Sudut Pandang Markus 6:30-44, manusiawi kita lelah merujukan kita akan ketergantungan kita pada Allah
PENGANTAR
Bolehkah kita lelah? Mungkinkah ada jeda saat kita berkarya? Tidur adalah mekanisme tubuh yang menunjukan tubuh kita harus istirahat, tubuh kita lelah, oleh karena itu istirahat atau jeda adalah keniscayaan, kemanusiawian. Mengakui kelelahan adalah pengungkapan bahwa kita masih tergantung pada Allah, ada batas pada manusia yang tidak bisa ditembus tetapi Allah tidak terbatas, mengakui kelelahan adalah bagaimana kita tidak hanya sampai pada percaya pada Allah tetapi mempercayakan diri pada Allah. Para murid kelelahan dalam berkarya dan itu diakui Yesus dengan mengajak beristirahat serta menepi dalam kesunyian, tetapi di saat kelelahan itu ada orang banyak yang butuh makan, para murid tak berdaya, di saat ketak berdayaan para murid oleh karena kelelahan tsb, Yesus, Allah, tetap berdaya, secara sastra ini menunjukan dalam kelelahan dan ketidak berdayaan serta keterbatasan manusia (para murid), yang diakui oleh Yesus tsb, manusia (para murid) seharusnyalah mempercayakan diri pada keberdayaan Yesus, Allah.Markus 6:31 (TB) Lalu Ia berkata kepada mereka: "Marilah ke tempat yang sunyi, supaya kita sendirian, dan beristirahatlah seketika!" Sebab memang begitu banyaknya orang yang datang dan yang pergi, sehingga makan pun mereka tidak sempat. Dalam Markus 6:31 (TB), frasa "beristirahatlah seketika" diterjemahkan dari teks Yunani Koine, bukan Ibrani, karena Injil Markus ditulis dalam bahasa Yunani. Frasa tersebut berasal dari καὶ ἀναπαύεσθε ὀλίγον (kai anapaústhe ólgon), di mana bentuk imperatif anapaústhe dari kata anapaúō (ἀναπαύω) berarti "beristirahatlah" atau "pulihkan diri", dan ólgon (ὀλίγον) berarti "sedikit", "sebentar", atau "seketika". Anapaúō menyiratkan penghentian sementara dari pekerjaan atau pergerakan untuk memulihkan kekuatan fisik dan mental, sering digunakan secara refleksif untuk "istirahat diri sendiri" setelah kelelahan, seperti setelah perjalanan panjang atau tugas berat. Óligon menekankan durasi singkat, menciptakan nuansa praktis dan mendesak untuk pemulihan cepat, bukan istirahat permanen. Secara sastra, imperatif anapaústhe menunjukkan perintah langsung dari Yesus yang penuh kasih, kontras dengan kerumunan yang tak henti (hoi erchómenoi kaì hoi hypágointes polloí, banyak datang-pergi), membangun ketegangan naratif antara pelayanan intens dan kebutuhan manusiawi. Ayat ini juga menghubungkan ke mukjizat memberi makan 5000, di mana istirahat terganggu tapi Yesus tetap peduli, menekankan tema keseimbangan. Konteks Budaya dan Teologi. Dalam budaya Yahudi-Helenistik, istirahat menggemakan Sabat (Keluaran 20:8-11), di mana Tuhan memerintahkan pemulihan dari tenaga kerja melelahkan, mengakui kelelahan sebagai bagian manusiawi pasca-kutuk dosa (Kejadian 3:17-19). Yesus mendukung hal ini dengan menginisiasi istirahat bagi murid-murid yang lelah setelah misi (Markus 6:30), menunjukkan Ia menghargai batas manusiawi dan memerintahkan istirahat sebagai bagian dari kehidupan pelayanan. Apa makna rohani dari ajakan Yesus beristirahat. Ajakan Yesus untuk beristirahat dalam Markus 6:31 memiliki makna rohani mendalam sebagai undangan untuk pemulihan fisik dan spiritual di tengah pelayanan atau karya para murid yang melelahkan. Dalam makna itu, memang dapat dipahami ajakan Yesus untuk beristirahat para muridnya, sebagai jeda spiritual dan fisik. Pemulihan Kekuatan Rohani, Istirahat ini mengajarkan keseimbangan antara pelayanan atau karya dan persekutuan pribadi dengan Tuhan, menggemakan prinsip Sabat di mana manusia memulihkan diri untuk melayani atau berkarya lebih efektif. Yesus menunjukkan bahwa mengakui kelelahan bukan kelemahan, melainkan bagian dari ketergantungan pada kuasa Allah. Dengan mengajak murid ke tempat sunyi, Yesus mengundang waktu doa dan refleksi, di mana istirahat fisik menjadi pintu masuk untuk istirahat rohani sejati seperti dalam Matius 11:28-29. Ini menekankan bahwa pelayanan tanpa istirahat dapat menyebabkan kelelahan rohani, sehingga istirahat memperbarui panggilan ilahi. Secara rohani, ajakan ini menjadi disiplin kerohanian: berhenti sejenak untuk mendengar Tuhan, menghindari kelelahan berlebih, dan mempersiapkan diri bagi mukjizat berikutnya, seperti pemulihan 5000 orang.
PEMAHAMAN
Dalam melakukan berbagai aktivitas, manusia sering kali mengalami kelelahan. Baik lelah karena pikiran, pekerjaan, pelayanan, maupun berbagai dinamika relasi yang ada di dalam keseharian hidup. Karenanya, kelelahan adalah bagian dari kehidupan manusia. Kelelahan itu manusiawi. Teologi Kristen dalam perkembangannya tidak mengajak umat untuk lari dari kenyataan itu, melainkan untuk mengakui dan menyadari bahwa kelelahan adalah bagian dari kerapuhan diri. Dalam ilmu medis, orang tidur itu menunjukan tubuh manusia mengalami kelelahan, jadi lelah adalah keniscayaan manusia, lelah melekatkan pada kemanusiaan. Selama manusia masih tidur maka tidak mungkin manusia itu tidak lelah. Demikian halnya gereja, gereja harus mengakui kelelahan umat, itu pastoral bagi umat. Bayangkan saja, ada umat lelah dengan pernikahan, terus datang ke gereja, gereja terus mengatakan "tak lelah", "tidak boleh lelah", "jangan lelah", itu namanya gerejanya tidak melakukan pastoral yang baik, itu gerejanya tidak memanusiakan manusia. Oleh karenanya, kita sampai pada pemahaman bahwa ketika Allah turut merengkuh kerapuhan umat, maka Ia tentu turut merengkuh kelelahan kita, Allah tentunya memanusiakan manusia. Bila demikian, mampukah kita memaknai undangan untuk meragakan kemurahan hati Allah di tengah kelelahan kita? Markus 6:30-44 menolong kita untuk melihat kembali ajaran Tuhan Yesus yang terus relevan dengan konteks zaman sampai dengan hari ini. Ada tiga bagian yang ingin ditegaskan oleh Tuhan Yesus. Tuhan Yesus membuka diri untuk kelelahan para murid. Bagian pertama ini tampak melalui tindakan Tuhan yang meminta para murid untuk menyendiri ke tempat terpencil dan beristirahat sejenak (ay. 30-32). Hal ini disampaikan karena Ia sangat mengerti akan apa yang dilakukan oleh para murid sebelum bertemu dengan-Nya. Membaca bagian ini jelas tidak boleh melupakan kisah bahwa Yesus mengutus kedua belas murid (berdua-dua) untuk menyuarakan berita pertobatan, menyembuhkan orang sakit, dan mengusir setan. Tugas pengutusan yang demikian sungguh melelahkan, bahkan untuk makan pun mereka belum sempat. Karenanya Tuhan Yesus mengajak para murid untuk beristirahat sejenak, menyingkir dari keramaian orang banyak pada waktu itu, dan memulihkan energi. Jadi, Tuhan Yesus membuka diri terhadap kelelahan sebagai bagian dari kehidupan manusia setelah melakukan berbagai hal dan mengerti bahwa mereka yang lelah membutuhkan waktu beristirahat, meski ada dalam kelelahan, Tuhan Yesus mengundang para murid untuk tetap memiliki belas kasih kepada sesama. Bagian kedua ini tampak ketika Tuhan Yesus melihat orang banyak yang datang kepada-Nya seperti domba yang tidak memiliki gembala dan yang tidak memiliki makanan (ay. 33-38). Mereka membutuhkan sentuhan belas kasih agar tetap bertahan hidup. Namun, respons para murid sungguh mencerminkan sisi manusiawi dan ketidakmampuan memahami ajaran Yesus. Para murid kebingungan dan merasa tidak mampu untuk memberi makan orang banyak, sehingga ingin menyuruh mereka pergi. Berbeda dari respons para murid, Yesus justru memberi pengajaran dan mengajak para murid untuk menyiapkan makanan bagi mereka semua. Jadi di tengah kelelahan dan waktu istirahat yang belum tercapai, Yesus memberi teladan kepada para murid untuk tetap memiliki belas kasih kepada sesama yang membutuhkan pertolongan. Ini bagian dari ketidakmenyerahan diri. Tuhan Yesus memberi kekuatan kepada para murid yang sudah lelah, tetapi yang tidak menyerah untuk berbelas kasih. Bagian ketiga ini tampak ketika Tuhan Yesus memampukan para murid untuk memeriksa ketersediaan makanan, mengatur orang banyak untuk duduk berkelompok, membagikan makanan, bahkan mengumpulkan kembali makanan yang berlebih (ay. 39-44). Mereka yang tadinya kelelahan, tetap memilih untuk melakukan apa yang diminta Yesus sebagai tanda ketidakmenyerahan diri. Karena itu, dari lima roti dan dua ikan, semua orang dapat makan hingga kenyang dan para murid dimampukan untuk menyatakan belas kasih kepada sesama melalui apa yang dilakukan bersama Tuhan. Jadi, ketika para murid mengakui kelelahan tetapi memilih untuk tetap berbelas kasih, maka Tuhanlah yang memampukan mereka. Perjalanan Tuhan Yesus dan para murid yang demikianlah menjadi perenungan kita bersama, menjadi penting untuk dibaca dalam sudut pandang bahasa sastra, Markus 6:30-44. Tema penghayatan ini mengarahkan kita pada istilah yang berarti tetap, terus-menerus, atau tidak menyerah, tetap memiliki hati berbelas kasih seperti Allah yang diwujudkan dalam karya nyata kepada sesama di tengah pengajuan bahwa sangat dimungkinkan kita sedang atau akan kelelahan. Oleh karenanya, mari memaknai bahwa tidak menyerah untuk menyatakan belas kasih kepada sesama, meski diri kita sebagai manusia ada dalam kelelahan. Sama seperti para murid yang meski lelah, mereka dimampukan Tuhan untuk tidak menyerah berbelas kasih, maka demikianlah kita sebagai umat di masa kini, dan nampak bahwa pengakuan kelelahan itu bukan kelemahan tetapi membuka akan ketergantungan pada Allah, bukan usaha manusia sendirian. Jadi sekarang, bagaimana mewujudkan belas kasih dalam karya nyata kita di tengah kehidupan kita bersama? Undangan bagi setiap kita yang sudah lelah adalah tak menyerah menyatakan belas kasih di tengah kehidupan keluarga, di tengah kehidupan persekutuan yang adalah gereja Tuhan, serta di tengah kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Dalam perjuangan demikian, Kristus yang akan merengkuh kelelahan manusia senantiasa memampukan kita untuk tetap berbelas kasih kepada sesama. Ia tetap mengerti dan membuka diri bagi kelelahan setiap umat, tetapi yang juga tiada henti untuk memampukan umat memenuhi tugas pengutusannya. Meski lelah, mari tidak menyerah untuk berbelas kasih kepada sesama. Semangat berjuang. Roh Kudus menolong kita.
(01042024)(TUS)