Jumat, 15 Mei 2026

Sudut Pandang Mengurai Komunitas Sadrach

Sudut Pandang Mengurai Komunitas Sadrach 

PENGANTAR 
Ada pertanyaan yg sering diunggah Sadrach itu di Pesantren atau Peguron ? 

PEMAHAMAN 
Ada dua pesantren yang dikaitkan dengan Sadrach muda yang bernama asli Radin, yakni Tebuireng Jombang dan Gontor Ponorogo. 
Sesuatu hil yang mustahal, sebab Tebuireng berdiri tahun 1899, saat usia Sadrach sudah mencapai 64 tahun. Apalagi Gontor yang berdiri ketika Sadrach sudah wassalam. 
Meski demikian ada petunjuk menarik dalam disertasi pendeta Soetarman Partonadi tentang ciri "pesantren" tempat Sadrach mondok. 
"Unsur Terpenting di pesantren bukan pembentukan intelektual melainkan pembentukan spiritual. Di sini, murid dibekali dan dipersiapkan untuk terjun ke masyarakat dan kehidupan sesungguhnya. Para santri tinggal di komplek yang sama seperti para kiai dan keluarga mereka. Bekerja di sawah, memelihara ternak dan bekerja paruh waktu pada keluarga tetangga adalah bagian dari latihan. Dengan cara ini, santri mengalami betapa kerasnya kehidupan di bawah disiplin ketat, yang memaksa mereka mengembangkan inisiatif dan kreativitas pribadi. " (hal. 64).
Nama Sadrach muda yakni Radin menunjukkan ia berasal dari desa. Deri desa itu belum tentu miskin, tutur Adriaanse. 
Jadi ketika ada masa Radin mengemis, itu bukan karena kemiskinan tapi tuntutan kurikulum pesantrennya. 

"Sudah menjadi tradisi murid-murid sekolah Al-Qur'an dan pesantren untuk mengemis sebagai bagian dari kurikulum. 

Hal ini biasanya dilakukan pada hari Kamis, seperti yang ditunjukkan kata Jawa  ngemis (mengemis) yang berasal dari Kemis (Kamis). 
Mengemis disini merupakan cara pengumpulan dana untuk kegiatan keagamaan dan pekerjaan sosial. Ini dianggap sebagai pemberian derma, bagian dari kewajiban Islam. " (hal. 60-61)

Ciri kedua ini mengingatkan saya waktu kecil pulang sekolah, pada mobil zebra tua yang dilengkapi TOA, jalan pelan di depan pasar  sambil menjelaska fadhillah sedekah, dan yang mengiringi anak-anak berpeci dan bersarung, menyodorkan kotak amal ke para pedagang. Demikian, kira-kira rombongan "pesantrennya" Sadrach kalau berdiri di masa sekarang. 
Nah sekarang tinggal dicocokkan saja, meski secara kronologi waktu tidak mungkin, apakah Tebuireng dan Gontor punya dua ciri di atas ? 
Sebenarnya, ada clue yang lebih valid dibanding memaksakan diri tempat Sadrach belajar itu pesantren. 
Sebelum mengurai riwayat hidup Sadrach, pendeta Partonadi menjelaskan tentang pendidikan mistik Jawa dalam sekolah mistik yang disebut peguron. 
Selain itu, ketika Sadrach bertemu dengan seorang misionaris gereja resmi Belanda, Jellesma di Jombang, status Radin masih merupakan murid peguron. 
Radin murtad juga ketika bertemu kembali dengan pengajar peguronnya yang telah masuk Kristen, yakni pak Kurmen alias Sis Kanoman saat tinggal di Semarang. 
Dan dua ciri "pesantren" tempat Sadrach mondok itu lebih dekat dengan peguron daripada pesantren. 
Nah, tentang apa itu peguron, kemisan akan ada bahasan sendiri.Keris Sakti Sadrach

Setelah saya bilang pesantrene Sadrach itu ora cetho, kebanyakan respon yang kontra justru berfokus bahwa gelar kiai itu bukan hanya untuk ulama Islam. 

Ya memang bener, kalau di Jawa Timur sebutannya juga bukan Kiai tapi mbah Yai. Kalau di Jawa Tengah, kebopun bisa disebut Kiai. Nggak ada masalah tentang hal itu. 

Yang penting, kalau nggak pernah nyantri ya jangan dibilang lulusan pesantren. Itu poin pentingnya. 

Ketika saya telusur kembali buku paling populer tentang Sadrach yakni karya C Guillot, Kiai Sadrach Riwayat Kristenisasi di Jawa, salah paham itu kemungkinan berasal dari buku yang oleh Guillot disebut sebagai "buku pesantren. "

Dari banyak buku di rumah Sadrach yang ada di Karangjoso, ada satu buku catatan yang ditulis dengan menggunakan baha sa Arab dan Jawa Pegon (huruf arab untuk menuliskan bahasa Jawa). 

Dari banyak buku peninggalan Sadrach, hanya buku itu, satu-satunya, yang membahas agama Islam. Dan karena dari keluarga Sadrach hanya dia yang pernah di pesantren, maka itu dianggap sebagai catatan yang dibuat Sadrach. Dan Guillot sendiri mengakui, ia tidak punya bukti bahwa buku tersebut memang milik Sadrach. 

Apa isi buku itu, sebutan-sebutan Allah (kemungkinan Asmaul Husna), pelbagai "rasa" (ngelmu roso ?), malaikat (nama - nama malaikat), silsilah raja-raja Islam di Jawa, transkripsi mistik dari Nabi Muhammad (setiap huruf mengandung makna) fan juga dialog antara Sunan Kalijogo dan Sunan Bonang tentang alam kubur. (hal. 106-107).

Selain itu, guru yang dikaguni Sadrach adalah pak Kurmen alias Sis Kanoman. Ketika Sadrah selesai mengembara di Jombang dan Ponorogo kemudian menetap di Semarang ia ketemu lagi dengan pak Kurmen yang sudah masuk Kristen. Dan Sadrach ikut juga masuk Kristen. 

Kata kunci ada di julukan Sis Kanoman. Karena kalau dalam tingkatan ilmu Jawa, yang pernah saya simak dari Dr. Fahruddin Faiz, ada lima tingkatan. 

Ilmu Kanoman, itu ilmu paling dasar, dilanjut ilmu kanuragan, terus ilmu kadonyan, ilmu kasepuhan dan berpuncak di ilmu kasampurnan. 

Nah, menyimak sepak terjang Sadrach, sepertinya setelah belajar ke Sis Kanoman, ia mengembara di Jombang dan di Ponorogo untuk belajar level ilmu kanuragan. 

Dan sepertinya, ia hanya sampai level ilmh kanuragan, sebab nanti dalam prakteknya, ia banyak menunundukkan para "kyai" selain dengan debat juga dengan adu kesaktian. 

Selain itu, di usia tuanya, ia dilarang melayani umat oleh gereja Belanda, salah satunya karena hobi kleniknya. Sadrach ini menjual keris yang sudah diisi alias keris sakti ke para pengikutnya. 
Sadrach Pecah Kongsi

Sebenarnya, perjumpaan pertama Radin (Sadrach muda) dengan kekristenan sudah terjadi saat ia merantau dan meguru di Jombang dan bertemu Jellesma. 

Jelle Eeljest Jellesma bukan orang Kristen sembarangan, ia adalah misionaris Nederlandsch Zendeling Gnoothschaap (NZG). Jellesma juga orang yang mengkristenkan Tunggul Wulung, yang akhirnya jadi misionaris pribumi sebelum Sadrach. 

Namun, pertemuan itu belum membuat Sadrach muda tertarik untuk pindah agama. 

Usai meguru di Jombang dan Ponorogo, Sadrach tinggal di kampung Kauman. Karena tinggal di kampung santri, ia menambahkan nama Abbas di belakang kata Radin. 

Di Semarang ini pula, ia ketemu lagi dengan pak Kurmen, alias Sis Kanoman yang pernah mendidiknya saat di peguron. Hanya saja, pak Kurmen waktu itu sudah memeluk Kristen karena kalah adu ngelmu dengan Tunggul Wulung. 

Singkat cerita, masuk Kristennya guru yang dihormati menjadikan Radin penasaran. Ia kemudian mengikuti pak Kurmen menemui Ibrahim Tunggul Wulung. 

Kekristenan bercorak Jawa yang dikembangkan Tunggul Wulung membuat Sadrach tertarik. Dan setelah adu ngelmu dan debat, Sadrach memutuskan untuk masuk Kristen. 

Tunggul Wulung, pak Kurmen dan Sadrach menjadi trio penginjil yang melayani masyarakat Bondho Jepara. 

Hanya saja, kongsi itu akhirnya bubar, karena Tunggul Wulung tergoda untuk poligami, menikah untuk kedua kali. Sadrach yang pendalaman alkitabnya cukup baik tentu tidak cocok. 

Dan mungkin kekecewaan Sadrach menjadi lebih dalam, ketika pak Kurmen akhirnya jatuh, menjadi pemadat. Sebutan untuk pecandu narkoba, kalau dulu biasanya penghisap opium. 

Dalam suasana kekecewaan mendalam itulah Sadrach mengaku mendapat wangsit untuk meninggalkan Bondho dan nantinya akan mengantarkannya ke Purworejo, tempat dimana ia mengembangkan kristen kejawennya secara lebih luas. Wiridan Kristen ala Coolen

Kristen adalah agama komunitas dimana gereja adalah organized religion dalam pengertian sebenarnya. Sedangkan di Jawa, agama lebih bercorak pribadi, karenanya penginjilan resmi yang mulai dijalankan sejak Raffles mengirim penginjil dari London Missionary Society, tidak mempan.

Hasil berbeda ketika dilakukan pendekatan ala Kristen kejawen oleh Coenraad Laurens Coolens. Dengan pendekatan kebudayaan, Coolen mampu menembus benteng pertahanan Islam orang Jawa. 

Coolen, adalah blasteran Rusia - Jawa. Bapaknya, imigran Rusia yang menjadi prajurit bayaran VOC, ibunya perempuan bangsawan Jawa. Dari bapaknya Coolen mewarisi nilai-nilai Kristen Barat, dari ibunya mewarisi ruh mistik kebudayaan Jawa. 

Menurut Coolen, jadi Kristen itu tidak perlu meninggalkan kejawaan. Tetap bersunat, tidak perlu dibaptis dan tidak usah berangkat ke gereja. Selain itu, Coolen memanfaatkan wayang untuk mengisahkan pesan-pesan alkitab.

Karena tidak ke gereja, kebaktian dilaksanakan di rumah Coolen yang berpendapa besar. Sebelum kebaktian dimulai, para pengikut Coolen melakukan wirid tembang syahadat.

Sun angandel Allah Sawiji, La ilaha ilallah
Yesus Kristus ya Rohullah Kang Nglangkungi Kwasanipun
La ilaha ilallah, Yesus Kristus ya Rohullah

Aku percaya bahwa Allah adalah Esa, La ilha ilallah
Yesus Kristus adalah Roh Allah yang punya kuasa atas segala sesuatu
Tidak ada Tuhan kecuali Allah, Yesus Kristus adalah Roh Allah

Tembang sahadat dilafadzkan berjama'ah disertai tepuk tangan dan goyangan kepala ke kiri dan ke kanan sebagaimana lazimnya orang yang sedang mujhadahan berdzikir. Lirik dilantunkan berulang-ulang selama satu hampir satu jam. 

Kristen kejawen al Coolen ini akhirnya terendus. Pada 1851, NZG: Nederlandsch Zendeling Genootschap, kemudian bekerja menginjili orang Jawa mengutus Pdt. J.E. Jellesma (1816–1858).

Beberapa tahun sebelum itu, Coolen memang sudah mulai meredup, karena ia dituduh hidup dalam perzinahan. Perlu dicatat, Coolen meninggalkan istrinya yang tidak mau diajak hidup di perkebunan, dan setelah itu ia menikah secara Islam dengan Sadijah.

Hakim akhirnya memutuskan untuk memberi status “pengawasan” karena “melanggar ketertiban umum” kepada Coolen. Namun pada bulan Oktober 1844, ia dilepaskan dari hukuman dan dibolehkan kembali ke Ngoro. Karena pemerintah menganggap Coolen dalam ‘keadaan mental yang tak sehat’.

Jadi sebenarnya, dari padepokan Coolenlah Kristren ala kejawen ini dilahirkan. Ibrahim Tunggul Wulung ataupun Sadrach itu sekedar melanjutkan. Dari padepokan Coolen tercatat nama-nama penginjil dari pribumi, seperti Singotruno, Paulus Tosari, Matius Niep dan yang paling berpengaruh adalah murid tidak langsung generasi ketiga yakni Sadrach.
Masjid tapi Kristen ala Sadrach

Ketika Kiai Sadrach masih hidup, namanya bukan Gereja Kristen Jawa, Tapi Masjid Kristen. 

Pada bangunan ibadah bercorak masjid Jawa inilah, Sadrach mengangkat diri jadi Kiai. Ia merasa sudah layak jadi Kiai karena muridnya sudah banyak. 

Jadi, Sadrach ini murni Kiai Kristen, bukan Kiai pesantren yang murtad. 

Selain, menamai gerejanya dengan masjid Kristen, menurut Lidya Herwanto, ada pernyataan Sadrach yang kontroversial tentang masjid tersebut. 

Menurut Sadrach, dengan adanya masjid Kristen tersebut, orang Jawa tak perlu lagi berangkat Haji ke Mekkah, cukup ke Karanjgoso saja. 

Dalam hal ini, sepertinya Sadrach menjadi korban politik bahasa kaum misionaris dimana dalam menerjemahkan istilah Bible, mereka memakai istilah yang dekat dengan istilah Islam.

Dalam sebuah artikelnya, ustadz Menachem Ali mengutip surat yang dikirim M.H.C. Klinkert di tahun 1861, kepada sebuah penerbit di Belanda : 

“Dalam pruf cetak dengan aksara Romawi, saya memakai ejaan Jesoes Kristoes, sedangkan dalam pruf cetak dengan aksara Arab, saya menggunakan Isa el-Meseh. 

Saya sengaja berbuat demikian, karena edisi dengan aksara Romawi terutama diperuntukkan bagi orangorang Kristen keturunan Eropa, dan biasa dipakai dalam gereja, sedangkan yang menggunakan aksara Arab terutama ditujukan kepada orang-orang Muslim yang berpendidikan.

Menurut saya, saya harus memberikan kepada masing-masing apa yang sudah menjadi kebiasaan bagi mereka, yang paling mudah dipahami olehnya, dan yang paling tidak menyinggung perasaannya.” 

Jadi pada masa itu, gereja diterjemahkan jadi masjid Kristen, Kanisah jadi Masjid Yahudi. 

Jadi termasuk tetap dipakainya kata Allah untuk menerjemahkan kata God itu adalah sisa politik bahasa misionaris kolonial tersebut.

Rujukan :
C. Guillot, Kiai Sadrach Riwayat Kristenisasi di Jawa

Lidya Herwanto, Pikiran dan Aksi Kiai Sadrach, Gerakan Jemaat Kristen Jawa Merdeka.
Rujukan :
Kiai Sadrach, Riwayat Kristenisasi di Jawa, C Guillot
Yesus dan Dewi Sri, Phillip van Akereen
Sejarah Perjumpaan Islam dan Kristen di Indonesia, Pdt. Jans Aritonang
Komunitas Sadrach dan Akar Kontekstualnya.


(15052026)(TUS)

Sudut 𝗣𝗮𝗻𝗱𝗮𝗻𝗴 Matius 11:16-19, 25-30, [𝗠𝗶𝗻𝗴𝗴𝘂 𝗩𝗜 𝘀𝗲𝘀𝘂𝗱𝗮𝗵 𝗣𝗲𝗻𝘁𝗮𝗸𝗼𝘀𝘁𝗮, 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝗔], 𝙈𝙖𝙧𝙞𝙡𝙖𝙝 𝙠𝙚𝙥𝙖𝙙𝙖-𝙆𝙪

Sudut 𝗣𝗮𝗻𝗱𝗮𝗻𝗴 Matius 11:16-19, 25-30, [𝗠𝗶𝗻𝗴𝗴𝘂 𝗩𝗜 𝘀𝗲𝘀𝘂𝗱𝗮𝗵 𝗣𝗲𝗻𝘁𝗮𝗸𝗼𝘀𝘁𝗮, 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝗔], 𝙈𝙖𝙧𝙞𝙡𝙖𝙝 𝙠𝙚𝙥...