Minggu, 10 Mei 2026

Sudut Pandang 𝗣𝗿𝗼𝘀𝗲𝘀𝗶 𝗜𝗻𝗷𝗶𝗹: 𝗞𝗲𝘁𝗶𝗸𝗮 𝗦𝗶𝗺𝗯𝗼𝗹 𝗟𝗶𝘁𝘂𝗿𝗴𝗶 𝗗𝗶𝗽𝗮𝗸𝗮𝗶 𝗧𝗮𝗻𝗽𝗮 𝗧𝗲𝗼𝗹𝗼𝗴𝗶𝗻𝘆𝗮


Sudut Pandang 𝗣𝗿𝗼𝘀𝗲𝘀𝗶 𝗜𝗻𝗷𝗶𝗹: 𝗞𝗲𝘁𝗶𝗸𝗮 𝗦𝗶𝗺𝗯𝗼𝗹 𝗟𝗶𝘁𝘂𝗿𝗴𝗶 𝗗𝗶𝗽𝗮𝗸𝗮𝗶 𝗧𝗮𝗻𝗽𝗮 𝗧𝗲𝗼𝗹𝗼𝗴𝗶𝗻𝘆𝗮

Dalam praktik ibadah Gereja Protestan Reformir ada beberapa hal yang sudah dianggap biasa, tetapi sebenarnya lahir dari kekeliruan dalam memahami liturgi. Seri 𝘒𝘦𝘭𝘪𝘳𝘶 𝘓𝘪𝘵𝘶𝘳𝘨𝘪 mencoba meninjau kembali praktik-praktik tersebut secara lebih jernih.
Dewasa ini semakin banyak Gereja Protestan memerkenalkan praktik prosesi Alkitab pada awal ibadah. Alkitab diarak masuk dengan iringan nyanyian atau musik, jemaat berdiri, suasana menjadi khidmat, lalu kitab itu diletakkan di altar sebelum 𝘚𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘗𝘦𝘮𝘣𝘶𝘬𝘢. Bagi sebagian orang pemandangan ini terasa sangat liturgis. Namun, apakah Gereja sungguh memahami makna liturgis dari tindakan tersebut, atau sekadar meniru bentuknya saja?

Dalam tradisi liturgi Gereja kuno prosesi kitab pada awal ibadah bukanlah prosesi “Alkitab secara umum”. Yang diarak secara khusus adalah Injil (𝘦𝘷𝘢𝘯𝘨𝘦𝘭𝘪𝘶𝘮). Prosesi Injil menyimbolkan bahwa Kristus datang kepada umat-Nya melalui pewartaan Injil yang akan didengar oleh jemaat. Dengan kata lain simbol itu merujuk sebuah keyakinan teologis: 𝗞𝗿𝗶𝘀𝘁𝘂𝘀 𝗵𝗮𝗱𝗶𝗿 𝗱𝗮𝗻 𝗯𝗲𝗿𝗯𝗶𝗰𝗮𝗿𝗮 𝗸𝗲𝗽𝗮𝗱𝗮 𝗚𝗲𝗿𝗲𝗷𝗮-𝗡𝘆𝗮 𝗺𝗲𝗹𝗮𝗹𝘂𝗶 𝗜𝗻𝗷𝗶𝗹 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝗱𝗶𝘄𝗮𝗿𝘁𝗮𝗸𝗮𝗻.

Di sinilah sering terjadi kekeliruan ketika praktik ini diadopsi oleh banyak Gereja Protestan. Kesatu,  yang diarak memang Alkitab, tetapi secara teologis yang dicerap haruslah Injil [Semoga LAI mau mencetak kitab Injil ukuran besar lebih banyak lagi]. Gereja berwatak injili (bukan dalam arti aliran Evangelikal), karena ia dipanggil untuk mewartakan Injil. Injil adalah inti dari seluruh Kitab Suci, berita keselamatan tentang Yesus Kristus. Oleh karena itu dalam tradisi liturgi klasik, prosesi Injil merupakan pengakuan bahwa Injil adalah pusat pewartaan Gereja.

Persoalan kedua terletak pada sikap umat. Dalam banyak Gereja yang mengadopsi prosesi ini jemaat diminta berdiri ketika Alkitab diarak masuk. Namun, jemaat jarang diajar apa arti dari sikap berdiri tersebut. Akibatnya berdiri menjadi sekadar gerakan spontan yang dilakukan karena orang lain juga berdiri.

Padahal dalam tradisi Gereja yang lebih tua sikap umat terhadap Injil dibentuk melalui pendidikan liturgis yang jelas. Berdiri adalah tanda kesiapsediaan menerima firman Kristus. Umat memerhatikan arah pergerakan prosesi sebagai ungkapan penghormatan terhadap Injil yang akan diberitakan. Bahkan dalam beberapa tradisi Injil disambut dengan aklamasi khusus sebagai tanda sukacita Gereja atas kabar keselamatan yang akan didengar.

Satu hal lain yang sangat penting dan kerap terlewatkan adalah hubungan antara prosesi Injil dan pembacaan Injil dalam ibadah itu sendiri. Dalam tradisi liturgi klasik Injil yang dibacakan kepada jemaat adalah Injil yang sama yang sebelumnya diarak dan diletakkan di altar. Dengan demikian prosesi Injil tidak berhenti sebagai simbol visual pada awal ibadah. Ia mencapai klimaks ketika Injil itu sendiri dibacakan di tengah jemaat.

Akan tetapi dalam praktik banyak Gereja Protestan hal ini justru tidak terjadi. Pendeta membaca bagian Injil dari Alkitabnya sendiri yang sejak awal sudah diletakkan di mimbar sebelum ibadah dimula. Akibatnya prosesi kitab pada awal ibadah terputus dari tindakan liturgis yang seharusnya menjadi tujuannya, yakni pembacaan Injil kepada jemaat. 𝗦𝗶𝗺𝗯𝗼𝗹𝗻𝘆𝗮 𝗵𝗮𝗱𝗶𝗿, 𝘁𝗲𝘁𝗮𝗽𝗶 𝗿𝗮𝗻𝗴𝗸𝗮𝗶𝗮𝗻 𝗺𝗮𝗸𝗻𝗮𝗻𝘆𝗮 𝘁𝗲𝗿𝗽𝘂𝘁𝘂𝘀. Lebih mengenaskan lagi Injil menjadi sekadar pajangan jimat di altar.

Tanpa pembinaan liturgis seperti itu prosesi Injil mudah berubah menjadi sekadar drama religius. Simbolnya ada, gerakannya ada, bahkan suasana sakralnya juga ada, tetapi maknanya tidak sungguh-sungguh dipahami oleh umat.

Di sinilah kita melihat sebuah gejala yang semakin sering muncul dalam kehidupan Gereja Protestan masa kini: 𝗯𝗲𝗻𝘁𝘂𝗸 𝗹𝗶𝘁𝘂𝗿𝗴𝗶 𝗱𝗶𝗮𝗺𝗯𝗶𝗹, 𝘁𝗲𝘁𝗮𝗽𝗶 𝘁𝗲𝗼𝗹𝗼𝗴𝗶𝗻𝘆𝗮 𝘁𝗶𝗱𝗮𝗸 𝗶𝗸𝘂𝘁 𝗱𝗶-𝗷𝗲𝗺𝗮𝗮𝘁-𝗸𝗮𝗻. Gereja ingin terlihat liturgis, tetapi tidak mau menjalani disiplin teologi liturgi yang melahirkan bentuk-bentuk tersebut. Akibatnya simbol yang semula kaya makna berubah menjadi dekorasi ibadah.

Apabila Gereja Protestan hendak memertahankan praktik prosesi kitab pada awal ibadah, ada dua hal perlu dijernihkan. Kesatu, Gereja harus menyadari bahwa simbol tersebut merujuk Injil sebagai pusat pewartaan Gereja. Kedua, umat perlu dididik mengenai makna sikap mereka ketika menyambut prosesi tersebut sehingga tindakan liturgis itu tidak berhenti pada gerakan seremonial, tetapi menjadi pengakuan iman yang hidup.

Jika tidak, prosesi Injil hanya akan menjadi satu contoh dari sejumlah fenomena yang semakin lazim dalam kehidupan Gereja: 𝗹𝗶𝘁𝘂𝗿𝗴𝗶 𝗱𝗶𝗽𝗿𝗮𝗸𝘁𝗶𝗸𝗸𝗮𝗻, 𝘁𝗲𝘁𝗮𝗽𝗶 𝘁𝗶𝗱𝗮𝗸 𝗱𝗶𝗺𝗲𝗻𝗴𝗲𝗿𝘁𝗶. Ketika liturgi tidak lagi dimengerti, yang tersisa hanyalah ritual yang tampak sakral, tetapi kehilangan kedalaman teologinya.


Sudut Pandang 𝗣𝗿𝗼𝘀𝗲𝘀𝗶 𝗜𝗻𝗷𝗶𝗹: 𝗞𝗲𝘁𝗶𝗸𝗮 𝗦𝗶𝗺𝗯𝗼𝗹 𝗟𝗶𝘁𝘂𝗿𝗴𝗶 𝗗𝗶𝗽𝗮𝗸𝗮𝗶 𝗧𝗮𝗻𝗽𝗮 𝗧𝗲𝗼𝗹𝗼𝗴𝗶𝗻𝘆𝗮

Sudut Pandang 𝗣𝗿𝗼𝘀𝗲𝘀𝗶 𝗜𝗻𝗷𝗶𝗹: 𝗞𝗲𝘁𝗶𝗸𝗮 𝗦𝗶𝗺𝗯𝗼𝗹 𝗟𝗶𝘁𝘂𝗿𝗴𝗶 𝗗𝗶𝗽𝗮𝗸𝗮𝗶 𝗧𝗮𝗻𝗽𝗮 𝗧𝗲𝗼𝗹𝗼𝗴𝗶𝗻𝘆𝗮 Dalam prakt...