Di suatu komunitas gereja menengah, nama seorang pendeta yang selama ini dipandang sebagai figur teladan mendadak ramai diperbincangkan. Bukan karena khotbahnya yang memukau atau pelayanannya yang berurapan, melainkan kejatuhannya dalam dosa perzinahan, dan terjadi dengan salah satu jemaat yang juga melayani sebagai pemuji.
Pendeta dipanggil untuk menjadi teladan bukan hanya dalam khotbah namun juga dalam integritas pribadi. Pendeta juga tak dapat menolak bahwa secara otomatis ia adalah figur publik yang diamati banyak orang, baik di dalam maupun di luar gereja.
Manakala pendeta jatuh dalam hubungan terlarang, itu merupakan tragedi rohani yang pasti menimbulkan reaksi emosional maupun teologis.
Hasil riset Journal of Religion Health, pemimpin rohani yang terlibat skandal seksual akan mengalami dua kali lipat krisis identitas, guilt, stress & isolasi psikologis daripada pelaku diluar konteks keagamaan.
Pengucilan, hukuman moral yang lebih berat serta ancaman kehancuran karir pelayanan dan citra diri seumur hidup akan memperparah krisis pasca kejatuhan (Stack, W.K., et al. 2019).
Beda dengan pelaku diluar dunia rohani, publik tak akan melihat apalagi memahami alasan 'manusiawi' jika pendeta selingkuh. Publik pasti akan bersikap lebih kejam.
PRO-KONTRA JEMAAT
Dari sisi internal, pasti sebagian besar akan marah & menghakimi sang pendeta. Mereka akan merasa kepercayaan mereka dikhianati. Beban sebagai pemimpin rohani akan menambah bobot penghakiman itu.
Krisis kepercayaan akan terjadi, karena pendeta telah dianggap merusak kepercayaan kolektif, bukan hanya pada beberapa tapi juga keseluruhan gereja.
Bagaimanapun, sudut pandang empatik akan selalu ada dalam jemaat. Pendapat: "Namanya juga manusia, kita semua pasti berdosa," dan "ayo kita rangkul, jangan hakimi," pasti juga akan ada, namun tak sebanyak kubu kontra.
Reaksi komunitas pun pasti akan terbelah tajam, antara keadilan, pengampunan maupun martabat perlindungan manusia.
REAKSI & TINDAKAN ORGANISASI
Lembaga gereja sebetulnya memiliki 2 (dua) tanggung jawab kontradiktif yaitu:
Mendisiplinkan - demi menjaga standar moral hamba Tuhan dalam lingkup organisasinya. Melakukan penangguhan pelayanan (skorsing) serta memberi kesempatan evaluasi & pembinaan.
Memulihkan - pembinaan pastoral kepada pendeta yang melakukan hubungan seksual di luar nikah. Lembaga gereja perlu menyiapkan instrumen konseling yang dapat membawa kepada pertobatan.
Sinode harusnya tidak hanya fokus pada hukuman (skorsing/pecat) namun melihat pendeta/gembala juga adalah 'domba' yang terhilang.
BAGAIMANA DENGAN KELUARGA PENDETA?
Sisi yang paling terlupakan dalam skandal perselingkuhan pendeta adalah keluarga pendeta itu sendiri. Biasanya sinode & gereja hanya sibuk mengurus pelaku & hukuman apa yang akan diberikan.
Pasangan sejatinya adalah korban terdampak pertama. Dipermalukan secara publik, trauma emosional & perasaan gagal mempertahankan keutuhan rumah tangga akan menjadi sebuah momok yang meruntuhkan pertahanan psikologis.
Anak-anak menjadi korban terdampak kedua. Kebingungan, kekecewaan, stigma di sekolah serta trauma sosial psikologis pasti akan dialami.
Gereja harusnya menjadi benteng teraman bagi keluarga pendeta yang terdampak. Ruang yang aman bagi pasangan & anak, perlindungan dari pemberitaan sensasional serta pendampingan selama masa skorsing & pemulihan juga perlu menjadi beban gereja.
Gereja tidak boleh hanya menerima 'enaknya' saja, namun bersedia untuk menghadapi badai apapun yang menghantam, termasuk dari 'cacat' pemimpin gereja itu sendiri.
KONTROVERSI ANTARA HUKUMAN vs KASIH KARUNIA
Biasanya opini jemaat dan publik akan terbelah. Antara pendeta harus dihukum lebih berat & kej4m, atau kasih yang membawa pemulihan & bukan pemecatan atau pengucilan abadi.
Kedua kubu ini bisa benar secara teologis & sosiologis, namun ketegangan ini dapat membuat gereja pecah. Perlunya para tua-tua jemaat & organisasi sinodenya dapat bekerjasama untuk menetralisir dampak di dalam & diluar jemaat.
Perlu diingat & direnungkan, bahwa kejatuhan seorang pendeta dalam dosa seksual menunjukkan kita akan rapuhnya manusia serta berbahayanya idealisasi yang berlebihan terhadap pemimpin rohani. Disisi lain, diperlukan adanya sebuah komunitas Tubuh Kristus yang dapat membebat luka tanpa menghakimi.
KESIMPULAN
Skandal perselingkuhan seorang pendeta adalah tragedi moral, sosial, dan spiritual yang kompleks. Reaksi jemaat, tindakan sinode, dan dampaknya pada keluarga tidak bisa dikesampingkan.
Yang diperlukan bukan sekadar kritik tajam, tetapi dialog yang jujur, dukungan yang manusiawi, dan sistem gerejawi yang mampu menyeimbangkan keadilan dan kasih.
Ini bukan hanya kisah “kegagalan seorang pemimpin rohani”, namun ini adalah sebuah cermin kolektif tentang bagaimana kita sebagai Tubuh Kristus merespon dosa, kegagalan, luka, dan proses pemulihan.