PENGANTAR
Kita mungkin harus mengerti lebih banyak tentang liturgi ketika menganggap khotbah sebagai mahkota liturgi
PEMAHAMAN
Ada banyak pendapat di kalangan Protestan bahwa khotbah adalah mahkota liturgi. Pendapat ini sering diulang, bahkan oleh para pendeta. Ini sungguh menggelikan, mereka justru tidak membuatnya menjadi mahkota, tidak menghadirkan kebaruan pemberitaan, melainkan sekadar memindahkan bahan katekisasi ke mimbar.
Kembali ke pertanyaan: benarkah khotbah adalah mahkota liturgi?
Dalam tata ibadah Gereja di Geneva yang disusun oleh John Calvin, khotbah memang penting, tetapi 𝘁𝗶𝗱𝗮𝗸 𝗽𝗲𝗿𝗻𝗮𝗵 𝗯𝗲𝗿𝗱𝗶𝗿𝗶 𝘀𝗲𝗻𝗱𝗶𝗿𝗶𝗮𝗻. Ibadah selalu bergerak dalam satu rangkaian:
▶️ Doa pembukaan
▶️ Pengakuan dosa
▶️ Nyanyian Mazmur
▶️ Pembacaan Kitab Suci
▶️ Khotbah
▶️ Doa syafaat
▶️ Pengakuan iman
▶️ Berkat
Struktur ini menunjukkan sesuatu yang sangat jelas: 𝗸𝗵𝗼𝘁𝗯𝗮𝗵 𝗯𝗲𝗿𝗮𝗱𝗮 𝗱𝗶 𝘁𝗲𝗻𝗴𝗮𝗵 𝗹𝗶𝘁𝘂𝗿𝗴𝗶, 𝗯𝘂𝗸𝗮𝗻 𝗺𝗲𝗻𝗴𝗴𝗮𝗻𝘁𝗶𝗸𝗮𝗻 𝗹𝗶𝘁𝘂𝗿𝗴𝗶. Bahkan Calvin sangat menekankan pembacaan Kitab Suci secara berurutan (𝘭𝘦𝘤𝘵𝘪𝘰 𝘤𝘰𝘯𝘵𝘪𝘯𝘶𝘢). Artinya umat mendengar Sabda 𝗹𝗮𝗻𝗴𝘀𝘂𝗻𝗴 𝗱𝗮𝗿𝗶 𝗞𝗶𝘁𝗮𝗯 𝗦𝘂𝗰𝗶, bukan hanya dari penjelasan pengkhotbah.
𝗝𝗮𝗻𝗴𝗮𝗻 𝗹𝘂𝗽𝗮: 𝗦𝗮𝗸𝗿𝗮𝗺𝗲𝗻!
Gereja sejati menurut Calvin dikenali dari dua hal:
1️⃣ Firman diberitakan dengan benar
2️⃣ Sakramen dilayankan dengan benar
Ini berarti 𝗙𝗶𝗿𝗺𝗮𝗻 𝗱𝗮𝗻 𝗦𝗮𝗸𝗿𝗮𝗺𝗲𝗻 𝘁𝗶𝗱𝗮𝗸 𝗱𝗮𝗽𝗮𝘁 𝗱𝗶𝗽𝗶𝘀𝗮𝗵𝗸𝗮𝗻. Dalam praktik di Geneva Perjamuan Kudus (PK) sebenarnya dimaksudkan dirayakan lebih sering, bahkan idealnya saban Minggu. Namun, karena keputusan Dewan Kota, frekuensinya dibatasi menjadi empat kali setahun. Artinya, secara teologis Calvin tidak pernah membayangkan ibadah yang hanya berpusat pada khotbah.
[Contoh untuk di GKI menurut Tager PK dilakukan sekurang-kurangnya empat kali setahun. Dalam praktik frekuensi ini menjadi batas tetap.]
Lantas dari mana muncul pakem “khotbah adalah mahkota liturgi”?
Fenomena ini berkembang jauh kemudian, terutama dipengaruhi oleh:
▶️ gerakan kebangunan rohani abad ke-18
▶️ budaya ceramah publik abad ke-19
▶️ 𝘳𝘦𝘷𝘪𝘷𝘢𝘭 𝘮𝘦𝘦𝘵𝘪𝘯𝘨
Dalam konteks itu mimbar menjadi pusat dan ibadah perlahan berubah menyerupai ceramah rohani. Reformasi tidak pernah mengganti liturgi dengan ceramah. Reformasi menempatkan khotbah 𝗱𝗶 𝗱𝗮𝗹𝗮𝗺 𝗹𝗶𝘁𝘂𝗿𝗴𝗶, 𝗯𝘂𝗸𝗮𝗻 𝗱𝗶 𝗮𝘁𝗮𝘀 𝗹𝗶𝘁𝘂𝗿𝗴𝗶.
Di Geneva pada zaman Calvin jemaat justru 𝗹𝗲𝗯𝗶𝗵 𝗯𝗮𝗻𝘆𝗮𝗸 𝗺𝗲𝗻𝘆𝗮𝗻𝘆𝗶𝗸𝗮𝗻 𝗠𝗮𝘇𝗺𝘂𝗿 𝗱𝗮𝗿𝗶𝗽𝗮𝗱𝗮 𝗺𝗲𝗻𝗱𝗲𝗻𝗴𝗮𝗿𝗸𝗮𝗻 𝗸𝗵𝗼𝘁𝗯𝗮𝗵. Bersama rekan-rekannya Calvin menyusun Mazmur Jenewa (𝘎𝘦𝘯𝘦𝘷𝘢𝘯 𝘗𝘴𝘢𝘭𝘵𝘦𝘳), yang seluruh kitab Mazmur diterjemahkan ke dalam puisi berirama agar dapat dinyanyikan oleh jemaat. Bagi Calvin Mazmur bukan sekadar musik pengisi ibadah. Mazmur adalah 𝗳𝗶𝗿𝗺𝗮𝗻 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝗱𝗶𝗱𝗼𝗮𝗸𝗮𝗻 𝗸𝗲𝗺𝗯𝗮𝗹𝗶 𝗼𝗹𝗲𝗵 𝗷𝗲𝗺𝗮𝗮𝘁 𝗸𝗲𝗽𝗮𝗱𝗮 𝗔𝗹𝗹𝗮𝗵.
Dengan demikian Sabda tidak hanya didengar melalui khotbah, tetapi juga:
▶️ diucapkan,
▶️ didoakan, dan
▶️ dinyanyikan oleh jemaat.
Ini menegaskan bahwa liturgi adalah 𝘁𝗶𝗻𝗱𝗮𝗸𝗮𝗻 𝗯𝗲𝗿𝘀𝗮𝗺𝗮 𝘀𝗲𝗹𝘂𝗿𝘂𝗵 𝗷𝗲𝗺𝗮𝗮𝘁, bukan panggung tunggal bagi pengkhotbah.
Tradisi Reformasi tidak pernah membayangkan ibadah yang seluruh perhatiannya tersedot kepada mimbar. Jika ibadah berubah menjadi hampir seluruhnya khotbah, itu bukan Reformasi. Itu adalah budaya mimbar yang muncul jauh setelah Reformasi.
Reformasi memang memandang penting pemberitaan Firman, tetapi selalu dalam kesatuan dengan seluruh tindakan liturgi.
(24032026)(TUS)