SANG GEMBALA
BERKULIT DOMBA, BERNAFAS SERIGALA
Gereja masa kini tidak hanya menghadapi tekanan dari luar. Bahaya yang lebih sunyi dan lebih mematikan justru lahir dari dalam—dari mereka yang berdiri di mimbar, yang disebut gembala, yang dipercaya memimpin kawanan.
Tidak semua yang disebut gembala memiliki hati seorang gembala.
Ada yang berkulit domba—tampil lembut, retorikanya halus, doanya panjang, teologinya terstruktur. Tetapi ketika ditelusuri lebih dalam, nafasnya berbau serigala: ambisi, manipulasi, haus pengaruh, cinta uang, dan ketakutan kehilangan posisi.
Yesus Kristus telah memperingatkan dengan tegas: “Waspadalah terhadap nabi-nabi palsu yang datang kepadamu dengan menyamar seperti domba, tetapi sesungguhnya mereka adalah serigala yang buas.” (Matius 7:15) Peringatan ini tidak pernah kedaluwarsa.
Kulit Domba: Simbol yang Mudah Dipakai
Kulit domba adalah simbol kesalehan yang terlihat. Jabatan gerejawi. Gelar teologi. Bahasa rohani yang tertata. Sikap yang tampak rendah hati. Semua itu bisa dipelajari. Semua itu bisa dilatih tetapi karakter tidak bisa direkayasa dalam jangka panjang.
Seorang gembala sejati mencium bau domba—ia hidup bersama mereka, menangis bersama mereka, terluka bersama mereka. Ia memimpin dengan pengorbanan. Gembala sejati bukan penguasa rohani, melainkan pelayan yang rela berkorban.
Namun gembala palsu hanya memakai simbol. Ia dekat secara struktural, tetapi jauh secara hati. Ia hadir di altar, tetapi tidak hadir dalam pergumulan jemaat.
Nafas Serigala: Motif yang Tidak Disalibkan!
Serigala tidak selalu mengaum. Kadang ia berbisik. “Nafas serigala” berbicara tentang natur yang belum mati: ambisi yang dibungkus visi, pengendalian yang dibungkus kepemimpinan, eksploitasi yang dibungkus pelayanan.
Ada mimbar yang tidak lagi menjadi tempat kebenaran dinyatakan, melainkan panggung pencitraan dipertahankan. Ada pengajaran yang terdengar manis, tetapi tidak pernah menyentuh dosa pemimpinnya sendiri. Ketika seorang gembala lebih takut kehilangan jemaat daripada kehilangan hadirat Tuhan, saat itulah nafas serigala mulai terasa.
Serigala di luar kawanan berbahaya.
Tetapi serigala yang berdiri di tengah kawanan jauh lebih mematikan. Ia tidak menyerang secara frontal. Ia menggerogoti perlahan. Ia menciptakan budaya diam. Ia membungkam kritik dengan ayat. Ia menyamakan loyalitas kepada dirinya dengan loyalitas kepada Tuhan.
Dan jemaat yang tidak peka akan perlahan kehilangan kemampuan membedakan kasih yang sejati dari manipulasi rohani.
Gereja bisa tetap penuh. Program tetap berjalan. Persembahan tetap mengalir. Tetapi Roh Kudus telah berduka.
Gembala sejati: Takut akan Tuhan lebih dari takut pada opini publik. Menegur dirinya sebelum menegur orang lain. Lebih mencintai kekudusan daripada popularitas. Lebih siap kehilangan jabatan daripada kehilangan integritas.
Gembala berkulit domba dan bernafas serigala:
Menjaga citra lebih dari menjaga hati.
Menggunakan firman untuk mempertahankan posisi. Menggembalakan demi pengaruh, bukan demi jiwa.
Perbedaan keduanya tidak selalu terlihat di panggung, tetapi selalu terlihat dalam buah atau prilaku mereka.
Tulisan ini bukan untuk mencurigai setiap pemimpin, tetapi untuk membangunkan setiap pemimpin. Jika engkau berdiri di altar, periksalah hatimu. Jika engkau memegang mikrofon, periksalah motivasimu. Jika engkau disebut gembala, tanyakan: apakah engkau benar-benar mengasihi domba, atau hanya menikmati otoritas atas mereka? Gereja tidak membutuhkan pemimpin yang sempurna. Gereja membutuhkan pemimpin yang takut akan Tuhan.
Sebab pada akhirnya, bukan jabatan yang akan diuji—melainkan hati.
Dan Tuhan tidak pernah tertipu oleh kulit.
Apakah sang gembala berkulit domba dan bernafas serigala itu aku, engkau, atau mereka?
Jangan cepat menunjuk ke luar sebelum berani bercermin ke dalam. Jika itu ternyata kita, maka yang dibutuhkan bukan pembelaan diri, melainkan pertobatan.