PENGANTAR
Murid datang untuk dibentuk.
Customer datang untuk dilayani sesuai keinginannya.
Itulah salah satu tantangan besar gereja hari ini. Khotbah itu ada 4 unsur, Pameleh (menegur), Paweling (mengingatkan), Pamulang (mengajar), Panglipur (menghibur), dari dulu saya diajari alm Pdt Brotosemedi, alm Mbah Soemardi, alm pak Prabowo ditekankan khotbah tidak selalu menghasilkan damai sejahtera, kadang malah kegelisahan, khotbah tidak selalu menyenangkan, tapi lebih untuk mempertanyakan diri, bukan saja diri umat, tetapi diri pengkhotbah sendiri.
PEMAHAMAN
Tidak sedikit orang datang ke gereja dengan pola pikir seperti customer:
✅Kalau khotbahnya nyaman, bertahan.
✅Kalau musiknya cocok, datang.
✅Kalau pelayanannya memuaskan, semangat.
✅Tetapi ketika ditegur firman, mulai tidak suka.
Padahal menjadi murid Kristus bukan tentang mencari kenyamanan pribadi. Murid mau diajar.
Mau dikoreksi.
Mau menyangkal diri.
Mau bertumbuh meski prosesnya tidak enak. Sedangkan mental customer membuat gereja perlahan dinilai seperti tempat konsumsi rohani:
“Apakah saya puas?”
“Apakah saya nyaman?”
“Apakah sesuai selera saya?”
Akibatnya, sebagian orang lebih sibuk mencari gereja yang menyenangkan telinga daripada gereja yang menolong mereka bertumbuh. Tuhan Yesus tidak memanggil orang hanya untuk menjadi penonton mujizat.
Tuhan Yesus memanggil murid. Dan murid sejati tetap mengikuti Tuhan bukan hanya saat diberkati, tetapi juga saat harus memikul salib. Tentu gereja tetap harus melayani jemaat dengan kasih dan baik. Tetapi kekristenan tidak boleh berubah menjadi hubungan transaksional antara manusia dan Tuhan.
Karena pusat kekristenan bukan “apa yang saya dapat”…
melainkan siapa yang saya ikuti.
“Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku.” (Matius 16:24)
Tuhan Yesus pernah berbicara tentang domba dan kambing. Tulisan ini bukan untuk mengajarkan kita saling menghakimi…
tetapi untuk menunjukkan bahwa tidak semua yang terlihat dekat dengan lingkungan rohani sungguh hidup dalam ketaatan kepada Tuhan.
Disclaimer ya...
“Kambing” di sini bukan soal label kepada orang tertentu. Tetapi gambaran tentang hati yang keras, egois, tidak mau dibentuk, dan hidup tanpa kasih.
Datang ibadah tetapi tidak mau berubah. Aktif pelayanan tetapi suka memecah-belah, bentuk club', bentuk komunitas, bentuk circle tapi di dalam gereja. Rajin berbicara firman tetapi tidak hidup dalam kasih. Sukanya menuntut, tetapi tidak mau bertumbuh. Kalau sikap seperti itu dibiarkan, suasana gereja perlahan bisa dipenuhi persaingan, iri hati, gosip, dan kepentingan diri sendiri, eksklusif kelompok, orangnya hanya itu-itu saja dan miskin regenerasi, dlsb.
Gereja akhirnya ramai aktivitas…ramai progam kerja....ramai kepanitiaan....ramai usaha dana tetapi miskin kasih dan pertobatan. Karena itu sebelum sibuk menunjuk siapa “kambing”, lebih baik setiap orang bercermin kepada dirinya sendiri, lihatlah diri, introspeksi diri.
Apakah hati kita lembut terhadap Tuhan? Apakah kita hidup dalam kasih? Apakah kita sungguh mau dibentuk? Apakah hidup kita menghasilkan buah Roh? Apakah senantiasa kita bertobat?apakah kita berlaku sama pada umat yang terpandang dan umat yang tak nampak?
Sebab tujuan firman Tuhan bukan membuat kita sibuk menghakimi orang lain…
tetapi menolong kita bertobat dan semakin serupa dengan Kristus.
Dan gereja yang sehat bukan gereja yang dipenuhi orang sempurna…bohong kesempurnaan itu, melainkan orang-orang yang mau terus diubahkan Tuhan.
“Demikianlah setiap pohon yang baik menghasilkan buah yang baik.” (Matius 7:17)
(01062026)(TUS)