Sudut Pandang Minggu Paska (Tahun A)
Apakah Yesus bangkit?
PENGANTAR
Dalam hal istilah saya mengikuti lema Paska yang digunakan oleh masyarakat Liturgi. Paska dari kata Latin Pascha. Pengindonesiaannya mengikuti lafal Portugal Pรกscoasehingga menjadi Paska (Inggris Easter, passover). Paska berbeda dari pasca (Sanskrit, Inggris post) yang diucapkan dengan huruf /c/ seperti kata cocok, cicak. Tidak ada hari raya Kristen yang lebih besar daripada Paska. Jantung iman Kristen terletak pada Paska. Hari Raya Paska menjadi titik berangkat hari-hari raya lain. Tidak ada Paska berarti tidak ada kekristenan. Itulah sebabnya keempat kitab Injil dalam kitab suci Kristen, Alkitab, kesemuanya memberitakan Paska yaitu kebangkitan (resurrection) Kristus. Bandingkan dengan perayaan Natal. Dari keempat Injil hanya dua Injil yang memberitakan kelahiran Yesus alias Natal. Ini makin menegaskan bahwa jantung iman Kristen adalah Paska, bukan Natal. Orang Kristen pergi ke kebaktian Minggu karena pada dasarnya merayakan Paska, kebangkitan Kristus.
Gereja kemudian menetapkan ada satu Minggu dalam setahun secara khusus dijadikan Hari Raya Paska. Minggu yang mana? Gereja secara ekumenis menetapkan Hari Raya Paska pada Minggu pertama sesudah bulan purnama yang jatuh pada atau sesudah 21 Maret. Apabila bulan purnama jatuh pada 21 Maret, maka Paska ditetapkan pada Minggu berikutnya.
Pada Jumat Agung kemarin saya menjelaskan kematian Yesus merupakan faktual-historis. Bagaimana dengan kebangkitan Yesus? Apakah ini merupakan faktual-historis? Di sinilah peliknya. Belum ditemukan sumber-sumber sejarah otentik mengenai kebangkitan Yesus di luar kekristenan. Satu-satunya sumber mengenai kebangkitan adalah dokumen Perjanjian Baru (PB), yang keempat Injil masuk ke dalamnya. Walau PB bukan dokumen sejarah, namun teks-teks itu dapat dikaji (satu di antaranya) melalui kritik naratif. Tentu saja teks dibaca dikaitkan dengan kehidupan sosio-politik yang mengitari teks itu.
PEMAHAMAN
Dunia sastra saat itu memahami gagasan bahwa orang baik dan bijaksana yang sudah membawa perubahan besar banyak orang akan dibinasakan oleh musuh-musuhnya. Namun Allah tidak akan tinggal diam. Allah akan membangkitan orang yang tidak berdosa itu. Dengan latar belakang itu dapatlah dipahami berita tentang kebangkitan Yesus dalam keempat Injil itu dimaksudkan untuk menyatakan bahwa Yesus adalah korban yang dibenarkan oleh Allah, dibela oleh Allah, dan Allah membangkitkan Yesus dari antara orang mati. Allah telah menggagalkan kekejian para pembenci Yesus. Berita pokok itulah yang hendak disampaikan atau dideklarasikan oleh para penulis PB. Siapa aktor utama? Allah Sang Aktor. Allah mengalahkan maut dan membenarkan Yesus yang tidak bersalah itu.
Kebangkitan yang dimaksud oleh penulis PB bukanlah menghidupkan jenazah yang sudah mati (resuscitation). Kebangkitan yang resuscitationmerupakan menghidupkan (sementara) orang mati seperti yang biasa dilakukan oleh kedokteran dengan alat-kejut jantung. Dalam Injil bisa dibaca mengenai kisah Yesus membangkitkan Lazarus dari kubur.
Persoalan timbul ketika terjadi ketidakpanggahan (inconsistency) penulisan mengenai perjumpaan murid-murid atau pengikut dengan Yesus yang dibangkitkan (selanjutnya saya sebut Yesus-Paska). Maksud saya kisah di kitab yang satu berbeda dengan kitab lainnya sehingga ada ketidakpanggahan dan tidak kronologis. Berbeda halnya dengan berita kematian Yesus yang kesemuanya sama yaitu Yesus mati di kayu salib yang memang saat itu merupakan berita umum di luar teks Alkitab. Para pakar sejarah PB berpendapat terjadinya ketidakpanggahan itu membuktikan tidak adanya konspirasi, tidak ada rekaan, tidak ada kebohongan. PB mengisahkan pengalaman individu-individu yang historis. Suatu pengalaman yang dialami oleh individu-invidu yang merupakan pengalaman sejarah berjumpa dengan Yesus-Paska.
Pada masa itu pengalaman bertemu dengan orang-orang yang sudah mati merupakan hal lazim. Dikisahkan dalam PB Yesus-Paska berjalan ke Emaus menemani dua orang pengikut Yesus. Setibanya di rumah mereka mengajak “orang asing itu” mampir. Ketika akan santap malam mereka baru menyadari bahwa itu Yesus dan kemudian menghilang. Dikisahkan juga para murid berkumpul di ruangan tertutup karena ketakutan diburu oleh para pemuka agama Yahudi yang berkonspirasi dengan tentara Romawi. Tiba-tiba Yesus nongol hadir di tengah-tengah mereka dan menunjukkan bekas luka paku di tangan Yesus.
Kisah itu mau menyampaikan bahwa Yesus bangkit (resurrection), bukan seperti jenazah yang dihidupkan (resuscitation). Jika Yesus dihidupkan seperti itu, maka sulit untuk menerima Yesus masuk ke dalam ruangan tertutup tanpa melewati pintu atau tiba-tiba menghilang dari pandangan pengikut-pengikut Yesus. Akan tetapi dikisahkan juga Yesus-Paska bersantap bersama dengan murid-murid di tepian Danau Tiberias. Sudah barang tentu ikan bakar yang lezat adalah menu utamanya.
Kepelikan kisah-kisah di atas merupakan paradoks. Sisi satu Yesus bisa muncul dan menghilang seketika, sisi lainnya Yesus menunjukkan tanda fisikal berupa bekas luka tusukan paku salib dan makan-minum bersama dengan para murid. Penulis PB dengan segala keterbatasannya mau menyampaikan secara paradoks bahwa tubuh kebangkitan Yesus adalah rohaniah sekaligus tubuh alamiah.
Teks-teks PB yang memberitakan Yesus yang makan dan minum serta menghilang lagi itu merupakan metafor-metafor yang mau menyampaikan, dan mengundang para pembaca serta pendengarnya untuk mengalami berita bahwa Yesus itu, sekalipun sudah mati disalibkan, dibangkitkan (resurrected), dan terus hadir seutuhnya di antara para murid, yakni mereka yang memercayai Yesus. Yesus itu tetap peduli dan berbelarasa pada mereka.
Kok metafor? Jangan merendahkan metafor! Ajaran-ajaran Yesus banyak berupa parabel-parabel yang merupakan metafor yang memberdayakan, membebaskan, dan memanusiakan manusia. Alkitab juga penuh dengan metafor. Allah lebih besar daripada Alkitab. Allah bisa berfirman lewat apa saja termasuk metafor-metafor.
Metafor kebangkitan itu bukan dongeng, bukan reka-rekaan, bukan berita bohong, bukan juga fiksi. Metafor merupakan wacana untuk mengungkapkan realitas yang utuh tanpa memisahkan (apalagi memertentangkan!) hal yang subjektif dan objektif. Dalam metafor selalu ada yang kena dan yang tidak kena. Misal, Allah adalah Gunung Batuku. Secara harfiah Allah bukanlah gunung batu. Jadi gunung batu ini tidak kena pada Allah. Namun bagi orang beriman mengalami berlindung di balik gunung batu mereka merasa sangat aman. Jadi gunung batu ini kena pada orang beriman yang berlindung pada Allah.
Meminjam pendapat sohib saya dan teolog mbeling Adji A. Sutama, yang panggah dengan teknik penafsiran kritik naratif, mengatakan bahwa metafor Yesus Gembala yang baik bukan berarti Yesus tidak ada. Demikian juga halnya metafor kebangkitan Yesus bukan berarti tidak ada kebangkitan. Kebangkitan Yesus merupakan peristiwa sejarah yang dilakukan Allah pada diri Yesus, bukan pada diri jemaat di dalam narasi PB. Setelah itu, apakah orang memercayainya atau tidak memercayainya, hal ini merupakan suatu reaksi atau tanggapan iman terhadap peristiwa bersejarah itu.
Metafor kebangkitan merupakan wacana yang disampaikan untuk mengundang pembaca atau pendengar mengalami realitas kehadiran seutuhnya (spiritual sekaligus fisikal) Yesus-Paska di dalam dunia ini tanpa batas ruang dan waktu: di dalam rumah ketika kita menyembah Dia lewat ibadah virtual, di ruang isolasi COVID19, di kantor kita, di istana presiden, di kantor kelurahan, di dalam makanan, nasi, batagor, pempek, tempe, tahu, petรฉ, pecel, gudheg, wedhang rondรฉ, dan lain sebagainya yang kita peroleh setiap hari sehingga kita berterimakasih, dan juga di dalam perjuangan orang-orang tertindas yang berseru kepada Yesus. Meskipun demikian kehadiran Yesus-Paska di tengah-tengah para murid seperti pedang bermata-dua. Tulisan-tulisan dalam PB yang memuat perjumpaan dengan Yesus-Paska menjadi propaganda politik dan kuasa. Perjumpaan dengan Yesus-Paska menambah wibawa dan kuasa para murid. Para murid bertarung siapa yang paling berpengaruh. Paulus yang bukan murid langsung Yesus mendaku berjumpa dengan Yesus-Paska. Ia bertarung dengan Kefas alias Petrus berebut kewibawaan spiritual. Petrus berencana membunuh Paulus (Kis. 9:23-25; 23:12-14), sedang Paulus mengecam Petrus orang munafik (Gal. 2:11-14).
Padahal keempat Injil kanonik tertuliskan orang pertama yang mendapat kabar kebangkitan Yesus adalah perempuan. Bahkan dalam Injil Yohanes Maria Magdalena menyapa Yesus-Paska dengan Rabuni, yang berarti Guru (Yoh. 20:16). Dari gambaran keempat Injil tidaklah berlebihan apabila Maria Magdalena adalah rasulnya para rasul atau rasul di atas segala rasul (the apostle to the apostles). Dalam perjalanannya Maria Magdalena tersingkir oleh dominasi dan arogansi laki-laki. Bahkan Paus Gregorius dalam khotbah Paska pada 581 memojokkan Maria Magdalena sebagai pelacur, pendosa, dengan mengutip Lukas 7:37.
Di Indonesia masa kini seseorang mendaku berjumpa dengan Yesus dan mendaku diberi perintah oleh Yesus untuk mendirikan gereja. Dengan pendakuan itu ia mendapat wibawa spiritual dari Yesus Kristus. Ia kemudian sukses dengan bisnis kesembuhan ilahi. Di gereja-gereja arus-utama para pendeta untuk mendapat wibawa spiritual mendaku sebagai hamba Kristus. Dalam banyak kesempatan ibadah pendeta mendeklarasikan dirinya hamba Kristus. “Sebagai hamba Kristus saya hendak menyampaikan …” dan beberapa varian ucapan lainnya. Kalau bukan pendeta lalu hamba siapa? Hamba pendeta? Dalam pada itu ada gereja yang mendaku dirinya paling reformed, paling alkitabiah, melarang perempuan menjadi pendeta. Ideologi alkitabiahnya justru mengingkari Alkitab yang memberitakan perempuan yang pertama menerima kabar kebangkitan Kristus dan mengabarkannya.
Christos Anesti!
Quote of the day:
“Don’t worry about your math because Jesus died for your sin, cos, and tan.”
(05042026)(TUS)