Dalam banyak institusi Kristen (baik itu gereja, yayasan, maupun sekolah teologi) seringkali muncul sebuah penyakit rohani yang dibungkus dengan label "ketaatan". Penyakit itu adalah perilaku penjilat. Secara teologis, ini bukan sekadar masalah etika kerja, melainkan sebuah bentuk penyembahan berhala modern. Ketika seorang bawahan lebih takut pada kerutan dahi pimpinannya daripada teguran Roh Kudus, ia sedang menggeser takhta Tuhan dan menggantinya dengan sosok manusia.
BUDAYA YES-MAN: MEMBUNUH KEBENARAN DEMI KEAMANAN
Banyak orang dalam institusi Kristen terjebak menjadi yes-man. Mereka setuju pada semua ide pimpinan, bahkan yang konyol atau tidak alkitabiah sekalipun, hanya demi mengamankan posisi atau tunjangan.
Contoh :
- Seorang staf administrasi gereja melihat adanya ketidakberesan dalam pengelolaan dana, namun memilih diam dan tetap memuji transparansi pimpinan dalam rapat karena takut dipecat.
- Anggota majelis yang selalu berkata "Amin" pada setiap keputusan pendeta utama, padahal ia tahu keputusan tersebut hanya menguntungkan kroni tertentu, bukan jemaat.
Secara teologis, perilaku ini adalah pengkhianatan terhadap konsep Imago Dei (Gambar Allah). Tuhan memberikan kita akal budi dan suara hati bukan untuk disumbat, melainkan untuk menyuarakan kebenaran (Efesus 4:15). Menjadi penjilat berarti mematikan fungsi profetik dalam diri kita.
CARI MUKA DAN ONE MAN SHOW: NARSISME BERGAYA ROHANI
Perilaku "cari muka" sering kali berujung pada gaya kepemimpinan one man show. Pimpinan merasa dia adalah satu-satunya saluran berkat Tuhan, sementara bawahan berlomba-lomba menunjukkan bahwa mereka adalah "hamba yang paling setia" di depan mata sang pimpinan, bukan di depan mata Tuhan.
Contoh :
- Seorang pelayan muda yang hanya bekerja giat saat ada pendeta besar melihatnya, tetapi menghilang saat tugas-tugas kotor di balik layar perlu dikerjakan.
- Pimpinan institusi yang mengambil semua kredit keberhasilan tim sebagai prestasinya pribadi, sementara kegagalan dilemparkan kepada bawahan sebagai "kurangnya iman" atau "kurang doa".
Ini adalah tragedi. Tubuh Kristus (1 Korintus 12) seharusnya bekerja secara organis, di mana setiap anggota saling menghargai. Namun, dalam budaya penjilat, institusi berubah menjadi kerajaan pribadi di mana pimpinan dianggap sebagai "raja kecil" yang tak boleh salah.
ASAL BAPAK SENANG (ABS): RACUN DALAM PELAYANAN
Prinsip ABS adalah racun yang membuat sebuah institusi Kristen menjadi rapuh. Saat laporan-laporan dibuat hanya untuk menyenangkan pimpinan, maka data dipalsukan dan realitas ditutupi. Kita lebih peduli pada citra luar (kosmetik) daripada kondisi batiniah pelayanan.
Contoh :
- Melaporkan jumlah jiwa yang bertobat secara berlebihan agar pimpinan senang dan dianggap berhasil dalam penginjilan.
- Menyembunyikan konflik internal yang serius dalam tim pelayanan agar pimpinan merasa kepemimpinannya damai dan efektif.
Tuhan Yesus mengutuk kemunafikan semacam ini. Dia lebih menghargai kejujuran yang pahit daripada pujian palsu yang manis. Institusi Kristen yang membiarkan budaya penjilat tumbuh sebenarnya sedang menggali kuburnya sendiri, karena mereka sedang membangun di atas pasir kebohongan, bukan di atas batu karang kebenaran.
=========
Kita perlu bertobat dari keinginan untuk menyenangkan manusia lebih dari menyenangkan Allah. Sebuah institusi Kristen akan sehat jika pimpinannya mau ditegur dan bawahannya punya keberanian untuk berkata jujur dalam kasih. Jika tidak, kita hanya sedang bersandiwara dalam sebuah organisasi agama, tanpa pernah benar-benar melayani Kristus.
"Satu-satunya hal yang perlu ditakuti oleh orang Kristen sejati bukanlah ketidaksenangan manusia, melainkan ketidaksenangan Allah." — J.C. Ryle