Minggu, 01 Februari 2026

MENELISIK KEPERCAYAAN SUMERIA SEBAGAI LELUHUR ABRAHAM.
(Permintaan seorang teman di kolom komentar. cc. Chris Setyanto SH )

Selama berabad-abad, Abraham ditempatkan sebagai figur awal monoteisme: sosok yang konon memutus total masa lalu, meninggalkan dunia berhala, lalu menerima wahyu Tuhan personal yang kelak melahirkan agama Yahudi, Kristen, dan Islam. Namun narasi ini jarang diuji secara jujur. 
Jika Abraham benar-benar ditarik dari konteks sejarah dan wilayah asalnya, pertanyaan mendasar justru muncul: kepercayaan apa yang membentuk kesadaran Abraham sebelum ia disebut sebagai bapak monoteisme ?

Untuk menjawabnya, kita harus kembali ke wilayah asalnya: Sumeria–Mesopotamia, bukan ke Yerusalem

Sumeria: Wilayah dan Peradaban, Bukan Sekadar Nama Kuno

Sumeria bukan negara, bukan suku tunggal, dan bukan agama wahyu. Ia adalah peradaban tertua manusia yang berkembang sekitar 3500–2300 SM di wilayah yang kini berada di Irak selatan, di antara Sungai Tigris dan Efrat.

Kota-kota besar seperti Ur, Uruk, Eridu, Lagash, dan Nippur menjadi pusat kehidupan ekonomi, hukum, dan spiritual manusia purba. Dari wilayah inilah lahir:
- tulisan pertama (aksara paku),
- hukum tertulis,
- kota terorganisir,
- dan yang paling penting: kosmologi sistemik tentang semesta.

Ketika Alkitab menyebut Abraham berasal dari Ur Kasdim, itu berarti ia lahir dan tumbuh di jantung dunia kosmologis Mesopotamia. Tidak ada ruang hampa spiritual di sana. Tidak ada manusia yang lahir tanpa kerangka pemahaman tentang semesta.

Sistem Kepercayaan Sumeria: Kosmologi, Bukan Agama Moral

Kepercayaan Sumeria tidak mengenal Tuhan personal, iman, atau keselamatan. Yang ada adalah kosmologi: cara memahami keteraturan semesta.

Inti kosmologi Sumeria adalah:

1. Semesta sebagai Makrokosmos

Semesta dipahami sebagai sistem besar yang hidup, tunduk pada hukum-hukum kosmik yang disebut ME (baca meh = keseimbangan semesta). Hukum ini tidak diciptakan oleh dewa; justru para dewa adalah personifikasi dari hukum dan kekuatan alam itu sendiri.

Langit, air, angin, kesuburan, dan kehidupan tidak disembah sebagai pribadi, melainkan dikenali sebagai kekuatan kosmik.

2. Manusia sebagai Mikrokosmos

Manusia adalah bagian kecil dari semesta, bukan pusatnya. Hidup manusia bermakna sejauh ia selaras dengan tatanan kosmik.

Tidak ada konsep umat pilihan. Tidak ada janji surga. Tidak ada neraka. Yang ada adalah keseimbangan atau kehancuran.

Dengan kata lain, manusia tidak diperintah oleh Tuhan personal, tetapi dituntut memahami posisinya dalam semesta.

Abraham: Produk Pergeseran Dunia Kosmologis, Bukan Ruang Wahyu Kosong

Jika Abraham lahir di Ur, maka hampir mustahil ia tidak dibentuk oleh kosmologi Mesopotamia. Ia hidup di dunia di mana:
- ritual agraris adalah bagian hidup,
- kurban adalah praktik kosmik, bukan moral,
- alam dipahami sebagai sistem hidup.

Monoteisme Abraham pada tahap awal bukanlah Tuhan metafisik universal, melainkan dewa suku yang ditinggikan. 
Tuhan dipahami:
- berjalan,
- berbicara langsung,
- bernegosiasi,
- terikat wilayah dan keturunan.

Ini adalah ciri dewa transisional, bukan Tuhan absolut.

Dari Kosmos ke Tuhan Personal: Abraham Memasuki Kanaan

Ketika Abraham memasuki tanah Kanaan, ia memasuki wilayah konflik identitas. Di sinilah perubahan besar terjadi.

Kosmologi mulai ditinggalkan. Tuhan tidak lagi hukum semesta, melainkan:
- sosok personal,
-pemberi perintah,
- penentu moral,
- penjamin identitas suku.

Janji Tuhan tidak lagi bersifat kosmik, tetapi politis dan genealogis: tanah, keturunan, dan berkat eksklusif.

Di sinilah embrio agama Yahudi lahir: bukan sebagai filsafat semesta, tetapi sebagai agama identitas.

Yahudi: Institusionalisasi Tuhan Personal

Agama Yahudi berkembang dengan menegaskan pemisahan:
- Tuhan vs alam
- umat pilihan vs bangsa lain
- hukum ilahi vs hukum kosmik

Kosmologi digantikan oleh hukum (Taurat). Kesadaran digantikan oleh ketaatan.

Narasi lama pun direvisi: masa lalu kosmologis dicap berhala, sementara Tuhan personal diklaim sebagai satu-satunya kebenaran.

Mengapa Ini Penting Dibaca Ulang Hari Ini ?

Di era modern:
- sains berbicara hukum alam,
- ekologi mengajarkan keterhubungan,
- spiritualitas menolak dogma personalistik.

Dengan kata lain; Manusia kembali melihat dirinya sebagai mikrokosmos dalam makrokosmos.

Di titik inilah, ajaran:
๐Ÿ”ต Yesus tentang Kerajaan Tuhan di dalam diri,
๐Ÿ”ตSiti Jenar tentang Manunggaling Kawula Gusti,
justru lebih dekat dengan kesadaran kosmologis Sumeria daripada agama Abrahamik institusional

Penutup: Abraham Bukan Awal, Melainkan Titik Belok

Abraham bukan awal kesadaran spiritual manusia. Ia adalah titik belok sejarah, ketika manusia mulai meninggalkan kosmos dan membangun Tuhan personal.

Kini, ketika agama-agama besar mengalami kelelahan makna, manusia perlahan kembali ke kesadaran lama—bukan sebagai nostalgia, tetapi sebagai pemahaman matang:
๐Ÿ”ดBahwa semesta bukan milik Tuhan personal, dan manusia bukan pusat ciptaan, melainkan bagian hidup dari tatanan kosmik yang agung.

Menelisik kepercayaan leluhur Abraham bukan berarti menolak iman, tetapi membuka kembali pintu kesadaran yang pernah ditutup oleh dogma.

๐Ÿ˜ฎSemesta bukan ciptaan Tuhan, berarti kamu berasal dari monyet ia..?
Semesta ini ciptaan nenek mu ia ??

๐Ÿ˜†Jangan panik gitu.
Tuhan adalah Energi Semesta dan juga Energi hidup yang ada dalam dirimu.
Bagaimanapun proses terciptanya semesta adalah karena adanya Energi itu.
Tenang saja, semakin berkembangnya ilmu pengetahuan maka proses dan teknis terciptanya semesta itu akan terjawab.
Karena ternyata Tuhan yang menciptakan Adam dalam Alkitab adalah Tuhan yang ketinggalan jaman. 

Dari saya anak negeri yang telah memahami kenapa pergolakan agama selalu terjadi di tanah ini.
Horas, Rahayu, Salam Nusantara lainnya.
Manunggaling Kawula Gusti.

Sudut ๐—ฃ๐—ฎ๐—ป๐—ฑ๐—ฎ๐—ป๐—ด MATIUS 5 :13-20, [๐— ๐—ถ๐—ป๐—ด๐—ด๐˜‚ ๐—ฉ ๐˜€๐—ฒ๐˜€๐˜‚๐—ฑ๐—ฎ๐—ต ๐—˜๐—ฝ๐—ถ๐—ณ๐—ฎ๐—ป๐—ถ, ๐—ง๐—ฎ๐—ต๐˜‚๐—ป ๐—”]๐—•๐˜‚๐—ธ๐—ฎ๐—ป ๐—ฑ๐—ถ๐˜€๐˜‚๐—ฟ๐˜‚๐—ต ๐—บ๐—ฒ๐—ป๐—ท๐—ฎ๐—ฑ๐—ถ ๐—ด๐—ฎ๐—ฟ๐—ฎ๐—บ ๐—ฑ๐—ฎ๐—ป ๐˜๐—ฒ๐—ฟ๐—ฎ๐—ป๐—ด ๐—ฑ๐˜‚๐—ป๐—ถ๐—ฎ

Sudut   ๐—ฃ๐—ฎ๐—ป๐—ฑ๐—ฎ๐—ป๐—ด MATIUS 5 :13-20,  [ ๐— ๐—ถ๐—ป๐—ด๐—ด๐˜‚ ๐—ฉ ๐˜€๐—ฒ๐˜€๐˜‚๐—ฑ๐—ฎ๐—ต ๐—˜๐—ฝ๐—ถ๐—ณ๐—ฎ๐—ป๐—ถ, ๐—ง๐—ฎ๐—ต๐˜‚๐—ป ๐—”] ๐—•๐˜‚๐—ธ๐—ฎ๐—ป ๐—ฑ๐—ถ๐˜€๐˜‚๐—ฟ๐˜‚...