Minggu, 15 Februari 2026

SUDUT PANDANG TAFSIR INJIL MARKUS ATAS MINGGU PALMARUM

SUDUT PANDANG TAFSIR INJIL MARKUS ATAS MINGGU PALMARUM


PENGANTAR

Yesus dan murid-murid-Nya masuk ke kota Yerusalem setelah perjalanan dari Yerikho (Markus 10:46). Tindakan Yesus masuk ke kota Yerusalem akan membawa Dia kepada penderitaan dan kematian-Nya di atas kayu salib. 

PEMAHAMAN 

Kisah Yesus yang naik ke kota Yerusalem juga dipersaksikan oleh Mazmur 118. Dalam hal ini Mazmur 118 sengaja dipilih oleh The Revised Common of Lectionary sebagai bacaan leksionaris untuk memahami makna Yesus masuk ke kota Yerusalem. Di Mazmur 118:19 mempersaksikan: “Bukakanlah aku pintu gerbang kebenaran, aku hendak masuk ke dalamnya, hendak mengucap syukur kepada TUHAN.” Menurut Frank H. Ballard dalam The Interpreter's Bible Volume 4 , makna “pintu kebenaran” menunjuk ke pintu Bait Allah di Yerusalem. Umat ​​sebagai orang-orang yang benar di hadapan Allah diundang masuk melalui gerbang rumah Allah. Undangan tersebut bertujuan agar umat bersedia mendedikasikan hidupnya pada kebenaran (Mzm. 118:20) karena mereka telah menerima keselamatan dari Allah. Keselamatan tersebut justru terjadi pada umat yang dianggap semula tidak layak masuk ke pintu gerbang rumah Allah, namun kini mereka diperkenankan untuk bersembunyi. Dalam hal ini Frank H. Ballard menafsirkan bahwa “batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan” sebenarnya ditujukan kepada bangsa-bangsa di luar umat Israel. Dahulu mereka anggap tidak berguna, namun kemudian Allah berkenan menjadikan mereka sebagai “batu penjuru.” Itu sebabnya respon di Mazmur 118:24 pemazmur menyatakan kegembiraan bersama umatnya, yaitu: “Inilah hari yang dijadikan TUHAN, marilah kita memperkenalkan-sorak dan mewujudkannya!” Rupanya sikap gembira umat tersebut dilandasi oleh pengharapan bahwa mereka selalu membutuhkan keselamatan dari Allah, sehingga umat menyatakan: “Ya TUHAN, berilah kiranya keselamatan! Ya TUHAN, berilah kiranya kemujuran!” (Mzm. 118:25). Dengan demikian seruan umat “Ya TUHAN, berilah kiranya keselamatan!” menggemakan gagasan hosanna yang diucapkan oleh penduduk Yerusalem saat Yesus masuk melalui pintu gerbang kota Yerusalem. Di dekat Betfage dan Betania yang terletak di Bukit Zaitun, Yesus mengajak dua orang murid-Nya dengan pesan: “Pergilah ke kampung yang di depanmu itu. Pada saat kamu masuk di situ, kamu akan segera menemukan seekor elang muda tertambat, yang belum pernah ditunggangi orang. Injil Markus mempersaksikan kuasa Yesus yang mampu meramalkan sesuatu yang akan terjadi di masa depan, bahkan juga reaksi orang yang akan menanyakan alasan para murid untuk melepaskan hal tersebut. Dengan demikian kemampuan Yesus memprediksi masa depan tersebut berkaitan pula dengan prediksi-Nya tentang apa yang akan terjadi pada diri-Nya. Di Markus 8:31, Yesus berkata: “Anak Manusia harus menanggung banyak penderitaan dan ditolak oleh tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan bangkit setelah tiga hari” (bdk. Markus 9:31; 10:33-34; 14:62). Dengan demikian keputusan Yesus pergi ke Yerusalem didasari pada kesadaran ilahi-Nya bahwa Dia melaksanakan kehendak dan keselamatan rencana Allah. Kesadaran ilahi Yesus Merujuk pada kekuasaan Allah yang maha tahu ( maha tahu ) apa yang akan terjadi, sehingga peristiwa kematian yang dialami Yesus merupakan wujud dari rencana keselamatan Allah. Allah telah mempersiapkan karya keselamatan dalam penebusan Kristus, sehingga penderitaan dan kematian Yesus merupakan karya pendamaian yang akan memulihkan dan mengampuni umat yang percaya kepada-Nya. Umat ​​Israel di Yerusalem dikisahkan menyambut Yesus dengan meriah dan sikap hormat. Kesaksian Markus 11:8 yaitu: “Banyak orang yang menghamparkan pakaiannya di jalan, ada pula yang menyebarkan ocehan-ranting hijau yang mereka ambil dari ladang” menunjukkan pemahaman umat Israel di Yerusalem yang begitu hormat dengan menganggap Yesus seperti seorang pahlawan yang menang perang. Penduduk Yerusalem bersedia baju yang mereka pakai diinjak oleh habitat yang ditunggangi Yesus. Di kitab Makabe 13:51 mempersaksikan bagaimana sikap penduduk Yerusalem menyambut Simon saudara Yudas Makabe setelah ia berhasil mengalahkan musuh yang menguasai puri Yerusalem. Yerusalem Penduduk menyambut Simon sebagai seorang pahlawan, yaitu: “Pada tanggal dua puluh tiga bulan kedua tahun Seratus tujuh puluh satu maka Simon memasuki puri itu dengan kidung dan daun palem, diiringi dengan kecapi dan dandi, sambil menyanyikan madah dan gita. Sebab musuh besar Israel sudah digempur.” Namun sikap masyarakat Yerusalem memandang diri Yesus melebihi seorang pahlawan yang menang perang, karena mereka menyebut diri Yesus sebagai Mesias Allah, yaitu Sang Mesias yang menghadirkan Kerajaan Allah di atas bumi. Di Markus 11:9-10 mempersaksikan sikap umat Israel di Yerusalem, yaitu: “Hosana! Diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan, mendoronglah Kerajaan yang datang, Kerajaan bapak kita Daud, hosana di tempat yang maha tinggi!” Makna kata hosanna adalah: “Oh, selamatkanlah sekarang!” atau: “Sudilah selamatkan kami.” Penduduk Israel memohon agar Yesus Sang Mesias Allah berkenan menyelamatkan mereka sekarang dari penjajahan bangsa Romawi. Ketika mereka telah terbebas dari penjajahan politik, maka mereka berharap agar Kerajaan Allah yang jaya seperti Kerajaan Daud menguasai seluruh kehidupan umat. Dengan demikian, penduduk Yerusalem memiliki harapan dan keyakinan yang begitu besar bahwa Yesus Sang Mesias memiliki kemampuan untuk mengalahkan penguasa penjajahan bangsa Romawi, dan membangun kerajaan Mesias. Harapan yang begitu besar dapat membutakan mata hati seseorang. Demikian pula yang terjadi pada penduduk Yerusalem dalam memahami makna ke-Mesias-an Yesus. Karena harapan penduduk Yerusalem masih didasari oleh pemahaman Mesias politis. Pengharapan politik penduduk Yerusalem semakin bertambah besar setelah mereka menyaksikan bagaimana Yesus berkuasa membuat berbagai macam mukjizat dengan kekuatan ilahi. Pengharapan politis tersebut ternyata membutakan iman mereka untuk melihat makna dan tujuan yang sesungguhnya dari perbuatan-perbuatan mukjizat yang dilakukan Yesus yaitu untuk menyatakan kedudukan dan kuasa-Nya sebagai Anak Allah yang bertekad Allah menjadi penyelamat. Yerusalem Penduduk belum sepenuhnya memahami makna ke-Mesias-an Yesus bertujuan untuk membebaskan mereka dari penjajahan dan kuasa dosa. Oleh karena itu penduduk Yerusalem menjadi sangat kecewa saat Yesus tidak memberikan perlawanan saat ditangkap. Saat dianiaya Yesus tidak menampilkan kuasa-Nya yang menakjubkan di hadapan Pontius Pilatus. Sikap yang menyanjung-nyanjung Yesus segera berubah menjadi kemarahan dan kebencian. Dari teriakan pujian “Hosana” berubah menjadi teriakan “salibkanlah Dia.” Sebagai penyelamat, Yesus memiliki kuasa untuk mengampuni dosa (bdk. Markus 2:10). Kuasa dan praktik penjajahan hanyalah salah satu perwujudan dari kuasa dosa. Karena itulah Yesus datang ke dunia untuk menghancurkan kuasa dosa yang membelenggu umat manusia (Markus 10:45). Sebagai bagian umat Israel, Yesus memahami kota Yerusalem sebagai kota Allah karena di sanalah Bait Allah berada. Tindakan Yesus masuk ke kota Yerusalem merupakan pernyataan Yesus untuk mendedikasikan hidup-Nya kepada kebenaran. Lebih dari itu Yesus masuk ke kota Yerusalem dilakukan dalam rangka melaksanakan kehendak dan rencana Allah untuk menyatakan karya keselamatan Allah. Umat ​​Israel berziarah ke kota Yerusalem dalam rangka mengucap syukur atas keselamatan yang dikaruniakan Allah. Sebaliknya Yesus masuk ke kota Yerusalem dilakukan dalam rangka mewujudkan karya keselamatan Allah, yaitu perdamaian melalui penderitaan dan kematian-Nya. Penduduk kota Yerusalem menyambut kedatangan Yesus dengan perayaan yang meriah dan penuh hormat. Seruan mereka, hosanna yang artinya: “Oh, selamatkanlah sekarang!” atau: “Sudilah selamatkan kami” menunjuk pada harapan penduduk Yerusalem untuk mendapatkan keselamatan yang bebas dari penjajahan Romawi. Karena itu mereka kecewa dan marah karena harapan mereka tidak terwujud, sebab Yesus datang untuk membebaskan mereka dari kuasa dosa. Karena itu mereka yang semula berteria menyambut Yesus dengan “Hosana” berubah menjadi “Salibkanlah Dia!” Dalam konteks ini umat pada masa kini perlu menjadi sadar mempengaruhi pemikiran dan harapan yang ideologis, sehingga mereka mampu memahami karya keselamatan yang lebih utuh dan menyeluruh. 


"Mengapa Agama Abad ke-7 Mencoba Mengajari Sejarah Abad ke-1 Tentang Yesus?" Loya Latoya Seorang teman Muslim mengirimkan gambar i...