PENGANTAR
Ironi Liturgi, Saya sering mendengar pengkhotbah dengan suara lantang berujar, “𝘔𝘦𝘯𝘶𝘳𝘶𝘵 𝘒𝘉𝘉𝘐 … “
Ujaran itu terdengar intelek, tetapi menyimpan ilusi akademis, seolah-olah makna sebuah kata dapat diputuskan hanya dengan membuka kamus. Di sini saya tidak sedang melayangkan kritik terhadap KBBI, melainkan terhadap metodologi atau pada cara KBBI dipakai.
Saya juga rada kesal kepada LAI yang masih menggunakan lema minggu (𝘸𝘦𝘦𝘬) dalam TB II 2023. Sudah pasti argumen LAI bahwa lema minggu (𝘸𝘦𝘦𝘬) ada di KBBI sehingga sah.
Coba simak:
𝘔𝘪𝘯𝘨𝘨𝘶 𝘵𝘦𝘳𝘢𝘬𝘩𝘪𝘳 𝘣𝘶𝘭𝘢𝘯 𝘪𝘯𝘪 𝘢𝘥𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘔𝘪𝘯𝘨𝘨𝘶 𝘱𝘦𝘳𝘵𝘢𝘮𝘢 𝘈𝘥𝘷𝘦𝘯.
Secara tertulis masih bisa ditebak karena ada huruf kapital pada 𝘔𝘪𝘯𝘨𝘨𝘶 kedua.
Bagaimana dalam khotbah?
𝘔𝘪𝘯𝘨𝘨𝘶 𝘵𝘦𝘳𝘢𝘬𝘩𝘪𝘳 𝘣𝘶𝘭𝘢𝘯 𝘪𝘯𝘪 𝘢𝘥𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘔𝘪𝘯𝘨𝘨𝘶 𝘱𝘦𝘳𝘵𝘢𝘮𝘢 𝘈𝘥𝘷𝘦𝘯.
Pendengar tidak melihat huruf kapital. Yang terdengar hanya:
minggu terakhir bulan ini adalah minggu pertama Adven.
Otak pendengar harus bekerja ekstra untuk memutuskan:
▶️ minggu pertama = 𝘸𝘦𝘦𝘬 pertama?
▶️ Minggu pertama = 𝘚𝘶𝘯𝘥𝘢𝘺 pertama?
▶️ atau keduanya?
Lebih rumit lagi:
𝘔𝘪𝘯𝘨𝘨𝘶 𝘱𝘦𝘳𝘵𝘢𝘮𝘢 𝘮𝘪𝘯𝘨𝘨𝘶 𝘪𝘵𝘶.
Secara gramatikal benar jika 𝘔𝘪𝘯𝘨𝘨𝘶 = 𝘚𝘶𝘯𝘥𝘢𝘺 dan 𝘮𝘪𝘯𝘨𝘨𝘶 = 𝘸𝘦𝘦𝘬, tetapi secara lisan hampir mustahil dibedakan.
Bandingkan:
𝘔𝘪𝘯𝘨𝘨𝘶 𝘱𝘦𝘳𝘵𝘢𝘮𝘢 𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘱𝘦𝘬𝘢𝘯 𝘪𝘵𝘶. Langsung jernih.
Makin rumit lagi:
𝘔𝘪𝘯𝘨𝘨𝘶 𝘪𝘵𝘶 𝘴𝘢𝘺𝘢 𝘣𝘦𝘳𝘢𝘥𝘢 𝘥𝘪 𝘭𝘶𝘢𝘳 𝘬𝘰𝘵𝘢.
Tidak dapat kita memastikan kata 𝘔𝘪𝘯𝘨𝘨𝘶 pada awal kalimat adalah 𝘚𝘶𝘯𝘥𝘢𝘺, karena huruf awal kalimat harus huruf besar atau kapital.
Ini sebenarnya menyentuh prinsip dasar komunikasi: Bahasa yang baik bukanlah bahasa yang dapat dijelaskan sesudah terjadi kebingungan, melainkan bahasa yang meminimisasi kemungkinan kebingungan sejak awal. 𝘞𝘰𝘯𝘨 media abal-abal saja sangat biasa menggunakan pekan untuk 𝘸𝘦𝘦𝘬. 𝘔𝘰𝘴𝘰𝘬 himpunan penerjemah profesional LAI masih menggunakan minggu untuk 𝘸𝘦𝘦𝘬. Liturgi bekerja lewat bahasa simbol dan berulang-ulang dalam mengajar umat sehingga pemilihan istilah harus presisi. Pembedaan Minggu dan pekan dalam liturgi amat penting.
Sekali lagi saya tidak sedang menyoal atau tidak sedang menyalahkan KBBI. Kamus pada dasarnya diperuntukkan bagi mereka yang referensinya terbatas. Kembali ke 𝗜𝗿𝗼𝗻𝗶 𝗟𝗶𝘁𝘂𝗿𝗴𝗶, Seperti yang sudah saya sampaikan sebelumnya bahwa reformasi liturgi Gereja Katolik modern diinspirasi oleh Gereja Protestan. Perubahan terbesar dan paling menonjol adalah partisipasi umat.
▶️ Gereja Katolik bergerak dari ibadah klerus (𝘤𝘭𝘦𝘳𝘪𝘤𝘢𝘭 𝘭𝘪𝘵𝘶𝘳𝘨𝘺) menuju ibadah umat (𝘱𝘢𝘳𝘵𝘪𝘤𝘪𝘱𝘢𝘵𝘰𝘳𝘺 𝘭𝘪𝘵𝘶𝘳𝘨𝘺).
▶️ Sebaliknya, sejalan dengan waktu, sebagian Gereja Protestan justru bergerak dari semangat imamat am orang percaya (𝘱𝘳𝘪𝘦𝘴𝘵𝘩𝘰𝘰𝘥 𝘰𝘧 𝘢𝘭𝘭 𝘣𝘦𝘭𝘪𝘦𝘷𝘦𝘳𝘴) menuju kultus pimpinan gereja (𝘤𝘦𝘭𝘦𝘣𝘳𝘪𝘵𝘺 𝘤𝘭𝘦𝘳𝘨𝘺 𝘤𝘶𝘭𝘵𝘶𝘳𝘦).
Dalam praktik ibadah Gereja Protestan Reformir ada beberapa hal yang sudah dianggap biasa, tetapi sebenarnya lahir dari kekeliruan dalam memahami liturgi. Seri 𝘒𝘦𝘭𝘪𝘳𝘶 𝘓𝘪𝘵𝘶𝘳𝘨𝘪 mencoba meninjau kembali praktik-praktik tersebut secara lebih jernih. Ada yang menjapri saya, "Kamu kok berani ngritik gereja soal liturgi?"
Liturgi itu ilmu yang tak populer di lingkungan Protestan modern di Indonesia. Kasarnya, gak laku. Di dunia teologi akademik saja jumlah dosen spesialis liturgi tak lebih daripada jumlah jari satu tangan. Itu pun baru muncul awal 2000-an. Jadi, kalo debat (atau diskusi) liturgi saya berani saja, berani lari maksudnya .... Wk .... Wk ..... Wk ..... Bukankah ilmu beladiri yang paling sakti itu langkah seribu .... Wk ..... Wk. Ibaratnya lawan diskusi saya udah ketaker, karena memang sumber ilmunya jarang.
Sungguh ironis, reformasi liturgi Gereja Katolik terinspirasi dari Protestan, tetapi ilmu liturgi Protestan jauh ketinggalan. Mengapa?
Komisi Liturgi Katolik didukung sepenuhnya oleh Vatikan dan seluruh umat Katolik.
Komisi Liturgi Protestan dicemooh oleh pemimpin gereja dan umatnya sendiri. Sungguh menggelikan kalau masih ada yang mengejek: “𝙀𝙢𝙖𝙣𝙜𝙣𝙮𝙖 𝗣𝗿𝗼𝘁𝗲𝘀𝘁𝗮𝗻 𝗽𝘂𝗻𝘆𝗮 𝗹𝗶𝘁𝘂𝗿𝗴𝗶?” di laman saya sering itu muncul .... Wk .... Wk. Padahal dalam buku setebal 303 halaman terlampir di bawah empu liturgi Gereja Katolik Indonesia Rm. Prof. Emanuel Martasudjita, Pr. mencatat bahwa istilah 𝗹𝗶𝘁𝘂𝗿𝗴𝗶 untuk ibadah 𝗺𝘂𝗹𝗮-𝗺𝘂𝗹𝗮 𝗱𝗶𝗴𝘂𝗻𝗮𝗸𝗮𝗻 𝗼𝗹𝗲𝗵 𝗚𝗲𝗿𝗲𝗷𝗮 𝗣𝗿𝗼𝘁𝗲𝘀𝘁𝗮𝗻 pada abad ke-17 (lih. hlm. 19). Dalam buku itu juga rama [baca: romo] menyebut reformasi liturgi Gereja Katolik diinsipirasi oleh Gereja Protestan.
Kerja sama ekumenis dalam bidang liturgi antara Katolik dan Protestan sebenarnya sudah berlangsung lama. Bahkan sesudah KV II umat Katolik mengalami perubahan besar dalam tata ibadah: keterlibatan jemaat, penggunaan bahasa umat, pembacaan Alkitab yang lebih luas, memerkuat liturgi sabda, dan hal lain yang bersifat detil. Tidak sedikit orang Katolik generasi lama merasa: “𝘔𝘪𝘴𝘢 𝘴𝘦𝘬𝘢𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘰𝘬 𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘴𝘦𝘱𝘦𝘳𝘵𝘪 𝘗𝘳𝘰𝘵𝘦𝘴𝘵𝘢𝘯?” Sebaliknya dalam banyak Gereja Protestan modern muncul pula praktik-praktik yang dahulu dianggap sangat “Katolik”. Tidak heran kalau ada warga Protestan berkata: “𝘒𝘦𝘣𝘢𝘬𝘵𝘪𝘢𝘯 𝘔𝘪𝘯𝘨𝘨𝘶 𝘴𝘦𝘬𝘢𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘰𝘬 𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘬𝘢𝘺𝘢𝘬 𝘒𝘢𝘵𝘰𝘭𝘪𝘬?”
Saya sendiri punya pengalaman menarik pada akhir 2024, saya mengikuti 𝘚𝘦𝘮𝘪𝘯𝘢𝘳 𝘌𝘬𝘢𝘳𝘪𝘴𝘵𝘪 dengan pembicara/pengajar tunggal Rm. Martasudjita, Pr. Karena saya diundang khusus, oleh pembicaranya atas seizin seksi Kategese tentunya. Acara yang diikuti sekitar 112 peserta itu diselenggarakan oleh Seksi Kategese, Saya satu-satunya peserta Protestan, dan undangan datang dari nara sumber.
Nah, pada pembukaan acara kami bernyanyi bersama. Di situlah saya tersenyum sendiri. Lagu yang dipakai ternyata:
▶️ 𝘒𝘪𝘥𝘶𝘯𝘨 𝘑𝘦𝘮𝘢𝘢𝘵 337 𝘉𝘦𝘵𝘢𝘱𝘢 𝘒𝘪𝘵𝘢 𝘛𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘉𝘦𝘳𝘴𝘺𝘶𝘬𝘶𝘳, dan
▶️ 𝘕𝘺𝘢𝘯𝘺𝘪𝘬𝘢𝘯𝘭𝘢𝘩 𝘒𝘪𝘥𝘶𝘯𝘨 𝘉𝘢𝘳𝘶 111 𝘎𝘦𝘳𝘦𝘫𝘢 𝘉𝘢𝘨𝘢𝘪 𝘉𝘢𝘩𝘵𝘦𝘳𝘢.
Kadang problem terbesar dalam debat gereja bukan kurangnya iman, melainkan kurangnya membaca buku sampai lupa bahwa umat di lapangan sudah lama saling bernyanyi bersama.
Saya mau tiru-tiru Pdt. Daniel Taruliasi Harahap. Ini adalah 𝘵𝘪𝘮𝘦𝘭𝘪𝘯𝘦 𝘢.𝘬.𝘢. 𝘸𝘢𝘭𝘭 saya. Saya hanya melayani diskusi untuk meningkatkan pengetahuan liturgi dan teologi. Komentar yang menjurus kepada ejekan akan saya hapus......wk ......wk.....wk......wk.....wk.... Lari ..... Kabuuuurrr ah.
Dewasa ini semakin banyak Gereja Protestan memerkenalkan praktik prosesi Alkitab pada awal ibadah. Alkitab diarak masuk dengan iringan nyanyian atau musik, jemaat berdiri, suasana menjadi khidmat, lalu kitab itu diletakkan di altar sebelum 𝘚𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘗𝘦𝘮𝘣𝘶𝘬𝘢. Bagi sebagian orang pemandangan ini terasa sangat liturgis. Namun, apakah Gereja sungguh memahami makna liturgis dari tindakan tersebut, atau sekadar meniru bentuknya saja?
Dalam tradisi liturgi Gereja kuno prosesi kitab pada awal ibadah bukanlah prosesi “Alkitab secara umum”. Yang diarak secara khusus adalah Injil (𝘦𝘷𝘢𝘯𝘨𝘦𝘭𝘪𝘶𝘮). Prosesi Injil menyimbolkan bahwa Kristus datang kepada umat-Nya melalui pewartaan Injil yang akan didengar oleh jemaat. Dengan kata lain simbol itu merujuk sebuah keyakinan teologis: 𝗞𝗿𝗶𝘀𝘁𝘂𝘀 𝗵𝗮𝗱𝗶𝗿 𝗱𝗮𝗻 𝗯𝗲𝗿𝗯𝗶𝗰𝗮𝗿𝗮 𝗸𝗲𝗽𝗮𝗱𝗮 𝗚𝗲𝗿𝗲𝗷𝗮-𝗡𝘆𝗮 𝗺𝗲𝗹𝗮𝗹𝘂𝗶 𝗜𝗻𝗷𝗶𝗹 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝗱𝗶𝘄𝗮𝗿𝘁𝗮𝗸𝗮𝗻, memang sentralnya Injil, kenapa tulisan saya, sudut pandang bertumpu pada Injil, secara liturgi memang sentralnya Injil, kita mengenang teladan Kristus dan hikmat pengajaranNya dalam liturgi untuk diwujudkan dalam hidup keseharian setelah dalam ibadah kita diberkati dan diutus, makna itu dilakukan bersama-sama secara ekuminis seluruh dunia kristiani (tentunya bagi gereja-greja yg menyepakati gerakan ekuminis liturgi LIMA, seperti sinode GKJ). Oleh karena itu, puncak bacaan sabda adalah bacaan injil, maka diterima atau didengar dengan berdiri. Kalau begitu maknanya, lucu ketika khotbahnya tidak nyenggol sedikit pun bacaan Injil, gak ngerti liturgi. Repot lagi kalau kalender liturgi RCL dibolak balik digesar geser seenak udelnya tanpa pemahaman. Di sinilah sering terjadi kekeliruan ketika praktik ini diadopsi oleh banyak Gereja Protestan. Kesatu, yang diarak memang Alkitab, tetapi secara teologis yang dicerap haruslah Injil [Semoga LAI mau mencetak kitab Injil ukuran besar lebih banyak lagi]. Gereja berwatak injili (bukan dalam arti aliran Evangelikal), karena ia dipanggil untuk mewartakan Injil. Injil adalah inti dari seluruh Kitab Suci, berita keselamatan tentang Yesus Kristus, teladan Yesus Kristus, hikmat pengajaran Kristus. Oleh karena itu dalam tradisi liturgi klasik, prosesi Injil merupakan pengakuan bahwa Injil adalah pusat pewartaan Gereja. Persoalan kedua terletak pada sikap umat. Dalam banyak Gereja yang mengadopsi prosesi ini jemaat diminta berdiri ketika Alkitab diarak masuk. Namun, jemaat jarang diajar apa arti dari sikap berdiri tersebut. Akibatnya berdiri menjadi sekadar gerakan spontan yang dilakukan karena orang lain juga berdiri. Padahal dalam tradisi Gereja yang lebih tua sikap umat terhadap Injil dibentuk melalui pendidikan liturgis yang jelas. Berdiri adalah tanda kesiapsediaan menerima firman Kristus. Umat memerhatikan arah pergerakan prosesi sebagai ungkapan penghormatan terhadap Injil yang akan diberitakan. Bahkan dalam beberapa tradisi Injil disambut dengan aklamasi khusus sebagai tanda sukacita Gereja atas kabar keselamatan yang akan didengar. Satu hal lain yang sangat penting dan kerap terlewatkan adalah hubungan antara prosesi Injil dan pembacaan Injil dalam ibadah itu sendiri. Dalam tradisi liturgi klasik Injil yang dibacakan kepada jemaat adalah Injil yang sama yang sebelumnya diarak dan diletakkan di altar. Dengan demikian prosesi Injil tidak berhenti sebagai simbol visual pada awal ibadah. Ia mencapai klimaks ketika Injil itu sendiri dibacakan di tengah jemaat. Akan tetapi dalam praktik banyak Gereja Protestan hal ini justru tidak terjadi. Pengkhotbah membaca bagian Injil dari Alkitabnya sendiri yang sejak awal sudah diletakkan di mimbar sebelum ibadah dimula, untunglah gereja kita tidak melakukan hal tsb, untung gereja kita lebih ngerti, semoga. Akibatnya prosesi kitab pada awal ibadah terputus dari tindakan liturgis yang seharusnya menjadi tujuannya, yakni pembacaan Injil kepada jemaat. 𝗦𝗶𝗺𝗯𝗼𝗹𝗻𝘆𝗮 𝗵𝗮𝗱𝗶𝗿, 𝘁𝗲𝘁𝗮𝗽𝗶 𝗿𝗮𝗻𝗴𝗸𝗮𝗶𝗮𝗻 𝗺𝗮𝗸𝗻𝗮𝗻𝘆𝗮 𝘁𝗲𝗿𝗽𝘂𝘁𝘂𝘀. Lebih mengenaskan lagi Injil menjadi sekadar pajangan jimat di altar. Tanpa pembinaan liturgis seperti itu prosesi Injil mudah berubah menjadi sekadar drama religius. Simbolnya ada, gerakannya ada, bahkan suasana sakralnya juga ada, tetapi maknanya tidak sungguh-sungguh dipahami oleh umat. Di sinilah kita melihat sebuah gejala yang semakin sering muncul dalam kehidupan Gereja Protestan masa kini: 𝗯𝗲𝗻𝘁𝘂𝗸 𝗹𝗶𝘁𝘂𝗿𝗴𝗶 𝗱𝗶𝗮𝗺𝗯𝗶𝗹, 𝘁𝗲𝘁𝗮𝗽𝗶 𝘁𝗲𝗼𝗹𝗼𝗴𝗶𝗻𝘆𝗮 𝘁𝗶𝗱𝗮𝗸 𝗶𝗸𝘂𝘁 𝗱𝗶-𝗷𝗲𝗺𝗮𝗮𝘁-𝗸𝗮𝗻. Tidak ada penjemaatan liturgi ke umat, Nah .... yang begini ini bikin blunder, gak ada penjemaatan liturgi di umat. Gereja ingin terlihat liturgis, tetapi tidak mau menjalani disiplin teologi liturgi yang melahirkan bentuk-bentuk tersebut. Akibatnya simbol yang semula kaya makna berubah menjadi dekorasi ibadah. Apabila Gereja Protestan hendak memertahankan praktik prosesi kitab pada awal ibadah, ada dua hal perlu dijernihkan. Kesatu, Gereja harus menyadari bahwa simbol tersebut merujuk Injil sebagai pusat pewartaan Gereja. Kedua, umat perlu dididik mengenai makna sikap mereka ketika menyambut prosesi tersebut sehingga tindakan liturgis itu tidak berhenti pada gerakan seremonial, tetapi menjadi pengakuan iman yang hidup. Jika tidak, prosesi Injil hanya akan menjadi satu contoh dari sejumlah fenomena yang semakin lazim dalam kehidupan Gereja: 𝗹𝗶𝘁𝘂𝗿𝗴𝗶 𝗱𝗶𝗽𝗿𝗮𝗸𝘁𝗶𝗸𝗸𝗮𝗻, 𝘁𝗲𝘁𝗮𝗽𝗶 𝘁𝗶𝗱𝗮𝗸 𝗱𝗶𝗺𝗲𝗻𝗴𝗲𝗿𝘁𝗶, itulah kenapa saya berani berdiskusi untuk hal ini ..... Wk ..... Wk ..... Wk ..... Ketika liturgi tidak lagi dimengerti, yang tersisa hanyalah ritual yang tampak sakral, tetapi kehilangan kedalaman teologinya.
Contoh lainnya :
Umat rajin datang ke Gereja setiap hari Minggu. Namun, saya yakin tidak semua dari mereka membaca Alkitab setiap hari. Ada yang sibuk bekerja, ada yang lelah, ada yang memang tidak memiliki kebiasaan membaca Alkitab secara teratur. Oleh karena itu bagi banyak warga jemaat Kebaktian Minggu menjadi ruang utama mendengar firman secara teratur. Di sinilah kepentingan penerapan 𝗥𝗲𝘃𝗶𝘀𝗲𝗱 𝗖𝗼𝗺𝗺𝗼𝗻 𝗟𝗲𝗰𝘁𝗶𝗼𝗻𝗮𝗿𝘆 (RCL). Melalui RCL Gereja membuka harta warisan iman secara lebih luas kepada umat. Jemaat tidak hanya mendengar satu potong ayat yang dipilih secara sporadis, tetapi dibimbing memasuki keseluruhan bentang kesaksian Alkitab: Taurat, Nabi-nabi, Mazmur, Surat-surat Rasul, dan Injil. Dengan demikian umat perlahan dibentuk memiliki cakrawala biblis yang lebih utuh. RCL juga melindungi Gereja dari kecenderungan khotbah yang berputar-putar pada tema atau ayat favorit pengkhotbah, pertanyaan besar pada pengkhotbah yang ngemohi khotbah jangkep atau kalender liturgi atau RCL, ngemohi bacaan sabda. Tanpa disiplin leksionari tidak jarang khotbah berubah menjadi:
▶️ renungan motivasional,
▶️ opini pribadi, atau
▶️ komentar sosial yang hanya ditempeli ayat Alkitab.
Padahal tugas utama pengkhotbah membuka kekayaan firman Tuhan kepada jemaat. Di sinilah pengkhotbah sebenarnya memiliki kesempatan emas. Dalam waktu sekitar 15–20 menit setiap pekan, seorang pengkhotbah dapat:
▶️ mencerdaskan iman jemaat,
▶️ memerkenalkan konteks Alkitab,
▶️ melatih jemaat berpikir teologis, dan
▶️ membangun kedewasaan rohani umat.
Bayangkan selama bertahun-tahun jemaat duduk mendengar khotbah Minggu demi Minggu. Sedikit demi sedikit cara berpikir mereka dibentuk oleh kualitas khotbah yang mereka dengar. Oleh sebab itu mutu khotbah bukan perkara kecil, makanya pelatihan bagi pengkhotbah pemula rasanya sangat baku dalam progam gereja, termasuk regenerasi pengkhotbah, siapa saja boleh berkhotbah tetapi dilatih dan didampingi oleh komisi terkait serta mau belajar. Khotbah yang dangkal dan tak bermutu akan menghasilkan jemaat yang dangkal. Sebaliknya, khotbah yang kaya, jernih, dan bertanggung jawab akan membentuk jemaat yang matang dalam iman.
Sayang sekali apabila kesempatan mingguan yang begitu berharga itu dihabiskan hanya untuk:
▶️ cerita-cerita banal,
▶️ humor kosong,
▶️ moralitas umum, atau
▶️ repetisi kalimat saleh tanpa kedalaman.
Liturgi bekerja melalui pengulangan. Demikian pula khotbah. Mutu khotbah yang terus-menerus didengar jemaat pada akhirnya membentuk isi iman mereka. Contoh ya, Bacaaan diambil dari Yohanes 17:1-11, Masalah utamanya: bbrp khotbah ini gagal menangkap pusat teologis Yohanes 17:1–11. Teks sebenarnya sangat padat dan tinggi kristologinya. Di sini Yesus berbicara tentang kemuliaan, relasi Bapa-Anak, otoritas memberi hidup kekal, penyataan nama Allah, dan penyelesaian karya-Nya. Bahkan ayat 𝘐𝘯𝘪𝘭𝘢𝘩 𝘩𝘪𝘥𝘶𝘱 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘦𝘬𝘢𝘭 𝘪𝘵𝘶, 𝘺𝘢𝘪𝘵𝘶 𝘣𝘢𝘩𝘸𝘢 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘦𝘯𝘢𝘭 𝘌𝘯𝘨𝘬𝘢𝘶 … merupakan satu sorotan teologi Injil Yohanes. Namun, renungan ini malah bergerak ke doa memberi kekuatan, tantangan hidup, kesetiaan, dan pergumulan sehari-hari. Tidak keliru sih secara pastoral, tetapi terasa generik dan tidak lahir dari kekhususan teks. Padahal inti teksnya jauh lebih besar: Yesus sedang menyingkap identitas dan karya-Nya menjelang pemuliaan melalui salib.
Ada beberapa hal yang hilang:
1️⃣ Tema 𝘬𝘦𝘮𝘶𝘭𝘪𝘢𝘢𝘯. Padahal kata itu merajai teks.
2️⃣ Hidup kekal sebagai relasi mengenal Allah. Ini khas Yohanes, tetapi hampir tidak digali.
3️⃣ Murid sebagai pemberian Bapa kepada Anak. Ini tema penting banget dalam Yohanes.
4️⃣ Yesus telah menyelesaikan pekerjaan-Nya. Padahal ini mengarah langsung ke salib.
Akibatnya renungan terasa aman, saleh, tetapi datar dan hambar. Saya kira ini penyakit umum banyak renungan gerejawi:
▶️ teks Alkitab dipakai sebagai titik berangkat,
▶️ tetapi isi renungan bergerak ke tema-tema religius umum yang bisa ditempel ke ayat apa saja, hanya hiburan bagi umat, bukan ajaran, bukan mengingatkan, bahkan bukan menegur.
Pembaca yang akrab dengan Injil Yohanes akan merasa: “𝘓𝘩𝘰, 𝘬𝘰𝘬 𝘪𝘯𝘵𝘪 𝘵𝘦𝘬𝘴𝘯𝘺𝘢 𝘮𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘨𝘢𝘬 𝘥𝘪𝘣𝘢𝘩𝘢𝘴?”
(03062025)(TUS)