PENGANTAR
Dari diskusi di FBG Bengkel Liturgi, ada teman yg berseloroh menggoda, tetapi tetap menjadi jawab dari kami dan pemahaman serta meramaikan khazanah diskusi, masih perkara Minggu Palem, dan selorohnya begini :
Bacaan Injil Minggu Palma di gereja saya diambil dari Matius. Menurut catatan Matius: "Orang banyak yang sangat besar jumlahnya menghamparkan pakaiannya di jalan, ada pula yang memotong ranting-ranting dari pohon-pohon dan menyebarkannya di jalan."
Kalau mau reka ulang sesuai Matius maka sebaiknya:
1. Hamparkan pakaian.
2. Sebarkan ranting di jalan (bukan dilambaikan).
Prosesi memakai daun palem itu menurut Injil Yohanes. Jadi kemarin itu mengkhotbahkan dari Matius, tapi meminjam prosesi menurut Injil Yohanes.
Itu sudah blunder lageee.
Monggo. Siap menerima bully......sambil tertawa ngakak nih dia ..... sohib satu ini.
PEMAHAMAN
Dari mana tradisi daun palem yang setiap tahun dipegang dalam Minggu?
Jawabannya ada dalam Injil Yohanes. Di sana disebutkan bahwa orang banyak mengambil daun-daun palem untuk menyambut Yesus. Satu Injil. Satu detil. Satu praktik yang kemudian menjadi tradisi yang hampir tidak tergoyahkan. Dari satu detil itu lahir perayaan universal.
Dalam kerangka Tahun Liturgi, khususnya yang mengikuti RCL memang ada kemungkinan Injil Yohanes dibacakan pada Minggu Palem, misalnya dalam Tahun B sebagai alternatif dari Injil Markus. Akan tetapi itu tetap alternatif, bukan pola utama. Dalam banyak perayaan tahun lainnya yang dibacakan adalah Injil yang tidak menyebut daun palem sama sekali.
Namun menariknya praktiknya tidak berubah. Kadang kita membaca Yohanes, tetapi lebih sering tidak. Daun palem tetap selalu ada. Kita melakukan sesuatu yang tidak selalu kita dengar, dan kita jarang menyadarinya.
Tentu saja ini bukan kesalahan. Tradisi gereja memang tidak dibangun dari satu teks saja. Liturgi merupakan hasil dari perjumpaan panjang berbagai kesaksian Injil, yang dirajut menjadi satu praktik bersama. Justru karena itulah diperlukan kesadaran.
Mengapa hanya Yohanes yang menyebut daun palem?
Perbedaan ini bukan kebetulan redaksional yang kecil. Ia mencerminkan cara masing-masing Injil memahami peristiwa itu.
Dalam Injil Sinoptik penekanan utamanya bukan pada jenis daun, tetapi pada tindakan menyambut: orang banyak menghamparkan pakaian dan ranting sebagai tanda penghormatan kepada seorang raja yang datang dengan rendah hati. Fokusnya ada pada gestur penyerahan diri, bukan simbol politik tertentu.
Sebaliknya Injil Yohanes menafsirkan maknanya secara lebih simbolik dan teologis. Dengan menyebut “daun palem” Yohanes sedang memerjelas sesuatu yang implisit
bahwa penyambutan Yesus itu sarat harapan mesianik yang politis, harapan akan pembebasan, kemenangan, dan pemulihan Israel.
Pada aras ini maknanya menjadi lebih dalam sekaligus lebih problematis, karena yang mereka sambut belum tentu sama dengan siapa Yesus itu sebenarnya. Daun palem bisa menjadi simbol iman, tetapi juga bisa menjadi simbol harapan yang keliru.
Itu sebabnya Minggu Palem tidak berdiri sendiri. Minggu Palem dan Minggu Sengsara beririsan.
(31032026)(TUS)
Baca juga :
1.http://titusroidanto.blogspot.com/2026/03/menjelang-minggu-palem-muncul-kritik.html
2.http://titusroidanto.blogspot.com/2026/03/sudut-pandang_01265708660.html
3.http://titusroidanto.blogspot.com/2026/03/sudut-pandang_01610338098.html