Sudut Pandang đđ˛đđśđ¸đŽ đđźđŽ đđ˛đżđ´đ˛đđ˛đż đ đ˛đťđˇđŽđąđś đ§đ˛đ¸đťđśđ¸
PENGANTAR
Seperti yang sudah saya sampaikan sebelumnya bahwa reformasi liturgi Gereja Katolik modern diinspirasi oleh Gereja Protestan. Perubahan terbesar dan paling menonjol adalah partisipasi umat.
▶️ Gereja Katolik bergerak dari ibadah klerus (đ¤đđŚđłđŞđ¤đ˘đ đđŞđľđśđłđ¨đş) menuju ibadah umat (đąđ˘đłđľđŞđ¤đŞđąđ˘đľđ°đłđş đđŞđľđśđłđ¨đş).
▶️ Sebaliknya, sejalan dengan waktu, sebagian Gereja Protestan justru bergerak dari semangat imamat am orang percaya (đąđłđŞđŚđ´đľđŠđ°đ°đĽ đ°đ§ đ˘đđ đŁđŚđđŞđŚđˇđŚđłđ´) menuju kultus pendeta (đ¤đŚđđŚđŁđłđŞđľđş đ¤đđŚđłđ¨đş đ¤đśđđľđśđłđŚ).
Saya hanya melayani diskusi untuk meningkatkan pengetahuan liturgi dan teologi, gak mau debat kusir. Dalam praktik ibadah Gereja Protestan Reformir ada beberapa hal yang sudah dianggap biasa, tetapi sebenarnya lahir dari kekeliruan dalam memahami liturgi. Seri đđŚđđŞđłđś đđŞđľđśđłđ¨đŞ mencoba meninjau kembali praktik-praktik tersebut secara lebih jernih.Sungguh menggelikan kalau masih ada yang mengejek: “đđ˘đđŁđđŁđŽđ đŁđżđźđđ˛đđđŽđť đ˝đđťđđŽ đšđśđđđżđ´đś?”
Padahal dalam buku setebal 303 halaman terlampir di bawah empu liturgi Gereja Katolik Indonesia Rm. Prof. Emanuel Martasudjita, Pr. mencatat bahwa istilah đšđśđđđżđ´đś untuk ibadah đşđđšđŽ-đşđđšđŽ đąđśđ´đđťđŽđ¸đŽđť đźđšđ˛đľ đđ˛đżđ˛đˇđŽ đŁđżđźđđ˛đđđŽđť pada abad ke-17 (lih. hlm. 19). Dalam buku itu juga rama [baca: romo] menyebut reformasi liturgi Gereja Katolik diinsipirasi oleh Gereja Protestan. Kerja sama ekumenis dalam bidang liturgi antara Katolik dan Protestan sebenarnya sudah berlangsung lama. Bahkan sesudah KV II umat Katolik mengalami perubahan besar dalam tata ibadah: keterlibatan jemaat, penggunaan bahasa umat, pembacaan Alkitab yang lebih luas, memerkuat liturgi sabda, dan hal lain yang bersifat detil. Tidak sedikit orang Katolik generasi lama merasa: “đđŞđ´đ˘ đ´đŚđŹđ˘đłđ˘đŻđ¨ đŹđ°đŹ đŤđ˘đĽđŞ đ´đŚđąđŚđłđľđŞ đđłđ°đľđŚđ´đľđ˘đŻ?”
Sebaliknya dalam banyak Gereja Protestan modern muncul pula praktik-praktik yang dahulu dianggap sangat “Katolik”. Tidak heran kalau ada warga Protestan berkata: “đđŚđŁđ˘đŹđľđŞđ˘đŻ đđŞđŻđ¨đ¨đś đ´đŚđŹđ˘đłđ˘đŻđ¨ đŹđ°đŹ đśđĽđ˘đŠ đŹđ˘đşđ˘đŹ đđ˘đľđ°đđŞđŹ?”
Saya sendiri punya pengalaman menarik. Pada tahun lalu (kisaran akhir 2024) saya mengikuti đđŚđŽđŞđŻđ˘đł đđŹđ˘đłđŞđ´đľđŞ dengan pembicara/pengajar tunggal Rm. Martasudjita, Pr. Acara yang diikuti sekitar 112 peserta itu diselenggarakan oleh Seksi Katekese Gereja Katolik St. Paulus Miki. Saya satu-satunya peserta Protestan.
Nah, pada pembukaan acara kami bernyanyi bersama. Di situlah saya tersenyum sendiri. Lagu yang dipakai ternyata:
▶️ đđŞđĽđśđŻđ¨ đđŚđŽđ˘đ˘đľ 337 đđŚđľđ˘đąđ˘ đđŞđľđ˘ đđŞđĽđ˘đŹ đđŚđłđ´đşđśđŹđśđł, dan
▶️ đđşđ˘đŻđşđŞđŹđ˘đŻđđ˘đŠ đđŞđĽđśđŻđ¨ đđ˘đłđś 111 đđŚđłđŚđŤđ˘ đđ˘đ¨đ˘đŞ đđ˘đŠđľđŚđłđ˘.
Kadang problem terbesar dalam debat gereja bukan kurangnya iman, melainkan kurangnya membaca buku sampai lupa bahwa umat di lapangan sudah lama saling bernyanyi bersama. Pengikut Kristus seharusnyalah rajin membaca dan mengembangkan pengetahuan, karena Kristus sendiri memperlihatkan kritikanNya dengan kata-kata "Tidakkah engkau baca?" Perhatikan ayat-ayat di bawah ini : Ada beberapa kali Yesus bilang "tidakkah kamu baca" atau "belum pernahkah kamu baca" saat mengkritisi orang Farisi dan ahli Taurat. :
1. Matius 12:3, 5, Soal murid memetik gandum hari Sabat
Tetapi jawab Yesus kepada mereka: "Tidakkah kamu baca apa yang dilakukan Daud, ketika ia dan mereka yang mengikutinya lapar...
Atau tidakkah kamu baca dalam kitab Taurat, bahwa pada hari-hari Sabat, imam-imam melanggar hukum Sabat di dalam Bait Allah, namun tidak bersalah?
2. Matius 19:4, Soal perceraian. Jawab Yesus: "Tidakkah kamu baca, bahwa Ia yang menciptakan manusia sejak semula menjadikan mereka laki-laki dan perempuan?"
3. Matius 21:16, Saat anak-anak memuji di Bait Allah. Lalu kata mereka kepada-Nya: "Engkau dengar apa yang dikatakan anak-anak ini?" Kata Yesus kepada mereka: "Aku dengar; belum pernahkah kamu baca: Dari mulut bayi-bayi dan anak-anak yang menyusu Engkau telah menyediakan puji-pujian?"
4. Matius 21:42, Perumpamaan penggarap kebun anggur, Kata Yesus kepada mereka: "Belum pernahkah kamu baca dalam Kitab Suci: Batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan telah menjadi batu penjuru: hal itu terjadi dari pihak Tuhan, suatu perbuatan ajaib di mata kita."
5. Matius 22:31, Soal kebangkitan orang mati, Tetapi tentang kebangkitan orang-orang mati tidakkah kamu baca apa yang difirmankan Allah, ketika Ia bersabda...
6. Markus 12:10, Sama dengan Matius 21:42, Belum pernahkah kamu membaca nas ini: Batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan telah menjadi batu penjuru
7. Markus 12:26, Soal kebangkitan, dari kitab Musa. Dan juga tentang bangkitnya orang-orang mati, tidakkah kamu baca dalam kitab Musa, dalam ceritera tentang semak duri...
Inti yang Yesus mau sampaikan: Orang Farisi sering mengaku ahli Kitab Suci, tapi nggak ngerti maksudnya. Yesus pakai kalimat "tidakkah kamu baca" untuk menegur mereka supaya baca dan paham isi tafsir firman, bukan cuma hafal aturan. Mari sekarang, kita belajar dan menambah pengetahuan soal doa dalam liturgi.
1️⃣ đđśđđđżđ´đś đđżđśđđđ˛đť đ˝đŽđąđŽ đąđŽđđŽđżđťđđŽ đŻđ˛đżđđśđłđŽđ đ¸đźđşđđťđŽđš đąđŽđť đđżđśđťđśđđŽđżđśđŽđť
Dalam tradisi Kristen klasik doa liturgis tidak pernah dipahami sekadar sebagai teknik mencapai ketenangan batin individual. Liturgi adalah tindakan Gereja yang mengambil bagian dalam karya keselamatan Allah Tritunggal.
Bapa memanggil dan mengumpulkan umat-Nya. Kristus menghadirkan karya penebusan-Nya melalui firman dan sakramen. Roh Kudus menghidupkan, menguduskan, dan memersatukan Gereja.
Oleh karena itu liturgi Kristen sejak awal bersifat trinitarian. Seluruh gerak liturgi mengalir:
▶️ dari Bapa,
▶️ melalui Kristus,
▶️ di dalam Roh Kudus, dan
▶️ kembali kepada Bapa dalam pujian dan syukur.
Pada aras itu pusat liturgi bukan pengalaman psikologis manusia, melainkan tindakan Allah sendiri yang lebih dahulu berkarya atas Gereja-Nya.
Liturgi juga selalu bersifat komunal-eklesial. Subjek liturgi bukan individu yang sedang mencari pengalaman spiritual pribadi, melainkan Kristus bersama tubuh-Nya, yaitu Gereja. Simbol, nyanyian, doa, diam, warna liturgi, bahkan gestur tubuh dalam ibadah diarahkan bukan terutama untuk membantu individu “merasakan sesuatu”, melainkan untuk membawa umat masuk ke dalam misteri karya keselamatan Allah Tritunggal.
Di sini praktik berbagai macam doa atau meditasi perlu dicermati secara hati-hati, apalagi yang đŻđđ¸đŽđť đ˝đżđŽđ¸đđśđ¸ đđŽđťđ´ đšđŽđľđśđż đąđŽđżđś đđżđŽđąđśđđś đšđśđđđżđ´đś đđżđśđđđ˛đť, melainkan teknik visual-meditatif modern. Ketika dibawa ke ruang spiritualitas Kristen, pertanyaan teologisnya bukan pertama-tama: đŁđ°đđŚđŠđŹđ˘đŠ, melainkan đ˘đąđ˘đŹđ˘đŠ đąđłđ˘đŹđľđŞđŹ đŞđľđś đľđŚđľđ˘đą đŽđŚđŻđŤđ˘đ¨đ˘ đąđśđ´đ˘đľ đĽđ°đ˘ đąđ˘đĽđ˘ đđđđ˘đŠ đđłđŞđľđśđŻđ¨đ¨đ˘đ đĽđ˘đŻ đŹđŚđŠđŞđĽđśđąđ˘đŻ đđŚđłđŚđŤđ˘, đ˘đľđ˘đś đŤđśđ´đľđłđś đąđŚđłđđ˘đŠđ˘đŻ đŽđŚđŻđ¨đ¨đŚđ´đŚđł đĽđ°đ˘ đŽđŚđŻđŤđ˘đĽđŞ đąđŚđŻđ¨đ˘đđ˘đŽđ˘đŻ đŁđ˘đľđŞđŻ đŞđŻđĽđŞđˇđŞđĽđśđ˘đ đşđ˘đŻđ¨ đ´đŚđđ§-đ¤đŚđŻđľđŚđłđŚđĽ.
2️⃣ đđŽđšđŽđş đđżđŽđąđśđđś đđżđśđđđ˛đť đđ˛đŻđ˛đťđŽđżđťđđŽ đđđąđŽđľ đŽđąđŽ đđ¤đ đ˘đđĄđđĄđŞđ đŠđđŁđđđŁ
Ini penting karena Kristen sebenarnya tidak asing dengan praktik manual kontemplatif:
▶️ menyalin manuskrip Alkitab,
▶️ melukis ikon,
▶️ merangkai rosario,
▶️ menenun kain altar,
▶️ kaligrafi Kitab Suci,
▶️ bahkan membuat roti komuni.
Dalam monastisisme berlaku prinsip đ°đłđ˘ đŚđľ đđ˘đŁđ°đłđ˘. Tubuh dan tangan ikut berdoa. Doa bukan hanya gerakan melipat tangan dan menutup mata tetapi terlebih gerakan membuka tangan/mengulurkan tangan dan membuka mata, orare sets laborare, laborare sets orare, berkarya adalah berdoa, berdoa adalah berkarya, doakanlah apa yang kita kerjakan dan kerjakanlah apa yang kita doakan. Jadi secara prinsip aktivitas artistik yang ritmis dapat menjadi medium kontemplasi Kristen. Manusia berdoa bukan hanya dengan otak, tetapi juga tubuh, indera, ritme, keheningan.
3️⃣ đđśđđđżđ´đś đđżđśđđđ˛đť đđ˛đšđŽđšđ đ¸đżđśđđśđ đđ˛đżđľđŽđąđŽđ˝ đđ˛đ¸đťđśđ¸ đđŽđťđ´ đđ˛đżđšđŽđšđ đ¨đđĄđ-đđđŁđŠđđ§đđ
Kalau Zen meditasi dipahami cara mencapai kedamaian batin, maka pusatnya mudah bergeser dari Allah ke pengalaman psikologis diri. Di sini liturgi Kristen berbeda dari spiritualitas đŽđŞđŻđĽđ§đśđđŻđŚđ´đ´ modern.
Dalam tradisi Kristen doa bukan pertama-tama teknik menenangkan diri, melainkan relasi dengan Allah yang hidup. Kadang doa Kristen bahkan gelisah, penuh ratapan, penuh pergumulan, tidak damai, marah. Mazmur sendiri penuh kegaduhan eksistensial. Liturgi Kristen tidak mengejar ketenangan sebagai tujuan akhir.
4️⃣ đĽđśđđśđ¸đź đšđśđđđżđ´đśđđťđđŽ
Kalau đđŚđłđĽđ°đ˘ đĽđŚđŻđ¨đ˘đŻ đĄđŚn meditasi dibawa terlalu jauh ke ruang Gereja, ada risiko:
▶️ estetika menggantikan pewartaan,
▶️ teknik menggantikan misteri,
▶️ pengalaman personal menggantikan tindakan komunal Gereja.
Akhirnya doa dilunturkan menjadi terapi spiritual pribadi. Padahal liturgi Kristen selalu punya matra: Sabda, Gereja, anamnesis/pengenangan, Kristus, dan pengutusan.
Pada aras itu đđŚđłđĽđ°đ˘ đĽđŚđŻđ¨đ˘đŻ meditasi mungkin masih dapat dipahami sebagai sarana refleksi atau kontemplasi pribadi apabila ditempatkan secara proporsional dan tidak diberi muatan mistik berlebihan. Namun, Gereja tetap perlu berhati-hati, terutama dalam konteks jemaat Protestan-Calvinis, termasuk GKJ.
Tradisi Calvinis sejak awal membentuk spiritualitas jemaat melalui liturgi yang relatif terstruktur:
▶️ pembacaan firman,
▶️ doa,
▶️ khotbah,
▶️ nyanyian,
▶️ pengakuan dosa, dan
▶️ sakramen.
Spiritualitasnya dibangun melalui irama liturgi yang jelas, berpusat pada Sabda, dan bersifat komunal-eklesial. Oleh karena itu umat Calvinis umumnya tidak dibentuk melalui teknik-teknik meditasi visual atau metode kontemplasi yang berorientasi pada pengalaman batin individual.
Di sini đĄđŚđŻ meditasi đşđ˛đşđśđšđśđ¸đś đżđśđđśđ¸đź đ˝đŽđđđźđżđŽđš đđŽđťđ´ đđśđťđ´đ´đś bagi umat awam Calvinis. Ketika tidak disertai penjelasan teologis yang memadai, umat dapat dengan mudah menggeser pusat doa:
▶️ dari firman kepada teknik,
▶️ dari Kristus kepada pengalaman diri, dan
▶️ dari liturgi Gereja kepada sensasi batin personal.
Akibatnya doa perlahan dipahami bukan lagi sebagai tanggapan iman terhadap pewahyuan Allah, melainkan sebagai metode mencapai ketenangan psikologis. Padahal dalam spiritualitas Calvinis ketenangan bukan tujuan utama ibadah. Pusatnya tetap Allah yang menyapa umat melalui firman dan sakramen. Untuk itu Gereja perlu memiliki kepekaan teologis untuk membedakan mana latihan artistik-kontemplatif yang sekadar membantu konsentrasi dan mana praktik spiritual yang perlahan menggeser gravitasi ibadah Kristen dari Allah kepada pengalaman diri.
(19052025)(TUS)