Sabtu, 09 Mei 2026

Sudut Pandang Gereja dan Dunia

Sudut Pandang Gereja dan Dunia

PENGANTAR
Dalam Injil Yohanes 18, ada ironi besar yang sering luput dibahas. Para imam kepala Yahudi begitu marah kepada Yesus karena Ia dianggap mengganggu sistem mereka. Mereka berbicara tentang Allah, bait suci, hukum Taurat, dan kesalehan, tetapi ketika merasa posisi dan pengaruh mereka terancam, mereka justru bersekutu dengan kekuasaan Romawi untuk menyalibkan Sang Mesias.
Mereka yang seharusnya menjadi saksi Allah malah memakai cara dunia, yaitu politik, tekanan massa, manipulasi opini, permainan kuasa, dan pencitraan religius. Yesus tidak kalah karena dunia membenci-Nya. Justru agama kehilangan wajahnya ketika ia mulai menyerupai dunia. Di situlah kadang kita bertanya, apakah Alkitab masih relevan ada di tengah dunia yang tidak ideal? Masih percayakah kita pada pengajaran Alkitab bila menghadapi kenyataan dunia?
PEMAHAMAN
Inilah tragedi yang terus berulang sepanjang sejarah gereja. Gereja tidak kehilangan kesaksiannya saat ditolak dunia. Yesus sendiri berkata bahwa dunia memang akan membenci mereka yang hidup dalam terang (Yoh 15:18-19). Kekristenan mula-mula justru paling murni ketika dianiaya, miskin, dan tidak memiliki kuasa politik. Darah para martir menjadi kesaksian yang hidup.
Tetapi gereja mulai kehilangan suara kenabiannya ketika ia jatuh cinta pada: kuasa, uang, popularitas, kontrol, dan citra. Ketika gereja lebih sibuk menjaga “brand” daripada kebenaran, lebih takut kehilangan donatur daripada kehilangan kekudusan, lebih ahli membangun panggung daripada memikul salib...saat itulah gereja sedang berjalan menjauh dari Kristus sambil tetap menyebut nama-Nya. Yesus tidak pernah memanipulasi orang untuk mengikut Dia.
Ia tidak menjual mukjizat demi popularitas.
Ia tidak membangun kerajaan dengan intimidasi, tekanan apalagi penindasan.
Ia bahkan menolak ketika orang banyak ingin menjadikan-Nya raja secara politik (Yoh 6:15).
Namun banyak pelayanan modern atau gereja justru memakai strategi dunia:
- mengontrol jemaat dengan rasa takut, antikritik, menulikan dan membutakan diri
- memainkan emosi, membangun circle bukan kesetaraan, shg muncul circle-circle lainnya di gereja, gereja menjadi komunitas
- mengkultuskan pemimpin gereja,
- membangun kemewahan untuk mengesankan rohani, membangun kemewahan  untuk peristiwa atau event gereja sebagai organisasi, bukannya hidup ugahari atau hidup sederhana
- bahkan memakai ayat untuk membungkam kritik.

Gereja seringkali terlihat rohani di luar, tetapi di dalam digerakkan oleh logika dunia: siapa yang paling berpengaruh, paling kaya, paling viral, paling kuat mengendalikan narasi.
Dan itu bukan hal baru. Nabi Yehezkiel pernah mengecam gembala-gembala Israel yang menggembalakan diri sendiri, bukan umat Tuhan (Yeh 34). Mereka memanfaatkan kawanan domba demi keuntungan pribadi. Tuhan menyebut itu sebagai pengkhianatan rohani. Masalah terbesar gereja bukan selalu serangan eksternal.
Sering kali masalah terbesar lahir ketika gereja mulai nyaman memakai METODE BABEL untuk membangun “Kerajaan Allah.”
Kita hidup di zaman ketika pencitraan bisa lebih dihargai daripada pertobatan.
Tampilan rohani bisa lebih penting daripada karakter.
Bahasa “urapan” bisa dipakai untuk menutupi penyalahgunaan kuasa.
Dan gereja bisa tetap ramai, megah, rohani… tetapi kehilangan hadirat Tuhan.
Tetap viral… tetapi kehilangan kebenaran.
Tetap relijius… tetapi berhenti menyerupai Kristus.
Namun panggilan Injil tetap sama. Gereja dipanggil bukan untuk menguasai dunia, tetapi adalah terang di tengah dunia.
Bukan meniru sistem dunia, melainkan menghadirkan karakter Kristus, yaitu : kerendahan hati, kebenaran, pengorbanan, dan kasih yang tidak manipulatif.
Salib selalu bertolak belakang dengan ambisi dunia. Karena di salib, kuasa dinyatakan melalui pengorbanan, bukan dominasi, kasih dinyatakan dengan keadilan bahkan kesetaraan. Karena pada akhirnya, kesaksian gereja tidak diukur dari besarnya gedung, ramainya jemaat, kuatnya pengaruh, atau canggihnya pencitraan. Kesaksian gereja diukur dari seberapa jelas dunia melihat Kristus hidup di dalamnya.

Seperti pernah dikatakan oleh J. I. Packer:

“The task of the church is to make the invisible Kingdom visible through faithful Christian living and witness-bearing.”
“Tugas gereja adalah membuat Kerajaan Allah yang tak kelihatan menjadi terlihat melalui kehidupan Kristen yang setia dan kesaksian yang benar.”

Dan kalau gereja gagal melakukan itu, seindah apa pun panggungnya, langit tidak terkesan. Tuhan tidak pernah mencari gereja yang mengesankan dunia.
Ia mencari gereja yang menyerupai Putera-Nya.
(09052026)(TUS)

Sudut Pandang Gereja dan Dunia

Sudut Pandang Gereja dan Dunia PENGANTAR Dalam Injil Yohanes 18, ada ironi besar yang sering luput dibahas. Para imam kepala Yah...