SUDUT PANDANG ALKITAB: KRONOLOGI DAN ARKEOLOGI (Bagian 1)
1. KRONOLOGI ALKITAB
Kata ”kronologi” berasal dari kata Yunani khro·no·lo·giʹa (dari khroʹnos, waktu, dan leʹgo, menyebutkan atau memberitahukan), yaitu ”penghitungan waktu”. Melalui kronologi kita dapat dengan tepat mengurutkan atau mengaitkan kejadian-kejadian dan menentukan tanggal-tanggal yang benar untuk peristiwa-peristiwa tertentu.
Agar kronologi dapat akurat, suatu titik dalam arus waktu harus ditetapkan sebagai patokan yang dapat digunakan untuk menghitung maju ataupun mundur, dalam unit-unit waktu (seperti jam, hari, bulan, tahun). Titik awal tersebut bisa berupa saat matahari terbit (untuk menghitung jam dalam satu hari), atau bulan baru (untuk menghitung hari dalam satu bulan), atau permulaan musim semi (untuk menghitung waktu dalam satu tahun). Guna menghitung periode-periode yang lebih lama, manusia telah berupaya menetapkan suatu ”era” khusus, dengan menggunakan salah satu peristiwa menonjol sebagai titik awal dan dari titik itu dapat dihitung periode-periode yang panjangnya bertahun-tahun. Jadi, apabila seseorang mengatakan bahwa ’hari ini tanggal 1 Januari 2025 M (Masehi)’, ia memaksudkan ’hari ini adalah hari pertama dari bulan pertama pada tahun ke dua ribu dua puluh lima yang dihitung dari hari yang diyakini sebagai tanggal lahir Yesus’.
Dalam sejarah sekuler, penggunaan era demikian dimulai agak lambat. Era Yunani, yang konon adalah kasus sekuler paling awal dalam penghitungan kronologis demikian, tampaknya baru digunakan sekitar abad keempat SM (Sebelum Masehi). Orang Yunani menghitung waktu berdasarkan periode empat tahun yang disebut Olimpiad; menurut perhitungan, Olimpiad pertama dimulai pada tahun 776 SM. Selain itu, mereka sering mengidentifikasi suatu tahun dengan menyebutkan masa tugas pejabat tertentu. Akhirnya, orang Romawi menetapkan sebuah era, dengan menghitung tahun-tahun mulai dari tahun 753 SM, yang menurut kisah turun-temurun adalah tanggal berdirinya kota Roma. Mereka juga menunjuk tahun-tahun tertentu dengan menyebutkan nama dua konsul yang bertugas pada tahun itu. Baru pada abad keenam M seorang biarawan bernama Dionisius Eksiguus menghitung apa yang sekarang umum dikenal sebagai Era Kekristenan, atau Tarikh Masehi. Di kalangan bangsa-bangsa pengikut Muhammad (Muslim), tahun-tahun dihitung mulai dari Hijrah (perpindahan Muhammad dari Mekah pada tahun 622 M). Akan tetapi, tidak ada bukti bahwa orang Mesir, Asiria, dan Babilonia masa awal, secara konsisten menggunakan sistem era demikian selama periode waktu yang panjang.
Dalam catatan Alkitab, tidak ada suatu pengaturan era yang disebutkan dengan jelas sebagai titik awal untuk menentukan tahun terjadinya semua peristiwa setelahnya. Tidak berarti bahwa tidak ada sebuah jadwal untuk menetapkan, secara spesifik dan tepat, waktu terjadinya peristiwa-peristiwa yang telah berlalu dalam arus waktu. Sewaktu mengisahkan peristiwa-peristiwa tertentu, para penulis Alkitab dapat menyebutkan angka-angka yang persis sehubungan dengan periode-periode yang panjangnya berabad-abad; fakta ini memperlihatkan bahwa kronologi cukup diminati di kalangan orang-orang Israel atau nenek moyang mereka. Karena itu, Musa dapat menulis bahwa ”pada hari terakhir tahun ke-430 itu, [terhitung sejak Abraham menyeberangi Sungai Efrat dalam perjalanan ke negeri Kanaan, tampaknya pada waktu itu Allah mengesahkan perjanjian dengan Abraham], seluruh barisan umat TUHAN meninggalkan tanah Mesir.” (Keluaran 12:41) Di 1 Raja-Raja 6:1, dicatat juga bahwa Raja Salomo mulai membangun bait di Yerusalem ”pada tahun ke-480 setelah keturunan Israel keluar dari tanah Mesir, pada tahun ke-4, pada bulan Ziw, yaitu pada bulan ke-2”. Meskipun demikian, saat disahkannya perjanjian Abraham ataupun waktu Eksodus (Keluaran) tidak umum digunakan sebagai permulaan sebuah era untuk mencatat peristiwa-peristiwa lainnya.
Oleh karena itu, kita hendaknya tidak mengharapkan bahwa faktor-faktor kronologis dalam Alkitab harus persis selaras dengan sistem-sistem modern, yang secara matematis menentukan tanggal semua peristiwa berdasarkan satu titik tertentu pada masa lampau, misalnya permulaan Tarikh Masehi. Waktu terjadinya suatu peristiwa lebih sering disebutkan dengan cara yang kira-kira sama dengan yang sewajarnya dilakukan dalam kehidupan sehari-hari. Sebagaimana kita sekarang menentukan suatu peristiwa dengan mengatakan bahwa itu terjadi ”setahun setelah musim kering”, atau ”lima tahun setelah Perang Dunia II”, demikian pula para penulis Alkitab menghubungkan peristiwa yang mereka catat dengan penunjuk waktu yang relatif umum kala itu. Untuk beberapa titik kronologis pemecahan yang pasti tidak dapat diberikan, karena kita tidak selalu tahu secara persis titik awal atau penunjuk waktu yang digunakan oleh sang penulis Alkitab. Selain itu, sewaktu membahas periode sejarah tertentu, seorang penulis bisa saja menggunakan lebih dari satu titik awal untuk menentukan tanggal terjadinya peristiwa-peristiwa. Variasi dalam titik-titik awal tidak menyiratkan bahwa tulisan sang penulis bersifat samar-samar atau kacau. Tidak sepatutnya kita menilai metode-metodenya hanya berdasarkan pendapat kita sendiri tentang cara mana yang tepat dan benar untuk mencatat peristiwa-peristiwa berdasarkan aturan atau prosedur modern. Meskipun kesalahan penyalinan bisa terjadi dalam beberapa kasus yang lebih sulit, tidaklah bijaksana untuk menarik kesimpulan demikian apabila tidak ada bukti yang masuk akal berupa perbedaan dalam manuskrip-manuskrip kuno yang berisi salinan Alkitab. Bukti yang tersedia memperlihatkan secara meyakinkan bahwa buku-buku Alkitab disalin dengan keakuratan dan kehati-hatian yang mengagumkan, sehingga kemurnian internalnya terpelihara.
KRONOLOGI ALKITAB DAN SEJARAH SEKULER.
Sering kali dinyatakan bahwa kita harus berupaya ”mengharmoniskan” atau ”menyelaraskan” catatan Alkitab dengan kronologi yang terdapat dalam catatan-catatan sekuler kuno. Mengingat kebenaran adalah sesuatu yang didasarkan atas fakta atau kenyataan, penyelarasan demikian memang sangat penting—apabila dapat diperlihatkan bahwa catatan sekuler kuno itu benar-benar tepat dan secara konsisten dapat diandalkan, sehingga dapat digunakan sebagai standar yang akurat. Karena para kritikus seringkali menganggap kronologi Alkitab kurang bermutu dibandingkan dengan kronologi bangsa-bangsa kafir, ada gunanya untuk meneliti beberapa catatan kuno dari bangsa-bangsa dan suku-suku bangsa yang kegiatan serta kehidupannya bersinggungan dan berkaitan dengan bangsa serta peristiwa-peristiwa yang dicatat dalam Alkitab. Di antara tulisan-tulisan kuno, Alkitab adalah buku sejarah yang menonjol. Sejarah Mesir, Asiria, Babilonia, Media, Persia, dan bangsa-bangsa zaman kuno lainnya, sebagian besar tidak lengkap; periode-periode awalnya samar-samar atau, sebagaimana disajikan oleh mereka, jelas-jelas bersifat khayalan. Sebagai contoh, dokumen kuno yang dikenal sebagai Daftar Raja Summer dimulai sebagai berikut, ”Sewaktu kerajaan diturunkan dari langit, kerajaan (mula-mula) ada di Eridu. (Di) Eridu, A-lulim (menjadi) raja dan memerintah 28.800 tahun. Alalgar memerintah 36.000 tahun. (Jadi) kedua raja itu memerintah atasnya selama 64.800 tahun. . . . (Di) Bad-tibira, En-men-lu-Anna memerintah 43.200 tahun; En-men-gal-Anna memerintah 28.800 tahun; dewa Dumu-zi, seorang gembala, memerintah 36.000 tahun. (Jadi) ketiga raja itu memerintah atasnya selama 108.000 tahun.”—Ancient Near Eastern Texts, J. B. Pritchard.
Apa yang diketahui tentang bangsa-bangsa zaman dahulu ini dari sumber-sumber sekuler telah dengan susah payah dikumpulkan dari potongan-potongan informasi yang diperoleh dari monumen-monumen dan lempeng-lempeng atau dari tulisan-tulisan terkemudian karya orang-orang yang disebut sejarawan dari periode Yunani dan Romawi. Meskipun para arkeolog telah menemukan puluhan ribu lempeng tanah liat dengan inskripsi-inskripsi Asiria-Babilonia berhuruf paku, dan juga sejumlah besar gulungan papirus dari Mesir, mayoritas adalah teks keagamaan atau dokumen bisnis yang terdiri dari kontrak, faktur penjualan, akta, dan sebagainya. Tulisan-tulisan sejarah bangsa-bangsa non-Israel jauh lebih sedikit jumlahnya dan dilestarikan dalam bentuk lempeng, silinder, stela, ataupun inskripsi yang terdapat pada monumen; tulisan-tulisan ini terutama menyanjung atau glorifikasi para raja dan penguasa mereka dan menceritakan kampanye-kampanye militer mereka dengan bahasa yang muluk-muluk.
Sebaliknya, Alkitab menyajikan sejarah yang luar biasa berpautan dan mendetail yang meliputi rentang waktu sekitar 4.000 tahun, karena di dalamnya tidak saja dicatat peristiwa-peristiwa sejak awal keberadaan manusia sampai masa pemerintahan Gubernur Nehemia pada abad kelima SM dengan kesinambungan yang mengagumkan, tetapi juga diberikan liputan dasar tentang periode antara Nehemia dan zaman Yesus serta para rasulnya melalui nubuat (atau ramalan) di buku Daniel pasal 11. Alkitab dengan hidup mempersembahkan kisah nyata bangsa Israel sejak kelahirannya, dengan terus terang menggambarkan kekuatan dan kelemahan mereka, keberhasilan dan kegagalan mereka, ibadat mereka kepada YHWH Allah yang benar dan dewa-dewi palsu, juga berkat-berkat serta penghukuman dan malapetaka yang mereka terima. Meskipun kejujuran ini saja bukan jaminan untuk kronologi yang akurat, kita memiliki dasar yang kuat untuk yakin akan integritas para penulis Alkitab dan kepedulian mereka yang tulus untuk mencatat kebenaran.
Catatan yang terperinci tampaknya tersedia bagi para pencatat Alkitab, seperti para penulis buku Satu dan Dua Raja-Raja serta buku Satu dan Dua Tawarikh. Hal ini nyata dari silsilah-silsilah panjang lebar yang berhasil mereka susun, yang memuat sampai ratusan nama; juga ulasan yang faktual dan berkaitan dengan masa pemerintahan tiap-tiap raja Yehuda dan Israel, termasuk hubungan mereka dengan bangsa-bangsa lain dan dengan satu sama lain. Para sejarawan modern masih tidak dapat memastikan kapan masa pemerintahan raja-raja tertentu dari Asiria dan Babilonia, bahkan beberapa raja dari dinasti-dinasti yang muncul belakangan. Namun, ketidakpastian demikian tidak ada sehubungan dengan urutan raja-raja dari Yehuda dan Israel. Alkitab menyebutkan tentang ”Kitab Peperangan TUHAN” (Bil 21:14, 15), ”kitab sejarah raja-raja Israel” (1Raj 14:19; 2Raj 15:31), ”kitab sejarah raja-raja Yehuda” (1Raj 15:23; 2Raj 24:5), ”kitab riwayat Salomo” (1Raj 11:41), dan juga sejumlah besar referensi ke catatan-catatan sejarah atau dokumen-dokumen resmi yang serupa yang dikutip oleh Ezra dan Nehemia. Semuanya ini memperlihatkan bahwa informasi yang dicatat tidak semata-mata didasarkan atas ingatan atau kisah lisan turun-temurun, tetapi telah diriset dengan cermat dan didokumentasikan dengan lengkap. Para sejarawan Alkitab itu juga mengutip dokumen-dokumen pemerintah dari bangsa-bangsa lain, dan beberapa bagian Alkitab bahkan ditulis di luar Israel, misalnya di Mesir, Babilon, dan Persia.
Salah satu faktor yang pasti turut menyebabkan adanya catatan yang akurat tentang penghitungan tahun-tahun, setidak-tidaknya sejauh orang Israel mematuhi Hukum Taurat Musa dengan setia, adalah diperingatinya tahun-tahun sabat dan tahun-tahun Yobel, yang membagi waktu menjadi periode 7 tahun dan 50 tahun (Imamat 25:2-5, 8-16, 25-31).Yang khususnya membedakan catatan Alkitab dari tulisan bangsa-bangsa kafir sezamannya adalah kesadaran akan waktu yang mewarnai halaman-halamannya, bukan hanya sehubungan dengan masa lampau dan masa sekarang melainkan juga sehubungan dengan masa depan. (Daniel 2:28; 7:22; 8:18, 19; Markus 1:15; Wahyu 22:10) Karena unsur nubuatnya yang unik, keakuratan kronologis menjadi hal yang jauh lebih penting bagi orang Israel daripada bagi bangsa-bangsa kafir, mengingat nubuat-nubuat (atau ramalan-ramalan) sering berkaitan dengan periode-periode waktu yang spesifik. Sebagai Buku Allah, Alkitab menandaskan ketepatan waktu Allah dalam melaksanakan firman-Nya (Yehezkiel 12:27, 28; Galatia 4:4) dan memperlihatkan bahwa nubuat-nubuat yang akurat membuktikan Keilahian-Nya.—Yesaya 41:21-26; 48:3-7.
Memang benar, ada beberapa dokumen non-Alkitab yang usianya beberapa abad lebih tua daripada manuskrip-manuskrip Alkitab tertua yang sejauh ini ditemukan. Beberapa dokumen kafir kuno yang terpahat pada batu atau terukir pada tanah liat mungkin tampak sangat mengesankan, tetapi hal itu tidak menjamin bahwa dokumen-dokumen tersebut bebas dari kesalahan dan kepalsuan. Bukan bahan yang ditulis, melainkan sang penulis, tujuannya, respeknya untuk kebenaran, pengabdiannya pada prinsip-prinsip yang adil-benar—inilah faktor-faktor penting yang memberikan dasar yang kuat untuk yakin akan hal-hal yang berkaitan dengan kronologi dan juga hal-hal lain. Usia dokumen-dokumen sekuler yang sangat tua pastilah tidak sebanding dengan mutu isinya yang jauh lebih rendah apabila dibandingkan dengan isi Alkitab. Karena catatan Alkitab ditulis pada bahan-bahan yang mudah rusak, seperti papirus dan vellum, dan karena digunakan terus-menerus serta dipengaruhi keadaan cuaca yang merusak di kebanyakan daerah Israel (berbeda dengan iklim yang luar biasa kering di Mesir), jelaslah mengapa naskah aslinya sudah tidak ada lagi sekarang. Akan tetapi, karena merupakan Buku terilham dari YHWH, Alkitab telah disalin dengan cermat dan terpelihara secara lengkap sampai sekarang. (1 Petrus 1:24, 25) Ilham Allah, yang memungkinkan para sejarawan Alkitab menulis catatan mereka, menjamin keterandalan kronologi Alkitab (2 Petrus 1:19-21).
Mengapa sejarah-sejarah sekuler tidak memenuhi syarat sebagai standar keakuratan untuk menilai kronologi Alkitab dengan tepat digambarkan oleh C. W. Ceram, seorang penulis dalam bidang arkeologi, ketika mengomentari ilmu pengetahuan modern untuk menentukan tanggal-tanggal bersejarah, ”Siapa pun yang memperdalam ilmu sejarah kuno untuk pertama kalinya pasti terkesan oleh keyakinan para sejarawan modern dalam menetapkan tanggal peristiwa-peristiwa yang terjadi ribuan tahun yang lalu. Seraya terus mempelajari ilmu tersebut, perasaan takjub ini sama sekali tidak bertambah. Karena sewaktu kita menyelidiki sumber-sumber sejarah kuno itu kita melihat bahwa catatan-catatan tersebut sangat sedikit, tidak akurat, atau benar-benar palsu, bahkan pada waktu penulisannya yang pertama. Catatan-catatan itu pada mulanya saja sudah buruk kondisinya, terlebih buruk lagi sewaktu sampai ke tangan kita: separuhnya rusak dimakan usia atau karena penanganan yang tidak hati-hati dan kasar oleh manusia.” Selanjutnya ia menggambarkan kerangka sejarah kronologis sebagai ”struktur yang sepenuhnya hipotesis, dan yang terancam berantakan pada setiap sendinya”.—The Secret Hittites. Evaluasi itu mungkin tampak ekstrem, tetapi sehubungan dengan catatan-catatan sekuler, hal tersebut bukannya tanpa dasar. Informasi berikut ini akan membuat jelas mengapa tidak ada alasan untuk meragukan kesaksamaan kronologi Alkitab hanya karena beberapa catatan sekuler berbeda dengan kronologi tersebut. Sebaliknya, hanya apabila kronologi sekuler selaras dengan catatan Alkitab, kita layak merasa agak yakin akan tanggal peristiwa-peristiwa sekuler kuno demikian. Sewaktu mempertimbangkan catatan bangsa-bangsa kafir ini yang ada hubungannya dengan bangsa Israel, hendaknya kita ingat bahwa beberapa hal yang tampaknya tidak bersesuaian dalam catatan mereka mungkin semata-mata karena para sejarawan modern tidak sanggup menjelaskan dengan tepat metode yang digunakan pada zaman dahulu, sebagaimana mereka juga tidak sanggup menjelaskan dengan tepat metode yang digunakan oleh para sejarawan Alkitab. Akan tetapi, ada cukup banyak bukti bahwa para sejarawan dan pakar kronologi bangsa-bangsa kafir ceroboh dan tidak akurat dalam laporan mereka atau bahkan sengaja memalsukannya.
2. ARKEOLOGI ALKITAB
Arkeologi Alkitab adalah penelitian mengenai bangsa-bangsa dan peristiwa-peristiwa yang disebutkan dalam Alkitab berdasarkan catatan menarik yang terkubur di tanah. Dalam penggaliannya, arkeolog menemukan dan menganalisis bebatuan, reruntuhan tembok serta bangunan, dan kota-kota yang telah hancur; ia juga menemukan dan mengumpulkan informasi dari tembikar, lempeng tanah liat, inskripsi, makam, dan peninggalan kuno lainnya, atau artifak. Penelitian demikian sering kali bisa menambah pemahaman tentang keadaan ketika Alkitab ditulis dan kehidupan orang-orang Israel dan Kristen pada zaman dahulu, dan juga tentang bahasa yang digunakan oleh mereka dan bangsa-bangsa di sekitar mereka. Penelitian ini telah memperluas pengetahuan kita tentang semua daerah yang disebutkan Alkitab: Palestina, Mesir, Persia, Asiria, Babilonia, Asia Kecil, Yunani, dan Roma.
Arkeologi Alkitab termasuk ilmu yang relatif baru. Baru pada tahun 1822, tulisan pada Batu Rosetta dapat diartikan sehingga tulisan hieroglif Mesir dapat dimengerti. Huruf paku Asiria baru dapat diartikan lebih dari 20 tahun kemudian. Penggalian secara sistematis dimulai di Asiria pada tahun 1843 dan di Mesir pada tahun 1850.
NILAI RELATIF ARKEOLOGI
Arkeologi telah menghasilkan informasi berguna yang membantu pengidentifikasian tempat-tempat yang disebutkan dalam Alkitab, telah menemukan dokumen-dokumen tertulis yang menambah pemahaman akan bahasa-bahasa asli yang digunakan untuk menulis Alkitab, dan telah memberikan lebih banyak keterangan tentang kondisi kehidupan dan aktivitas orang-orang dan para penguasa pada zaman dahulu yang disebutkan dalam Alkitab. Namun, sehubungan dengan keautentikan dan keterandalan Alkitab, demikian juga iman akan Alkitab, ajarannya, dan penyingkapannya tentang maksud-tujuan serta janji-janji Allah, harus dikatakan bahwa keterangan tambahan yang disediakan arkeologi tidaklah penting, dan kebenaran Firman TUHAN tidak memerlukan peneguhan demikian. Sebagaimana diungkapkan rasul Paulus, ”Iman adalah dasar atas hal-hal yang kita harapkan, dan bukti dari hal-hal yang tidak kelihatan. Karena beriman, maka kita mengerti bahwa alam ini diciptakan oleh sabda Allah; jadi, apa yang dapat dilihat, terjadi dari apa yang tidak dapat dilihat.” (Ibrani 11:1, 3) ”Karena perjalanan kami dengan iman, bukannya dengan penglihatan.” (2 Korintus 5:7). Namun, tidak berarti bahwa iman Kristen tidak didukung juga oleh hal-hal yang dapat dilihat atau bahwa iman itu hanya berkaitan dengan hal-hal abstrak. Tetapi memang benar bahwa pada setiap periode dan masa, orang-orang dapat memperoleh cukup banyak bukti kontemporer dari sekelilingnya, dan juga dari dalam diri mereka dan pengalaman mereka sendiri, yang dapat meyakinkan mereka bahwa Alkitab adalah sumber penyingkapan ilahi yang benar dan bahwa Alkitab tidak mengandung apa pun yang tidak sesuai dengan fakta-fakta yang dapat dibuktikan. (Roma 1:18-23)
Pengetahuan tentang masa lampau berdasarkan temuan arkeologis memang menarik dan patut dihargai, tetapi bukan merupakan hal yang vital. Pengetahuan tentang masa lampau berdasarkan Alkitab itulah yang paling penting dan sangat andal. Alkitab, dengan atau tanpa arkeologi, memberikan makna yang sebenarnya tentang masa kini dan menjelaskan tentang masa depan. (Mazmur 119:105; 2 Petrus 1:19-21) Sesungguhnya, iman yang harus mengandalkan batu-batu bata yang hancur, vas-vas yang pecah, dan tembok-tembok yang runtuh untuk menunjang dan menopangnya adalah iman yang lemah.
KETIDAKPASTIAN YANG MENDASARI KESIMPULAN
Meskipun penemuan arkeologis kadang-kadang memberikan jawaban yang tepat bagi orang-orang yang meragukan catatan Alkitab atau mengkritik kebenaran sejarah beberapa peristiwa, dan meskipun penemuan itu telah turut membantu menjernihkan pikiran orang-orang tulus yang merasa sangat terkesan akan argumen para kritikus, arkeologi tidaklah membungkam para kritikus Alkitab dan juga bukanlah fondasi yang kuat untuk mendasarkan iman seseorang akan catatan Alkitab. Kesimpulan yang ditarik dari sebagian besar hasil penggalian terutama didasarkan atas penalaran deduktif dan induktif para penyelidik, yang, kurang lebih seperti detektif, membangun sebuah kasus yang mereka perbantahkan. Bahkan pada zaman modern, meskipun para detektif dapat menemukan dan mengumpulkan banyak sekali bukti langsung maupun tidak langsung, kasus apa pun yang didasarkan semata-mata atas bukti demikian tanpa adanya kesaksian dari para saksi yang dapat dipercaya yang secara langsung berkaitan dengan masalah yang dipertanyakan, akan dianggap sangat lemah jika dibawa ke hadapan pengadilan. Keputusan yang hanya dilandasi bukti seperti itu telah mengakibatkan kekeliruan dan ketidakadilan. Terlebih lagi untuk kasus yang terjadinya 2.000 atau 3.000 tahun sebelum waktu penyelidikan.
Kesejajaran serupa disimpulkan oleh seorang arkeolog bernama R. J. C. Atkinson, yang mengatakan, ”Seseorang dapat membayangkan betapa sulitnya tugas para arkeolog di masa depan jika mereka harus menyusun kembali ritus, dogma, dan doktrin Gereja-Gereja Kristen hanya dari reruntuhan bangunan-bangunan gereja, tanpa bantuan catatan tertulis atau inskripsi apa pun. Oleh karena itu, kami pun menghadapi situasi paradoksal bahwa arkeologi, sebagai satu-satunya metode untuk menyelidiki masa lalu manusia tanpa catatan tertulis, menjadi semakin tidak efektif sebagai cara penyelidikan sistematis sewaktu arkeologi semakin dekat menyelidiki aspek-aspek kehidupan manusia yang khususnya lebih manusiawi.” Yang menambah rumit masalahnya adalah fakta bahwa para arkeolog jelas-jelas hanya dapat memberikan keterangan yang kira-kira akurat tentang masa lalu. Dan bukan itu saja, meskipun mereka berupaya untuk mempertahankan sudut pandangan yang benar-benar objektif ketika mempertimbangkan bukti yang ditemukan, seperti halnya para ilmuwan lain, mereka tidak luput dari kekeliruan manusiawi dan kecenderungan serta ambisi pribadi, yang dapat menghasilkan penalaran yang salah. Ketika menunjukkan problem ini, Profesor W. F. Albright berkomentar, ”Di pihak lain, ada bahaya mengesampingkan penemuan terdahulu yang lebih kuat demi mencari temuan baru dan sudut pandangan baru. Hal ini khususnya demikian dalam bidang-bidang seperti arkeologi dan geografi Alkitab, karena sulit sekali untuk menguasai alat dan metode penyelidikannya sehingga selalu ada godaan untuk mengabaikan metode yang baik, meninggalkan cara kerja yang lebih lambat dan lebih sistematis dan menggantikannya dengan penggabungan yang pintar dan perkiraan yang brilian.”—The Westminster Historical Atlas to the Bible.
PERBEDAAN DALAM PENENTUAN TANGGAL
Hal ini penting sekali disadari sewaktu mempertimbangkan tanggal-tanggal yang dikemukakan oleh para arkeolog sehubungan dengan temuan-temuan mereka. Merrill F. Unger mengilustrasikannya demikian, ”Sebagai contoh, Garstang menyatakan bahwa Yerikho jatuh sekitar tahun 1400 SM . . . ; Albright menunjuk tahun sekitar 1290 SM . . . ; Hugues Vincent, arkeolog Palestina yang terkenal, mendukung tahun 1250 SM . . . ; sedangkan H. H. Rowley berpendapat bahwa Rameses II adalah Firaun Penindas, dan Eksodus terjadi pada masa penerusnya, yaitu Merneptah, sekitar tahun 1225 SM.” (Archaeology and the Old Testament) Meskipun mengemukakan argumen untuk membela keterandalan proses dan analisis arkeologis modern, Profesor Albright mengakui bahwa ”masih sangat sulit bagi seseorang yang bukan ahli untuk menentukan pilihannya di antara tanggal-tanggal dan kesimpulan-kesimpulan para arkeolog yang saling bertentangan”. (The Archaeology of Palestine)
Memang jam radiokarbon telah digunakan, bersama dengan metode modern lainnya, untuk menentukan tahun asal artifak yang ditemukan. Akan tetapi, fakta bahwa metode ini tidak sepenuhnya akurat dibuktikan dalam pernyataan berikut oleh G. Ernest Wright dalam The Biblical Archaeologist, ”Patut diperhatikan bahwa metode baru untuk menentukan tanggal peninggalan kuno dengan Karbon 14 ternyata tidak bebas dari kesalahan sebagaimana yang diharapkan. . . . Beberapa percobaan telah memberikan hasil yang jelas-jelas salah, mungkin karena sejumlah alasan. Sekarang ini, seseorang dapat mengandalkan hasilnya tanpa ragu hanya setelah dilakukan beberapa percobaan yang memberikan hasil yang hampir sama dan jika tanggal yang dihasilkan tampaknya benar menurut metode penghitungan lainnya.” The New Encyclopædia Britannica (Macropædia, 1976) menyatakan, ”Apa pun sebabnya, . . . jelaslah bahwa tanggal-tanggal yang ditentukan dengan karbon-14 tidak seakurat yang diharapkan oleh para sejarawan tradisional.”
NILAI RELATIF INSKRIPSI
Ribuan inskripsi kuno telah ditemukan dan ditafsirkan. Profesor Albright menyatakan, ”Dokumen tertulis menjadi sekumpulan bahan yang benar-benar paling penting yang pernah ditemukan para arkeolog. Jadi, sungguh penting untuk mengetahui dengan jelas ciri dokumen-dokumen itu dan kesanggupan kita untuk menafsirkannya.” Dokumen itu dapat tertulis pada pecahan tembikar, lempeng tanah liat, papirus, atau dipahatkan pada batu granit. Apa pun bahannya, informasi yang disampaikan masih harus dipertimbangkan dan diuji keterandalan serta nilainya. Kekeliruan atau kebohongan yang terang-terangan dapat dan sering kali telah dicantumkan pada batu dan juga pada kertas. Pakar arkeologi Philip Biberfeld mengatakan, ”Tawarikh Babilonia, Nabonid, dan Berosus membuat kekeliruan; hanya kisah Alkitab yang terbukti benar. Hal itu diteguhkan dalam semua perincian kecil lainnya oleh inskripsi Esar-hadon dan ternyata lebih akurat sehubungan dengan peristiwa dalam sejarah Babilonia-Asiria ini daripada sumber-sumber Babilonia sendiri. Ini adalah fakta yang paling penting untuk mengevaluasi sumber-sumber yang sekalipun berasal dari zaman yang bersangkutan tetapi tidak sesuai dengan kisah Alkitab.”
PROBLEM DALAM MENGARTIKAN DAN MENERJEMAHKAN
Kita juga perlu berhati-hati agar tidak menerima bulat-bulat penafsiran banyak inskripsi yang ditemukan dalam berbagai bahasa kuno. Dalam beberapa kasus, misalnya Batu Rosetta dan Inskripsi Behistun, para penafsir bahasa telah mendapat banyak pemahaman akan suatu bahasa yang tadinya tidak diketahui karena bahasa itu disajikan paralel dengan bahasa lain yang telah diketahui. Namun, hendaknya tidak diharapkan bahwa bantuan demikian akan memecahkan semua problem atau memungkinkan pemahaman penuh akan bahasa itu dengan semua nuansa arti dan ungkapan idiomnya. Bahkan pemahaman bahasa-bahasa asli Alkitab, yaitu Ibrani, Aram, dan Yunani, telah mengalami kemajuan besar akhir-akhir ini, dan bahasa-bahasa itu masih terus dipelajari.
Ketika mengilustrasikan perlunya berhati-hati dan juga memperlihatkan lagi bahwa pendekatan objektif terhadap problem-problem yang ada sewaktu mengartikan inskripsi kuno sering kali tidaklah sepenting yang dikira, buku The Secret of the Hittites, karya C. W. Ceram, memuat keterangan berikut tentang seorang Asiriolog (pakar bangsa Asiria/Asyur) terkemuka yang berupaya mengartikan bahasa ”orang Het”, ”Karyanya sungguh luar biasa—suatu pencampuran brilian antara kesalahan yang parah dan pengamatan yang mengagumkan . . . Beberapa kesalahan yang ia buat didukung oleh argumen-argumen yang begitu meyakinkan sehingga diperlukan penelitian berpuluh-puluh tahun untuk mengalahkannya. Penalarannya yang kreatif didukung oleh begitu banyak pengetahuan filologis sehingga sangatlah sulit untuk menampi sekam dari gandumnya.” Sang penulis kemudian menggambarkan betapa keras kepalanya pakar ini sehubungan dengan perubahan apa pun pada penemuan-penemuannya; setelah bertahun-tahun barulah ia akhirnya setuju untuk mengadakan perubahan—dan yang diubah justru adalah penafsiran yang belakangan terbukti benar! Ketika menceritakan perbantahan sengit, yang sarat dengan aksi balas-membalas, yang timbul di antara pakar ini dan orang lain yang mengartikan huruf paku ”orang Het”, sang penulis menyatakan, ”Namun justru fanatisme yang menimbulkan perselisihan seperti itulah daya motivasi yang diperlukan bagi para pakar untuk membuat penemuan.” Oleh karena itu, meskipun waktu dan penyelidikan telah menyingkirkan banyak kesalahan dalam pemahaman inskripsi-inskripsi kuno, ada baiknya kita menyadari bahwa penyelidikan lebih lanjut kemungkinan besar akan menghasilkan lebih banyak perbaikan.Keunggulan Alkitab sebagai sumber pengetahuan yang dapat diandalkan, informasi yang benar, dan bimbingan yang pasti ditandaskan oleh fakta-fakta ini. Sebagai sekumpulan dokumen tertulis, Alkitab memberi kita gambaran yang paling jelas tentang masa lalu manusia, dan keterangan itu sampai kepada kita, bukan melalui penggalian, melainkan karena telah dilestarikan oleh TUHAN (YHWH) Pengarangnya. Rasul Petrus mengatakan: "Dalam Alkitab tertulis begini, 'Seluruh umat manusia bagaikan rumput, dan segala kebesarannya seperti bunga rumput. Rumput layu, bunganya pun gugur; tetapi sabda Tuhan tetap untuk selama-lamanya.'" (1 Petrus 1:24-25 BIMK)
(Akhir Bagian 1)
Catatan:
Lampiran ilustrasi dan tabel berasal dari www.bible.ca
(22032025)(TUS)