PENGANTAR
Fundamentalisme itu jamak (𝘧𝘶𝘯𝘥𝘢𝘮𝘦𝘯𝘵𝘢𝘭𝘪𝘴𝘮𝘴). Ada banyak ragamnya. Namun, prinsipnya sama: 𝘀𝗲𝗹𝗲𝗸𝘀𝗶 𝗮𝘆𝗮𝘁. Mereka memilih ayat-ayat yang sesuai dengan ideologi mereka masing-masing. Jika mendukung, maka teks itu historis. Jika tidak, maka mereka berdalih kiasan atau bahkan sama sekali tak dilirik.
PEMAHAMAN
Saya ambil contoh hari penyaliban Yesus.
Fundamentalis 1: Mereka meyakini Yesus disalib pada hari Rabu sebelum hari Paska Yahudi (14 Nisan). Setelah tiga hari tiga malam Yesus bangkit pada hari Minggu. Rujukan mereka adalah Injil Yohanes.
Fundamentalis 2: Mereka meyakini Yesus disalib pada hari Paska Yahudi (15 Nisan) atau Jumat. Perbedaan latar waktu di Injil sinoptik dan Injil Yohanes diakur-akurkan.
𝗔𝗽𝗮 𝗸𝗮𝘁𝗮 𝘁𝗲𝗸𝘀 𝗔𝗹𝗸𝗶𝘁𝗮𝗯?
Menurut Injil sinoptik Yesus disalib pada hari Paska Yahudi atau 15 Nisan (lih. Mrk. 14:14; Mat. 26:18; Luk. 22:15). Menurut Injil Yohanes Yesus disalib pada hari persiapan Paska atau sehari sebelum Paska Yahudi atau 14 Nisan (lih. Yoh. 13:1).
Ya harus diakui bahwa ada perbedaan hari penyaliban Yesus di Alkitab. Tidak perlu ditutup-tutupi. Tidak perlu membela dengan 𝘱𝘴𝘦𝘶𝘥𝘰-𝘴𝘤𝘪𝘦𝘯𝘤𝘦 yang ujung-ujungnya hanya untuk memuaskan diri sendiri. Justru yang terpenting adalah mengakui dan menerima ada perbedaan, lalu mengajukan pertanyaan mengapa berbeda dan 𝗮𝗽𝗮 𝗺𝗮𝗸𝗻𝗮𝗻𝘆𝗮?
𝗜𝗻𝗷𝗶𝗹 𝗬𝗼𝗵𝗮𝗻𝗲𝘀
▶️ Latar waktu episode 𝘗𝘦𝘳𝘴𝘦𝘬𝘶𝘵𝘶𝘢𝘯 𝘛𝘦𝘳𝘢𝘬𝘩𝘪𝘳 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘔𝘶𝘳𝘪𝘥-𝘔𝘶𝘳𝘪𝘥 𝘠𝘦𝘴𝘶𝘴 adalah 𝘴𝘦𝘣𝘦𝘭𝘶𝘮 𝘩𝘢𝘳𝘪 𝘗𝘢𝘴𝘬𝘢 𝘥𝘪𝘮𝘶𝘭𝘢 (Yoh. 13:1), bukan 𝘗𝘦𝘳𝘫𝘢𝘮𝘶𝘢𝘯 𝘛𝘶𝘩𝘢𝘯. Episode 𝘗𝘦𝘳𝘫𝘢𝘮𝘶𝘢𝘯 𝘛𝘶𝘩𝘢𝘯 dalam Injil Yohanes adalah 𝘠𝘦𝘴𝘶𝘴 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘦𝘳𝘪 𝘮𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘭𝘪𝘮𝘢 𝘳𝘪𝘣𝘶 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 (Yoh. 6:1-15), yang dilanjutkan penjelasan tentang Ekaristi (Yoh. 6:25-59).
▶️ Ketika Yesus ditangkap, petulis Injil Yohanes membuat latar waktu 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘩𝘦𝘯𝘥𝘢𝘬 𝘮𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘗𝘢𝘴𝘬𝘢 (Yoh. 18:28).
▶️ Ketika Yesus dihukum mati, petulis Yohanes menyajikan latar waktu 𝘩𝘢𝘳𝘪 𝘱𝘦𝘳𝘴𝘪𝘢𝘱𝘢𝘯 𝘗𝘢𝘴𝘬𝘢 (Yoh. 19:14).
Jadi, Yesus mati pada hari penyembelihan domba kurban Paska (sehari sebelum Paska Yahudi). Yesus adalah 𝘼𝙣𝙖𝙠 𝘿𝙤𝙢𝙗𝙖 𝘼𝙡𝙡𝙖𝙝 yang menghapus dosa dunia (Yoh. 1:29). Petulis Injil Yohanes memertegas teologi 𝘈𝘯𝘢𝘬 𝘋𝘰𝘮𝘣𝘢 𝘈𝘭𝘭𝘢𝘩 itu dengan mengatakan 𝘛𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘢𝘥𝘢 𝘵𝘶𝘭𝘢𝘯𝘨-𝘕𝘺𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘥𝘪𝘱𝘢𝘵𝘢𝘩𝘬𝘢𝘯 (Yoh. 19:36). Ini sesuai dengan peraturan Paska tulang anak domba kurban tidak boleh dipatahkan (Kel. 12:46).
𝗜𝗻𝗷𝗶𝗹 𝘀𝗶𝗻𝗼𝗽𝘁𝗶𝗸
Latar waktu Injil sinoptik: Yesus menghelat perjamuan Paska ketika Ia melakukan 𝘗𝘦𝘳𝘫𝘢𝘮𝘶𝘢𝘯 𝘔𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘛𝘦𝘳𝘢𝘬𝘩𝘪𝘳 atau dikenal juga dengan 𝘗𝘦𝘳𝘫𝘢𝘮𝘶𝘢𝘯 𝘛𝘶𝘩𝘢𝘯 (Mrk. 14:14; Mat. 26:18; Luk. 22:15). Teologi yang mereka usung tidak sama dengan teologi Injil Yohanes. Mereka 𝘁𝗶𝗱𝗮𝗸 mengusung teologi Yesus 𝘈𝘯𝘢𝘬 𝘋𝘰𝘮𝘣𝘢 𝘈𝘭𝘭𝘢𝘩. Injil Markus, sebagai misal, mengusung teologi Yesus adalah 𝘏𝘢𝘮𝘣𝘢 𝘠𝘢𝘩𝘸𝘦𝘩 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘔𝘦𝘯𝘥𝘦𝘳𝘪𝘵𝘢.
Perbedaan teologi itu justru berkat bagi umat Kristen. Ini adalah kekayaan iman dari banyak kisah teologis.
Namun, perbedaan kronologi cerita Injil selalu 𝗺𝗲𝗻𝗷𝗮𝗱𝗶 𝗺𝗮𝘀𝗮𝗹𝗮𝗵 𝗯𝗲𝘀𝗮𝗿 bagi kaum fundamentalis yang ingin membela ideologi 𝘪𝘯𝘦𝘳𝘳𝘢𝘯𝘤𝘺 𝘰𝘧 𝘵𝘩𝘦 𝘣𝘪𝘣𝘭𝘦: laporan petulis Injil tidak memiliki kesalahan dalam hal apa pun. Demi membela ideologi itu kerap solusi yang ditawarkan menjadi aneh dan dibuat-buat demi memuaskan diri sendiri. Lewat ilmu gadungan alias 𝘱𝘴𝘦𝘶𝘥𝘰-𝘴𝘤𝘪𝘦𝘯𝘤𝘦 mereka melakukan “cocoklogi” yang menggelikan.
Jika kaum fundamentalis terdesak tidak dapat menjelaskan perbedaan latar waktu penyaliban Yesus di kitab-kitab Injil, mereka akan berujar: itu bukan perbedaan, itu saling melengkapi.
𝘓𝘢𝘩, kalau saling melengkapi berarti 𝗬𝗲𝘀𝘂𝘀 𝗱𝗶𝘀𝗮𝗹𝗶𝗯 𝗱𝘂𝗮 𝗸𝗮𝗹𝗶 𝙙𝙤𝙣𝙜! Yesus disalib, mati, dan bangkit (kronologi versi Injil Yohanes), lalu ditangkap lagi, disalib lagi, mati lagi, dan bangkit lagi (kronologi versi Injil sinoptik). Menjadi fundamentalis 𝘬𝘰𝘬 𝘯𝘢𝘯𝘨𝘨𝘶𝘯𝘨 𝘢𝘮𝘢𝘵!
Hari raya liturgi Gereja dimula dan berpusat pada Misteri Paska. Apa itu Misteri dalam Misteri Paska? Misteri Paska secara sederhana ditakrifkan sebagai seluruh peristiwa sengsara, kematian, kebangkitan, dan kenaikan Yesus Kristus. Misteri Paska merupakan serapan dari ungkapan Latin 𝘔𝘺𝘴𝘵𝘦𝘳𝘪𝘶𝘮 𝘗𝘢𝘴𝘤𝘩𝘢𝘭𝘦. Dalam liturgi apabila kita mendengar kata 𝘮𝘺𝘴𝘵𝘦𝘳𝘪𝘶𝘮, kita akan mendiskusikan kata 𝘴𝘢𝘤𝘳𝘢𝘮𝘦𝘯𝘵𝘶𝘮, yang diindonesiakan menjadi sakramen. Kata 𝘮𝘺𝘴𝘵𝘦𝘳𝘪𝘶𝘮 dan 𝘴𝘢𝘤𝘳𝘢𝘮𝘦𝘯𝘵𝘶𝘮 selalu saling berpautan.
Sakramen menonjolkan tanda kelihatan dari kenyataan keselamatan yang tak kelihatan. Misal, sakramen baptis dimaknai mati bersama Kristus, dikubur bersama Kristus, dibangkitkan bersama Kristus, dan akan berkuasa bersama Kristus. Gerakan pembaptisan, entah dipercik, entah diselamkan, adalah tanda lahiriah yang kelihatan untuk menyimbolkan realitas keselamatan yang tak kelihatan. 𝗥𝗲𝗮𝗹𝗶𝘁𝗮𝘀 𝗸𝗲𝘀𝗲𝗹𝗮𝗺𝗮𝘁𝗮𝗻 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝘁𝗮𝗸 𝗸𝗲𝗹𝗶𝗵𝗮𝘁𝗮𝗻 itulah yang dimaksud pada kata misteri dalam Misteri Paska.
Pada mulanya tidak ada susunan sistematis dan terencana untuk merayakan peristiwa-peristiwa Kristus. Secara evolusi Gereja memberikan tanggapan atas peristiwa-peristiwa tersebut satu per satu. Bapak-bapak Gereja sejak abad II merapikan, membentuk, menyusun, dan membangun kisah teologisnya dan memasukkannya ke dalam kalender kita sehingga menjadi bermakna, bertema, dan bercerita saling berurutan satu dengan lainnya. Hari raya liturgi merupakan drama sarat makna; suatu produk iman Gereja untuk memastori dan membina umat agar kita dapat lebih menghayati kisah Kristus menurut kesaksian Alkitab dalam bentuk perayaan.
Andaikata, sekali lagi andaikata, Yesus tidak mati pada hari Jumat tidak sekonyong-konyong membuat Jumat Agung kehilangan kredibiltas. Iman Kristen tidak bergantung pada ketepatan hari kematian Yesus, melainkan pada peristiwa iman kebangkitan Yesus. Kata Rasul Paulus: Jika Yesus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah iman kamu.
(01042026)(TUS)