Dalam menafsir suatu teks terjadilah apa yang disebut dengan lingkaran hermeneutik. Lingkaran di sini harus dibayangkan sebagai spiral atau pegas di dalam bolpen. Berputar melingkar, tetapi tidak bertemu atau tidak berakhir di titik yang sama. Orang membaca teks sudah memiliki prapaham dan kemudian paham atas suatu teks atau cerita. Mengapa disebut lingkaran? Ia pertama-tama (a) paham terhadap bagian cerita digunakan sebagai (b) prapaham terhadap keseluruhan cerita dan (c) prapaham atas keseluruhan cerita ini kemudian menjadi (d) paham atas keseluruhan cerita dan paham ini akan menjadi (e) prapaham terhadap bagian-bagian cerita yang kemudian menjadi (a) paham terhadap bagian-bagian itu. Demikian seterusnya berjalan melingkar seperti spiral menurut perjalanan waktu dan pengalaman pembaca.
Sehubungan dengan lingkaran hermeneutik di atas Hans-Georg Gadamer, raksasa hermeneutik, mengatakan makna cerita dapat berubah-ubah, sedang maksud penulis tetap. Penulis cerita bermaksud dan bertujuan tertentu. Ia membekukan maksud dan tujuannya dengan tulisan. Akan tetapi sesudah cerita selesai ditulis, maka cerita itu menjadi mandiri dan lepas dari penulisnya. Makna cerita menjadi menjadi jamak bergantung pada prapaham pembacanya termasuk prapaham dari dogma atau doktrin gereja. Pada dasarnya membaca adalah menafsir. Misal, seorang yang sejak kecil memahami dunia dan seisinya diciptakan dalam enam hari, maka ia akan menggunakan pahamnya sebagai prapaham untuk membaca Kejadian pasal 1. Dalam pada itu orang yang memahami Kitab Suci bukanlah buku sejarah (apalagi buku sains), maka ia menggunakan pahamnya sebagai prapaham untuk membaca teks yang sama. Kedua orang itu menghasilkan tafsir yang berbeda. Jika orang terakhir itu makin banyak berpengetahuan tentang teks-teks kuno, maka tafsir atau makna yang didapatkannya makin terbarukan atau berubah.
Hari ini Gereja Katolik merayakan Hari Komunikasi Sosial Sedunia. Tanggal hari besar ini ditetapkan jatuh pada Minggu antara Hari Kenaikan Kristus dan Hari Pentakosta. Tema yang diangkat oleh Paus Fransiskus tahun ini adalah cerita. Tampaknya sederhana dan justru itulah Paus mengakat tema itu karena dunia berada dalam pemikiran kontemporer dan pascamodernisme. Para pemikir pascamodernisme menganggap pemikiran modernisme gagal mengantar umat manusia kepada pencerahan. Akalbudi belum sepenuhnya membebaskan manusia dari belenggu, karena melalaikan hati dan jiwa. Hati dan jiwa mewakili pengalaman dan perasaan yang nyata dan menyapa.
Manusia adalah makhluk pencerita, kata Paus Fransiskus. Sejak kecil kita memiliki rasa lapar akan cerita sebagaimana kita lapar akan makanan. Entah cerita berbentuk dongeng, novel, film, lagu, dan berita; cerita yang memengaruhi kehidupan kita bahkan tanpa kita sadari. Kita kerap memutuskan apa yang benar atau apa yang salah berdasarkan karakter atau tokoh-tokoh dan cerita cerita yang terekam dalam diri kita. Cerita-cerita tersebut membekas dan memengaruhi keyakinan dan perilaku kita. Cerita-cerita itu dapat pula membantu kita memahami dan mengetahui siapa diri kita sesungguhnya. Hidup manusia sendiri adalah cerita yang memberi pesan kepada sesama manusia. Praktik komunikasi bukan saja dilakukan secara lisan dan tulisan, tetapi juga lewat cara dan sikap hidup manusia sebagai cerita.
“Tidak semua cerita itu baik!” tegas Paus. “Jika kamu memakannya, kamu akan menjadi seperti Allah“ (lih. Kej. 3:4). Godaan ular ini menyisipkan sebuah simpul yang sulit dilepaskan dalam alur sejarah. “Jika kamu memiliki, kamu akan menjadi, kamu akan mendapatkan…”. Inilah pesan yang terus dibisikkan sampai hari ini oleh orang-orang yang menggunakan storytelling untuk tujuan eksploitasi. Ada begitu banyak cerita yang membius dan meyakinkan kita bahwa untuk berbahagia kita harus terus-menerus mendapatkan, memiliki, dan mengonsumsi. Bahkan kita mungkin tidak menyadari betapa kita kerap menjadi rakus dalam membicarakan hal buruk dan bergosip atau berapa banyak kekerasan dan dusta yang kita konsumsi. Kerap berbagai media komunikasi justru menghasilkan cerita-cerita destruktif dan provokatif yang mengikis dan menghancurkan benang-benang yang rapuh dalam kehidupan bersama ketimbang mengisahkan cerita-cerita konstruktif yang berperan sebagai perekat ikatan sosial dan tatanan budaya. Mengumpulkan aneka informasi yang tak tersaringkan, mengulang-ulang obrolan sepele dan persuasif yang palsu, menyerang dengan ujaran kebencian, sungguh tidak menenun sejarah manusia melainkan menelanjangi martabatnya, tukas Paus.
Bacaan ekumenis Injil Minggu ini diambil dari Yohanes 17:1-11 yang didahului dengan Kisah Para Rasul 1:6-14. Lembaga Alkitab Indonesia (LAI) memberi judul perikop bacaan Injil dengan “Doa Yesus untuk murid-murid-Nya” dari ayat 1 sampai 26.
Dalam doa Yesus kita melihat Yesus tidak mendoakan murid-murid-Nya diambil dari dunia. Ia tidak berdoa agar para murid lepas dari kesulitan dan tantangan hidup. Di sini menunjukkan bahwa kekristenan tidak pernah dihayati sebagai suatu kelompok yang menarik diri dari kehidupan dunia. Kekristenan harus ada di tengah dunia untuk menjadi garam yang menggarami dan terang yang menerangi. Kita bukan menarik diri dari dunia dan sekaligus tidak meleburkan diri menjadi sama dengan dunia.
Doa adalah bentuk komunikasi dua arah. Yesus mengajarkan bagaimana berkomunikasi ketika persoalan sangat berat siap menghadang. Kita berharap Allah mendengarkan doa yang kita lambungkan dan berharap Allah menjawab doa permohonan yang kita panjatkan. Gatra persekutuan menjadi penting di dalam doa. Dalam Kisah Para Rasul disampaikan bagaimana gereja perdana bersekutu di dalam doa (Kis. 1:14)
Keterbukaan dan kejujuran menjadi syarat komunikasi yang tanpa hambatan. Kitab Suci adalah media Allah dan kita saling berkomunikasi lewat cerita. Betapa banyak peristiwa, bangsa dan pribadi yang dikisahkan kepada kita. Kita kemudian menceritakan ulang cerita itu lewat hidup kita. Yesus sendiri, kata Paus Fransiskus, berbicara mengenai Allah bukan dengan pidato-pidato abstrak, namun dengan perumpamaan-perumpaan, narasi-narasi singkat yang diambil dari kehidupan sehari-hari. Di sini hidup menjadi cerita dan kemudian bagi pendengar cerita itu menjadi kehidupan: narasi tersebut memasuki kehidupan orang-orang yang mendengarkannya dan mengubahnya.
Cerita tentang Kristus bukanlah sebuah warisan masa lalu, melainkan cerita kita sendiri yang selalu aktual. Hal itu juga menunjukkan kepada kita bahwa tidak ada cerita manusia yang tidak murad atau tidak bernilai. Cerita kita sendiri menjadi bagian dari setiap cerita besar. Injil juga merupakan cerita. Injil mengabarkan tentang Yesus yang informatif sekaligus performatif. Artinya Injil bukan hanya mengabarkan tentang Yesus sebagai informasi untuk diketahui, melainkan sekaligus pemberitahuan yang mendatangkan kenyataan, mengubah, dan membaharui kehidupan.
(24052020)(TUS)