PENGANTAR
Bacaan Injil secara ekumenis untuk Minggu I Pra-Paska (22/2) diambil dari Matius 4:1-11. LAI memberi judul π ππ΄π’π΄ π₯ππ€ππ£ππͺ π₯π ππ’π₯ππ―π ππΆππΆπ. Penjudulan oleh LAI sebenarnya kurang akurat. Mengapa? Kisah ππ¦π―π€π°π£π’π’π― ada dalam Injil sinoptik, tetapi kisahnya berbeda. Apa perbedaannya? Coba cari .... Xi .... Xi, Yang menarik dalam kisah ini iblis pun hafal ayat Alkitab.PEMAHAMAN
Matius 4:1–11 menggambarkan Yesus sebagai Anak Allah yang taat, yang memasuki “padang gurun” Israel, menghadapi tiga pencobaan yang bersifat mesianis–politikal, dan menang melalui ketaatan penuh pada kehendak Bapa, bukan melalui jalan pintas kuasa, popularitas, dan kemakmuran.
Kerangka umum dan konteks, Secara sastra naratif, perikop ini menghubungkan baptisan Yesus (pengakuan ilahi: “Inilah Anak-Ku”) dengan awal pelayanan publik; “Roh” yang turun di baptisan sekarang yang menuntun Yesus ke padang gurun. Simbol “empat puluh hari” dan “padang gurun” menggemakan Israel 40 tahun di padang gurun; Yesus tampil sebagai Israel sejati yang taat, yang di mana Israel gagal, Yesus menang. Struktur tiga pencobaan berpusat pada identitas “Anak Allah”, yang diuji: apakah Ia akan mengartikan keputraan itu sebagai lisensi memuaskan diri, memanipulasi Allah, atau mengejar kuasa duniawi. Tiga pencobaan: analisa kritis singkat 1) Mengubah batu jadi roti (ay. 3–4). Secara tekstual, Iblis memulai dengan “Jika Engkau Anak Allah…”, menyasar kelaparan Yesus setelah puasa; godaan ini tampak “wajar” (memenuhi kebutuhan dasar) tetapi secara teologis menempatkan kebutuhan di atas ketaatan pada firman. Kutipan dari Ul 8:3 (“Manusia hidup dari setiap firman…”) menempatkan ketaatan pada firman sebagai sumber hidup yang lebih mendasar daripada roti; Yesus menolak menjadi Mesias yang mengutamakan pemuasan kebutuhan material sebagai jalan utama keselamatan (sebuah kritik awal terhadap “budak kesejahteraan”). 2) Puncak Bait Allah (ay. 5–7). Pencobaan kedua memakai simbol religius–publik: Bait Allah sebagai pusat identitas Israel; Iblis memanfaatkan Mazmur 91 secara selektif untuk mendorong Yesus “menguji” Allah melalui spektakel religius dramatis. Jawaban Yesus dari Ul 6:16 (“Jangan mencobai Tuhan”) menolak pola iman yang memaksa Allah membuktikan diri lewat tanda spektakuler; ini kritik terhadap religiositas yang mencari perlindungan dan legitimasi melalui show kekuasaan, bukan melalui ketaatan diam pada firman. 3) Semua kerajaan dunia (ay. 8–10). Pencobaan ketiga menyingkap inti politis: “semua kerajaan dunia dan kemegahannya” ditawarkan dengan satu syarat: penyembahan pada Iblis; di sini ketaatan eksklusif kepada Allah dihadapkan dengan jalan pintas kuasa. Kutipan Ul 6:13 (“Sembahlah Tuhan Allahmu…”) menegaskan monoteisme radikal dan etika kerajaan Allah: misi Mesias tidak berjalan melalui kompromi dengan kuasa jahat demi hasil politis cepat, tetapi melalui jalan salib, ketaatan, dan penderitaan. Pendekatan historis-kritis menekankan bahwa pencobaan ini bukan “uji moral individu” biasa, tetapi konflik program mesianis: apakah Yesus akan menyelesaikan krisis Israel dengan jalan pemenuhan kebutuhan, spektakel religius, dan dominasi politik, atau dengan jalan ketaatan yang tampak lemah namun menyelamatkan. Dalam kacamata teodisi, beberapa studi Indonesia menegaskan bahwa Allah “mengizinkan” pencobaan ini sebagai bagian dari rencana keselamatan, dan menempatkan kebebasan dan ketaatan Anak di atas kenyamanan dan kesejahteraan-Nya sendiri; ini dikaitkan dengan kritik terhadap teologi kemakmuran. Pembacaan lintas agama, cross text hermeneutika, tafsir lintas iman (mis. komparasi dengan kisah Siddharta menghadapi Mara) menyoroti kesamaan pola godaan: keinginan (kebutuhan fisik), manipulasi simbol religius, dan ambisi kuasa, tetapi sekaligus menunjukkan kekhasan kristologis: Yesus menang bukan dengan teknik meditasi, melainkan dengan ketaatan anak kepada Bapa dan berpaut pada Kitab Suci. Dalam tradisi eksegesis gerejawi (juga terlihat dalam bahan-bahan liturgis Prapaskah dan kateketis), perikop ini dibaca sebagai: Prototipe ujian panggilan: sebelum pelayanan publik, identitas dan orientasi kuasa Mesias harus dimurnikan. Pola bagi gereja: setiap pelayanan yang sungguh-sungguh akan berhadapan dengan godaan memprioritaskan kesejahteraan, spektakel religius, dan kompromi politis.
- Bahan-bahan pastoral dan liturgi, biasanya menekankan bahwa tiga pencobaan ini adalah “pencobaan mesianis”: godaan untuk menjadi Mesias yang “efektif” menurut logika dunia (mengenyangkan, memukau, berkuasa), tetapi tidak setia pada jalan salib. Dalam arus teologi kontekstual Indonesia, Matius 4:1–11 kerap dibaca sebagai kritik terhadap gereja yang menjadi “budak kesejahteraan” (mengukur keberhasilan pada kemakmuran dan kenyamanan) dan undangan pada “iman kebebasan” yang rela kehilangan demi ketaatan kepada kehendak Allah di tengah penderitaan dan ketidakadilan, tidak bersuara atas ketidak Adilan dan anti kritik serta tuli diri. Identitas: Yesus sebagai Anak Allah yang sejati adalah Dia yang tetap taat ketika identitas itu diprovokasi dan dimanipulasi; identitas Anak tidak diekspresikan lewat demonstrasi kuasa, tetapi lewat ketaatan pada firman. Ini menantang cara gereja memahami statusnya sebagai umat Allah di tengah godaan status, nama besar, dan pengaruh. Firman sebagai “roti”: tiga jawaban Yesus semuanya dari Ulangan, menunjukkan bahwa Kitab Suci bukan sekadar bahan kotbah tetapi “roti” yang mengarahkan kehendak dan membingkai respons terhadap krisis; kehidupan rohani yang mengejar “mujizat” tanpa pembentukan dalam firman rentan pada pencobaan mesianis. Teodisi dan kemakmuran: pencobaan di padang gurun memperlihatkan bahwa Allah mengasihi Anak namun tetap “mengizinkan” Ia kelaparan, dicobai, dan berkonflik dengan Iblis; ini melawan teologi yang mengidentikkan kasih Allah dengan bebas derita dan sukses lahiriah. Politik kerajaan: penolakan Yesus terhadap “semua kerajaan dunia” sebagai komoditas yang bisa dibeli dengan kompromi ibadah mengkritik pencarian kuasa politik yang mengorbankan kesetiaan kepada Allah; kuasa Mesias hadir sebagai kerajaan yang datang melalui salib, bukan melalui aliansi dengan kekuatan destruktif.
(21022026)(TUS)