Rabu, 08 April 2026

YESUS, SANG KONTRA-KULTUR
Sewaktu mempersiapkan khotbah Kamis Putih, minggu lalu, saya makin menyadari bahwa Yesus memang seseorang yang dengan "darah muda"-nya berjuang menghadirkan perubahan-perubahan radikal (baca: mendasar) di tengah masyarakatnya. Dalam kisah-kisah di keempat Injil, Yesus - yang ternyata agak ke kiri itu - kerap kali digambarkan sebagai sosok yang menantang budaya (kontra-kultur) yang sudah dinormalisasikan, padahal tidak adil atau diskriminatif.

Ketika kultur masyarakat kala itu mengglorifikasi mereka yang kaya, berkuasa, dihormati, dan sukses mengumpulkan asset, Yesus mengajarkan bahwa yang miskin, lapar, haus, lemah lembut, dan dicela pun diberkati juga oleh Tuhan, dan karenanya patut berbahagia. Khotbah di bukit, kisah paradoks orang kaya dan Lazarus yang miskin, juga perjumpaan komunitas Yesus dengan janda miskin di rumah ibadah, menegaskan sikap Yesus yang kontra-kultur.

Ketegasan-Nya menolak persekongkolan para pelayan Bait Allah dengan para penjual hewan kurban dan penukar uang bahkan Ia perlihatkan secara amat radikal. Yesus membuat cambuk, lalu dengan marah mengusir para konspirator dari halaman tempat suci itu.

Belum lagi sikap-Nya terhadap kekakuan penerapan aturan Sabat yang meminggirkan kemanusiaan, keberanian-Nya mendobrak marjinalisasi kaum disabilitas dan orang kusta, nyali-Nya membongkar kemunafikan orang-orang yang jadi "polisi agama", hingga ketulusannya menyahabati etnis atau kaum yang dimusuhi oleh orang-orang sebangsa-Nya. Itu semua menunjukkan upaya Yesus challenging kultur salah-kaprah yang sudah telanjur mendarah-daging.

Dan semua itu berpuncak pada dua aksi kontra-kultur yang Yesus lakukan DENGAN SENGAJA:

1. Masuk kota Yerusalem mengendarai keledai diiringi orang-orang sederhana dan powerless. Reaksi orang-orang yang segera menyambut Yesus dengan menghamparkan pakaian dan melambaikan daun-daun palem menunjukkan bahwa mereka mengerti bahwa aksi Yesus itu merupakan sebuah "aksi teatrikal" yang menyindir kebiasaan penguasa ber-defile masuk kota Yerusalem dengan kuda perang dan diiringi pasukan bersenjata untuk mempertontonkan kekuatan militernya.

2. Membasuh kaki para murid-Nya ketika mereka hendak makan bersama. Apa yang Yesus lakukan sebenarnya ingin mengajarkan nilai-nilai kesetaraan dan hospitalitas kepada para murid. Aksi-Nya jelas merupakan kontra-kultur terhadap hierarki kaum budak vs. orang merdeka yang membelah rakyat Yahudi  pada masa itu ke dalam "kasta-kasta". Yesus menegaskan bahwa komunitas-Nya haruslah terbebas dari paham dan praktik diskriminatif. Karena itulah Ia mengambil posisi hamba demi "menjungkirbalikkan" kultur sosial diskriminatif yang merendahkan sesama manusia.

Jadi, teman-teman Kristen, kalau kita mau meneladani Yesus, teladani pulalah sikap-Nya yang tidak segan menolak dan menantang struktur, sistem, dan praktik sosial yang tidak adil dan menyengsarakan. Yesus bahkan pernah menyebut Raja Herodes, raja yang berkuasa pada masa hidup-Nya sebagai "serigala" (bdk. Lukas 13:31-32 - TB2 memakai kata "rubah"). Serigala atau rubah adalah pemangsa dan pencuri. Siapa yang dimangsa dan dirampok oleh Raja Herodes? Rakyatnya sendiri! Dan Yesus tidak tinggal diam!

YESUS, SANG KONTRA-KULTUR Sewaktu mempersiapkan khotbah Kamis Putih, minggu lalu, saya makin menyadari bahwa Yesus memang seseor...