JEMAAT SEKARANG KEBANYAKAN TIDAK MAU JADI MURID KRISTUS, MAUNYA JADI CUSTOMER
Murid datang untuk dibentuk.
Customer datang untuk dilayani sesuai keinginannya.
Itulah salah satu tantangan besar gereja hari ini.
Tidak sedikit orang datang ke gereja dengan pola pikir seperti customer:
✅Kalau khotbahnya nyaman, bertahan.
✅Kalau musiknya cocok, datang.
✅Kalau pelayanannya memuaskan, semangat.
✅Tetapi ketika ditegur firman, mulai tidak suka.
Padahal menjadi murid Kristus bukan tentang mencari kenyamanan pribadi.
Murid mau diajar.
Mau dikoreksi.
Mau menyangkal diri.
Mau bertumbuh meski prosesnya tidak enak.
Sedangkan mental customer membuat gereja perlahan dinilai seperti tempat konsumsi rohani:
“Apakah saya puas?”
“Apakah saya nyaman?”
“Apakah sesuai selera saya?”
Akibatnya, sebagian orang lebih sibuk mencari gereja yang menyenangkan telinga daripada gereja yang menolong mereka bertumbuh.
Tuhan Yesus tidak memanggil orang hanya untuk menjadi penonton mujizat.
Tuhan Yesus memanggil murid.
Dan murid sejati tetap mengikuti Tuhan bukan hanya saat diberkati, tetapi juga saat harus memikul salib.
Tentu gereja tetap harus melayani jemaat dengan kasih dan baik. Tetapi kekristenan tidak boleh berubah menjadi hubungan transaksional antara manusia dan Tuhan.
Karena pusat kekristenan bukan “apa yang saya dapat”…
melainkan siapa yang saya ikuti.
“Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku.” (Matius 16:24)