allah seperti burung merpati turun ke atas-Nya,
𝟯:𝟭𝟳 lalu terdengarlah suara dari surga yang mengatakan, "Inilah Anak-Ku yang terkasih, kepada-Nyalah Aku berkenan."
Pengarang Injil Matius menulis pasal 1 - 2 menggunakan sumbernya sendiri atau Sumber M, sedang perikop bacaan Minggu ini ia menggunakan Sumber Markus. Di Injil Markus kisah pembaptisan Yesus hanya diceritakan singkat saja (tiga ayat), sedang Matius menambahnya menjadi lima ayat.
Penekanan bukan pada peristiwa pembaptisan itu pada dirinya, melainkan turunnya Roh Allah dan suara Allah dari surga. Kisah pembaptisan Yesus lebih merupakan refleksi teologis ketimbang suatu laporan jurnalistis historis mengenai bagaimana Yesus dibaptis. Dalam bentuk cerita refleksi teologis itu diperikan (𝘥𝘦𝘴𝘤𝘳𝘪𝘣𝘦𝘥) seolah-olah terjadi secara fisik dengan menggunakan dunia bahasa yang dikenal pada masa itu.
Langit atau Surga adalah metafora tempat kediaman Allah sehingga sebelum Roh Allah turun dari Surga, 𝘭𝘢𝘯𝘨𝘪𝘵 𝘵𝘦𝘳𝘣𝘶𝘬𝘢 lebih dahulu. Saat turun dari langit atau Surga, Roh Allah itu diperikan seperti 𝘣𝘶𝘳𝘶𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘳𝘱𝘢𝘵𝘪 yang memiliki sayap untuk terbang. Suara Allah dari Surga juga diperikan seperti suara manusia yang dapat didengar telinga manusia. Metafora 𝘴𝘶𝘢𝘳𝘢 𝘈𝘭𝘭𝘢𝘩 sama dengan metafora 𝘈𝘭𝘭𝘢𝘩 𝘣𝘦𝘳𝘧𝘪𝘳𝘮𝘢𝘯 karena keduanya memerikan (𝘥𝘦𝘴𝘤𝘳𝘪𝘣𝘦) Allah seakan-akan bermulut komat-kamit mengeluarkan suara seperti mulut manusia.
Roh Allah turun dan suara Allah terdengar merupakan pemerian (𝘥𝘦𝘴𝘤𝘳𝘪𝘱𝘵𝘪𝘰𝘯) teologis mengenai penyataan (𝘳𝘦𝘷𝘦𝘭𝘢𝘵𝘪𝘰𝘯) Allah atau penampakan Allah (𝘵𝘩𝘦𝘰𝘱𝘩𝘢𝘯𝘺). Kedua pemerian itu tampaknya bersumber dari Septuaginta (lih. Yes. 42:1; 61:1 dan Mzm. 2:7). Roh Allah turun ke atas Yesus dapat dimaknai sebagai pengesahan Allah atas penugasan orang yang sudah dipilih-Nya itu, sebagai pengurapan atas diri Yesus yang adalah Mesias. Turunnya Roh Allah ke atas Yesus juga bisa dimaknai sebagai pengurapan Allah atas diri Yesus. Yesus adalah Mesias, yang diurapi Allah.
Meskipun pengarang Injil Matius banyak merujuk sumber tertentu (Septuaginta dan Injil Markus), belum tentu berarti ia bersetuju dengan sumber rujukannya.
• Pengarang Injil Markus sejalan dengan Mazmur 2:7 bahwa Yesus menjadi Anak Allah ketika dibaptis atau diurapi. “𝘌𝘯𝘨𝘬𝘢𝘶𝘭𝘢𝘩 𝘈𝘯𝘢𝘬-𝘒𝘶 ... 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢-𝘔𝘶𝘭𝘢𝘩 ...” (Mrk. 1:11). Penyataan Allah ditujukan kepada Yesus bahwa pada saat itulah Yesus disebut Anak Allah.
• Pengarang Injil Matius menolak pandangan pemazmur dan Injil Markus. Yesus sudah menjadi Anak Allah sejak dalam kandungan Maria sebab Yesus dikandung dari Roh Allah (Mat. 1:20) dan dikonfirmasi dengan kutipan Hosea 11:1 di Matius 2:15. Dalam Matius 3:17 “𝘐𝘯𝘪𝘭𝘢𝘩 𝘈𝘯𝘢𝘬-𝘒𝘶... 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢-𝘕𝘺𝘢𝘭𝘢𝘩 ...”. Penyataan Allah ditujukan kepada semua yang hadir di pembaptisan Yesus termasuk para pembaca atau pendengar cerita itu di luar dunia cerita. Penyataan Allah sekadar publikasi.
Orang Kristen sejak kanak-kanak tentu sudah mendengar kisah Yesus dibaptis oleh Yohanes. Mengapa Yesus dibaptis? Meskipun ada penjelasan dari penginjil Matius, aneh gak sih?
Matius sudah memberi kesan kepada pembacanya bahwa baptisan Yohanes itu merupakan tanda pertobatan (Mat. 3:1-8). Matius juga menegaskan bahwa Yesus jauh lebih mulia daripada Yohanes. Jangankan membaptis Yesus, menjadi budak Yesus pun Yohanes tidak layak karena Yesus akan membaptis dengan Roh Kudus dan api, sedang Yohanes hanya dengan air (Mat. 9-12).
Di luar dunia cerita jemaat Matius tampaknya menghadapi persoalan dengan murid-murid Yohanes. Ada konflik dan perpecahan di antara kedua kelompok itu. Jemaat Matius menyembah dan mengagungkan Yesus lebih daripada Yohanes. Akan tetapi faktanya Yesus pernah dibaptis Yohanes dan sangat bolehjadi Yesus pernah menjadi murid Yohanes.
Penginjil Matius harus menjernihkan dan meluruskan ini. Matius membuat langkah cerdas dengan membuat dialog antara Yesus dan Yohanes sebelum pembaptisan. Dengan demikian diharapkan jemaat Matius legawa menerima fakta Yesus dibaptis oleh Yohanes sekaligus tetap memuliakan Yesus.
Dalam awal bacaan Injil Minggu ini Matius mengungkapkan bahwa inisiatif pembaptisan datang dari Yesus sendiri, meskipun Yohanes mencegahnya karena Yohanes merasa tak layak. Alasan Yesus adalah pembaptisan itu harus dilakukan karena hal itu menggenapkan seluruh kehendak Allah. Yohanes menuruti Yesus.
Apa itu menggenapkan seluruh kehendak Allah? Tidak ada penjelasan dari Matius. Jemaat Matius bagian terbesar dari kalangan Yahudi yang sudah sangat mengenal kitab suci Yahudi (PL). Tampaknya Matius mencerap mereka sudah tahu sehingga bagi Matius itu sudah cukup. “Yohanes sudah menuruti apa kata Yesus, kamu menuruti juga apa kata Yesus.” begitu kira-kira kata Matius.
Tentu pembaca Indonesia masa kini, yang tulisan Injil bukan ditujukan kepada mereka, boleh-boleh saja menafsir apa yang dimaksud menggenapkan seluruh kehendak Allah selama tafsir itu dapat dipertanggungjawabkan. Satu ciri tafsir yang dapat dipertanggungjawabkan adalah setia pada cerita atau teks, yang dalam hal ini narasi Injil Matius.
Nabi Yesaya sudah menubuatkan Yohanes akan menyiapkan jalan bagi Tuhan (Mat. 3:3). Dengan begitu kehadiran Yohanes memang sudah direncanakan atau dikehendaki Allah. Dalam kronologi rencana yang dikehendaki Allah itu Yohanes datang lebih dahulu untuk menyiapkan Yesus yang datang sesudah Yohanes (Mat. 3:11).
• Yohanes melaksanakan rencana Allah itu pada diri Yesus dengan membaptis Yesus.
• Pembaptisan Yesus adalah persiapan pelayanan atau kiprah Yesus.
• Pembaptisan Yesus menjadi akhir pelayanan Yohanes karena sesudah itu Yohanes ditangkap oleh Herodes (Mat. 4:12).
Bacaan Injil Minggu ini, Matius 3:13-17, merupakan satu episode dari babak persiapan pelayanan Yesus. Apabila kita rincikan menjadi:
• Episode Yohanes Pembaptis (Mat. 3:1-12),
• Episode Yesus dibaptis Yohanes (Mat. 3:13-17),
• Episode Pencobaan di padang gurun (Mat. 4:1-11), dan
• Episode Yesus tampil di Galilea (Mat. 4:12-17).
Yesus memula pelayanan atau berkiprah di Galilea dengan memberitakan "𝘉𝘦𝘳𝘵𝘰𝘣𝘢𝘵𝘭𝘢𝘩, 𝘴𝘦𝘣𝘢𝘣 𝘒𝘦𝘳𝘢𝘫𝘢𝘢𝘯 𝘚𝘶𝘳𝘨𝘢 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘥𝘦𝘬𝘢𝘵!" (Mat. 4:17).
Dari Natal Hari Pertama sampai Minggu ini kita bisa melihat bahwa Yesus berkarya bukanlah 𝘶𝘫𝘶𝘨-𝘶𝘫𝘶𝘨, kejap, instan, sekonyong-konyong. Ada tahapan-tahapan persiapan yang tak mudah yang harus dilalui-Nya. Untuk itu janganlah mudah terpesona kepada para petobat atau murtadin baru, yang 𝘶𝘫𝘶𝘨-𝘶𝘫𝘶𝘨 mengajari kita agama Kristen yang sudah kita anut tahunan.
(08012023)(TUS)