PENGANTAR
Bagi teman-teman yang pernah menyaksikan film atau membaca bukunya, kutipan ini berasal dari dunia Narnia yang diciptakan oleh C. S. Lewis dalam bukunya The Lion, the Witch and the Wardrobe. Dalam cerita itu, seekor berang-berang menjelaskan tentang Aslan kepada anak-anak yang baru tiba di Narnia. Aslan adalah seekor singa besar, Raja sejati Narnia, sosok yang penuh kuasa, ditakuti oleh musuh-musuhnya, tetapi sangat dikasihi oleh mereka yang mengenalnya. Dalam keseluruhan kisah Narnia, Aslan sebenarnya adalah gambaran alegoris dari Kristus: ia rela mati menggantikan manusia, lalu bangkit kembali, dan memulihkan dunia yang rusak.
PEMAHAMAN
Ketika berang-berang berkata, “Ia tidak aman, tetapi Ia baik,” Lewis sedang menyentuh inti teologi yang dalam. Manusia sering menginginkan Tuhan yang aman—Tuhan yang tidak terlalu mengganggu hidup kita, tidak menuntut pertobatan, dan tidak mengguncang kenyamanan kita. Tetapi Alkitab memperkenalkan Tuhan yang kudus dan berdaulat. Dalam bahasa Ibrani, kata “baik” sering memakai kata טוֹב (tov), yang berarti bukan sekadar menyenangkan, tetapi sesuatu yang benar, selaras dengan kehendak Allah, dan membawa kehidupan yang seharusnya. Jadi “baik” menurut Allah tidak selalu terasa nyaman bagi manusia.
Perjanjian Baru memakai kata Yunani ἀγαθός (agathos) untuk “baik”. Kata ini menunjuk pada kebaikan moral yang murni dan benar. Artinya Allah baik bukan karena Ia selalu membuat hidup kita mudah, tetapi karena Ia selalu bertindak benar. Karena itu kehadiran-Nya kadang membuat manusia berdosa gemetar. Nabi Yesaya berseru, “Celakalah aku!” ketika melihat kemuliaan Tuhan (Yesaya 6:5). Rasul Petrus juga pernah berkata kepada Yesus, “Tuhan, pergilah dariku, karena aku ini orang berdosa” (Lukas 5:8). Allah yang kudus memang tidak “aman” bagi dosa.
Namun di sinilah keindahan Injil. Allah yang tidak bisa dipermainkan itu juga Allah yang penuh kasih. Ia tidak aman bagi dosa, tetapi Ia baik bagi orang yang mau bertobat. Salib Kristus menunjukkan dua hal sekaligus: kekudusan Allah yang menghukum dosa, dan kebaikan Allah yang menyelamatkan manusia. Seperti Aslan dalam kisah Narnia yang rela menyerahkan dirinya demi menyelamatkan orang lain, demikianlah Kristus menyerahkan diri-Nya bagi manusia.
Tuhan itu bukan sesuatu yang bisa kita jinakkan ibarat hewan peliharaan atau kendalikan menuruti kemauan kita. Ia adalah Raja. Kehadiran-Nya bisa mengguncang, menegur, bahkan meruntuhkan kesombongan kita. Tetapi justru karena Ia benar-benar tov dan agathos, kita tahu satu hal pasti—Raja itu baik. Dan kebaikan-Nya selalu lebih dapat dipercaya daripada rasa aman palsu yang sering kita cari.
(17032026)(TUS)