PENGANTAR
Minggu 05 Juli 2026, sore, saya menerima warta gereja dari sebuah gereja protestan reformir yg dikirimkan teman saya, dan teman saya mengajak berdiskusi, kutipannya seperti ini :
==awal kutipan==
Hari ini, melalui Sakramen Perjamuan Kudus, kita pun diingatkan bahwa Kristus telah lebih dahulu menanggalkan kemuliaan-Nya, dalam kerendahan hati mengambil rupa seorang hamba bahkan menyerahkan tubuh dan darah-Nya demi keselamatan kita. Maka dengan meneladani kerendahan hati Yesus, kita pun mau menanggalkan kesombongan yang mungkin masih tersimpan dalam diri kita. Menganggap bahwa kehendak kita yang paling benar dan dengan mudah bersikap menghakimi yang lain sehingga tidak bersikap terbuka pada kebenaran yang lain. Bagaimana kebenaran Injil mau dinyatakan dengan sikap yang demikian? Maka melalui Sakramen Perjamuan Kudus saat ini, Tuhan tidak meminta kita datang dengan mengandalkan keberadaan diri kita sendiri, melainkan dengan sikap kerendahan hati membawa diri sebagaimana adanya dengan menanggalkan segala beban yang lama yang tidak Tuhan kehendaki dan menerima karya keselamatan melalui kebenaran Injil-Nya. Sehingga dengan demikian ada kelegaan yang kita rasakan karena menerima yang Yesus tawarkan.
==akhir kutipan==
Jelas, di dalam PK (Perjamuan Kudus) atau Ekaristi, tak pernah menjadikan kesalehan pribadi sebagai syarat mengikuti, menguji diri iya (walaupun secara konteks konsep menguji diri juga masih didebatkan atau didiskusikan), kutipan tulisan itu merujuk pada kesalehan pribadi sebagai syarat mengikuti Perjamuan Kudus. Perjamuan Kudus adalah undangan dari Tuhan untuk siapapun umat, apalagi siapapun umat butuh Tuhan dan ini undangan Tuhan. Siapapun umat adalah manusia tak sempurna serta manusia rapuh yang butuh datang pada undangan Tuhan. Undangan PK adalah undang sebagai keluarga Allah, undangan ungkap syukur atas anugerah Allah, undangan untuk bersekutu dengan Allah dalam ritual simbolis roti dan anggur, ini adalah kekuatan bahkan kesegaran untuk memikul salib, menanggung kuk dan beban Kristus masuk dalam kehidupan nyata menjadi surat Kristus yg terbuka bagi sesama, menjadi agent yg berproses juang menyatakan teladan Kristus bagi sesama. Siapa yang layak mengikuti Perjamuan Kudus, tidak ada yang layak, karena yang melayakan hanya Kristus.
PEMAHAMAN
Ekaristi atau perjamuan Kudus bersumber pada asal kata bersyukur, EUCHARISTIO, itu ada dalam sebuah MISA/misi (MISA sebutan bagi peribadatan karena inti dari peribadatan yg ritual simbolis adalah kekuatan untuk peribadatan yg sebenarnya dalam pengutusan berkat masuk ke dunia, kehidupan yg sebenarnya), itu tugas, bersyukur karena di dalam MISA/misi/tugas meneladan Kristus, di dalam ajakan Kristus memikul salib (memakai kuk/beban yg dipasang Kristus) ada KOMUNI, ada kekuatan ...... kekuatan untuk melewati MISA/misi/tugas yaitu persekutuan dengan tubuh dan darah Kristus (KOMUNI ROTI dan ANGGUR), oleh karena itu lah kita bersyukur, ya .... masuk dalam Ekaristi, Perjamuan Kudus. "Marilah kepada-Ku" ada di Matius 11:28, bacaan Injil di Minggu ini 05 Juli 2026. "Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu" "Marilah kepada Ku" ajakan untuk mensyukuri bahwa Yesus setia pada kita dg persekutuan tubuh dan darah Yesus, kita memiliki kekuatan melewati jalan dimana kita memikul salib kita, memakai kuk dan beban Kristus, setiap kali Perjamuan Kudus, kita disegarkan kembali akan rasa syukur tsb atas segala anugrahNya yg memungkinkan kita dapat memikul salib/kuk nya Kristus di sepanjang ziarah atau perjalanan keselamatan kita, seperti halnya pokok ajaran GKJ melihat hidup sebagai perjalanan keselamatan bukan perjalanan untuk selamat atau mencari selamat, tetapi berjalanan untuk bersyukur mempertanggung jawabkan anugerah keselamatan yg sudah diterima dg hidup beretika, menghadapi tantangan dunia atau melawan tawaran untuk jadi sama dengan dunia. 𝗦𝘆𝗮𝗿𝗮𝘁 mengikuti 𝗣𝗲𝗿𝗷𝗮𝗺𝘂𝗮𝗻 𝗞𝘂𝗱𝘂𝘀 (PK) pada hakikatnya 𝗯𝘂𝗸𝗮𝗻 𝗽𝗲𝗿𝘁𝗮𝗺𝗮-𝘁𝗮𝗺𝗮 𝘀𝗼𝗮𝗹 𝗸𝗲𝘀𝗮𝗹𝗲𝗵𝗮𝗻 𝗶𝗻𝗱𝗶𝘃𝗶𝗱𝘂𝗮𝗹 seperti yang ditulis dalam renungan yang saya kutip di atas. 𝗦𝘆𝗮𝗿𝗮𝘁 mengikuti PK sebenarnya sudah terang dan jelas diragakan dalam Liturgi Perjamuan Kudus 𝗮𝘀𝗮𝗹𝗸𝗮𝗻 𝗺𝗮𝘂 membuka telinga untuk 𝗺𝗲𝗻𝗱𝗲𝗻𝗴𝗮𝗿.
𝗦𝗮𝗹𝗮𝗺 𝗗𝗮𝗺𝗮𝗶
Perhatikan alurnya: dalam 𝘉𝘦𝘳𝘪𝘵𝘢 𝘈𝘯𝘶𝘨𝘦𝘳𝘢𝘩 jemaat mendengar bahwa Allah mengampuni dan menerima mereka. Namun, pengampunan itu tidak boleh berhenti sebagai pengalaman vertikal pribadi dengan Allah. Untuk itu sebelum ritus persiapan persembahan (bukan kolekte!) dibawa ke meja Tuhan dan sebelum jemaat menyambut tubuh Kristus, mereka terlebih dahulu dipanggil berdamai dengan sesama.
Di sinilah prinsip 𝗠𝗮𝘁𝗶𝘂𝘀 𝟱:𝟮𝟯-𝟮𝟰 bekerja: “𝘗𝘦𝘳𝘨𝘪𝘭𝘢𝘩 𝘣𝘦𝘳𝘥𝘢𝘮𝘢𝘪 𝘥𝘢𝘩𝘶𝘭𝘶 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘴𝘢𝘶𝘥𝘢𝘳𝘢𝘮𝘶 ...”
Dengan demikian 𝘚𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘋𝘢𝘮𝘢𝘪 sebenarnya adalah saringan awal sebelum PK. Gereja sedang bertanya kepada jemaat:
▶️ Benarkah engkau mau hidup dalam rekonsiliasi?
▶️ Benarkah engkau mau menerima saudaramu sebagai sesama anggota tubuh Kristus?
𝗗𝗼𝗮 𝗕𝗮𝗽𝗮 𝗞𝗮𝗺𝗶.
Perhatikan baik-baik kalimat ini: “𝘈𝘮𝘱𝘶𝘯𝘪𝘭𝘢𝘩 𝘬𝘦𝘴𝘢𝘭𝘢𝘩𝘢𝘯 𝘬𝘢𝘮𝘪 𝙨𝙚𝙥𝙚𝙧𝙩𝙞 𝙠𝙖𝙢𝙞 𝙟𝙪𝙜𝙖 𝙢𝙚𝙣𝙜𝙖𝙢𝙥𝙪𝙣𝙞 𝙤𝙧𝙖𝙣𝙜 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙗𝙚𝙧𝙨𝙖𝙡𝙖𝙝 𝙠𝙚𝙥𝙖𝙙𝙖 𝙠𝙖𝙢𝙞.”
Kalimat itu bukan hiasan doa. Itu penghakiman terhadap diri jemaat sendiri sebelum menyambut tubuh dan darah Kristus. Pada aras itu Gereja sebenarnya sedang bertanya:
▶️ Apakah engkau sungguh telah mengampuni?
▶️ Apakah engkau masih memelihara kebencian?
▶️ Apakah engkau datang ke meja Tuhan sambil menolak saudaramu sendiri?
Oleh sebab itu syarat mengikuti PK pada hakikatnya bukan pertama-tama soal kesalehan individual, melainkan kesediaan hidup dalam rekonsiliasi dengan Allah dan dengan sesama anggota tubuh Kristus.
𝗞𝗲𝘀𝗮𝗹𝗲𝗵𝗮𝗻 𝗶𝗻𝗱𝗶𝘃𝗶𝗱𝘂𝗮𝗹?
Kesalehan individual justru ditujukan kepada pelayan Perjamuan Kudus. Setiap Doa Syukur selalu didahului dengan prefasi (𝘱𝘳𝘢𝘦𝘧𝘢𝘵𝘪𝘰). Suku kata 𝘱𝘳𝘦 pada prefasi bukan berarti pengantar. Secara liturgis suku kata 𝘱𝘳𝘦 dimaknai sebagai di depan atau di hadapan. Di sini imam atau majelis pelayan PK berdiri di depan atau di hadapan Allah dan umat beriman memuji Allah dan bersyukur kepada-Nya atas penyelamatan-Nya. Untuk itulah imam atau pendeta pemimpin PK dan pelayan PK tidak boleh bercacat moral.