Baal tidak datang sebagai musuh yang menakutkan. Ia datang sebagai jawaban yang "terasa" masuk akal.
Di tanah Kanaan, hidup bergantung pada hujan, tanah subur, dan musim yang tepat. Baal dikenal sebagai penguasa hujan dan kesuburan—ilah yang menjanjikan panen, ternak berkembang, dan hidup yang aman.
Bagi manusia yang lelah menunggu dan takut kekurangan, janji itu terdengar menenangkan.
Masalahnya, Baal tidak menuntut pertobatan hati. Ia hanya menuntut "ritual".
Selama persembahan diberikan dan upacara dijalankan, kehidupan "diyakini" akan baik-baik saja.
Iman tidak lagi soal kesetiaan, tetapi soal transaksi.
Tuhan Israel mengajar umat-Nya untuk percaya dan taat, bahkan ketika ladang belum hijau dan menguning.
Baal mengajarkan hal sebaliknya: percaya jika hasilnya terlihat.
Perlahan, Baal menggeser cara manusia memandang Allah.
Tuhan yang hidup dianggap terlalu serius, terlalu menuntut ketaatan, terlalu sunyi.
Baal terasa lebih “dekat”, lebih praktis, dan lebih bisa diatur.
Namun di balik janji kesuburannya, Baal membentuk hati yang bergantung pada hasil, bukan pada kebenaran.
Ketika hujan menjadi ukuran iman, maka iman itu sendiri telah kehilangan dasarnya.
Penyembahan kepada Baal akhirnya merusak lebih dari sekadar ibadah. Ia mengaburkan nilai, merendahkan kekudusan, dan mencampur aduk penyembahan dengan hawa nafsu.
Apa yang dimulai sebagai harapan akan hidup yang baik, berubah menjadi ikatan yang menjerat batin. Baal tidak pernah memberi kepastian sejati—ia hanya membuat manusia terus mengejar, tanpa pernah benar-benar dipuaskan.
Di hadapan Baal, manusia belajar menggantungkan hidup pada sesuatu yang bisa gagal.
Di hadapan Tuhan yang hidup, manusia diajak percaya bahkan saat langit tertutup.
Dan di situlah perbedaannya: yang satu menjanjikan hujan, yang lain memegang langit itu sendiri.
Kata Alkitab
“Ada jalannya yang disangka orang lurus, tetapi ujungnya menuju maut.”
Amsal 14:12
Tuhan Yesus memberkati 🙏