Sudut Pandang Jejak Masa Muda Yesus Sebelum Yordan: Kisah 18 Tahun yang Tak Tertulis (sebuah drama imajinatif penulis).
PENGANTAR
Ini hanya keisengan imajinasi penulis, melihat cerita sastra Injil. Sebuah drama imaginasi flash back dari individu yang dikagumi.
PEMAHAMAN
Matahari belum sepenuhnya terbit di ufuk Galilea, tapi pemuda itu sudah menyeka peluh di dahinya.
Sementara teman-teman masa kecilnya yang cerdas sedang mengepak perkamen untuk berangkat ke Yerusalem, mengejar posisi bergengsi di Bet Midrash (universitas elite para calon rabi), pemuda ini justru memanggul martil dan beliung.
Langkahnya mantap menyusuri jalan tanah berdebu sejauh enam kilometer dari desa kecilnya, Nazaret. Tujuannya? Sepphoris.
Di sinilah, di tengah bisingnya denting logam yang beradu dengan batu kapur, misteri 18 tahun kehidupan Yesus yang hilang dari Alkitab itu terukir.
Bagi anak laki-laki Yahudi abad pertama, pendidikan adalah segalanya. Lulus dari Bet Sefer (sekolah dasar) di usia belia, hanya mereka yang paling jenius yang akan ditarik oleh rabi besar untuk dididik menjadi ahli Taurat.
Namun Yesus, yang di usia 12 tahun sempat membuat para cendekiawan Bait Allah melongo, secara mengejutkan justru menempuh jalur vokasi.
Ia pulang ke rumah, melepas jubah akademis yang belum sempat dipakainya, dan mengenakan celemek kulit seorang Tekton.
Jangan bayangkan Tekton di masa itu seperti tukang kayu modern yang duduk manis meraut meja. Di Israel abad pertama, kayu sangat langka. Menjadi Tekton berarti menjadi kuli bangunan kelas berat merangkap arsitek dan pemahat batu.
Di Sepphoris, mega proyek kota metropolitan bergaya Yunani-Romawi ambisius milik Herodes Antipas, Yesus muda menghabiskan belasan tahun hidupnya.
Di bawah terik matahari, Ia belajar mengukur presisi fondasi, membelah batu karang, dan merakit rangka atap. Sang guru utamanya bukanlah seorang rabi berjubah mewah, melainkan ayah-Nya sendiri: Yosef.
Tahun demi tahun berlalu. Pundak Yesus semakin bidang, otot-ototnya terbentuk oleh kerasnya batu kapur, dan telapak tangan-Nya penuh dengan kapalan.
Namun, di saat yang sama, punggung pria tua yang selalu bekerja di samping-Nya mulai membungkuk. Napas Yosef semakin berat. Ayunan martilnya tak lagi sekuat dulu.
Hingga pada suatu hari, ketika Yesus berada di usia akhir dua puluhan (27-29 tahun), alat pahat itu akhirnya diletakkan untuk selamanya.
Di sebuah ranjang sederhana di Nazaret, dengan didampingi Maria dan Yesus yang memegang erat tangannya yang kasar, Yosef menghembuskan napas terakhirnya. Pria yang setia menjaga rahasia surga itu telah purna tugas.
Kini, beban itu sepenuhnya berpindah ke pundak sang pemuda.
Sebagai anak laki-laki tertua (dan satu-satunya), Yesus secara otomatis menjadi kepala keluarga. Ia harus banting tulang menggantikan posisi ayah-Nya di proyek konstruksi demi menafkahi ibunda-Nya yang kini menjadi seorang janda.
Penduduk Nazaret mungkin hanya memandang-Nya dengan sebelah mata: "Ah, Dia kan cuma kuli bangunan, anak janda Maria itu."
Namun, di balik baju kerjanya yang berdebu, ada sebuah ruang rahasia yang tak tersentuh oleh kelelahan fisik.
Lukas 4:16 mencatat sebuah detail yang menggetarkan: "seperti biasa Ia masuk ke rumah ibadat pada hari Sabat". Frasa seperti biasa ini adalah saksi bisu.
Selama 18 tahun, di tengah kerasnya menjadi tulang punggung keluarga, Yesus tak pernah absen dari Sinagoge.
Di sanalah, dalam keheningan doa dan gulungan Kitab Yesaya, relasi batin-Nya dengan Sang Bapa terus menyala. Ia tidak butuh ijazah dari Bet Midrash, karena Ia berdialog langsung dengan Sang Pemilik Sabda.
Maka, tak heran jika kelak di Yohanes 7:15, para elite agama Yerusalem dibuat kelabakan saat berdebat dengan-Nya. Mereka saling berbisik heran, "Bagaimana orang ini mempunyai pengetahuan sedemikian, padahal Ia tidak pernah belajar?"
Mereka tidak tahu, bahwa universitas Yesus adalah debu jalanan Sepphoris dan tanggung jawab mengurus keluarga. Perhatikan saja bagaimana Ia kelak berkhotbah.
Analogi-Nya begitu membumi dan menusuk relung hati.
Ia berbicara tentang orang bodoh yang membangun rumah di atas pasir, dan orang bijak di atas batu karang (sebuah hukum mutlak arsitektur Tekton).
Ia tahu betul rasanya memahat kuk (pasangan kayu pembajak) yang harus sangat presisi di leher lembu agar tidak menyakiti hewan itu, persis seperti janji-Nya: "Kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Ku pun ringan."
Semua perumpamaan brilian-Nya lahir dari keringat, air mata, dan pecahan batu kapur masa muda-Nya.
Namun, universitas jalanan ini tidak hanya menempa kedalaman teologi-Nya, melainkan juga memahat ketahanan fisik-Nya untuk satu misi terakhir yang paling brutal.
Pernahkah kita bertanya-tanya, bagaimana seorang tahanan yang punggungnya sudah dikoyak cambuk Romawi, yang ujungnya dipenuhi kaitan tulang dan timah, masih sanggup bangkit dan memanggul palang salib seberat puluhan kilogram mendaki bukit Golgota?
Jawabannya ada pada otot-otot lengan dan pundak yang selama 18 tahun terbiasa memanggul balok kayu dan batu kapur melintasi perbukitan Galilea.
Fisik-Nya tidak akan sekuat itu di sepanjang Jalan Salib, jika Ia tak pernah menahan pedihnya menjadi pekerja kasar di bawah terik matahari Sepphoris.
Lain kali, jika rutinitas pekerjaan harian kita terasa begitu melelahkan, membosankan, atau terasa kurang rohani, ingatlah kisah pemuda dari Nazaret ini.
Ingatlah rute berdebu sejauh enam kilometer yang Ia tempuh setiap hari demi menafkahi ibu-Nya.
Sebab kadang, hal-hal yang paling ilahi justru sedang Tuhan pahat dalam rutinitas kita yang paling membumi.