Sudut Pandang Cara Berpikir orang Berea atas Paulus
PENGANTAR
Tidak mungkin orang kritis itu tidak banyak membaca, tidak mungkin orang yang tajam pikirannya itu tidak haus membaca, kalau ada orang yg kritis katanya tapi tidak banyak membaca bisa diduga dia hanya asal bunyi tidak memiliki argumentasi yang kuat, sok .... mungkin kata anak muda.
Perhatikan penulis Injil yang memakai sumber cerita tentang Yesus untuk mengajarkan bahwa membaca itu ciri khas pengikut Kristus, dg menggambarkan Kristus selalu menghardik orang farisi dan pemuka agama dengan kata-kata:" tidakkah kamu baca ......" Coba lihat bbrp ayat berikut :
PEMAHAMAN
Kisah orang Berea dalam Kisah Para Rasul 17:10–12 sering dipakai sebagai contoh jemaat yang “baik.” Namun, jika diperhatikan lebih dalam, kisah ini bukan sekedar pujian terhadap kerajinan membaca Kitab Suci, melainkan gambaran tentang komunitas yang berani berpikir kritis tanpa kehilangan kerendahan hati.
Kita perlu mengetahui latar belakang orang-orang Yahudi yang tinggal di Berea ini.
Berea adalah sebuah kota di wilayah Makedonia (Yunani sekarang), tidak sebesar Atena atau Tesalonika. Orang-orang Yahudi di sana hidup sebagai komunitas diaspora, minoritas yang mempertahankan iman Yahudi di tengah budaya Yunani. Mereka terbiasa membaca Taurat dan kitab para nabi di sinagoge, serta menilai setiap pengajaran berdasarkan Kitab Suci.
Beda dengan sebagian orang Yahudi di Tesalonika yang langsung menolak Paulus karena curiga terhadap ajaran baru, orang Berea dikenal lebih terbuka dan terpelajar. Lukas bahkan menyebut mereka “lebih baik hatinya” karena mau mendengar terlebih dahulu sebelum mengambil kesimpulan. Tapi keterbukaan itu bukan berarti mereka mudah percaya. Mereka tetap memeriksa / meneliti ajaran Paulus.
Hal ini penting, sebab Paulus sendiri adalah mantan rabi Yahudi yang sangat terdidik dan memiliki otoritas besar. Tetapi bagi orang Berea, otoritas manusia tetap harus tunduk pada otoritas Firman Tuhan.
Berikut adalah beberapa poin untuk kita renungkan:
1. Kesalehan yang berpikir
Paulus adalah seorang Rasul besar, punya otoritas, dan mungkin paling pintar di jamannya. Tapi, orang Berea tidak langsung “menelan mentah-mentah” khotbahnya. Teks mengatakan mereka “menyelidiki Kitab Suci SETIAP HARI” untuk memeriksa apakah ajaran Paulus benar.
Pelajaran bagi kita adalah iman yang buta bukanlah iman yang sehat, umat yang buta bahkan tuli bukan umat yang sehat. Tuhan memberikan kita akal budi bukan untuk diparkir di luar gereja, melainkan untuk MENGUJI kebenaran. Menjadi kritis terhadap pengajaran bukan tanda kurang iman, melainkan bentuk tanggung jawab rohani.
2. Keterbukaan hati vs. sikap skeptis
Ada perbedaan tipis antara “kritis” dan “nyinyir”. Orang Berea menerima firman itu dengan “segala kerelaan hati”. Mereka tidak mencari-cari kesalahan Paulus karena benci, tetapi mereka menyelidiki karena haus akan kebenaran, point adalah menyelidiki bukan menelan mentah.
Kritis yang sehat selalu dibarengi dengan kerinduan untuk belajar. Jika kita hanya ingin mendebat tanpa niat bertumbuh, kita bukan sedang menjadi “orang Berea”, kita hanya sedang menjadi orang sombong.
3. Otoritas yang diuji, bukan secara buta dipatuhi
Paulus tidak marah ketika orang Berea memeriksa ajarannya. Ini menarik, karena Paulus adalah pemimpin besar. Secara teologis, ini menunjukkan bahwa Firman Tuhan (Kitab Suci) selalu berdiri di atas otoritas manusia, siapapun manusianya.
Seorang pengkhotbah atau pemimpin rohani yang benar tidak akan takut diuji dengan Alkitab. Jika seorang pemimpin merasa tersinggung saat umatnya bertanya atau mengecek fakta, di situlah kita perlu waspada, pemimpin yang anti kritik, membutakan diri, dan menulikan diri adalah bukti kefarisian, yg dikritik Yesus, seorang pemimpin harus mengutamakan diskusi. Seorang pemimpin harus bukan yang baperan, repot kalau pemimpinan ya baperan dan tidak mengutamakan diskusi plus argumentasi yang baik.
Belajar dari Paulus dan orang Berea adalah belajar tentang keseimbangan antara otak dan hati. Kita butuh hati yang terbuka untuk menerima hal baru, tetapi kita butuh otak yang kritis untuk memastikan hal baru itu memang datang dari Tuhan, bukan sekadar karisma / pesona manusia.
Pertanyaannya untuk gereja masa kini adalah apakah komunitas kita sudah cukup memberi ruang bagi anggota jemaat untuk bertanya, memeriksa, dan berdiskusi secara sehat seperti orang Berea? Ataukah justru budaya kritis dianggap ancaman bagi otoritas?