LAPORAN KLINIS : DIAGNOSA GEREJA INDONESIA
Jika gereja-gereja di Indonesia duduk di sofa terapi, Yesus mungkin akan mencatat beberapa "gangguan kesehatan mental dan spiritual" yang menghambat fungsi tubuh-Nya di dunia:
1. Spiritual Narcissism
Banyak gereja di Indonesia terjebak dalam obsesi terhadap pertumbuhan angka dan kemegahan fisik. Fokus utamanya adalah "Siapa yang punya gedung paling megah?" atau "Siapa yang jemaatnya paling banyak?".
Gejala: Kurangnya empati terhadap isu sosial di luar tembok gereja dan kecenderungan untuk memuja tokoh (hamba Tuhan) tertentu secara berlebihan.
2. Minority Complex
Sebagai kelompok yang sering merasa sebagai minoritas, muncul kecemasan berlebih yang mewujud dalam perilaku defensif.
Gejala: Membangun "benteng" isolasi daripada menjadi "garam", atau sebaliknya, terlalu kompromistis dengan kekuasaan demi rasa aman (politisasi mimbar).
3. Dualisme Suci-Sekuler
Adanya pemisahan tajam antara apa yang terjadi di hari Minggu dengan apa yang dilakukan di hari Senin-Sabtu.
Gejala: Ibadah yang sangat emosional dan terlihat suci, namun tidak berkorelasi dengan integritas di tempat kerja atau kepedulian terhadap lingkungan hidup.
4. Messianic Complex yang Salah Sasaran
Gereja merasa sedang menyelamatkan dunia, namun sebenarnya hanya sedang memaksakan budaya atau dogma tertentu yang tidak memerdekakan manusia, melainkan menambah beban rasa bersalah (legalisme).
RESEP DARI YESUS (SANG TERAPIS AGUNG)
Melihat diagnosa di atas, Yesus tidak akan memberikan obat penenang, melainkan "obat keras" yang memulihkan melalui firman-Nya:
1. Terapi Penyangkalan Diri (Metanoia)
Yesus akan merujuk pada Matius 16:24: "Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku."
Resep: Gereja harus berhenti memuja institusinya sendiri. Resepnya adalah mati terhadap ego kelompok agar kehidupan Kristus yang sejati bisa memancar.
2. Terapi Penundukan Diri (Kenosis)
Yesus akan merujuk pada Filipi 2:7, yang menggambarkan bagaimana Ia melepaskan segala hak istimewa-Nya demi menjadi sama dengan manusia yang paling hina.
Resep: Tanggalkan "mahkota" institusional dan kemewahan gedung yang seringkali justru memisahkan kita dari sesama. Gereja perlu melakukan blusukan rohani—turun ke akar rumput untuk memeluk mereka yang terpinggirkan, menjadi suara bagi yang tak bersuara, dan membalut luka-luka sosial yang masih menganga di Indonesia.
3. Detoksifikasi Legalisme
Merujuk pada Matius 23:23, Yesus akan menegur keras fokus pada tata cara lahiriah sementara mengabaikan "keadilan, belas kasihan, dan kesetiaan."
Resep: Kembali ke esensi kasih. Gereja harus berhenti menjadi hakim dan mulai menjadi rumah sakit bagi mereka yang berdosa dan terluka.
4. Integrasi Iman dan Perbuatan
Yesus akan meresepkan Yohanes 15:5 mengenai pokok anggur yang benar.
Resep: Ibadah yang sejati bukan tentang seberapa keras musik dimainkan, tapi seberapa banyak buah (karakter Kristus) yang dihasilkan dalam kehidupan sehari-hari.
----------
Diagnosa akhirnya mungkin satu: Gereja terlalu sibuk membangun "rumah" untuk Tuhan, sampai lupa menjadi "rumah" bagi manusia.
Resep terakhir dari Sang Terapis sederhana namun radikal: "Pergilah, dan perbuatlah demikian!" (Lukas 10:37). Gereja tidak butuh lebih banyak seminar pertumbuhan gereja; gereja butuh kembali ke jalan salib.