Jumat, 03 April 2026

SUDUT PANDANG TANGGAPAN TERHADAP PDT. GILBERT LUMOINDONG, YANG MENGATAKAN YESUS BUKAN ANAK ALLAH.

SUDUT PANDANG TANGGAPAN TERHADAP YANG MENGATAKAN YESUS BUKAN ANAK ALLAH.

PENGANTAR
Saya selalu berpegang, tidak ada tafsir yang salah, apalagi benar, yang ada hanyalah tafsir yang dapat dipertanggung jawabkan, dipertanggung jawabkan dengan apa? Dengan argumentasi yang jembatan nalarnya baik. Ini salah satu kasus, tafsir dengan argumentasi lemah. Di tengah umat kristiani merayakan Paskah, yg mengakui ke Tuhan an Yesus, dan meng AMIN kan status anak Allah yang mrnyeleseikan misi atau tugasnya, dengan mengkosongkan diri, berkenosis, jagad Maya atau medsos dihebohkan pernyataan kembali seorang Pendeta di ibadah paskah gerejanya, lewat akun resmi gerejanya baik di YouTube maupun IG. Pendeta Borjuis satu ini emang suka kontroversi dan blunder, jam tangannya mencapai harga 1 M dan punya mobil yang diproduksi di dunia cuman 8 biji tetapi entah dari mana latar belakang belajar teologinya?Tetapi leadershipnya bagus, jualan pada umat iming-iming nya bagus, ditambah kharisma bahwa katanya mengkuasai bahasa Roh Kudus, yang membuat dukun kalah dan bertobat, sehingga umatnya banyak dan tergolong umat yang mudah dibodohi, mohon maaf, bukan maksud saya menjelekan dan kasar tetapi jadi pembelajaran buat kita agar menempa diri dalam belajar agar tidak mudah dibodohi, jangan benci orang/manusia nya tapi petik pelajaran dari peristiwa shg kita berkembang. Kacau pemahaman teologinya serta argumentasinya lemah, masak harus menentang istilah anak Allah demi membela keillahian Yesus, terus mengatakan Yesus bukan anak Allah nanti setelah mengosongkan diriNya baru Dia jadi anak Allah, sebutan anak Allah itu nanti setelah inkarnasi, lah ....... blunder tokh kalau begini, ini statement orang terus bagaimana dg study biblika?, mohon maaf kalau agak keras, kritiknya mengarah karena jembatan nalarnya bubar jalan, berantakan, tidak sistimatikanya. Dan, khotbah ini marak di medsos, di jagad Maya, jutaan orang banyak juga umat yang meng IYA kan, menjawab AMIN, menjawab HALELUYA, parah amat. Banyak umat tidak mau dicerdaskan dan mudah ditipu oleh pemuka agamanya, setelah itu ditipu oleh politikus nya, bubar jalan ... dech. Yang ditakuti itu bukan rakyat/umat memberontak, tetapi yang ditakuti itu rakyat/umat jadi cerdas. Hebatnya, gegara ini,  sampai bbrp tokoh gereja protestan reformir membuat tanggapan, dua orang uskup juga memberikan tanggapan, ketua sinode dimana gerejanya berada membuat tanggapan, bahkan LAI juga memberikan tanggapan dan mengupload tulisan tentang pemahaman anak Allah, di akun-akun resmi milik mereka, hebat and heboh thow? Maka, belajar menjadi inti utama, kenapa Yesus ketika menghadapi kritisi Farisi sering memulai dengan kata "tidakkah kamu baca ......" (Matius 12:3&5, Matius 19:4, Matius 22:29-32). Yah .... Ini teladan sekaligus hikmat pengajaran Yesus, mengikut Yesus, dimuridkan Yesus harus mau jatuh bangun belajar. Keinginan belajar tidak boleh terkurung dengan sekolah, orang bisa lewat S1 sampai kemanapun, tapi bukan mahkluk pembelajar, tetap saja nalarnya gak terasah. Salah satu jalan yg ditunjukan Yesus untuk menjadi manusia pembelajar adalah membaca, versi sekarang yah bisa dalam bentuk audio visual (video), banyak cara. Banyak jebolan S1 dan kemanapun, lulusan luar negeri maupun dalam negeri tetapi tidak mau membaca (versi sekarang boleh menonton atau mendengarkan).
PEMAHAMAN
Ada semacam humor yang mengatakan begini, anak president, president bukan? Bukan, anak pendeta, pendeta bukan? Anak Allah, Allah bukan? Bukan, kemudian dibalas, anak monyet, monyet bukan? Monyet, anak manusia, manusia bukan? Manusia, anak Allah, Allah bukan? Allah. Memahami bagaimana Yesus bisa sekaligus disebut "Allah" dan "Anak Allah" memerlukan pemahaman tentang konsep hakikat (esensi) dan relasi. Allah berbicara tentang hakikat atau substansi ilahi. Ketika kita mengatakan Yesus adalah Allah, kita mengakui bahwa Ia memiliki hakikat yang sama dengan Bapa. Sementara itu, gelar "Anak Allah" merujuk pada relasi kekal di dalam Tritunggal, yaitu relasi antara Pribadi pertama (Bapa) dan Pribadi kedua (Anak). Dengan kata lain, sama seperti seorang manusia memiliki hakikat kemanusiaan dan karena itu disebut "manusia" sekaligus "anak manusia", demikian pula Yesus, karena memiliki hakikat ke-Allahan yang sama dengan Bapa, Ia disebut Allah, dan karena relasi-Nya yang unik dan kekal dengan Bapa, Ia disebut Anak Allah. Pemahaman ini bukanlah spekulasi teologis belaka, melainkan fondasi iman yang telah ditegakkan sejak gereja perdana. Katekismus Heidelberg, dengan jelas membedakan keanakan Kristus dengan keanakan orang percaya. Dalam Jawaban atas Pertanyaan 33, dinyatakan: "Sebab hanya Kristus sajalah yang sungguh-sungguh Anak Allah yang kekal, tetapi kita dianugerahi menjadi anak angkat Allah karena Dia" . Perbedaan ini sangat krusial: Yesus adalah Anak Allah sejati dan kekal (by nature), sementara kita menjadi anak Allah karena anugerah adopsi (by grace). Mengabaikan keanakan kekal Kristus sama saja dengan mengaburkan fondasi karya keselamatan yang Ia kerjakan. Salah satu kesalahan umum adalah menganggap bahwa Yesus baru menjadi "Anak Allah" pada saat inkarnasi, yaitu ketika Ia lahir dari Maria di Betlehem. Namun, Alkitab dengan sangat jelas menunjukkan bahwa status sebagai Anak sudah melekat pada diri-Nya sejak kekekalan. Relasi Bapa dan Anak bukanlah produk sejarah, melainkan realitas kekal di dalam Tritunggal. Pertama, Yesus sendiri dalam doa imamat-Nya menyatakan, "Oleh sebab itu, ya Bapa, permuliakanlah Aku pada-Mu sendiri dengan kemuliaan yang Kumiliki di hadirat-Mu sebelum dunia ada" (Yohanes 17:5). Ayat ini menunjukkan bahwa Yesus memiliki kemuliaan ilahi bersama Bapa sebelum penciptaan. Ia meminta agar kemuliaan itu dipulihkan, yang secara implisit menegaskan identitas-Nya sebagai Anak yang kekal. Kedua, dalam ayat yang sama, Yesus berkata, "sebab Engkau telah mengasihi Aku sebelum dunia dijadikan" (Yohanes 17:24). Adanya kasih antara Bapa dan Anak sebelum dunia dijadikan adalah bukti tak terbantahkan bahwa relasi kekal ini sudah ada. Paulus juga menegaskan hal yang sama dalam Galatia 4:4, "Tetapi setelah genap waktunya, maka Allah mengutus Anak-Nya, yang lahir dari seorang perempuan dan takluk kepada hukum Taurat." Logika ayat ini sangat jelas: sang Anak sudah ada sebagai Pribadi sebelum Ia diutus dan sebelum Ia dilahirkan oleh Maria. Ia diutus sebagai Anak, dan melalui kelahiran-Nya, Ia menjadi manusia. Demikian pula, Yohanes menyatakan, "Kami telah melihat dan bersaksi, bahwa Bapa telah mengutus Anak-Nya menjadi Juruselamat dunia" (1 Yohanes 4:14). Ia diutus sebagai Anak, bukan diangkat atau ditetapkan menjadi Anak setelah datang ke dunia. Bahkan gelar "Anak Tunggal Bapa" (Yohanes 1:18) yang berada "di pangkuan Bapa" (dalam terjemahan harfiah: di dada atau pelukan Bapa) menggambarkan keintiman dan relasi kasih yang sudah ada dari kekekalan.
Herman Bavinck, seorang teolog Reformed, menegaskan bahwa “Anak Allah bukanlah menjadi Anak pada suatu saat, melainkan Ia adalah Anak dari kekekalan.” Pernyataan yang memisahkan keilahian Yesus dari status keanakan-Nya sebenarnya bukanlah isu baru. Ini adalah gaung dari ajaran sesat kuno yang telah dihadapi dan ditolak oleh gereja mula-mula. Perlawanan paling awal dan paling sengit terhadap gagasan bahwa Bapa sendiri yang menderita di kayu salib (Patripasianisme) datang dari Tertullianus di awal abad ke-3. Dalam karyanya yang terkenal, Adversus Praxeam, Tertullianus dengan tegas menolak ajaran Praxeas yang mengklaim bahwa Allah hanya satu pribadi dan Bapa lah yang lahir dari Maria serta wafat di kayu salib. Tertullianlah yang pertama kali memperkenalkan istilah "Trinitas" (Trinity), bahwa Allah itu satu substansi (una substantia) namun memiliki tiga pribadi (tres personae) yang berbeda, yaitu Bapa, Putra, dan Roh Kudus . Ia mengejek ajaran Praxeas dengan sindiran terkenalnya: "Ia menyalibkan Bapa" . Di waktu yang sama, Paus Kallistus I (sekitar tahun 220) juga mengeluarkan Sabelius, pengajar utama Modalisme, dari persekutuan gereja .Perlawanan ini kemudian dimenangkan secara resmi melalui konsili-konsili ekumenis. Meskipun Konsili Nicea (325 M) terutama ditujukan untuk melawan Arianisme, konsili ini juga secara tidak langsung membungkam Modalisme dengan menegaskan bahwa Anak "sehakikat" (homoousios) dengan Bapa . Istilah ini membuktikan bahwa Anak bukan sekadar topeng atau mode dari Bapa yang sama, melainkan Pribadi yang nyata dan setara. Puncaknya, Konsili Konstantinopel I (381 M) mempertegas doktrin Tritunggal yang sudah matang: Allah itu esa dalam hakikat, namun tiga dalam pribadi (Bapa, Anak, Roh Kudus), sehingga menolak habis segala bentuk ajaran yang mengaburkan perbedaan pribadi di dalam keallahan, baik itu Arianisme maupun Modalisme. 
Kalau kita mau menjelaskan secara kasar dengan modal ayat-ayat  alkitab pun bisa begini : BENARKAH bahwa Yesus BUKAN Anak Allah? Waspadalah terhadap pengajaran masa kini karena MAKIN BANYAK YANG MENYIMPANG.

1️⃣. YESUS adalah Anak Allah dan itu sudah FINAL, Iblis mengakuinya (Mat. 4:3, 6, Mat. 8:29, Mark. 5:7) dan tersungkur menyembah-Nya (Mark. 4:11), mengapa? Karena sebelum jadi Iblis, dia pernah tinggal di Sorga menyaksikan sendiri Pribadi Yesus. 

2️⃣. Semua murid-Nya MENGAKUI bahwa Yesus adalah Anak Allah (Mat. 14:33) Simon Petrus MENGAKUI bahwa Yesus adalah Anak Allah (Mat. 16:16) Markus MENGAKUI bahwa Yesus adalah Anak Allah (Mark. 1:1) kepala pasukan MENGAKUI bahwa Yesus adalah Anak Allah (Mark. 15:39) Lukas MENGAKUI bahwa Yesus adalah Anak Allah (Luk. 1:32)  malaikat Allah pun MENGAKUI bahwa Yesus adalah Anak Allah (Luk. 1:35). Semua murid MELIHAT dengan mata, MERABA dengan tangan dan MENYAKSIKAN SECARA LANGSUNG di depan mata bahwa Yesus adalah Anak Allah, mereka mendengar pengajaran-Nya dan melihat sendiri semua perkara mukjizat yang diperbuat-Nya: MEREKA SAKSI MATA.

3️⃣. Yesus sendiri MENGAKUI bahwa Diri-Nya adalah Anak Allah (Luk. 22:70) Yohanes memberi kesaksian bahwa Yesus adalah Anak Allah (Yoh. 1:34) Natanael MENGAKUI bahwa Yesus adalah Anak Allah (Yoh. 1:49) Marta pun MEMPERCAYAI bahwa Yesus adalah Anak Allah (Yoh. 11:27).
 
Jika Yesus sendiri mengakui bahwa Diri-Nya adalah Anak Allah, MUNGKINKAH KITA MENOLAK PENGAKUAN ITU dengan seribu alasan untuk membenarkan diri dalam kesalahan?

4️⃣. Setelah Paulus bertobat, dia MEMBERITAKAN bahwa Yesus adalah Anak Allah (Kisah. 9:20) dan kepada jemaat di Roma pun, dia MENEGASKAN bahwa Yesus adalah Anak Allah (Rm. 1:4) kepada jemaat di Korintus DIAJARKAN bahwa Yesus adalah Anak Allah (2 Kor. 1:19) kepada jemaat Ibrani DIBERITAKAN bahwa Yesus adalah Anak Allah (Ibr. 4:14).

5️⃣. Yohanes mengajarkan bahwa Yesus MENYATAKAN DIRI sebagai Anak Allah untuk MEMBINASAKAN perbuatan² Iblis (1 Yoh. 3:8), setiap orang percaya YANG MENGAKU bahwa Yesus adalah Anak Allah, maka Allah tetap berada di dalam hidupnya dan dia di dalam Allah (1 Yoh. 4:15) dan setiap orang yang PERCAYA bahwa Yesus adalah Anak Allah, maka ia punya kesaksian di dalam dirinya tetapi yang tidak percaya sesungguhnya ia memandang Allah sebagai PENDUSTA, sebab ia tidak mempercayai pernyataan Allah tentang Kristus (1 Yoh. 5:10).

MUNGKINKAH Allah "berdusta" kepada manusia dan tentang Diri-Nya? BETAPA JAHATNYA MANUSIA jika menganggap bahwa Allah berdusta hanya karena kepentingan manusia tidak terpenuhi, seleranya tak terpuaskan dan MALAS BELAJAR? Itu sebabnya nabi Hosea berkata: 📖 Umat-Ku BINASA karena TIDAK MENGENAL Allah; karena engkaulah yang MENOLAK pengenalan itu maka Aku menolak engkau menjadi imam-Ku; dan karena engkau melupakan pengajaran Allahmu, maka Aku juga akan melupakan anak-anakmu (Hosea 4:6).
SUDAH FINAL bahwa melalui kelahiran Kristus, kematian, kebangkitan, kehidupan dan kenaikan-Nya MEMBUKTIKAN Dia adalah Anak Allah, itulah yang diimani gereja mula² dan diberitakan para rasul. Jika seseorang menolak atau membantahnya, PERTANYAKAN APAKAH DIA UTUSAN TUHAN?
Jika demikian, APA ALASANMU MEMBANTAH bahwa Yesus BUKAN Anak Allah? Apakah ayat tersebut BELUM CUKUP BAGIMU menjadi bukti dan fakta bahwa Yesus adalah Anak Allah?

📖 ALKITAB adalah suara Allah, pikiran, perasaan dan perkataan Allah yang HARUS DIPERCAYAI sepenuhnya dan pemegang otoritas tertinggi dalam gereja bahkan DASAR PENGAJARAN IMAN bagi orang percaya. Alkitab tidak bisa digantikan dengan BUKU atau KITAB apapun, tidak bisa digantikan dengan suara manusia, jabatan, pengetahuan atau pendidikan apapun karena hidup Kristen HARUS TUNDUK pada otoritas Alkitab. Ini kasar penjelasan terakhir, tetapi jembatan nalarnya masih terlihat dengan baik.
(06042026)(TUS)

𝗞𝗲𝘁𝗶𝗸𝗮 𝗗𝗼𝗮 𝗕𝗲𝗿𝗴𝗲𝘀𝗲𝗿 𝗠𝗲𝗻𝗷𝗮𝗱𝗶 𝗧𝗲𝗸𝗻𝗶𝗸 𝘡𝘦𝘯𝘵𝘢𝘯𝘨𝘭𝘦 merupakan metode menggambar pola-pola sederhana, repetit...