Dalam Injil Sinoptik yang mengurus penguburan Yesus adalah Yusuf dari Arimatea dan para perempuan dari Galilea. Dalam Injil Yohanes muncul Yusuf dari Arimatea dan Nikodemus.
Berbeda tipis, tetapi pesannya sama: 𝘁𝗶𝗱𝗮𝗸 𝗮𝗱𝗮 𝗽𝗮𝗿𝗮 𝗿𝗮𝘀𝘂𝗹. Mereka yang paling dekat justru tidak disebut. Yang tampil adalah mereka yang selama ini berada di pinggir. Narasi tidak menjelaskan. Tidak membela. Tidak menghakimi. Hanya menunjukkan satu kenyataan: kesetiaan tidak selalu datang dari lingkaran terdekat. Pada aras itu kematian Yesus memuat ironi yang lebih dalam. Ia tidak hanya mati sebagai yang ditolak, tetapi juga sebagai yang ditinggalkan. Sebuah kesedihan yang berlapis. Bukan hanya penderitaan tubuh, tetapi juga keterasingan relasional. Ini sangat radikal! Yesus menanggung pengalaman yang paling manusiawi: ditinggalkan pada saat terakhir. Sebuah penderitaan yang dipikul bagi orang lain, agar mereka tidak harus mengalaminya dalam bentuk yang sama. Pada akhirnya salib bukan hanya tentang rasa sakit, tetapi tentang kasih yang tetap memberi diri, bahkan ketika tidak lagi disertai. Dalam keheningan itu tampak siapa yang benar-benar tinggal ketika segala sesuatu runtuh.
(pulang dari ibadah Jumat agung 03042026, baru saja melakukan diskusi menarik dengan salah seorang eyang yang saya hormati) (TUS)