Senin, 02 Maret 2026

Kadang yang paling rapi justru yang paling rawan disembunyikan. Liturgi berjalan, musik terdengar indah, mimbar tetap berdiri tegak. Tetapi “urusan dapur” tidak selalu seharum dupa doa yang kita naikkan. Ada bisik-bisik, ada saling sindir halus, ada perasaan ingin lebih diakui dari yang lain. Pertanyaannya jujur saja: kalau ruang belakang penuh persaingan dan kubu-kubu kecil, mungkinkah sesuatu yang sungguh baik lahir dari sana?

Rasul Paulus pernah menegur jemaat yang terpecah karena fanatisme kelompok—“aku dari ini, aku dari itu.” Roh yang sama yang membaptis mereka menjadi satu tubuh justru mereka pakai untuk membenarkan preferensi pribadi. Persaingan dalam pelayanan sering dibungkus kata “a standard for excellence” atau “demi kemuliaan Tuhan.” Padahal kadang yang diperjuangkan bukan kemuliaan Tuhan, tapi posisi, pengaruh, dan panggung. Kalau hati yang melayani terkontaminasi ambisi, hasilnya mungkin tetap terlihat bagus, tapi rasanya hambar di hadapan Allah.

Namun jangan buru-buru putus asa. Tuhan sanggup menumbuhkan gandum bahkan di tanah yang keras. Ia tidak menunggu dapur gereja steril untuk bekerja. Sejarah gereja menunjukkan bahwa Allah sering tetap menyelamatkan, mengubahkan, bahkan membangkitkan pertobatan melalui pelayanan yang secara internal penuh kelemahan. Kabar baiknya: kuasa Injil tidak bergantung pada kematangan karakter kita. Kabar buruknya: kita tetap akan menuai konsekuensi relasi yang rusak jika tidak bertobat.

Pertanyaannya bukan hanya “bisakah hal baik tetap terjadi?” tetapi “berapa harga yang harus dibayar kalau kita terus membiarkan kubu-kubu itu?” Pelayanan yang lahir dari kompetisi melahirkan budaya saling curiga. Generasi muda belajar bahwa melayani berarti membangun jaringan, bukan membangun karakter. Jemaat menangkap aroma ketidaksinkronan antara pesan kasih dan praktik kuasa. Kita mungkin masih menghasilkan program, tetapi kehilangan kesaksian.

Jadi jalan keluarnya bukan sekadar restrukturisasi tim atau rotasi jabatan. Itu perlu, tapi bukan inti. Yang dibutuhkan adalah metanoia kolektif, perubahan cara berpikir tentang makna pelayanan. Melayani bukan tentang siapa paling terlihat, tapi siapa paling rela berkurang supaya Kristus bertambah. Ketika dapur dibersihkan oleh kerendahan hati, pengakuan dosa, dan keberanian untuk saling menegur dalam kasih, barulah apa yang dihidangkan benar-benar mengenyangkan jiwa. Tuhan masih bisa bekerja di tengah ketidaksempurnaan kita, tetapi Ia jauh lebih dimuliakan ketika kita memilih bertobat daripada sekadar bertahan.

Kadang yang paling rapi justru yang paling rawan disembunyikan. Liturgi berjalan, musik terdengar indah, mimbar tetap berdiri te...