Mengapa orang jujur menderita atau terkena musibah? Mengapa orang tak bermoral terus berkuasa, bahkan menjadi pemimpin, kaya dan jauh dari hukuman?
Hari ini adalah Minggu ketiga Pra-Paska. Bacaan ekumenis diambil dari Injil Lukas 13:1-9 yang didahului dengan Yesaya 55:1-9, Mazmur 63:1-8, dan 1Korintus 10:1-13.
Bacaan Injil Minggu ini masuk ke dalam rangkaian kisah perjalanan Yesus ke Yerusalem (𝘑𝘰𝘶𝘳𝘯𝘦𝘺 𝘕𝘢𝘳𝘳𝘢𝘵𝘪𝘷𝘦). Narasi perjalanan ini disusun dengan cermat dalam mutu sastra yang tinggi oleh petulis Injil Lukas. Tujuan kisah ini untuk didaktik, mengajar umat Kristen agar hidup sesuai panggilannya. Tema-tema didaktik sangat kentara pada pasal yang mendahului bacaan Minggu ini.
𝘗𝘢𝘥𝘢 𝘸𝘢𝘬𝘵𝘶 𝘪𝘵𝘶 𝘥𝘢𝘵𝘢𝘯𝘨𝘭𝘢𝘩 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘠𝘦𝘴𝘶𝘴 𝘣𝘦𝘣𝘦𝘳𝘢𝘱𝘢 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘢𝘸𝘢 𝘬𝘢𝘣𝘢𝘳 𝘵𝘦𝘯𝘵𝘢𝘯𝘨 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨-𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘎𝘢𝘭𝘪𝘭𝘦𝘢, 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘢𝘳𝘢𝘩𝘯𝘺𝘢 𝘥𝘪𝘤𝘢𝘮𝘱𝘶𝘳 𝘗𝘪𝘭𝘢𝘵𝘶𝘴 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘥𝘢𝘳𝘢𝘩 𝘬𝘶𝘳𝘣𝘢𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘱𝘦𝘳𝘴𝘦𝘮𝘣𝘢𝘩𝘬𝘢𝘯. (ay. 1)
Frase keterangan waktu 𝘗𝘢𝘥𝘢 𝘸𝘢𝘬𝘵𝘶 𝘪𝘵𝘶 kurang mengena. Frase yang tepat adalah 𝘋𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘪𝘵𝘶. Keterangan waktu itu menunjukkan pada saat yang sama ada beberapa kegiatan berbeda dilakukan oleh pelaku yang berbeda. 𝘋𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘪𝘵𝘶 untuk mengingatkan pembaca bahwa Yesus sedang mengajar dalam kerumunan ribuan orang (lih. Luk. 12:1).
Beberapa orang yang datang kepada Yesus itu tidaklah jelas. Mereka melaporkan peristiwa mengerikan. Orang-orang Galilea yang sedang memersembahkan kurban dibunuh oleh serdadu Pilatus dan darah mereka dicampur dengan darah hewan kurban. Hanya di Injil Lukas yang mengisahkan ini sehingga sulit untuk memastikan kebenaran historisnya.
Namun, petulis Injil Lukas tampaknya hendak memerikan (𝘥𝘦𝘴𝘤𝘳𝘪𝘣𝘦) Pilatus yang secara historis dikenal kejam; Pilatus menghina bangsa Yahudi dalam setiap kesempatan, ia merampas milik mereka seenak udel, membunuh tanpa pemeriksaan, dll. Pilatus datang menjadi Walinegeri Yudea pada tahun 26 ZB dan dicopot pada tahun 36 ZB karena membantai orang Samaria seperti yang dicatat oleh Yosefus Flavius.
Andaikata pembunuhan pada ayat 1 benar-benar terjadi, siapakah orang-orang Galilea itu? Ahli menduga bahwa mereka kaum Zelot dari Galilea. Mereka terkenal dengan Yahudi garis-keras yang melawan dan mengganggu orang-orang Roma. Bukan tak mungkin kaum Zelot itu ada yang mengikuti perjalanan Yesus ke Yerusalem.
Bagaimana tanggapan Yesus?
𝘠𝘦𝘴𝘶𝘴 𝘣𝘦𝘳𝘬𝘢𝘵𝘢 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢, “𝘚𝘢𝘯𝘨𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨-𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘎𝘢𝘭𝘪𝘭𝘦𝘢 𝘪𝘵𝘶 𝘭𝘦𝘣𝘪𝘩 𝘣𝘦𝘴𝘢𝘳 𝘥𝘰𝘴𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘥𝘢𝘳𝘪𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘥𝘰𝘴𝘢 𝘴𝘦𝘮𝘶𝘢 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘎𝘢𝘭𝘪𝘭𝘦𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘭𝘢𝘪𝘯 𝘬𝘢𝘳𝘦𝘯𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘭𝘢𝘮𝘪 𝘱𝘦𝘯𝘥𝘦𝘳𝘪𝘵𝘢𝘢𝘯 𝘪𝘵𝘶? (ay. 2) 𝘛𝘪𝘥𝘢𝘬! 𝘒𝘢𝘵𝘢-𝘒𝘶 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢𝘮𝘶. 𝘕𝘢𝘮𝘶𝘯, 𝘫𝘪𝘬𝘢 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘣𝘦𝘳𝘵𝘰𝘣𝘢𝘵, 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘴𝘦𝘮𝘶𝘢 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘣𝘪𝘯𝘢𝘴𝘢 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘤𝘢𝘳𝘢 𝘥𝘦𝘮𝘪𝘬𝘪𝘢𝘯. (ay. 3)
Masyarakat Yahudi pada zaman itu tak berbeda dari teman-teman Ayub yang begitu cepat melihat musibah yang menimpa orang sebagai hukuman atas dosanya (Ayb. 4:7-9). Ayub pun berang dan berujar, “𝘗𝘦𝘯𝘨𝘩𝘪𝘣𝘶𝘳 𝘴𝘪𝘢𝘭𝘢𝘯 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘴𝘦𝘮𝘶𝘢!” (Ayb. 16:2)
Yesus pun menolak pemikiran orang-orang picik itu. Penderitaan, musibah tidak membuktikan bahwa orang sudah berdosa. Kesempatan ini digunakan oleh Yesus mengajar mereka untuk bertobat. Ucapan Yesus ini bercorak eskatologis, yakni tentang kedatangan Anak Manusia, kewaspadaan, pengadilan, dan hukuman terakhir yang sudah disampaikan Yesus pada pasal sebelumnya (lih. Luk. 12:5, 8-9, 20, 35-48, 54-59. bdk. Luk. 13:25-29).
Yesus mengulang ajaran-Nya dengan mengajukan pertanyaan yang sama berpautan dengan musibah lain.
“𝘈𝘵𝘢𝘶 𝘴𝘢𝘯𝘨𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘬𝘦𝘥𝘦𝘭𝘢𝘱𝘢𝘯 𝘣𝘦𝘭𝘢𝘴 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘢𝘵𝘪 𝘥𝘪𝘵𝘪𝘮𝘱𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘢𝘳𝘢 𝘥𝘦𝘬𝘢𝘵 𝘚𝘪𝘭𝘰𝘢𝘮 𝘭𝘦𝘣𝘪𝘩 𝘣𝘦𝘴𝘢𝘳 𝘬𝘦𝘴𝘢𝘭𝘢𝘩𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢 𝘥𝘢𝘳𝘪𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘬𝘦𝘴𝘢𝘭𝘢𝘩𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘮𝘶𝘢 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘭𝘢𝘪𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘪𝘯𝘨𝘨𝘢𝘭 𝘥𝘪 𝘠𝘦𝘳𝘶𝘴𝘢𝘭𝘦𝘮? (ay. 4) 𝘛𝘪𝘥𝘢𝘬! 𝘬𝘢𝘵𝘢-𝘒𝘶 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢𝘮𝘶. 𝘕𝘢𝘮𝘶𝘯, 𝘫𝘪𝘬𝘢 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘣𝘦𝘳𝘵𝘰𝘣𝘢𝘵, 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘴𝘦𝘮𝘶𝘢 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘣𝘪𝘯𝘢𝘴𝘢 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘤𝘢𝘳𝘢 𝘥𝘦𝘮𝘪𝘬𝘪𝘢𝘯.” (ay. 5)
Kecelakaan yang terjadi (ay. 4) diduga karena pembuatan waduk oleh Pilatus dan berakibat menara dekat Kolam Siloam itu rubuh dan menimpa banyak orang. Kolam Siloam disebut juga di Yohanes 9:7.
Yesus kembali menegaskan bahwa orang yang terkena musibah atau penderitaan bukanlah bukti dosa atau kesalahannya lebih besar daripada orang lain. Di sini Yesus justru mengajak para pendengar-Nya untuk bertobat sebelum terlambat mengalami musibah yang lebih besar lagi.
Yesus adalah pengajar dan pencerita ulung. Untuk menjelaskan lebih gamblang Yesus mengajukan cerita perumpamaan.
“𝘚𝘦𝘴𝘦𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘮𝘱𝘶𝘯𝘺𝘢𝘪 𝘱𝘰𝘩𝘰𝘯 𝘢𝘳𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢𝘮 𝘥𝘪 𝘬𝘦𝘣𝘶𝘯 𝘢𝘯𝘨𝘨𝘶𝘳𝘯𝘺𝘢, 𝘥𝘢𝘯 𝘪𝘢 𝘥𝘢𝘵𝘢𝘯𝘨 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘮𝘦𝘯𝘤𝘢𝘳𝘪 𝘣𝘶𝘢𝘩 𝘱𝘰𝘩𝘰𝘯 𝘪𝘵𝘶, 𝘵𝘦𝘵𝘢𝘱𝘪 𝘪𝘢 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘮𝘦𝘯𝘦𝘮𝘶𝘬𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢. (ay. 6). 𝘓𝘢𝘭𝘶 𝘪𝘢 𝘣𝘦𝘳𝘬𝘢𝘵𝘢 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘱𝘦𝘬𝘦𝘳𝘫𝘢 𝘬𝘦𝘣𝘶𝘯 𝘢𝘯𝘨𝘨𝘶𝘳 𝘪𝘵𝘶: 𝘓𝘪𝘩𝘢𝘵𝘭𝘢𝘩, 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘵𝘪𝘨𝘢 𝘵𝘢𝘩𝘶𝘯 𝘢𝘬𝘶 𝘥𝘢𝘵𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘯𝘤𝘢𝘳𝘪 𝘣𝘶𝘢𝘩 𝘱𝘰𝘩𝘰𝘯 𝘢𝘳𝘢 𝘪𝘯𝘪 𝘥𝘢𝘯 𝘢𝘬𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘮𝘦𝘯𝘦𝘮𝘶𝘬𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢. 𝘛𝘦𝘣𝘢𝘯𝘨𝘭𝘢𝘩 𝘱𝘰𝘩𝘰𝘯 𝘪𝘯𝘪! 𝘜𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘢𝘱𝘢 𝘪𝘢 𝘩𝘪𝘥𝘶𝘱? (ay. 7) 𝘑𝘢𝘸𝘢𝘣 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘪𝘵𝘶: 𝘛𝘶𝘢𝘯, 𝘣𝘪𝘢𝘳𝘬𝘢𝘯𝘭𝘢𝘩 𝘪𝘢 𝘵𝘶𝘮𝘣𝘶𝘩 𝘵𝘢𝘩𝘶𝘯 𝘪𝘯𝘪 𝘭𝘢𝘨𝘪, 𝘢𝘬𝘶 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘤𝘢𝘯𝘨𝘬𝘶𝘭 𝘵𝘢𝘯𝘢𝘩 𝘴𝘦𝘬𝘦𝘭𝘪𝘭𝘪𝘯𝘨𝘯𝘺𝘢 𝘥𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘦𝘳𝘪 𝘱𝘶𝘱𝘶𝘬 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢𝘯𝘺𝘢. (ay. 8) 𝘔𝘶𝘯𝘨𝘬𝘪𝘯 𝘵𝘢𝘩𝘶𝘯 𝘥𝘦𝘱𝘢𝘯 𝘪𝘢 𝘣𝘦𝘳𝘣𝘶𝘢𝘩, 𝘫𝘪𝘬𝘢 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬, 𝘵𝘦𝘣𝘢𝘯𝘨𝘭𝘢𝘩!” (ay. 9)
Dalam Perjanjian Lama (PL) pohon ara yang tidak berbuah kerap menyimbolkan umat Allah yang tidak menanggapi kesetiaan Allah dengan hidup saleh dan benar, tetapi mereka terus melakukan kejijikan (Mik. 7:1; Yer. 8:13). Apalagi pohon ara dalam perumpamaan ini ditanam di dalam lingkungan kebun anggur, lahan milik yang paling berharga.
Dalam Injil Matius dan Markus kita dapat membaca Yesus mengutuk pohon ara yang tidak berbuah dan pohon itu mengering (Mat. 21:18-22; Mrk. 11:12-14, 20). Lukas menghapus cerita itu dan mengubahnya menjadi perumpamaan pohon ara lalu dimasukkan ke dalam kisah perjalanan Yesus ke Yerusalem. Lukas di sini hendak mengundang umat Kristen pada zamannya untuk betobat dan menghasilkan buah-buah agar selalu siap menghadapi penghakiman. Berbuah dalam teologi Lukas selalu berpautan erat dengan bertobat dan berbelaskasihan, sesuatu yg dirasakan atau berkenasn dengan orang lain bukan diri kita sendiri.
Yesus dalam Injil Lukas menampilkan Allah yang murah hati, yang mau menanti dan memberi kesempatan manusia bertobat, berbelaskasihan, dan saling mengampuni sesama. Hal ini dikontraskan dengan Yohanes Pembaptis yang mengenalkan Allah yang tidak sabar menunggu, langsung menebang pohon yang tak berbuah (Luk. 3:9).
Dalam penutup perumpamaan tidak diceritakan apakah pohon ara itu berbuah atau tidak berbuah, karena hal itu menjadi perenungan para pendengar. Waktu setahun juga menjadi perenungan apakah waktu yang diberikan itu singkat atau panjang sehingga tidak dapat dipastikan. Andaikata manusia tidak tergugah oleh kasih Allah yang sudah memberi pupuk, tetapi ia tidak berbuah, ia akan ditebang yang tak diketahui waktu terjadinya.
(23032025)(TUS)