PENGANTAR
Pembasuhan kaki, adalah simbol ritual keberanian untuk melucuti ego, melucuti ke AKU an, baik yang membasuh maupun yang dibasuh kakinya. Perang, pengrusakan alam, ketamakan tambang, kekerasan dalam rumah tangga, perselingkuhan, penindasan, penjajahan, pemerkosaan ,pembedaan, penyingkiran, hukuman mati, dlsb adalah pertunjukan ego manusia di dunia, dan memang itulah yang ditawarkan oleh dunia. Konsep adopsi filososi kaum esseni yang juga dibawa Yohanes Pembaptis dan Yesus adalah jangan jadi sama dengan dunia. Hal itu, di Injil memunculkan gesekan bahkan masalah politik dengan kaum farisi, saduki, zelot, dlsb, risiko untuk tidak jadi sama dengan dunia. Yesus mempertunjukan keradikalanNya dalam pembasuhan kaki, se radikal Yesus kah kita? Negara-negara yang merasa lebih kuat, memerangi negara lainnya atas nama "perdamaian" dan "menegakkan demokrasi". Mereka yang tidak berdaya bagaikan pion dalam pertandingan yang sulit untuk diketahui pemenangnya, karena semua pihak menjadi korban. Dalam hidup sehari-hari kita juga kerap dipertontonkan pada hal yang serupa. Penguasa-penguasa menanfaatkan rakyatnya sebagai sarana untuk berkuasa dan memiliki kekayaan yang lebih banyak. Mereka yang lemah dan tertindas adalah pijakan bagi kekuasaan. Sementara itu di tataran hidup
sehari-hari, kita melihat bahwa demi jabatan, seseorang rela mengorbankan dan menjatuhkan rekan kerjanya, perselingkuhan, kekerasan dalam rumah tangga, penindasan, bullying, penjajahan, pembedaan, penyingkiran, dlsb. Maka di tengah situasi tersebut, patutlah kita bertanya, dimanakah kasih dan kepedulian antar sesama manusia? Bukankah dari dua hal tersebut kita dapat meretas jalan kepada kehidupan bersama yang saling menghargai dan menempatkan kehidupan sebagai dasar percakapan bersama. "Keanehan" sebagai Pesan Teologis Kamis Putih, Yesus membasuh kaki murid-murid-Nya, termasuk yang akan mengkhianati-Nya, yang menyangkaliNya, yang meninggalkanNya. Ini menunjukkan:
• Kerendahan hati
• Kasih yang tetap diberikan, bahkan
kepada yang menyakiti Kasih seperti ini sering terasa tidak masuk akal, tapi justru itulah inti
iman Kristen. Arti dan Asal Kata Kamis Putih
(Maundy Thursday)
• Kata "Maundy berasal dari bahasa
Latin mandatum yang berarti "perintah" / "mandat"
• Ini menunjuk pada perintah Yesus:
saling mengasihi (Yohanes 13:34).
• Kamis Putih menekankan bahwa kasih
bukan sekadar perasaan, tetapi perintah untuk dijalani bersama, "perintah dalam kebersamaan", perintah dalam persekutuan, perintah dalam hidup bermasyarakat, perintah dalam hidup berkeluarga, penekanan pada SALING.
PEMAKNAAN
Mengikuti prosesi pembasuhan kaki, sebetulnya ritual simbolis gambar keinginan diri untuk berproses melucuti ego pribadi. Oleh karenanya, pembasuhan kaki sarat makna kerendahan hati dan antidiskriminasi, baik dari yang dibasuh maupun yang membasuh kaki. Mandatnya itu, SALING. Sebetulnya, ketika beberapa umat sampai menangis saat pembasuhan kaki itu adalah wujud sebuah pertanyaan diri, apakah tangisku karena pelucutan egoku? Apakah ritual simbolis kakiku dibasuh atau aku membasuh kakimu adalah wujud gambar keinginan diri untuk berproses dalam kehidupan ini untuk tidak jadi sama dengan dunia yang menawarkan pemujaan ego manusia, tetapi menempa diri dalam kerapuhan diri untuk meneladan Yesus serta menghikmati dan menikmati ajaran Yesus dengan melucutkan ego dalam hidup? Jadi, ritual simbolis membasuh kaki atau dibasuh kaki adalah gambar keinginan diri untuk berproses dalam kehidupan keseharian melucuti ego kita, melucuti ke AKU an kita, proses keinginan diri meneladan Kristus dan menghikmati serta menikmati ajaran Kristus, dalam mandat baru Kristus, SALING mengasihi, SALING melayani. Saling merendahkan diri, saling mengasihi, itulah mandat baru. 𝘔𝘢𝘶𝘯𝘥𝘺 berakar kata Latin 𝘮𝘢𝘯𝘥𝘢𝘵𝘶𝘮 yang berarti perintah. Dalam pautannya dengan Kamis Putih perintah Yesus itu disebut 𝘮𝘢𝘯𝘥𝘢𝘵𝘶𝘮 𝘯𝘰𝘷𝘶𝘮 atau 𝗽𝗲𝗿𝗶𝗻𝘁𝗮𝗵 𝗯𝗮𝗿𝘂, yang diperagakan oleh Yesus membasuh kaki murid-murid-Nya “𝘈𝘬𝘶 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘦𝘳𝘪 𝘴𝘶𝘢𝘵𝘶 𝘵𝘦𝘭𝘢𝘥𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢𝘮𝘶 …” (Yoh. 13:14), yang kemudian disambung, “𝘈𝘬𝘶 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘦𝘳𝘪𝘬𝘢𝘯 𝘱𝘦𝘳𝘪𝘯𝘵𝘢𝘩 𝘣𝘢𝘳𝘶 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘬𝘢𝘮𝘶, 𝘺𝘢𝘪𝘵𝘶 𝘴𝘶𝘱𝘢𝘺𝘢 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘴𝘢𝘭𝘪𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘴𝘪𝘩𝘪; 𝘴𝘢𝘮𝘢 𝘴𝘦𝘱𝘦𝘳𝘵𝘪 𝘈𝘬𝘶 𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘴𝘪𝘩𝘪 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘥𝘦𝘮𝘪𝘬𝘪𝘢𝘯 𝘱𝘶𝘭𝘢 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘩𝘢𝘳𝘶𝘴 𝘴𝘢𝘭𝘪𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘴𝘪𝘩𝘪.” (Yoh. 13:34). Pembasuhan kaki bukanlah barang baru dalam tradisi Yahudi. Masalahnya, bukan budaya Jawa dan kita belum biasa, masih ada yang rikuh pekewuh, banyak yang masih belum paham dan masih bertanya serta belum berani maju. Pembasuhan kaki dilakukan oleh hamba-hamba atau pelayan-pelayan tuan rumah sebelum perjamuan. Akan tetapi yang Yesus lakukan adalah radikal. Yesus yang adalah Guru membasuh kaki para murid-Nya. Jabatan atau status lebih tinggi melayani pihak yang berstatus lebih rendah. Itu kan simbolis ritual, pengenangan kita akan teladan Yesus dan hikmat pengajaran Yesus. Teladan Yesus dan hikmat pengajaran Yesus memang sempurna, kita gak mungkin mencapainya, tapi lewat ritual simbolis pembasuhan kaki di kamis putih, kita diingatkan, kita mengenang akan keteladanan Kristus dan hikmat pengajaran Kristus, untuk berproses ke arah sana dalam ziarah kehidupan kita walaupun tidak mungkin sempurna. Ini menunjukan bahwa teladan Yesus dan hikmat pengajaran Yesus bersumber dari Allah sejati, dimana kita manusia rapuh hanya bisa berproses tanpa bisa sempurna seperti Yesus, karena kesempurnaan itu milik Allah. Tapi kita bersyukur, kita memiliki acuan atau keteladanan yang memanusiakan manusia dimana itu menjadi arah atau patokan hidup kita, istilah di Alkitab adalah batu penjuru, menjadi arah kehidupan. Jadi, dalam pembasuhan kaki, ego yang dibasuh dan ego yang membasuh sama-sama dilucuti, tak ada lagi ego, yang ada saling melayani, saling mengasihi. Ini bukan perumpamaan yang tepat, tetapi untuk memudahkan memahami, gampangnya, bayangkan saja dua orang yang saling membenci, tapi pada satu sisi kehidupan ada saat nya kita tidak bisa mengelak untuk membasuh kaki orang yang kita benci, ada saat nya dalam kehidupan kita harus menolong orang yang memerlukan pertolongan, dan yang memerlukan pertolongan itu adalah orang yang kita benci, dalam Injil itu ada frasa menaruh bara di atas kepala musuhmu, shg tak ada lagi ego seharusnya, serta di pihak yang lain dalam kehidupan ini terkadang kaki kita harus di basuh oleh orang yang kita benci, terkadang kita tidak bisa menghindar kita butuh ditolong oleh orang yang kita benci. Kita belajar, siapapun bisa dipakai Allah untuk menolong kita, bahkan musuh kita, bahkan orang yang kita benci. Lewat pembasuhan kaki, kita belajar untuk melepaskan ego kita, tidak perlu lagi ada kebencian, yang ada hanya mandat baru saling melayani, saling mengasihi. Kita ingin tangan kita selalu di atas, tetapi dalam hidup ini terkadang tangannkita harus di bawah, kerendahan hati untuk melihat peristiwa dunia sebagai sesuatu yang wajar, melucuti ego. Sehingga pertanyaan balik ke kita pribadi, kenapa kita tidak berani melakukan ritual simbolis pembasuhan kaki? Mungkin ego kita masih terlampau besar untuk melihat kenyataan bahwa mandat Kristus adalah saling melayani, saling mengasihi, itu melepaskan ego kita, mungkin kita masih enggan melucuti ego kita. Bayangkan lagi dg jembatan nalar seperti itu, bagaimana kalau perumpamaan tentang dua orang yang saling membenci itu adalah suami istri, orang tua dan anak, majelis dan umat, kita dan tetangga kita yang riwil, kita dan teman kerja kita yang toxic, dlsb. Makanya di berbagai gereja variasi pembasuhan kaki banyak, ada yg jemaat menyediakan diri membasuh kaki majelis, ada pembasuhan antar keluarga, dlsb, tidak selalu antar majelis dan majelis ke umat, pemahaman liturgi ini masih berkembang. Melihat Kemanusiaan Yesus
• Kita sering melihat
Yesus seolah-olah tahu segalanya tanpa pergumulan.
• Padahal, Yesus juga hidup sebagai manusia biasa. Dalam Perjamuan Terakhir: Yesus tahu akan ada pengkhianatan, diriNya akan ditinggalkan dan penyangkalan atas diriNya
• Namun tetap memilih untuk mengasihi dan melayani, Ini menunjukkan bahwa kasih Yesus adalah pilihan yang sadar dan nyata. Coba bayangkan kita yang dibasuh kakinya ternyata kita yang meninggalkan Yesus, kita yang dibasuh kakinya ternyata kita yang menyangkal Yesus, kita yang dibasuh kakinya kita yang mengkhianati Yesus. Tantangan Menghayati Pekan Suci
• Kita sering sulit merasakan perjalanan
Yesus di Pekan Suci (termasuk di Kamis
Putih) karena Kita sudah tahu akhir
ceritanya (kebangkitan). Pengetahuan ini membuat kita kurang merasakan kesedihan Jumat Agung dan kurang memasuki realitas mendalam ketidakpastian saat itu. Sejatinya pada Kamis Putih, kita diajak untuk lebih hadir dan merasakan momen, bukan hanya mengingat cerita. Pertanyaan Penting untuk Kita, Apakah kita benar-benar bisa: Mengalami persekutuan dengan Yesus saat ini? Mendengar kembali perintah untuk saling mengasihi?
Panggilan Bermakna bagi Kita, Kamis Putih bukan hanya untuk diingat atau dikenang, tetapi untuk dijalani kembali dalam hidup kita. Maka pembasuhan yang dilakukan Yesus tidak hanya merujuk kepada keteladanan dalam hidup sehari-hari, melainkan juga menggambarkan misi hidup-Nya secara keseluruhan. Sebenarnya tindakan Yesus ini sungguh "mengherankan". Apakah Yesus tidak takut jika "marwah"-Nya sebagai seorang Guru dan Pemimpin menjadi jatuh? Bukankah disitulah justru letak intisari
pengajaran Yesus. Marwah atau kehormatan dan harga diri seseorang tidak terletak pada kekuasaan, harta, atau jabatan, melainkan pada
kesediaan seseorang untuk mengasihi,
melayani, dan berkorban bagi sesama. Kamis Putih ini mengajarkan kita untuk menantang arus zaman, tidak jadi sama dengan dunia. Jika dunia penuh dengan kekerasan dan pengejaran tiada henti akan hawa nafsu, dan ego maka murid-murid Kristus diajar untuk mewujud nyatakan kasih dalam kehidupan sehari-hari dengan kesediaan untuk berkorban dan melayani sesama. Tindakan itu harus muncul dari rasa syukur yang mendalam atas kasih
karunia-Nya, bukan muncul karena adanya kewajiban, apalagi paksaan atau sekedar ritual.
Pertanyaan Reflektif, Sudahkah hidup dan keteladanan Kristus serta hikmat nikmat pengajaran Kristusmenjadi tonggak seluruh keberadaan kita?
(03042026)(TUS)