PENGANTAR
Banyak sekarang gereja yang salah identitas dengan komunitas, persekutuan salah identitas dengan circle. Banyak sekarang lebih menjadi CLUB daripada CHRUCH. Itu terjadi ketika, mulai adanya circle yg hanya bbrp orang bukan keseluruhan umat, menjadi eksklusif, kemudian muncul circle-circle lain yang menyaingi. Bukan lagi berdiri sama tinggi duduk sama rendah sebagai gereja dan persekutuan. Ditambah salah kaprah, pembagian kelompok dan wilayah di dalam umat harusnya dilihat sebagai cara mempermudah tata kelola gereja, tetapi malah diterima sebagai eksklusifme kelompok, kelompok yang satu, bersaing wow keren dengan kelompok yang lain, mari kita pahami bersama dengan konsep trinitas yg kita jadikan landasan pengajaran iman kita.
Ada cerita nih: Alkisah, 22 anak cowok diajak camping, dipisah jadi dua skuad shinobi, masing-masing 11 anak. Nggak saling tahu keberadaan skuad lainnya. Di masing-masing camp mereka saling kenalan, main bareng, ngasih nama skuadnya, yang mereka nyebut diri "Tim Elang" dan satunya lagi "Tim Ular". Bikin bendera, yel-yel, pokoknya seru-seruan, tren kicau mania. Bonding banget. Nah, pas kedua skuad ini dipertemukan, malah terjadi horor, mereka jadi bocil teror, kelakuannya error.
Kenapa bisa gitu? Kedua skuad shinobi dipertemukan dalam lomba tarik tambang berhadiah. Eh, ujungnya malah saling ejek, bakar-bakaran bendera lawan, jarah-jarahan camp lawannya. Lalu mereka dipisah dan didamaikan dengan makan bareng. Tapi lagi-lagi kacau, Tim Elang dan Tim Ular saling lempar-lemparan makanan dan tawuran. Mereka dipaksa lagi balik ke campnya masing-masing. Panitia lalu pakai cara ninja: mereka sengaja ngerusak sumber air dan mobil cateringnya dibuat mogok. Terus gimana?
Ya, mereka jadi kelaparan dan kehausan. Mereka dipaksa kerja sama mencari air dan mendorong mobil catering supaya jalan lagi dan dapat makanan lagi. Akhirnya, ego luntur, mereka pelukan, dan pulang naik bis bareng. Ini adalah eksperimen psikologis yang dilakukan pakar psikologi sosial Muzaffar Sherif tahun 1954. Kenapa ya kedua skuad shinobi ini mau kerja sama? Karena ada yang Sherif sebut sebagai "Superordinate Goal".
Ada tujuan yang lebih tinggi di atas identitas dan korsa mereka masing-masing. Ada misi kolaborasi.
Nah, ribuan tahun lalu, Rasul Paulus menghadapi Tim Elang dan Tim Ularnya juga, di Jemaat Korintus. Jemaatnya kubu-kubuan, circle-circle an, gontok-gontokan, sering drama, dan sumbunya pendek.
Senggol dikit, bacok. Maka, dalam 2 Korintus 13:11-13, ia ngasih tip: "Sehati sepikirlah kamu, hiduplah dalam damai sejahtera." Ini adalah "Superordinate Goal".
Yang seperti yang kita alami saat ini, ya, di tengah hidup kita yang penuh polarisasi, politik identitas, ketegangan kawasan, rusak-rusakan rumah ibadah, kita diajak meneladani Allah Trinitas, yang saling mendukung dan bekerja sama di antara ketiga pribadi Allah satu hakekat. Menyediakan anugerah, Kharismata, Kasih, Agape, dan ikatan persekutuan, Koinonia.
Ini menjadi roh rekonsiliasi bagi kita semua di tengah hidup ini. Bagi teman-teman Kristen, selamat menghayati Minggu Trinitas.
1 Korintus 1:10 (TB)
“Aku menasihatkan kamu, saudara-saudara, demi nama Tuhan kita Yesus Kristus, supaya kamu seia sekata dan jangan ada perpecahan di antara kamu, tetapi supaya kamu erat bersatu dan sehati sepikir.”
Ungkapan “sehati sepikir” dalam teks Yunani berasal dari frasa “katērtismenoi en tō autō noi kai en tē autē gnōmē”, yang secara harfiah berarti “dipersatukan dalam pikiran yang sama dan dalam pendapat yang sama.”
Kata kerja katartizō berarti “menyatukan kembali” atau “memulihkan keutuhan,” sering digunakan dalam konteks memperbaiki jala yang robek (Markus 1:19). Paulus memakai istilah ini untuk menegaskan bahwa jemaat Korintus, yang terpecah karena loyalitas terhadap pemimpin tertentu (Paulus, Apolos, Kefas, atau Kristus), perlu dipulihkan dalam kesatuan rohani dan tujuan iman. Secara akademik, teks ini menunjukkan gaya retorika paraklēsis (nasihat pastoral) yang menekankan kesatuan etis dan teologis. Paulus tidak menuntut keseragaman mutlak, tetapi kesatuan dalam kebedaan, kesatuan dalam Kristus sebagai dasar relasi persekutuan, dasar relasi bergereja. Dalam konteks sosial Korintus yang plural dan penuh kompetisi status, seruan ini menentang budaya perpecahan dan menegaskan identitas baru dalam tubuh Kristus. Minggu Trinitas (Trinity Sunday) menyoroti kesatuan dan keberagaman dalam Allah Tritunggal: Bapa, Anak, dan Roh Kudus — tiga pribadi yang berbeda namun satu hakikat. Seruan Paulus agar jemaat “sehati sepikir” mencerminkan pola kesatuan ilahi ini.
Sebagaimana Tritunggal hidup dalam relasi kasih dan keharmonisan, demikian pula jemaat dipanggil untuk mencerminkan kesatuan itu dalam kehidupan bersama. Kesatuan bukanlah hasil keseragaman manusia, melainkan karya Roh Kudus yang mempersatukan dalam kasih Kristus, dalam kebedaan. Ayat ini mengajarkan pentingnya kesatuan hati dan pikiran dalam persekutuan iman. Dalam kehidupan gereja masa kini, terutama saat memperingati Minggu Trinitas, kita diingatkan bahwa kesatuan sejati lahir dari kasih dan kerendahan hati, bukan dari kesamaan pendapat semata. Kesatuan jemaat menjadi cerminan kasih Allah Tritunggal yang bekerja di tengah dunia — kasih yang memulihkan, menyatukan, dan memberi damai.
(29052026)(TUS)