Sudut Pandang mawas diri untuk kritisi
Belakangan saya banyak merenung mengenai aktivisme orang-orang yang ingin memperjuangkan sebuah nilai di tengah situasi yang tidak adil dan tidak benar, termasuk diri sendiri. Mungkin saja nilai yang mereka atau kita perjuangkan memang luhur dan perlu didukung. Namun, cara-cara yang dipergunakan kerap kali berlebihan. Kita dapat menyebut salah satunya sebagai cancel culture. No viral, no justice.
Soalnya, yang terlalu sering muncul adalah hasrat PROJECTION yang terlalu kuat, tanpa diiringi oleh kesediaan REFLECTION yang harusnya juga mendalam. Proyeksi (projection) membuat mereka tampil bagai seorang nabi yang mengecam pelaku ketidakbenaran. Maka, khalayak ramai akan mudah mendukung mereka dan segera muncul pola hitam-putih yang terlalu sederhana. Mereka yang dituduh sebagai pelaku dimasukkan ke kelompok hitam yang kotor sekotor-kotornya dan pengecam tentu masuk ke kelompok putih yang bersih sebersih-bersihnya.
Akan tetapi, proyeksi semacam itu sering tidak diawali atau dibarengi dengan refleksi diri (self-reflection) yang mendalam. Ini penting, sebab refleksi ini akan memaksa si pengecam atau kita untuk mengakui dengan jujur bahwa dirinya atau kita tidak sepenuhnya putih, (dan mungkin yang dikecam tidak sehitam yang mereka duga). Ingat, para nabi di padang gurun itu menghabiskan banyak waktu untuk berada di padang gurun untuk berefleksi. Hanya dengan cara itu kecaman kuat mereka menjadi sebuah seruan yang sungguh-sungguh bermoral dan bening. Tanpa refleksi ini, proyeksi kencang hanya akan menciptakan kegaduhan yang berlebihan dan tidak perlu.
Di ujung hari itu, mungkin kita perlu merenungi ucapan Paulus—senyampang kita berada di masa Pra-Paska: "Di antara mereka akulah yang paling berdosa."
Apakah saya tengah "menyenggol" orang-orang tertentu? Mungkin. Tapi, apa yang saya tulis ini sebenarnya juga mempermalukan diri saya sendiri. Selamat meneruskan masa pra-Paska ini ...