Kitab-kitab Injil ditulis bukanlah sebagai laporan jurnalistik historis. Kitab-kitab itu menyajikan kisah-kisah teologis atau refleksi teologis penulis Injil dalam menanggapi pergulatan jemaat Kristen yang penulisnya merupakan warga di dalamnya. Maksudnya bagaimana?
Sebagai contoh penulis Injil Markus merasakan penderitaan jemaat Kristen yang dianiaya oleh orang-orang Yahudi dan Romawi. Jemaat Kristen dijadikan kambing hitam atas kekacauan (𝘤𝘩𝘢𝘰𝘴) di Yerusalem dan Roma. Perkabaran Injil menjadi terhambat, bahkan terhenti, karena jemaat Kristen ketakutan dan mereka merasa Allah tidak peduli lagi. Untuk menggembala umat yang patah arang itu penulis Injil Markus menegaskan bahwa Allah peduli dengan menyusun kisah teologis Yesus meredakan topan.
Hari ini adalah Minggu kelima sesudah Pentakosta. Bacaan Injil Markus 4:35-41
Bacaan Injil Minggu ini perikopnya diberi judul oleh LAI 𝘈𝘯𝘨𝘪𝘯 𝘳𝘪𝘣𝘶𝘵 𝘥𝘪𝘳𝘦𝘥𝘢𝘬𝘢𝘯. Konteks bacaan adalah Markus 4 – 5; dari pengajaran Yesus lewat perumpamaan-perumpamaan tentang Kerajaan Allah sampai kisah-kisah mukjizat yang dilakukan Yesus di seberang. Meskipun ada banyak adegan dan kisah, Markus merangkai narasi dalam sehari. Pengulasan bacaan dapat diurai ke dalam tiga bagian:
🛑 Topan dahsyat mengamuk (ay. 35-37)
🛑 Yesus tidak peduli? (ay. 38-39)
🛑 Mengapa kamu begitu takut? (ay. 40-41)
𝗧𝗼𝗽𝗮𝗻 𝗱𝗮𝗵𝘀𝘆𝗮𝘁 𝗺𝗲𝗻𝗴𝗮𝗺𝘂𝗸 (ay. 35-37)
Pada hari itu menjelang malam Yesus berkata kepada mereka, “𝘔𝘢𝘳𝘪𝘭𝘢𝘩 𝘬𝘪𝘵𝘢 𝘣𝘦𝘳𝘵𝘰𝘭𝘢𝘬 𝘬𝘦 𝘴𝘦𝘣𝘦𝘳𝘢𝘯𝘨.” (ay. 35) Mereka meninggalkan orang banyak itu lalu bertolak bersama Yesus yang sudah ada di dalam perahu dan perahu-perahu lain menyertai Dia. (ay. 36) Lalu mengamuklah topan yang dahsyat sekali dan ombak menyembur masuk ke dalam perahu sehingga perahu mula penuh dengan air. (ay. 37) (TB II 2023)
𝘗𝘢𝘥𝘢 𝘩𝘢𝘳𝘪 𝘪𝘵𝘶 untuk menunjukkan hubungan langsung kisah ini dengan pengajaran Yesus sebelumnya tentang Kerajaan Allah lewat perumpamaan-perumpamaan (ay. 1-34). 𝘔𝘢𝘳𝘪𝘭𝘢𝘩 𝘬𝘪𝘵𝘢 𝘣𝘦𝘳𝘵𝘰𝘭𝘢𝘬 𝘬𝘦 𝘴𝘦𝘣𝘦𝘳𝘢𝘯𝘨 mengingatkan kita pada ajakan Yesus dalam Markus 1:38 “𝘔𝘢𝘳𝘪𝘭𝘢𝘩 𝘬𝘪𝘵𝘢 𝘱𝘦𝘳𝘨𝘪 𝘬𝘦 𝘵𝘦𝘮𝘱𝘢𝘵 𝘭𝘢𝘪𝘯 … ”. Dalam kisah itu Yesus mengajak para murid berkeliling ke seluruh Galilea untuk berkarya. Kini Yesus mengajak para murid berkarya ke wilayah Dekapolis yang dihuni oleh bangsa bukan-Yahudi.
Kisah teologis ini merupakan jendela bagi kita untuk melongok ke masa lampau bahwa jemaat Kristen perdana mewartakan Injil tidak saja kepada bangsa Yahudi, tetapi juga kepada bangsa lain. Dalam mewartakan Injil kepada bangsa Yahudi mereka mendapat perlawanan keras dari para pemimpin Yahudi. Kisah ini sudah diulas dalam Mrk. 3:20-35. Sekarang mereka berusaha mewartakan kepada bangsa lain. Apa yang terjadi?
Lalu mengamuklah topan yang dahsyat sekali (ay. 37a). Danau Galilea saking luasnya disebut juga sebagai Laut Tiberias. Ada ahli yang mengatakan bahwa di Laut Tiberias kerap terjadi topan badai karena letak geografisnya. Namun, saya meragukan pengarang Injil Matius menulis kisah ini dengan menimbang informasi tersebut. Ini adalah kisah teologis. Kisah ini sejajar dengan cerita angin ribut yang nyaris menenggelamkan kapal Nabi Yunus (Yun. 1:4; bdk. Mzm. 69:2-3, 14-15; 107:23-32). Adegan-adegan dalam kitab Perjanjian Lama (PL) bermakna simbolik sebagai ancaman dunia ciptaan dan umat Allah dengan menampilkan kekacauan purba (Kej. 1:2) atau air bah (Kej. 6 – 7). 𝘓𝘢𝘶𝘵 𝘥𝘪𝘱𝘢𝘯𝘥𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘦𝘣𝘢𝘨𝘢𝘪 𝘵𝘦𝘮𝘱𝘢𝘵 𝘱𝘦𝘳𝘭𝘪𝘯𝘥𝘶𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘬𝘶𝘢𝘴𝘢 𝘫𝘢𝘩𝘢𝘵.
Dalam PL ancaman tersebut terwujud saat pembuangan orang-orang Yehuda ke Babel. Dalam Injil Markus ancaman terhadap jemaat Kristen perdana terwujud bukan saja dianiaya oleh orang-orang Yahudi, tetapi juga oleh orang-orang Romawi. Amukan topan badai yang menghantam perahu yang ditumpangi oleh Yesus dan para murid tampaknya pemerian situasi kedahsyatan serangan dari orang-orang Romawi terhadap jemaat Kristen. Petunjuk ini diperkuat dengan pengakuan orang Gerasa yang dirasuk roh jahat, “𝘕𝘢𝘮𝘢𝘬𝘶 𝘓𝘦𝘨𝘪𝘰𝘯.” Kata Latin 𝘭𝘦𝘨𝘪𝘰𝘯 merujuk satuan prajurit infanteri dan kavaleri berkekuatan 3.000 sampai 6.000 orang. Nama ini mengiaskan penjajahan Roma atas Tanah Israel. Perlawanan terhadap orang-orang Roma yang menduduki tanah mereka diungkap dengan jelas ketika Yesus berseru kepada setan-setan itu, “𝘒𝘦𝘭𝘶𝘢𝘳 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘪𝘯𝘪!” (Mrk. 5:1-20).
𝗬𝗲𝘀𝘂𝘀 𝘁𝗶𝗱𝗮𝗸 𝗽𝗲𝗱𝘂𝗹𝗶? (ay. 38-39)
Yesus sedang tidur di buritan memakai bantal, lalu murid-murid-Nya membangunkan Dia dan berkata kepada-Nya, “𝘎𝘶𝘳𝘶, 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘱𝘦𝘥𝘶𝘭𝘪𝘬𝘢𝘩 𝘌𝘯𝘨𝘬𝘢𝘶 𝘬𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘬𝘪𝘵𝘢 𝘣𝘪𝘯𝘢𝘴𝘢?” (ay. 38) Ia pun bangun, menghardik angin itu dan berkata kepada danau itu, “𝘋𝘪𝘢𝘮! 𝘛𝘦𝘯𝘢𝘯𝘨𝘭𝘢𝘩!” Lalu angin itu reda dan danau itu menjadi teduh sekali. (ay. 40) (TB II 2023)
Dalam kisah Yunus nakhoda kapal membangunkan Yunus dari tidur dan minta pertolongan doa agar mereka tidak binasa. Yunus mengakui bahwa topan badai itu dikirim oleh Allah sebagai akibat ia melarikan diri dari panggilan Allah. Ia meminta dicampakkan ke laut agar laut menjadi tenang.
Dalam kisah Injil para murid juga membangunkan Yesus dari tidur. Berbeda dari sikap nakhoda kapal yang ditumpangi Yunus, para murid Yesus terbaca sangat kasar dengan menuduh Yesus tidak peduli. Meskipun mereka kasar, Yesus tidak menegur mereka terlebih dahulu. Yesus mendahulukan keselamatan. KEAMANAN YANG UTAMA. Dalam Markus 1:35-39 kita juga dapat menyaksikan Yesus lebih mementingkan menolong, memulihkan, ketimbang berdoa.
Berkebalikan dengan Yesus, orang Kristen melihat saudaranya kelaparan, 𝘫𝘰𝘣𝘭𝘦𝘴𝘴, sama sekali tidak memberi pertolongan pertama. Mereka memberi banyak “nasihat”. Dipikir mereka “nasihat” itu dapat membuat orang kenyang dan mendapat pekerjaan. Malahan ada yang senang mengghibah atas penderitaan saudaranya.
Cara Yesus memberi pertolongan pertama mirip dengan Markus 1:25 saat Ia mengusir roh jahat, “𝘋𝘪𝘢𝘮!” Penulis Injil Markus panggah (𝘤𝘰𝘯𝘴𝘪𝘴𝘵𝘦𝘯𝘵) menggunakan kata 𝘵𝘩𝘢𝘭𝘢𝘴𝘴𝘦̄ yang berarti laut. Dalam ranah PL laut memang dipandang sebagai tempat perlindungan roh jahat. Kuasa atas laut dan kuasa untuk meredakan badai merupakan tanda nyata tindakan ilahi, sedang penyelamatan orang-orang yang nyaris tenggelam merupakan bukti pemeliharaan ilahi (bdk. Mzm. 107:23-32).
Pertanyaannya, apakah peristiwa di atas benar-benar terjadi? Tidaklah penting apakah peristiwa itu terjadi secara historis atau tidak. Seperti yang sudah saya sampaikan dalam pembuka bahwa kitab-kitab Injil ditulis bukanlah sebagai laporan jurnalistik historis. Kitab-kitab itu menyajikan kisah-kisah teologis atau refleksi teologis penulis Injil dalam menanggapi pergulatan jemaat Kristen perdana yang didera bukan saja oleh orang Yahudi, tetapi juga orang Romawi. Badai yang melanda perahu itu dapat saja merupakan gambaran penderaan yang dialami mereka.
𝗠𝗲𝗻𝗴𝗮𝗽𝗮 𝗸𝗮𝗺𝘂 𝗯𝗲𝗴𝗶𝘁𝘂 𝘁𝗮𝗸𝘂𝘁? (ay. 40-41)
Lalu Ia berkata kepada mereka, “𝘔𝘦𝘯𝘨𝘢𝘱𝘢 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘬𝘦𝘵𝘢𝘬𝘶𝘵𝘢𝘯? 𝘉𝘦𝘭𝘶𝘮𝘬𝘢𝘩 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘱𝘦𝘳𝘤𝘢𝘺𝘢?” (ay. 40). Mereka menjadi sangat takut dan berkata seorang kepada yang lain, “𝘚𝘪𝘢𝘱𝘢 𝘴𝘦𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳𝘯𝘺𝘢 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘪𝘯𝘪 𝘴𝘦𝘩𝘪𝘯𝘨𝘨𝘢 𝘢𝘯𝘨𝘪𝘯 𝘥𝘢𝘯 𝘥𝘢𝘯𝘢𝘶 𝘱𝘶𝘯 𝘵𝘢𝘢𝘵 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢-𝘕𝘺𝘢?” (ay. 41) (TB II 2023)
Sesudah situasi terkendalikan, barulah Yesus menegur para murid. Tidak lama sebelum mereka bertolak ke seberang sebenarnya Yesus sudah diberi pengajaran secara eksklusif oleh Yesus mengenai misteri Kerajaan Allah (lih. Mrk. 4:11, 34). Ternyata mereka sama saja dengan orang banyak. Mereka ketakutan, karena mereka belum percaya.
Pertanyaan yang masih menggantung, mengapa Yesus menegur para murid dengan dua pertanyaan itu? (ay. 40) Tampaknya apabila kita tautkan dengan pengajaran Yesus sebelum bertolak ke seberang, sebenarnya para murid mampu mengatasi badai itu tanpa penyertaan Yesus secara fisikal.
Ayat penutup laksana pujian para murid kepada Yesus. Takut (𝘱𝘩𝘰𝘣𝘰𝘯) pada ayat 41 berbeda dari takut (𝘥𝘦𝘪𝘭𝘰𝘪) pada ayat 40. Takut pada ayat 41 lebih bermakna hormat, segan, sungkan. Sayangnya LAI menerjemah 𝘵𝘩𝘢𝘭𝘢𝘴𝘴𝘦̄ sebagai danau, bukan laut (ay. 41) sehingga latar belakang ranah PL mengenai laut menjadi kabur dan pesan teologisnya pun menjadi kurang 𝘯𝘦𝘯𝘥𝘢𝘯𝘨.
(23062024)(T)