Sudut 𝗣𝗮𝗻𝗱𝗮𝗻𝗴 Matius 11:16-19, 25-30, [𝗠𝗶𝗻𝗴𝗴𝘂 𝗩𝗜 𝘀𝗲𝘀𝘂𝗱𝗮𝗵 𝗣𝗲𝗻𝘁𝗮𝗸𝗼𝘀𝘁𝗮, 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝗔], 𝙈𝙖𝙧𝙞𝙡𝙖𝙝 𝙠𝙚𝙥𝙖𝙙𝙖-𝙆𝙪
Alkitab sarat metafor. Satu contoh adalah kuk. Kuk adalah kayu lengkung yang dipasang di tengkuk kerbau atau sapi (atau hewan lain) untuk menarik bajak, pedati, dlsb. Jika ada dua hewan penarik, kuk dihubungkan dengan gandar, kayu horisontal, yang kita kenal dengan as. Kuk menjadi metafor hukum atau peraturan yang diterapkan kepada manusia. Selama manusia hidup, ia tidak lepas dari kuk.
Hari ini adalah Minggu keenam sesudah Pentakosta. Bacaan ekumenis diambil dari Injil Matius 11:16-19, 25-30 yang didahului dengan Kejadian 24:34-38, 42-49, 58-67, Mazmur 45:10-17, dan Roma 7:15-25a.
Bacaan Injil Minggu ini, Matius 11:16-19, 25-30, merupakan bagian Matius 11:2 – 12:50 sehingga konteks terdekatnya adalah kedua pasal itu yang bertema 𝘱𝘦𝘯𝘰𝘭𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘵𝘦𝘳𝘩𝘢𝘥𝘢𝘱 𝘠𝘰𝘩𝘢𝘯𝘦𝘴 𝘗𝘦𝘮𝘣𝘢𝘱𝘵𝘪𝘴 𝘥𝘢𝘯 𝘠𝘦𝘴𝘶𝘴. Kedua pasal itu pada gilirannya mengantar pengajaran Yesus tentang perumpamaan-perumpamaan.
𝗠𝗮𝘁𝗶𝘂𝘀 𝟭𝟭:𝟭𝟲-𝟭𝟵
“𝘋𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘢𝘱𝘢𝘬𝘢𝘩 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘒𝘶𝘶𝘮𝘱𝘢𝘮𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨-𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘻𝘢𝘮𝘢𝘯 𝘪𝘯𝘪?” kata Yesus di ayat 16a. Ucapan Yesus ini merujuk ayat-ayat sebelumnya karena cukup banyak orang Yahudi tidak mau menerima ajakan Yohanes Pembaptis dan Yesus. Mereka bertelinga, tetapi tidak mendengar. Yang dimaksud 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨-𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘻𝘢𝘮𝘢𝘯 𝘪𝘯𝘪 adalah orang-orang Yahudi yang pada masa itu tinggal di Khorazim, Betsaida, dan Kapernaum. Di kota-kota itu Yesus melakukan banyak mukjizat (lih. Mat. 11:20-24).
Yesus kemudian melanjutkan, “𝘔𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘴𝘦𝘶𝘮𝘱𝘢𝘮𝘢 𝘢𝘯𝘢𝘬-𝘢𝘯𝘢𝘬 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘶𝘥𝘶𝘬 𝘥𝘪 𝘱𝘢𝘴𝘢𝘳 𝘥𝘢𝘯 𝘣𝘦𝘳𝘴𝘦𝘳𝘶 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘵𝘦𝘮𝘢𝘯-𝘵𝘦𝘮𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢: ‘𝘒𝘢𝘮𝘪 𝘮𝘦𝘯𝘪𝘶𝘱 𝘴𝘦𝘳𝘶𝘭𝘪𝘯𝘨 𝘣𝘢𝘨𝘪𝘮𝘶, 𝘵𝘦𝘵𝘢𝘱𝘪 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘮𝘦𝘯𝘢𝘳𝘪, 𝘬𝘢𝘮𝘪 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘢𝘯𝘺𝘪𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘪𝘥𝘶𝘯𝘨 𝘥𝘶𝘬𝘢, 𝘵𝘦𝘵𝘢𝘱𝘪 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘣𝘦𝘳𝘬𝘢𝘣𝘶𝘯𝘨.’” (ay. 16b-17). Secara umum dapat dikatakan anak-anak di seluruh dunia suka bermain meniru orang dewasa: dokter-dokteran, polisi-polisian, dll. Dalam bacaan ini anak-anak diperikan meniru perayaan perkawinan dan upacara penguburan. Tidak ada anak-anak yang tertarik bergabung ikut bermain.
Atas perumpamaan di ayat 16b-17 Yesus meneruskan, “𝘠𝘰𝘩𝘢𝘯𝘦𝘴 𝘥𝘢𝘵𝘢𝘯𝘨, 𝘪𝘢 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘮𝘢𝘬𝘢𝘯, 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘮𝘪𝘯𝘶𝘮, 𝘥𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘣𝘦𝘳𝘬𝘢𝘵𝘢: ‘𝘐𝘢 𝘬𝘦𝘳𝘢𝘴𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘵𝘢𝘯.’ 𝘒𝘦𝘮𝘶𝘥𝘪𝘢𝘯 𝘈𝘯𝘢𝘬 𝘔𝘢𝘯𝘶𝘴𝘪𝘢 𝘥𝘢𝘵𝘢𝘯𝘨, 𝘐𝘢 𝘮𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘥𝘢𝘯 𝘮𝘪𝘯𝘶𝘮, 𝘥𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘣𝘦𝘳𝘬𝘢𝘵𝘢: ‘𝘓𝘪𝘩𝘢𝘵𝘭𝘢𝘩, 𝘐𝘢 𝘴𝘦𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘱𝘦𝘭𝘢𝘩𝘢𝘱 𝘥𝘢𝘯 𝘱𝘦𝘮𝘪𝘯𝘶𝘮, 𝘴𝘢𝘩𝘢𝘣𝘢𝘵 𝘱𝘦𝘮𝘶𝘯𝘨𝘶𝘵 𝘤𝘶𝘬𝘢𝘪 𝘥𝘢𝘯 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘦𝘳𝘥𝘰𝘴𝘢.’ 𝘕𝘢𝘮𝘶𝘯, 𝘏𝘪𝘬𝘮𝘢𝘵 𝘪𝘵𝘶 𝘥𝘪𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳𝘬𝘢𝘯 𝘰𝘭𝘦𝘩 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘪𝘬𝘦𝘳𝘫𝘢𝘬𝘢𝘯-𝘕𝘺𝘢.” (ay. 18-19). Sama seperti anak-anak yang tidak bergabung bermain, Yesus mengatakan ada saja alasan orang-orang Yahudi menolak Yohanes Pembaptis dan Yesus. Yohanes menawarkan hidup asketis (perumpamaan bermain upacara penguburan), sedang Yesus menawarkan merayakan kehidupan (perumpamaan bermain perayaan perkawinan). Keduanya ditolak oleh orang Yahudi.
Yohanes tidak makan roti yang biasa orang-orang Yahudi makan dan tidak minum anggur, melainkan belalang dan madu hutan (lih. Mat. 3:4). Cara hidup Yohanes dianggap aneh oleh orang Yahudi sehingga dikatakan kerasukan setan. Yesus sebaliknya. Ia suka makan dan minum bersama dengan para pemungut cukai dan orang berdosa. Yesus diolok-olok sebagai seorang pelahap dan peminum. Dalam Kitab Ulangan 21:18-21 seorang pelahap dan peminum layak dirajam sampai mati.
Matius 11:16-19 hendak memerikan sikap skeptis dan penolakan orang Yahudi terhadap pelayanan Yohanes Pembaptis dan Yesus. Mereka menolak pemberitaan Yohanes dan Yesus hanya karena penampilan atau metode yang berbeda. Padahal kebenarannya dapat dilihat dari hasil pelayanan Yohanes dan Yesus.
𝗠𝗮𝘁𝗶𝘂𝘀 𝟭𝟭:𝟮𝟱-𝟯𝟬
Perikop Matius 11:25-30 dapat dibagi lagi ke dalam dua seksi:
▶️ Seksi 1: Ucapan syukur kepada Bapa (ay. 25-27)
▶️Seksi 2: Ajakan Yesus (ay. 28-30)
𝘚𝘦𝘬𝘴𝘪 1
Pada waktu itu berkatalah Yesus, “𝘈𝘬𝘶 𝘣𝘦𝘳𝘴𝘺𝘶𝘬𝘶𝘳 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢-𝘔𝘶, 𝘉𝘢𝘱𝘢, 𝘛𝘶𝘩𝘢𝘯 𝘭𝘢𝘯𝘨𝘪𝘵 𝘥𝘢𝘯 𝘣𝘶𝘮𝘪, 𝘬𝘢𝘳𝘦𝘯𝘢 𝘴𝘦𝘮𝘶𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘪𝘵𝘶 𝘌𝘯𝘨𝘬𝘢𝘶 𝘴𝘦𝘮𝘣𝘶𝘯𝘺𝘪𝘬𝘢𝘯 𝘣𝘢𝘨𝘪 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘪𝘫𝘢𝘬 𝘥𝘢𝘯 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘱𝘢𝘯𝘥𝘢𝘪, 𝘵𝘦𝘵𝘢𝘱𝘪 𝘌𝘯𝘨𝘬𝘢𝘶 𝘯𝘺𝘢𝘵𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘦𝘤𝘪𝘭. (ay. 25) 𝘠𝘢 𝘉𝘢𝘱𝘢, 𝘪𝘵𝘶𝘭𝘢𝘩 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘦𝘳𝘬𝘦𝘯𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢-𝘔𝘶. (ay. 26) 𝘚𝘦𝘮𝘶𝘢 𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘥𝘪𝘴𝘦𝘳𝘢𝘩𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢-𝘒𝘶 𝘰𝘭𝘦𝘩 𝘉𝘢𝘱𝘢-𝘒𝘶 𝘥𝘢𝘯 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘴𝘦𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘱𝘶𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘦𝘯𝘢𝘭 𝘈𝘯𝘢𝘬 𝘴𝘦𝘭𝘢𝘪𝘯 𝘉𝘢𝘱𝘢 𝘥𝘢𝘯 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘴𝘦𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘱𝘶𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘦𝘯𝘢𝘭 𝘉𝘢𝘱𝘢 𝘴𝘦𝘭𝘢𝘪𝘯 𝘈𝘯𝘢𝘬 𝘥𝘢𝘯 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘈𝘯𝘢𝘬 𝘪𝘵𝘶 𝘣𝘦𝘳𝘬𝘦𝘯𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘪𝘯𝘨𝘬𝘢𝘱𝘬𝘢𝘯-𝘕𝘺𝘢.” (ay. 27)
Frase 𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘸𝘢𝘬𝘵𝘶 𝘪𝘵𝘶 merupakan penanda peralihan adegan atau episode tanpa makna kronologis seperti halnya di Matius 12:1 dan 14:1. Ucapan Yesus di atas berbentuk syair dan dapat disebut suatu nyanyian pujian bagi Tuhan. 𝘈𝘬𝘶 𝘣𝘦𝘳𝘴𝘺𝘶𝘬𝘶𝘳 diterjemahkan dari 𝘌𝘹𝘰𝘮𝘰𝘭𝘰𝘨𝘰𝘶𝘮𝘢𝘪 yang berarti literal 𝘢𝘬𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘬𝘶𝘪. Kata 𝘛𝘶𝘩𝘢𝘯 di sini dari 𝘒𝘺𝘳𝘪𝘦 yang merujuk penguasa. 𝘛𝘶𝘩𝘢𝘯 𝘭𝘢𝘯𝘨𝘪𝘵 𝘥𝘢𝘯 𝘣𝘶𝘮𝘪 sama dengan 𝘗𝘦𝘯𝘨𝘶𝘢𝘴𝘢 𝘭𝘢𝘯𝘨𝘪𝘵 𝘥𝘢𝘯 𝘣𝘶𝘮𝘪.
Frase berikutnya 𝘴𝘦𝘮𝘶𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘪𝘵𝘶 𝘌𝘯𝘨𝘬𝘢𝘶 𝘴𝘦𝘮𝘣𝘶𝘯𝘺𝘪𝘬𝘢𝘯 𝘣𝘢𝘨𝘪 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘪𝘫𝘢𝘬 𝘥𝘢𝘯 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘱𝘢𝘯𝘥𝘢𝘪, 𝘵𝘦𝘵𝘢𝘱𝘪 𝘌𝘯𝘨𝘬𝘢𝘶 𝘯𝘺𝘢𝘵𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘦𝘤𝘪𝘭 ini kerap dimaknai dangkal. 𝘚𝘦𝘮𝘶𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘪𝘵𝘶 dapat ditafsir merujuk seluruh ajaran Yesus dalam Injil Matius. Namun, frase itu tampaknya merujuk bahwa Yesus adalah hikmat Allah seperti tertulis di ayat 19b “𝘕𝘢𝘮𝘶𝘯, 𝘏𝘪𝘬𝘮𝘢𝘵 𝘪𝘵𝘶 𝘥𝘪𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳𝘬𝘢𝘯 𝘰𝘭𝘦𝘩 𝘩𝘢𝘭 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘪𝘬𝘦𝘳𝘫𝘢𝘬𝘢𝘯-𝘕𝘺𝘢”.
Lantas, siapakah 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘪𝘫𝘢𝘬 𝘥𝘢𝘯 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘱𝘢𝘯𝘥𝘢𝘪 𝘪𝘵𝘶? Dalam konteks keyahudian pada masa itu hanya ada satu ilmu yang sangat berkembang: ilmu agama. Tampaknya yang dimaksud oleh Yesus tentang 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘪𝘫𝘢𝘬 𝘥𝘢𝘯 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘱𝘢𝘯𝘥𝘢𝘪 𝘪𝘵𝘶 adalah ahli-ahli Taurat dan orang Farisi.
Istilah 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘦𝘤𝘪𝘭 muncul lagi di sini sesudah saya ulas dalam 𝘛𝘪𝘵𝘪𝘬 𝘗𝘢𝘯𝘥𝘢𝘯𝘨 edisi 2 Juli 2023. Namun, ada perbedaan sumber kata terjemahannya. Dalam 𝘛𝘪𝘵𝘪𝘬 𝘗𝘢𝘯𝘥𝘢𝘯𝘨 pekan lalu 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘦𝘤𝘪𝘭 diterjemahkan dari kata 𝘮𝘪𝘬𝘳𝘰̄𝘯, sedang 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘦𝘤𝘪𝘭 dalam ayat 25 di atas dari kata 𝘯𝘦̄𝘱𝘪𝘰𝘪𝘴, yang berarti literal anak atau lebih spesifik anak belum bersekolah. Dengan demikian yang dimaksud 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘦𝘤𝘪𝘭 di sini adalah mereka yang tak-terpelajar (𝘶𝘯𝘭𝘦𝘢𝘳𝘯𝘦𝘥). Mereka belum memiliki prapaham yang kemudian menjadi paham seperti ahli-ahli Taurat dan orang Fraisi sehingga 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘦𝘤𝘪𝘭 tersebut menerima kebenaran-kebenaran yang dinyatakan oleh Allah lewat Yesus.
Mengapa tadi di atas saya menyebut ayat ini kerap dimaknai dangkal? Cukup banyak orang Kristen puas menjadi 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘦𝘤𝘪𝘭 agar dapat dengan mudah menerima kebenaran-kebenaran yang dinyatakan oleh Allah. Tidak perlu belajar karena nanti seperti ahli-ahli Taurat dan orang Farisi. Mereka tampaknya kebingungan membedakan 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘦𝘤𝘪𝘭 dan orang bodoh. Ingat ucapan Yesus 𝘏𝘢𝘪 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨-𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘰𝘥𝘰𝘩 (Mat. 23:17).
𝘚𝘦𝘬𝘴𝘪 2
“𝘔𝘢𝘳𝘪𝘭𝘢𝘩 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢-𝘒𝘶, 𝘴𝘦𝘮𝘶𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘭𝘦𝘵𝘪𝘩 𝘭𝘦𝘴𝘶 𝘥𝘢𝘯 𝘣𝘦𝘳𝘣𝘦𝘣𝘢𝘯 𝘣𝘦𝘳𝘢𝘵, 𝘈𝘬𝘶 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘦𝘳𝘪 𝘬𝘦𝘭𝘦𝘨𝘢𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢𝘮𝘶. (ay. 28) 𝘗𝘪𝘬𝘶𝘭𝘭𝘢𝘩 𝘬𝘶𝘬 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘒𝘶𝘱𝘢𝘴𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘢𝘯 𝘣𝘦𝘭𝘢𝘫𝘢𝘳𝘭𝘢𝘩 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢-𝘒𝘶, 𝘬𝘢𝘳𝘦𝘯𝘢 𝘈𝘬𝘶 𝘭𝘦𝘮𝘢𝘩 𝘭𝘦𝘮𝘣𝘶𝘵 𝘥𝘢𝘯 𝘳𝘦𝘯𝘥𝘢𝘩 𝘩𝘢𝘵𝘪 𝘥𝘢𝘯 𝘫𝘪𝘸𝘢𝘮𝘶 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘥𝘢𝘱𝘢𝘵 𝘬𝘦𝘵𝘦𝘯𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯, (ay. 29) 𝘴𝘦𝘣𝘢𝘣 𝘬𝘶𝘬 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘒𝘶𝘱𝘢𝘴𝘢𝘯𝘨 𝘪𝘵𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘦𝘯𝘢𝘯𝘨𝘬𝘢𝘯 𝘥𝘢𝘯 𝘣𝘦𝘣𝘢𝘯-𝘒𝘶 𝘱𝘶𝘯 𝘳𝘪𝘯𝘨𝘢𝘯. (ay. 30)”
𝘔𝘢𝘳𝘪𝘭𝘢𝘩 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢-𝘒𝘶 … pada ayat di atas tampaknya merujuk kitab Sirakh 51:23-27 “𝘋𝘢𝘵𝘢𝘯𝘨𝘭𝘢𝘩 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢𝘬𝘶, 𝘩𝘢𝘪 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘴𝘦𝘬𝘢𝘭𝘪𝘢𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘦𝘭𝘶𝘮 𝘥𝘪𝘢𝘫𝘢𝘳, 𝘥𝘢𝘯 𝘣𝘦𝘭𝘢𝘫𝘢𝘳𝘭𝘢𝘩 𝘥𝘪 𝘴𝘦𝘬𝘰𝘭𝘢𝘩𝘬𝘶. 𝘔𝘦𝘯𝘨𝘢𝘱𝘢 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘮𝘢𝘴𝘪𝘩 𝘬𝘦𝘬𝘶𝘳𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘱𝘦𝘯𝘨𝘢𝘫𝘢𝘳𝘢𝘯, 𝘱𝘢𝘥𝘢𝘩𝘢𝘭 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘴𝘢𝘯𝘨𝘢𝘵 𝘮𝘦𝘳𝘪𝘯𝘥𝘶𝘬𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢? 𝘋𝘦𝘯𝘨𝘢𝘳𝘭𝘢𝘩 𝘬𝘢𝘵𝘢-𝘬𝘢𝘵𝘢𝘬𝘶: 𝘛𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘱𝘦𝘳𝘭𝘶 𝘶𝘢𝘯𝘨 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘮𝘦𝘯𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘣𝘪𝘫𝘢𝘬𝘴𝘢𝘯𝘢, 𝘢𝘴𝘢𝘭 𝘮𝘢𝘶 𝘣𝘦𝘭𝘢𝘫𝘢𝘳 𝘥𝘢𝘯 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘴𝘦𝘨𝘢𝘯 𝘣𝘦𝘳𝘴𝘶𝘴𝘢𝘩-𝘴𝘶𝘴𝘢𝘩. 𝘒𝘦𝘴𝘦𝘮𝘱𝘢𝘵𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘭𝘢𝘭𝘶 𝘢𝘥𝘢. 𝘓𝘪𝘩𝘢𝘵𝘭𝘢𝘩 𝘴𝘦𝘯𝘥𝘪𝘳𝘪; 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘣𝘦𝘳𝘶𝘴𝘢𝘩𝘢 𝘴𝘦𝘥𝘪𝘬𝘪𝘵 𝘴𝘢𝘫𝘢, 𝘢𝘬𝘶 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘯𝘥𝘢𝘱𝘢𝘵 𝘬𝘦𝘵𝘦𝘯𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘣𝘦𝘴𝘢𝘳.” dan Amsal 9:5-6 “𝘔𝘢𝘳𝘪𝘭𝘢𝘩, 𝘮𝘢𝘬𝘢𝘯𝘭𝘢𝘩 𝘳𝘰𝘵𝘪𝘬𝘶 𝘥𝘢𝘯 𝘮𝘪𝘯𝘶𝘮𝘭𝘢𝘩 𝘢𝘯𝘨𝘨𝘶𝘳 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘬𝘶𝘤𝘢𝘮𝘱𝘶𝘳, 𝘣𝘶𝘢𝘯𝘨𝘭𝘢𝘩 𝘬𝘦𝘣𝘰𝘥𝘰𝘩𝘢𝘯, 𝘮𝘢𝘬𝘢 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘩𝘪𝘥𝘶𝘱, 𝘥𝘢𝘯 𝘪𝘬𝘶𝘵𝘭𝘢𝘩 𝘫𝘢𝘭𝘢𝘯 𝘱𝘦𝘯𝘨𝘦𝘳𝘵𝘪𝘢𝘯.”
Frase 𝘴𝘦𝘮𝘶𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘭𝘦𝘵𝘪𝘩 𝘭𝘦𝘴𝘶 𝘥𝘢𝘯 𝘣𝘦𝘳𝘣𝘦𝘣𝘢𝘯 𝘣𝘦𝘳𝘢𝘵 juga kerap dimaknai dangkal. Teks ini acap ditafsir atau dimaknai bahwa Yesus mengundang orang-orang yang kelelahan karena sudah bekerja keras membanting tulang dalam rangka menghadapi tekanan dan beban hidup atau orang-orang yang lelah karena menderita penyakit menahun. Bukan itu.
Seperti yang sudah saya tulis di awal bahwa bacaan Injil Minggu ini konteks terdekatnya adalah Matius 11:2 – 12:50. Di sini 𝘴𝘦𝘮𝘶𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘭𝘦𝘵𝘪𝘩 𝘭𝘦𝘴𝘶 𝘥𝘢𝘯 𝘣𝘦𝘳𝘣𝘦𝘣𝘢𝘯 𝘣𝘦𝘳𝘢𝘵 dapat ditafsirkan sebagai orang yang capek (bahasa Jawa: 𝘫𝘶𝘥𝘩𝘦𝘨) akibat tirani hukum agama yang dibuat oleh para bijak dan orang pandai, yakni ahli-ahli Taurat dan kaum Farisi. Sedikitnya ada 613 peraturan (𝘔𝘪𝘵𝘻𝘷𝘰𝘵𝘩) yang wajib dipatuhi oleh masyarakat Yahudi. Kuk yang dipasang di leher amat sangat berat, apalagi orang kecil yang amat sangat sulit menghafal peraturan tersebut. Tafsiran ini didukung dengan teks sesudahnya.
Yesus mengundang para korban tirani hukum agama untuk “bersekolah” kepada-Nya guna belajar cara berhikmat seperti yang dikatakan-Nya, “… 𝘈𝘬𝘶 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘦𝘳𝘪 𝘬𝘦𝘭𝘦𝘨𝘢𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢𝘮𝘶. 𝘗𝘪𝘬𝘶𝘭𝘭𝘢𝘩 𝘬𝘶𝘬 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘒𝘶𝘱𝘢𝘴𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘢𝘯 𝘣𝘦𝘭𝘢𝘫𝘢𝘳𝘭𝘢𝘩 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢-𝘒𝘶, 𝘬𝘢𝘳𝘦𝘯𝘢 𝘈𝘬𝘶 𝘭𝘦𝘮𝘢𝘩 𝘭𝘦𝘮𝘣𝘶𝘵 𝘥𝘢𝘯 𝘳𝘦𝘯𝘥𝘢𝘩 𝘩𝘢𝘵𝘪 𝘥𝘢𝘯 𝘫𝘪𝘸𝘢𝘮𝘶 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘥𝘢𝘱𝘢𝘵 𝘬𝘦𝘵𝘦𝘯𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯, 𝘴𝘦𝘣𝘢𝘣 𝘬𝘶𝘬 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘒𝘶𝘱𝘢𝘴𝘢𝘯𝘨 𝘪𝘵𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘦𝘯𝘢𝘯𝘨𝘬𝘢𝘯 𝘥𝘢𝘯 𝘣𝘦𝘣𝘢𝘯-𝘒𝘶 𝘱𝘶𝘯 𝘳𝘪𝘯𝘨𝘢𝘯.”
Yesus tidak hendak mencopot kuk. Kuk adalah keniscayaan. Kelegaan apa yang diberikan oleh Yesus? Apabila kita melongok kembali teks yang tak jauh sebelum bacaan Minggu ini, Yesus makan bersama dengan para pemungut cukai dan orang-orang berdosa (Mat. 9:9-13). Yesus 𝘭𝘦𝘮𝘢𝘩 𝘭𝘦𝘮𝘣𝘶𝘵 sehingga Ia mengutamakan belas kasihan (𝘌𝘭𝘦𝘰𝘴), bukan amanat hukum Taurat (dhi. persembahan). Yesus 𝘳𝘦𝘯𝘥𝘢𝘩 𝘩𝘢𝘵𝘪 sehingga Ia tidak akan menyepelekan pengikut-Nya. Yesus tidak membuang hukum Taurat, namun memberi makna baru sehingga 𝘫𝘪𝘸𝘢𝘮𝘶 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘥𝘢𝘱𝘢𝘵 𝘬𝘦𝘵𝘦𝘯𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯. Yang disingkirkan oleh Yesus adalah formalitas yang diciptakan oleh ahli-ahli Taurat yang membuat beragama sebatas legalistik. Orang-orang yang merasa sudah menjalankan semua peraturan agama cenderung menyepelekan orang kecil.
Frase 𝘬𝘶𝘬 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘒𝘶𝘱𝘢𝘴𝘢𝘯𝘨 𝘪𝘵𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘦𝘯𝘢𝘯𝘨𝘬𝘢𝘯 𝘥𝘢𝘯 𝘣𝘦𝘣𝘢𝘯-𝘒𝘶 𝘱𝘶𝘯 𝘳𝘪𝘯𝘨𝘢𝘯 menegaskan bahwa selama manusia masih hidup, ia tidak lepas dari kuk. Pernyataan ini juga menguatkan bahwa ajakan Yesus itu bukan ditujukan kepada orang-orang yang kelelahan karena sudah bekerja keras membanting tulang dalam rangka menghadapi tekanan dan beban hidup atau orang-orang yang lelah karena menderita penyakit menahun. Untuk orang-orang seperti itu ada banyak teks yang mewartakan belarasa Yesus lewat pemberian makan, mukjizat penyembuhan, dlsb. Frase 𝘬𝘶𝘬 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘒𝘶𝘱𝘢𝘴𝘢𝘯𝘨 𝘪𝘵𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘦𝘯𝘢𝘯𝘨𝘬𝘢𝘯 𝘥𝘢𝘯 𝘣𝘦𝘣𝘢𝘯-𝘒𝘶 𝘱𝘶𝘯 𝘳𝘪𝘯𝘨𝘢𝘯 meneguhkan bahwa Yesus tidak menghilangkan kuk dan beban. Ibarat orang bersekolah, tidak ada murid yang tidak diberi beban pelajaran. Pelajaran yang diberikan oleh Yesus menyenangkan sehingga terasa ringan. Orang kecil atau orang tak-terpelajar pun mampu menempuhnya, asalkan ia mau belajar.