SUDUT PANDANG MEMAHAMI BUDAYA DALAM KONTEKSTUALISASI BERGEREJA
Titus Roidanto Dmin
Dalam memandang budaya biasanya, pada umumnya, pendeta menggunakan rujukan buku kedaluwarsa Christ and Culture. Sangat mungkin pendeta itu tidak merujuk langsung buku karangan Richard Niebuhr itu, melainkan ia mendapat pengajaran dari seniornya yang merujuk buku itu.
Secara ringkas Niebuhr mengelompokkan sikap orang Kristen terhadap budaya:
(1) sikap radikal,
(2) sikap akomodatif,
(3) sikap sintetik,
(4) sikap dualistik, dan
(5) sikap transformatif.
Proses pengambilan keputusan oleh orang-orang Kristen dalam menanggapi budaya bukanlah sesederhana yang diperikan oleh Niebuhr. Niebuhr sendiri tidak menjelaskan Kristus. baginya Kristus sudah final. Dapat saja Kristus adalah juga budaya, yaitu sintesis budaya Yahudi, Grika, dan Latin. Jadi, yang diuraikan oleh Niebuhr pada dasarnya adalah Budaya vs. Budaya.
Kontekstualisasi bukanlah pempribumian Injil, tetapi bergerak melampaui itu. Pada hakikatnya teologi kontekstual mau menolong orang Kristen menjadi orang Kristen yang sungguh-sungguh Kristen dan sekaligus sungguh-sungguh orang Indonesia. Kontekstual berarti juga melibatkan orang Kristen dalam bersalingtindak dengan sosio-budaya. Hal ini bukan dalam rangka asketisme dan sinkretisme, melainkan pengakaran. Akan tetapi jika pegakaran ini tidak mengakibatkan pengangkatan jatidiri dan martabat manusia juga tidak boleh disebut teologi kontekstual.
Misal, debus dan kuda lumping. Barangkali kesenian ini menarik perhatian wisatawan asing, tetapi tidak bermakna bagi rakyat. Kesenian seperti itu tidak mendorong rakyat memerjuangkan hak-haknya. Negara kita sangat kaya akan aneka ragam kebudayaan. Sah-sah saja kalau kita mau membangkitkan kekayaan yang ada pada kita sendiri. Usaha ini bukan dalam rangka menolak masa lalu kita, melainkan menjaga keseimbangan agar warisan Barat tidak merajai (dominate) kebudayaan kita.
Menjaga keseimbangan juga tidak berarti langsung menyulih (substitute) warisan Barat dengan hasil budaya lokal. Misal, untuk lebih afdol digunakanlah alat musik tradisional, seperti gamelan, dan pemakaian busana adat bagi pendeta beserta penatalayan lainnya. Selama penyulihan ini berhasil mengangkat jatidiri (inner-self) dan martabat orang Kristen Indonesia, maka hal itu patut dihargai. Namun, apabila hanya agar kelihatan lebih njawani, sepatutnya jangan diteruskan, karena hanya menjadi tontonan turis seperti halnya kuda lumping dan debus di atas.
(25082024)(TUS)