Dalam Jumat Agung yang lalu tersebutkan kematian Yesus adalah fakta sejarah objektif. Yesus adalah tokoh historis. Namun, kebangkitan Yesus adalah peristiwa iman atau pengalaman iman. Yesus dalam studi sejarah disebut Yesus-historis, sedang Yesus dalam Alkitab disebut Yesus-iman. Yesus-iman dibangun oleh para petulis kitab-kitab Perjanjian Baru (PB) lewat teropong Perjanjian Lama (PL) dan tradisi. Untuk itulah kisah kebangkitan Yesus di Alkitab berbeda-beda karena berangkat dari pengalaman iman para petulis yang berbeda-beda pula.
Orang Kristen dewasa tidak membutuhkan bukti historis dan empiris atas kebangkitan Yesus. Hanya orang Kristen 𝘤𝘩𝘪𝘭𝘥𝘪𝘴𝘩, kolokan, fundamentalis yang mau menelan 𝘱𝘴𝘦𝘶𝘥𝘰-𝘴𝘤𝘪𝘦𝘯𝘤𝘦 kebangkitan Yesus sebagai bukti historis dan empiris.
Hari ini adalah Minggu Paska. Bacaan ekumenis diambil dari Injil Lukas 24:1-12 yang didahului dengan Yesaya 65:17-25, Mazmur 118:1-2, 14-24, dan Kisah Para Rasul 10:34-43.
Perikop bacaan Minggu Paska ini diberi judul oleh LAI 𝘒𝘦𝘣𝘢𝘯𝘨𝘬𝘪𝘵𝘢𝘯 𝘠𝘦𝘴𝘶𝘴. Kitab Injil Lukas (dan Kis.) menyajikan kisah kebangkitan Yesus lebih bervariasi ketimbang kisah kebangkitan di Injil Markus, Matius, dan Yohanes. Namun, secara geografis Lukas lebih berpumpun pada Kota Yerusalem. Bagi Lukas Yerusalem menjadi pusat penampakan Yesus-Paska, tempat peneguhan, dan perutusan Gereja. Lukas menghapus cerita tentang Yesus-Paska menyuruh para murid menemui-Nya di Galilea. Justru sebaliknya para murid dilarang meninggalkan Kota Yerusalem. Secara cermat dan dalam citarasa sastra yang tinggi Lukas hendak mengundang para pembaca Injilnya untuk mengingat kembali karya Yesus di bumi.
𝘗𝘢𝘨𝘪-𝘱𝘢𝘨𝘪 𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳 𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘩𝘢𝘳𝘪 𝘱𝘦𝘳𝘵𝘢𝘮𝘢 𝘱𝘦𝘬𝘢𝘯 𝘪𝘵𝘶 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘱𝘦𝘳𝘨𝘪 𝘬𝘦 𝘬𝘶𝘣𝘶𝘳 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘢𝘸𝘢 𝘳𝘦𝘮𝘱𝘢𝘩-𝘳𝘦𝘮𝘱𝘢𝘩 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘴𝘦𝘥𝘪𝘢𝘬𝘢𝘯. (ay. 1) 𝘔𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘥𝘢𝘱𝘢𝘵𝘪 𝘣𝘢𝘵𝘶 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘵𝘦𝘳𝘨𝘶𝘭𝘪𝘯𝘨 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘬𝘶𝘣𝘶𝘳 𝘪𝘵𝘶, (ay. 2) 𝘥𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘮𝘢𝘴𝘶𝘬 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘮𝘦𝘯𝘦𝘮𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘫𝘦𝘯𝘢𝘻𝘢𝘩 𝘠𝘦𝘴𝘶𝘴. (ay. 3)
Siapakah mereka di ayat 1? Nama-nama mereka akan disebut di ayat 10. Mereka adalah orang-orang Galilea yang mengikuti Perjalanan Yesus ke Yerusalem (lih. Luk. 23:56). Tujuan kunjungan mereka ke kubur Yesus tak lain dan tak bukan untuk merempahi jenazah Yesus yang tak sempat dilakukan sebelumnya karena hari Sabat hampir dimula.
Lukas tidak menjelaskan adegan penggulingan batu penutup kubur dan pelakunya. Namun, hanya Injil Lukas yang menyebut secara gamblang 𝘫𝘦𝘯𝘢𝘻𝘢𝘩 (𝘴o𝘮𝘢) Yesus. Lukas akan mengulangi lagi menyebut kata itu di ayat 23 dan 24. Lukas memberi tekanan khusus pada kebangkitan ragawi bagi pembaca Injilnya yang berlatar pemikiran Grika (bdk. ay. 39-43).
𝘚𝘦𝘮𝘦𝘯𝘵𝘢𝘳𝘢 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘵𝘦𝘳𝘮𝘢𝘯𝘨𝘶-𝘮𝘢𝘯𝘨𝘶 𝘬𝘢𝘳𝘦𝘯𝘢 𝘩𝘢𝘭 𝘪𝘵𝘶, 𝘵𝘪𝘣𝘢-𝘵𝘪𝘣𝘢 𝘥𝘶𝘢 𝘭𝘢𝘬𝘪-𝘭𝘢𝘬𝘪 𝘣𝘦𝘳𝘥𝘪𝘳𝘪 𝘥𝘦𝘬𝘢𝘵 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘮𝘦𝘮𝘢𝘬𝘢𝘪 𝘱𝘢𝘬𝘢𝘪𝘢𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘦𝘳𝘬𝘪𝘭𝘢𝘶-𝘬𝘪𝘭𝘢𝘶𝘢𝘯. (ay. 4) 𝘔𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘴𝘢𝘯𝘨𝘢𝘵 𝘬𝘦𝘵𝘢𝘬𝘶𝘵𝘢𝘯 𝘥𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘶𝘯𝘥𝘶𝘬𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘭𝘢, 𝘭𝘢𝘭𝘶 𝘬𝘦𝘥𝘶𝘢 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘪𝘵𝘶 𝘣𝘦𝘳𝘬𝘢𝘵𝘢 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢, “𝘔𝘦𝘯𝘨𝘢𝘱𝘢 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘤𝘢𝘳𝘪 𝘋𝘪𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘩𝘪𝘥𝘶𝘱 𝘥𝘪 𝘢𝘯𝘵𝘢𝘳𝘢 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘢𝘵𝘪? (ay. 5) 𝘐𝘢 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘢𝘥𝘢 𝘥𝘪 𝘴𝘪𝘯𝘪, 𝘐𝘢 𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘣𝘢𝘯𝘨𝘬𝘪𝘵. 𝘐𝘯𝘨𝘢𝘵𝘭𝘢𝘩 𝘢𝘱𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘪𝘬𝘢𝘵𝘢𝘬𝘢𝘯-𝘕𝘺𝘢 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘬𝘢𝘮𝘶, 𝘬𝘦𝘵𝘪𝘬𝘢 𝘐𝘢 𝘮𝘢𝘴𝘪𝘩 𝘥𝘪 𝘎𝘢𝘭𝘪𝘭𝘦𝘢, (ay. 6) 𝘺𝘢𝘪𝘵𝘶 𝘣𝘢𝘩𝘸𝘢 𝘈𝘯𝘢𝘬 𝘔𝘢𝘯𝘶𝘴𝘪𝘢 𝘩𝘢𝘳𝘶𝘴 𝘥𝘪𝘴𝘦𝘳𝘢𝘩𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘦 𝘵𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨-𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘦𝘳𝘥𝘰𝘴𝘢 𝘥𝘢𝘯 𝘥𝘪𝘴𝘢𝘭𝘪𝘣𝘬𝘢𝘯, 𝘥𝘢𝘯 𝘣𝘢𝘯𝘨𝘬𝘪𝘵 𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘩𝘢𝘳𝘪 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘦𝘵𝘪𝘨𝘢.” (ay. 7) 𝘛𝘦𝘳𝘪𝘯𝘨𝘢𝘵𝘭𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘱𝘦𝘳𝘬𝘢𝘵𝘢𝘢𝘯 𝘠𝘦𝘴𝘶𝘴 𝘪𝘵𝘶. (ay. 8)
Dalam Injil Markus dan Matius para perempuan itu bingung karena perkataan laki-laki di dalam gua kubur Yesus, tetapi dalam Injil Lukas kebingungan mereka dipautkan dengan kubur kosong. Dua laki-laki itu yang menampakkan diri kepada para perempuan itu belakangan disebut sebagai malaikat (lih. ay. 23).
Seperti pada umumnya dalam kisah-kisah manusia menghadapi manifestasi surgawi reaksinya adalah ketakutan. Demikian juga halnya para perempuan itu. Mereka 𝘮𝘦𝘯𝘶𝘯𝘥𝘶𝘬𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘭𝘢 yang diterjemahkan dari 𝘬𝘭𝘪𝘯𝘰𝘶𝘴o𝘯 𝘵𝘢 𝘱𝘳𝘰𝘴o𝘱𝘢 𝘦𝘪𝘴 𝘵e𝘯 𝘨e𝘯 yang berarti literal 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘶𝘯𝘨𝘬𝘶𝘬 𝘬𝘦 𝘵𝘢𝘯𝘢𝘩. Ungkapan ini hanya ada di Injil Lukas.
Tema yang diangkat oleh kedua laki-laki itu adalah tentang 𝗵𝗶𝗱𝘂𝗽 𝘔𝘦𝘯𝘨𝘢𝘱𝘢 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘤𝘢𝘳𝘪 𝘋𝘪𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘩𝘪𝘥𝘶𝘱 𝘥𝘪 𝘢𝘯𝘵𝘢𝘳𝘢 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘢𝘵𝘪? Mereka menegur para perempuan itu tidak mengenal Yesus dengan baik. Kalau mereka mengenal Yesus, para perempuan itu tidak mencari Yesus yang hidup di antara orang mati. Padahal Yesus sudah mengatakan kepada para pengikut-Nya sewaktu di Galilea 𝘣𝘢𝘩𝘸𝘢 𝘈𝘯𝘢𝘬 𝘔𝘢𝘯𝘶𝘴𝘪𝘢 𝘩𝘢𝘳𝘶𝘴 𝘥𝘪𝘴𝘦𝘳𝘢𝘩𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘦 𝘵𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨-𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘦𝘳𝘥𝘰𝘴𝘢 𝘥𝘢𝘯 𝘥𝘪𝘴𝘢𝘭𝘪𝘣𝘬𝘢𝘯, 𝘥𝘢𝘯 𝘣𝘢𝘯𝘨𝘬𝘪𝘵 𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘩𝘢𝘳𝘪 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘦𝘵𝘪𝘨𝘢.
Inilah ciri khas Lukas yang menolong pembaca dengan mengingatkan lewat cara serupa entah akan nubuat Yesus di ayat 6-7 ini, lalu nanti akan nubuat kitab-kitab suci (ay. 25-27), atau akan kedua-duanya (ay. 44-46). Lukas sangat menekankan peran penting nubuat-nubuat Yesus saat di Galilea untuk memunculkan iman akan kebangkitan-Nya (lih. Luk. 9:22, 44; 18:33).
Kata 𝘣𝘢𝘯𝘨𝘬𝘪𝘵 (ay. 7) adalah kata kerja pasif 𝘥𝘪𝘣𝘢𝘯𝘨𝘬𝘪𝘵𝘬𝘢𝘯 (𝘢𝘯𝘢𝘴𝘵e𝘯𝘢𝘪). Siapa yang membangkitkan Yesus? Allah. Yesus tidak bangkit sendiri. Secara gamblang Lukas menulisnya lagi di Kis. 2:32 𝘠𝘦𝘴𝘶𝘴 𝘪𝘯𝘪𝘭𝘢𝘩 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘪𝘣𝘢𝘯𝘨𝘬𝘪𝘵𝘬𝘢𝘯 𝘈𝘭𝘭𝘢𝘩 ... . [Ada pendeta yang menyebut bahwa Yesus bangkit sendiri. Saya menolak pendapat ini. Apabila Yesus bangkit sendiri, maka kematian Yesus adalah pura-pura dan keselamatan yang ditawarkan-Nya juga pura-pura.]
𝘚𝘦𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘬𝘦𝘮𝘣𝘢𝘭𝘪 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘬𝘶𝘣𝘶𝘳, 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘤𝘦𝘳𝘪𝘵𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘮𝘶𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘪𝘵𝘶 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘴𝘦𝘣𝘦𝘭𝘢𝘴 𝘳𝘢𝘴𝘶𝘭 𝘥𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘴𝘦𝘮𝘶𝘢 𝘴𝘢𝘶𝘥𝘢𝘳𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘭𝘢𝘪𝘯. (𝘢𝘺. 9) 𝘗𝘦𝘳𝘦𝘮𝘱𝘶𝘢𝘯-𝘱𝘦𝘳𝘦𝘮𝘱𝘶𝘢𝘯 𝘪𝘵𝘶 𝘢𝘥𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘔𝘢𝘳𝘪𝘢 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘔𝘢𝘨𝘥𝘢𝘭𝘢, 𝘠𝘰𝘩𝘢𝘯𝘢, 𝘔𝘢𝘳𝘪𝘢 𝘪𝘣𝘶 𝘠𝘢𝘬𝘰𝘣𝘶𝘴, 𝘥𝘢𝘯 𝘱𝘦𝘳𝘦𝘮𝘱𝘶𝘢𝘯 𝘭𝘢𝘪𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘦𝘳𝘴𝘢𝘮𝘢 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢. (𝘢𝘺. 10) 𝘕𝘢𝘮𝘶𝘯, 𝘣𝘢𝘨𝘪 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 (kesebelas rasul) 𝘱𝘦𝘳𝘬𝘢𝘵𝘢𝘢𝘯-𝘱𝘦𝘳𝘬𝘢𝘵𝘢𝘢𝘯 𝘪𝘵𝘶 𝘴𝘦𝘢𝘬𝘢𝘯-𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘰𝘮𝘰𝘯𝘨 𝘬𝘰𝘴𝘰𝘯𝘨 𝘥𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘱𝘦𝘳𝘤𝘢𝘺𝘢 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘱𝘦𝘳𝘦𝘮𝘱𝘶𝘢𝘯-𝘱𝘦𝘳𝘦𝘮𝘱𝘶𝘢𝘯 𝘪𝘵𝘶. (ay. 11).
Dalam Injil Markus dan Matius malaikat memberi perintah kepada perempuan-perempuan itu untuk menyampaikan berita kebangkitan Yesus kepada rasul-rasul. Markus menceritakan bahwa para perempuan itu menjadi ketakutan sehingga tidak mengatakan apa pun kepada siapa pun. Matius berbeda dari Markus, para perempuan itu bersukacita, lalu menceritakan semuanya sesuai perintah malaikat.
Lukas berbeda dari Markus dan Matius. Memang sebelumnya para perempuan itu takut ketika melihat kedua malaikat di dalam gua kubur Yesus. Namun, sesudah malaikat itu menyampaikan kabar gembira, Lukas tidak melukiskan perasaan mereka, tetapi lebih menonjolkan para perempuan itu percaya. Bukti mereka percaya adalah 𝘛𝘦𝘳𝘪𝘯𝘨𝘢𝘵𝘭𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘱𝘦𝘳𝘬𝘢𝘵𝘢𝘢𝘯 𝘠𝘦𝘴𝘶𝘴 𝘪𝘵𝘶 (ay. 8) dan 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘤𝘦𝘳𝘪𝘵𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘮𝘶𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘪𝘵𝘶 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘴𝘦𝘣𝘦𝘭𝘢𝘴 𝘳𝘢𝘴𝘶𝘭 (ay. 9).
Lukas mengukuhkan keandalan informasi yang disampaikan itu dengan menyebut nama-nama perempuan tersebut: Maria dari Magdala, Yohana, Maria ibu Yakobus, dan perempuan lain yang bersama dengan mereka. Mereka adalah perempuan dari Galilea yang mengikuti Perjalanan Yesus ke Yerusalem. Mereka sangat mengenal Yesus. Maria dari Magdala, perempuan yang dibebaskan Yesus dari tujuh roh jahat (Luk. 8:2). Yohana, bendahara Herodes, turut melayani Yesus dalam rombongan (Luk. 8:3). Maria ibu Yakobus tampaknya Lukas merujuk Injil Markus yang lebih tua (lih. Mrk. 6:3). Para perempuan itu sangat mengenal Yesus. Mereka saksi-saksi tepercaya.
Ciri khas Lukas tidak menyebut nama-nama secara lengkap untuk mengundang pembaca terlibat langsung dalam kisahnya dengan memasukkan nama sendiri. Tafsir ini dikuatkan dengan kisah Perjalanan ke Emaus. Dalam episode itu hanya nama Kleopas yang disebut, sedang satu murid lagi seperti sengaja tak disebut. Sebelumnya dalam kisah penangkapan ikan di Danau Genesaret Lukas tidak menyebut nama Andreas, saudara Petrus (Luk. 5:1-11).
Kaum laki-laki selalu merasa lebih hebat daripada perempuan. Sikap ini juga menghinggapi para rasul. Mereka meremehkan kesaksian para perempuan itu dengan menilai mereka mengigau (𝘭e𝘳𝘰𝘴). Padahal sebelumnya para rasul 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘦𝘳𝘵𝘪 𝘱𝘦𝘳𝘬𝘢𝘵𝘢𝘢𝘯 Yesus dan bahkan 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘣𝘦𝘳𝘢𝘯𝘪 𝘮𝘦𝘯𝘢𝘯𝘺𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘢𝘳𝘵𝘪 𝘱𝘦𝘳𝘬𝘢𝘵𝘢𝘢𝘯 Yesus itu (lih. Luk. 9:44-45). Sekarang pun mereka menyangsikan kesaksian perempuan-perempuan itu.
𝘚𝘶𝘯𝘨𝘨𝘶𝘩 𝘱𝘶𝘯 𝘥𝘦𝘮𝘪𝘬𝘪𝘢𝘯 𝘗𝘦𝘵𝘳𝘶𝘴 𝘣𝘢𝘯𝘨𝘶𝘯, 𝘭𝘢𝘭𝘶 𝘣𝘦𝘳𝘭𝘢𝘳𝘪 𝘬𝘦 𝘬𝘶𝘣𝘶𝘳 𝘪𝘵𝘶. 𝘒𝘦𝘵𝘪𝘬𝘢 𝘪𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘫𝘦𝘯𝘨𝘶𝘬 𝘬𝘦 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮, 𝘪𝘢 𝘮𝘦𝘭𝘪𝘩𝘢𝘵 𝘩𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘬𝘢𝘪𝘯 𝘬𝘢𝘧𝘢𝘯 𝘴𝘢𝘫𝘢. 𝘓𝘢𝘭𝘶 𝘪𝘢 𝘱𝘦𝘳𝘨𝘪 𝘥𝘢𝘯 𝘣𝘦𝘳𝘵𝘢𝘯𝘺𝘢-𝘵𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘩𝘢𝘵𝘪𝘯𝘺𝘢 𝘢𝘱𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘪𝘳𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘵𝘦𝘳𝘫𝘢𝘥𝘪. (ay. 12)
Reaksi Petrus sedikit berbeda dari rasul-rasul lainnya. Tidak begitu jelas alasan Petrus pergi ke kubur Yesus: apakah ia sedikit lebih terbuka terhadap informasi para perempuan itu ataukah ia merasa paling bersalah tidak mampu membela Yesus? Ia menemukan hanya kain kafan di dalam kubur. Andaikata mayat Yesus dicuri mengapa kain kafan Yesus dilepas dan ditinggalkan di dalam kubur? Begitu kira-kira kecamuk di dalam hati Petrus. Berbeda dari para perempuan itu, Petrus sama sekali tidak disebut merefleksi ucapan-ucapan Yesus sebelumnya. Jadi, dapat diduga sampai ayat 12 Petrus masih belum percaya dan belum menerima kebangkitan Yesus.
Dari perikop ini kita bisa melihat kontras yang disajikan oleh Lukas: kaum marginal yang diwakili kaum perempuan dan kaum elit yang diwakili oleh sebelas rasul. Secara ironis Lukas menampilkan kaum marginal sebagai pembawa berita kebangkitan Yesus. Mirip di awal Injil Lukas menyajikan kaum marginal, kawanan gembala, sebagai saksi kelahiran Yesus. Lukas memang memberi perhatian istimewa kepada kaum marginal di Injilnya. Namun, kesaksian kaum perempuan diragukan oleh para rasul. Kaum elit meremehkan kaum marginal.
Demikian halnya terjadi pada Gereja, terutama Gereja mapan. Para elit Gereja selalu menempatkan diri di pihak yang serbatahu dan kerap menutup telinga dari suara umat. Padahal umat justru berhadapan langsung dengan kehidupan nyata dan sangat akrab dengan 𝘒𝘢𝘣𝘢𝘳 𝘉𝘢𝘪𝘬.
(20042025)(TUS)