SUDUT PANDANG SIAPA MENDAMAIKAN SIAPA DENGAN SIAPA?
Ungkapan “Allah mendamaikan diri-Nya dengan kita” sering saya dengar. Kedengarannya sangat benar, bahkan mencerminkan inisiatif Allah yang ingin berdamai dengan kita. Padahal ungkapan ini sebenarnya tidak tepat. Tidak ada satu ayat pun di dalam Alkitab yang menyatakannya—sejauh saya tahu. Apa yang Alkitab tulis, setidaknya di dalam tulisan-tulisan Paulus, adalah bahwa “Allah mendamaikan kita dengan diri-Nya” (2Kor. 5:18-20; Kol. 1:20; Rm. 5:10). Presisi teologis sangat penting di sini.
Saya menulis ini dalam konteks pernah dahulu mempersiapkan khotbah untuk dua gereja sesinode pada tanggal sekian waktu lalu. Teks yang diberikan kepada saya adalah 2 Korintus 5:11-18. Temanya adalah “Pelayan Pendamaian Bagi Seluruh Ciptaan.” Respons awal saya adalah: “Kok nggak nyambung?” Namun, setelah melakukan studi atas teks ini, saya begitu terinspirasi oleh teks ini. Ada dua hal yang sangat menarik.
Pertama, terdapat paralelisme antara ayat 18 dan 19, namun objek pendamaian berubah, dari “kita” (ay. 18) ke “dunia” (ay. 19). Sayangnya, bacaan di dua gereja ini berhenti pada ayat 18 dan tidak memasukkan ayat 19. Maka, saran saya, sila menambah satu ayat itu.
Kedua, ayat 17 memakai frasa yang sangat erat dengan tradisi apokaliptis Yahudi, yaitu “ciptaan baru.” Terjemahan LAI memutuskan untuk menerjemahkannya, “siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru.” Teks Yunani-nya sebenarnya berbunyi: “ei tis en Christō, kainē ktisis” (siapa yang ada di dalam Kristus, ciptaan baru.” Jadi, dalam kalimat ini tidak ada kopula (misalnya estin) yang mengaitkan tis dengan kainē ktisis. Bisa saja itu diandaikan.
Namun, sebenarnya pengalimatan ini membuka beberapa penafsiran yang sangat menarik. Pertama, bisa saja dipahami seperti terjemahan LAI, yaitu bahwa siapa yang berada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru. Kedua, mungkin juga dapat dipahami bahwa Kristuslah Sang Ciptaan Baru. Cara membahasakan ini harus dipahami dengan sangat hati-hati, yaitu dengan tidak mengatakan bahwa Kristus adalah ciptaan. Namun, gaya bahasa semacam ini tidak asing bagi Paulus. Ia juga memakai klaim bahwa Kristus adalah “Adam baru” dalam 1 Korintus 15 (padahal Adam kan ciptaan ya). Alternatif ketiga adalah sebuah presentasi. Seolah, Paulus ingin mengatakan: “Bagi Anda yang berada di dalam Kristus … Inilah ciptaan baru yang menjadi habitat baru bagimu. Hiduplah dalam ciptaan baru itu.”
Soalnya sekarang adalah bagaimana menuangkan ini semua ke dalam sebuah khotbah yang sederhana dan dapat dimengerti umat. Wallahualam. Mengenang masa karya dahulu, mengingat masa istirahat karya sekarang.