PENGANTAR
JIKA ADA ORANG MENCURI, BERDUSTA ATAU ΜΕLAKUΚΑΝ MANIPULASI LANGSUNG ΚΕΤΑΗUΑΝ, ITU BERUNTUNG.
ΤΑΡΙ ΡΕRΒUΑΤΑΝΝΥΑ TIDAK ΚΕΤΑΗUΑΝ ΑΤΑU DΙΒΙΑRΚΑΝ ΒΑΗΚΑΝ PERBUATANNYA DIANGGAP NORMAL, ΜΑΚΑ DIPASTIKAN ORANG TERSEBUT ATAU MEREKA YANG SETUJU ADA DALAM BAHAYA BESAR
Narasi dalam kalimat itu bukan sekadar peringatan moral, tetapi cermin rohani bagi gereja dan pribadi kita.
PEMAHAMAN
Alkitab menunjukkan bahwa dosa yang ditegur masih memberi ruang pertobatan. Tetapi dosa yang dibiarkan akan membentuk budaya. Dalam Efesus 4:19, "Perasaan mereka telah menjadi tumpul..." Paulus memakai kata Yunani untuk tumpul yaitu 'apelgekotes' — “kehilangan rasa.” Ini gambaran hati yang mati rasa. Awalnya mungkin hanya kompromi kecil. Lama-lama menjadi kebiasaan. Lalu menjadi karakter.
Contohnya nyata dan dekat dengan kita.
Mencuri bukan hanya mengambil barang orang lain. Itu bisa berbentuk manipulasi laporan keuangan gereja, “memainkan” dana pelayanan, mengambil komisi tersembunyi dalam proyek rohani. Berdusta bukan hanya berbohong terang-terangan, tetapi memberi kesaksian rohani yang dilebih-lebihkan demi pencitraan. Manipulasi bisa muncul dalam pelayanan: memakai mimbar untuk menekan jemaat agar memberi, atau menggunakan ayat Alkitab untuk mengendalikan orang.
Awalnya mungkin ada rasa bersalah. Tapi ketika lingkungan diam, ketika pimpinan menutup mata, ketika jemaat berkata, “Sudahlah, yang penting pelayanan jalan,” di situlah bahaya mulai membesar.
Roma 1:32 berkata bahwa bukan hanya pelaku, tetapi juga mereka yang “setuju” turut bersalah. Kata Yunani 'syneudokeō' (συνευδοκέω) berarti memberi persetujuan bersama. Jadi ketika kita tahu ada ketidakjujuran tetapi memilih diam demi kenyamanan, kita sedang ikut membangun sistem dosa itu.
Dalam 1 Timotius 4:2, hati nurani yang terus-menerus diabaikan digambarkan dengan kata 'kautēriazō' — seperti daging yang dibakar besi panas sampai mati rasa. Itu yang berbahaya. Bukan sekadar dosanya, tetapi hilangnya kepekaan.
Contoh lain yang sering dinormalisasi:
- Pemimpin rohani yang bersikap kasar tetapi dibela karena “dia hamba Tuhan yang dipakai.”
- Favoritisme di gereja: yang kaya disambut hangat, yang sederhana diabaikan.
- Gosip rohani yang dibungkus dengan kalimat, “kita perlu doakan dia,” padahal itu penyebaran aib.
- Pelayanan dilakukan bukan untuk Tuhan, tetapi untuk panggung, posisi, dan pengaruh.
Amsal 29:1 memperingatkan tentang hati yang mengeras (qashah — keras, kaku). Ketika teguran dianggap serangan, ketika koreksi dianggap ancaman, itu tanda hati mulai membatu.
Renungan ini bukan untuk menunjuk orang lain. Ini untuk memeriksa diri kita sendiri. Apakah kita masih peka saat Roh Kudus menegur? Apakah kita berani menolak budaya pembiaran, meskipun itu tidak nyaman?
Lebih baik ditegur dan bertobat daripada dipuji dalam kebusukan.
Jika dosa masih terasa mengganggu hati kita, bersyukurlah. Itu tanda hati masih hidup. Bahaya besar bukan saat kita jatuh, tetapi saat kita tidak lagi merasa bahwa kita jatuh.