Rabu, 18 Februari 2026

Sudut Pandang Matius 4 :1-11, Minggu 1 Prapaskah Paskah Tahun A, Mahkluk Jelmaan Iblis

Sudut Pandang Matius 4 :1-11, Minggu 1 Prapaskah Paskah Tahun A, Mahkluk Jelmaan Iblis

PENGANTAR
Saya sering bergurau dengan teman pengajar, Kata Yesus, “𝘈𝘱𝘢𝘣𝘪𝘭𝘢 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘣𝘦𝘳𝘥𝘰𝘢, 𝘫𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯𝘭𝘢𝘩 𝘣𝘦𝘳𝘥𝘰𝘢 𝘴𝘦𝘱𝘦𝘳𝘵𝘪 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘶𝘯𝘢𝘧𝘪𝘬. 𝘔𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘴𝘶𝘬𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘶𝘤𝘢𝘱𝘬𝘢𝘯 𝘥𝘰𝘢 𝘥𝘪 𝙄𝙣𝙨𝙩𝙖𝙜𝙧𝙖𝙢, 𝙁𝙖𝙘𝙚𝙗𝙤𝙤𝙠, 𝙏𝙞𝙠𝙏𝙤𝙠, 𝘴𝘶𝘱𝘢𝘺𝘢 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘥𝘪𝘭𝘪𝘩𝘢𝘵 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨. 𝘚𝘦𝘴𝘶𝘯𝘨𝘨𝘶𝘩𝘯𝘺𝘢 𝘈𝘬𝘶 𝘣𝘦𝘳𝘬𝘢𝘵𝘢 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢𝘮𝘶: 𝘔𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘯𝘥𝘢𝘱𝘢𝘵 𝘶𝘱𝘢𝘩𝘯𝘺𝘢.” Injil 𝗠𝗗𝗦 (Mbah Dukun Sesat) 6:5 .... Wk .... Wk. Bacaan Injil untuk Minggu I Pra-Paska diambil dari Matius 4:1-11. Di perikop ini ada adegan dialog Yesus dan iblis.
• Iblis percaya bahwa Yesus adalah Anak Allah.
• Iblis hafal ayat-ayat Alkitab.

Kalau begitu apa bedanya iblis dan orang Kristen?

Ada lagu menarik tentang kritisi yang isi syairnya "teman laknat, apa Elo gak punya WC? Tongkrongan elo belain, apa Elo gak punya ati? Jabatan elo jagain", kasar memang, tapi cubitan yang baik, sebetulnya secara sastra Ibrani maupun yunani, dalam satu papirus sejak dari menjala ikan, ucapan bahagia, khotbah di gunung, garam bumi dan terang dunia, tak seiotapun, dan sekarang cobaan iblis atas Yesus adalah dalam bahasa zamannya merupakan kritisi keras dan kasar bahasanya dari penulis Injil atas zamannya dengan bersumber pada ajaran-ajaran Yesus yang kurang lebih mengkritisi hal yang mirip dengan situasi jemaat Matius, salah satu kelemahan penerjemahan adalah perbedaan khasanah bahasa demikian halnya tradisi dan budaya bahasa, membuat jurang makna, itulah kenapa saya selalu ngomong, dengan hanya membaca saja, kita sudah menafsir karena tidak mungkin kita membaca dengan pikiran kosong, apalagi menerjemahkan itu sudah lebih-lebih dalam menafsirkan, itu kasus sastra dan bahasa yang sama untuk surat Paulus ketika marah dan menegur jemaat tertentu, ada bahasa kasarnya, demikian halnya ungkapan Paulus ketika bersengketa dengan Petrus, itu kasar sekali kalau dilihat dari sastra bahasa Ibrani atau Yunani tapi rasa atau gigitan penulis itu hilang ketika masuk dalam penerjemahan, tidak selalu tapi pasti terjadi, karena sebetulnya semua itu berangkat dari kemuakan penulis Injil Matius atas sikap pemuka agama (Yahudi) atau pejabat korup saat itu dan patah semangat dan melo nya masyarakat golongan yg dipinggirkan, sebetulnya tidak beda jauh dengan zaman kini, bahkan di gereja kekinian. Seruan semangat pantang menyerah pada kaum papa, kaum lemah dan tersingkirkan didalam puncak kelelahan ditindas dan dijajah oleh pemuka agama yang bangsanya sendiri maupun Romawi sang penjajah, serta seruan pada pemuka agama dan pejabat yang bangsanya sendiri serta punya kuasa juga wewenang, untuk mengayomi dan melindungi serta merengkuh saudara bangsanya yang lemah posisinya bukannya malah antikritik, tidak mengedepankan diskusi, tidak mau mengakui kelemahan dengan rendah hati, serta ikut menindas dan menjajah bangsanya sendiri, terlebih parah membully rekan sendiri, haus kuasa, tutup mata terhadap aturan atau perundangan yang berlaku malah cenderung mau ngakali. Kita saat membaca Matius 4:1-11, diajak menengok diri kita sendiri di zaman ini, apakah kita melihat sabda itu dan berproses meneladan Kristus dan menghikmati ajaranNya atau malah kita berproses menjadi mahkluk jelmaan iblis, sebab bebal dan menulikan diri.


PEMAHAMAN 
Dalam pemahaman sastra pada zamannya, Matius 4:1-11 dapat dibaca sebagai teks yang sangat keras secara retoris dan kasar terhadap situasi zaman itu, tetapi “kekerasan” itu bukan berupa makian, melainkan strategi polemis yang tajam, apokaliptik, dan penuh kritik sosial-politik dan religius. Teks ini ditempatkan Matius langsung setelah deklarasi ilahi “Inilah Anak-Ku yang Kukasihi” (3:17), lalu sebelum pelayanan publik dan “khutbah di gunung”. Itu membuat pencobaan di padang gurun berfungsi sebagai “setting plot” seluruh Injil: kontras antara Kerajaan Allah dan kerajaan dunia/Satan, konsep kelompok esseni (disinyalir kelompok Yesus dan Yohanes Pembaptis), JANGAN JADI SAMA DENGAN DUNIA. Dalam bacaan ini, konflik Yesus–Iblis adalah permukaan dari konflik yang akan terus berlanjut dengan para pemimpin Yahudi  atau pemuka agama korup dan kekuasaan duniawi, penjajahan Romawi; mereka direpresentasikan sebagai perpanjangan kuasa “kerajaan lain” (Mat 12:26), atau kerajaan dunia. Bahasa “menjauh, Iblis!” (hypage satana) adalah bentuk penolakan tajam: Yesus memakzulkan klaim otoritas Iblis dan sekaligus seluruh sistem kuasa yang iblis wakili, pemerintahan penindas, menjajah serta korup dan pemuka agama yang antikritik, antidiskusi, antidengar atau menuliskan diri. Dengan demikian, “kekerasan” ada pada struktur naratif: ini bukan percakapan lembut, melainkan deklarasi perang ideologis dan teologis.  Pendekatan kritik historis menunjukkan bahwa tiga pencobaan berkait langsung dengan krisis konkret umat Yahudi di bawah Roma dan elit keagamaan yang korup. Ekonomi, Pajak berlapis (kepada Roma, raja wilayah, dan kultus Bait Allah) bisa mencapai 30–70% penghasilan, mendorong luasnya kemiskinan dan lahirnya perampok/penyamun.
Agama,  Bait Allah menjadi pusat kultus sekaligus pusat ekonomi dan kekuasaan imam; kaum Farisi dan Saduki menambah beban legalistik dan finansial atas umat.
Politik, Mesianisme nasionalis mengharapkan figur pembebas politik yang merestorasi dinasti Daud, mengusir penjajah, dan “mensucikan” Yerusalem.
Dalam konteks itu, seluruh dialog Yesus–Iblis dapat dibaca sebagai kritik keras terhadap cara berpikir religius dan politis yang dominan di zaman itu: solusi total lewat menentang cara duniawi, topeng religius di Bait Allah tapi korup serta antikritik, dan perebutan kuasa politik secara kekerasan.  
Tiga pencobaan sebagai kritik tajam, Batu jadi roti: kritik terhadap “mesias kesejahteraan”  Iblis memanfaatkan kelaparan Yesus dan krisis ekonomi Israel dengan tawaran mengubah batu menjadi roti. Secara historis, ini bisa dibaca sebagai:  Tawaran “program ekonomi” radikal: jika Yesus mengubah batu menjadi roti, Ia bisa menyelesaikan kelaparan umat dan merangkul kaum miskin serta kelompok perampok yang lahir dari tekanan ekonomi. Namun para penafsir mencatat bahwa jika roti menjadi solusi utama, seluruh siklus tabur-tuai akan runtuh, dan umat berubah menjadi “budak roti” yang hanya mengejar Yesus sebagai sumber pangan, bukan relasi dengan Allah, kayak MBG yah? ..... rakyat dikenyangkan untuk bungkam, rakyat dikenyangkan untuk bodoh dan tidak kritis.
Jawaban Yesus, kutipan Ul 8:3, adalah kritik keras terhadap religiositas yang direduksi menjadi jaminan kesejahteraan: manusia tidak hidup dari roti saja, melainkan dari firman Allah. Ini menohok teologi yang mem‑absolut‑kan pemenuhan kebutuhan material sebagai tanda utama kehadiran Allah.  Bubungan Bait Allah: kritik institusi kultus dan topeng religius. Pencobaan kedua berlangsung di puncak Bait Allah, simbol pusat keagamaan, ekonomi, dan identitas Israel. Iblis mengutip Mazmur 91 untuk menuntut Yesus “menguji” Allah dengan lompat dari bubungan, sehingga secara spektakuler diselamatkan malaikat; ini akan langsung mensahkan-Nya sebagai Mesias di mata massa dan elit. Ini secara tajam mengkritik model agama yang mencari legitimasi melalui keajaiban yang mencolok, simbol-simbol sakral, dan pengakuan institusional.  Yesus menanggapi dengan Ul 6:16: “Janganlah engkau mencobai Tuhan, Allahmu,” merujuk pada Israel di Masa (Kel 17), ketika umat menuntut pembuktian kehadiran Allah. Di sini, Matius menampilkan Yesus sebagai Israel baru yang menolak memainkan permainan religius itu: relasi Allah–umat tak boleh digantungkan pada teatrikalitas kultis. Ini adalah kritik keras, meski  kasar, secara bahasa dan sastra, terhadap spiritualitas Bait Allah yang korupt dan antikritik serta bertopeng.  Gunung tinggi dan semua kerajaan: kritik nasionalisme-mesianis. Di pencobaan ketiga, Iblis memperlihatkan semua kerajaan dunia dari “gunung yang tinggi”, lalu menjanjikan kekuasaan total jika Yesus menyembahnya. Dalam konteks Palestina di bawah Roma, tawaran ini bisa dibaca sebagai: ajakan bergabung dengan agenda revolusi politik yang menggunakan kekerasan, mengembalikan “kedaulatan” Israel, dan mengesahkan kekerasan sebagai sarana pemerintahan. Penafsir menunjuk bahwa motif ini sejalan dengan harapan Mesias politik yang sangat kuat pada masa intertestamental dan zaman Yesus. Jawaban Yesus—“Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu, dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti” (Ul 6:13)—adalah penolakan tajam terhadap semua bentuk nasionalisme religius dan politik religius yang mengorbankan eksklusivitas penyembahan kepada Allah demi kekuasaan. Di sini Matius memukul habis ide Mesias-pemberontak yang banyak diharapkan kelompok Yahudi.  
Jika yang dimaksud “kasar” adalah kata-kata makian vulgar, teks Matius 4:1-11 tidak menunjukkannya, tetapi dalam bentuk sastra dan bahasa pada zamannya itu bahasa keras dan kasar. Bahasa Yesus formal, berakar pada Taurat, dan seluruh dialog disusun sangat literer. Namun  “kasar” dipahami sebagai:  
mengungkapkan penolakan radikal;  mendeligitimasi cara berpikir religius-politik dominan;   dan memposisikan “Israel” (baik umat maupun pemimpinnya, baik yang di bawah dan di atas, baik garam bumi maupun terang dunia) di sisi yang keliru;  maka teks ini memang sangat tajam dan konfrontatif. Yesus:  
- menolak menjadi Mesias yang mengentaskan krisis ekonomi lewat solusi spektakuler;  
- menolak legitimasi lewat pusat keagamaan dan scripturalism yang manipulatif;  
- menolak pembebasan politik yang menggadaikan penyembahan kepada Allah.  
Beberapa penafsir Indonesia dan internasional menunjukkan bahwa di sini Yesus sama sekali tidak “menyelesaikan” penderitaan sosial-politik Israel—kemiskinan, ketidakadilan keagamaan, dan penjajahan tetap berlangsung setelah adegan ini, Itu dapat terbaca sebagai “keras”: Allah dalam Yesus menolak jalur penyelesaian cepat yang populis, dan justru memilih jalan ketaatan, penderitaan, dan salib.   Implikasi teodisi: keras terhadap “budak kesejahteraan”  Satu studi historis Indonesia membaca Matius 4:1-11 dalam kerangka teodisi dan menyimpulkan bahwa Yesus sengaja menolak “program-program” penyelesaian krisis yang ditawarkan Iblis demi memelihara kebebasan manusia dan kemurnian relasi iman.
- Jika Allah menjawab krisis dengan selalu mematahkan hukum alam dan struktur sosial lewat mukjizat massal, manusia akan menjadi “budak kesejahteraan” yang hanya beriman karena manfaat, bukan karena pilihan bebas.
- Dengan menolak tiga tawaran itu, Yesus mengkritik tajam model iman yang mengabsolutkan keamanan ekonomi, perlindungan spektakuler, dan kemenangan politik sebagai syarat percaya. Itu gaya bahasa dan strategi yang keras terhadap pola keberagamaan zamannya, meski disampaikan dengan kutipan Kitab Suci, bukan caci-maki.  Dalam perspektif itu, Matius 4:1-11 adalah teks yang retoriknya keras: ia membongkar cara berpikir religius-politik masyarakat dan pemimpin zaman itu sampai ke akar, dengan menampilkan Yesus yang tidak mau “dipakai” untuk melegitimasi agenda mereka, melainkan mendefinisikan ulang apa artinya menjadi Anak Allah dan apa artinya beriman dalam dunia penuh penderitaan. 

(19022026)(TUS)


Puisi Ironi 𝗱𝗶 𝗦𝗲𝗸𝗶𝘁𝗮𝗿 𝗞𝗲𝗯𝗮𝗻𝗴𝗸𝗶𝘁𝗮𝗻

Puisi 𝗜𝗿𝗼𝗻𝗶 𝗱𝗶 𝗦𝗲𝗸𝗶𝘁𝗮𝗿 𝗞𝗲𝗯𝗮𝗻𝗴𝗸𝗶𝘁𝗮𝗻 Yesus yang menderita, mati dalam kesendirian, kini bangkit. Ia mena...