SUDUT PANDANG ๐๐ถ๐ธ๐ฎ-๐น๐ถ๐ธ๐ ๐ฃ๐ฎ๐๐ธ๐ฎ: ๐๐ฝ๐ฎ๐ธ๐ฎ๐ต ๐ฌ๐ฒ๐๐๐ ๐ฏ๐ฎ๐ป๐ด๐ธ๐ถ๐?Serial Paska
Tidak ada hari raya Kristen yang lebih besar daripada Paska. Jantung iman Kristen terletak pada Paska. Hari Raya Paska menjadi titik berangkat hari-hari raya lain. Tidak ada Paska berarti tidak ada kekristenan. Umat Kristen pergi ke kebaktian atau misa Minggu karena pada dasarnya merayakan Paska, kebangkitan Kristus.
Pada Jumat Agung kemarin saya menjelaskan kematian Yesus adalah faktual-historis. Bagaimana dengan kebangkitan Yesus? Apakah ini merupakan faktual-historis? Di sinilah peliknya.
Belum ditemukan sumber-sumber sejarah otentik mengenai kebangkitan Yesus di luar kekristenan. Satu-satunya sumber mengenai kebangkitan adalah dokumen Perjanjian Baru (PB). Walau PB bukan dokumen sejarah, namun teks-teks itu dapat dikaji (satu di antaranya) melalui kritik naratif. Tentu saja teks dibaca dikaitkan dengan kehidupan sosio-politik yang mengitari teks itu.
Dunia sastra saat itu memahami gagasan bahwa orang baik dan bijaksana yang sudah membawa perubahan besar banyak orang akan dibinasakan oleh musuh-musuhnya. Namun Allah tidak akan tinggal diam. Allah akan membangkitan orang yang tidak berdosa itu. Dengan latar belakang itu dapatlah dipahami berita tentang kebangkitan Yesus dalam keempat Injil itu dimaksudkan untuk menyatakan bahwa Yesus adalah korban yang dibenarkan oleh Allah, dibela oleh Allah, dan Allah membangkitkan Yesus dari antara orang mati. Allah telah menggagalkan kekejian para pembenci Yesus.
[๐๐ญ๐ฌ๐ช๐ต๐ข๐ฃ ๐๐ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐บ๐ฆ๐ฃ๐ถ๐ต ๐ ๐ฆ๐ด๐ถ๐ด ๐ฃ๐ข๐ฏ๐จ๐ฌ๐ช๐ต ๐ข๐ฅ๐ข๐ญ๐ข๐ฉ ๐ฑ๐ข๐ด๐ช๐ง. ๐ ๐ฆ๐ด๐ถ๐ด ๐ฅ๐ช๐ฃ๐ข๐ฏ๐จ๐ฌ๐ช๐ต๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฐ๐ญ๐ฆ๐ฉ ๐๐ญ๐ญ๐ข๐ฉ. ๐ ๐ฆ๐ด๐ถ๐ด ๐ต๐ช๐ฅ๐ข๐ฌ ๐ฃ๐ข๐ฏ๐จ๐ฌ๐ช๐ต ๐ด๐ฆ๐ฏ๐ฅ๐ช๐ณ๐ช. ๐๐ฅ๐ข ๐ฑ๐ฆ๐ฏ๐ฅ๐ฆ๐ต๐ข ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ข๐ซ๐ข๐ณ๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฃ๐ข๐ฉ๐ธ๐ข ๐ ๐ฆ๐ด๐ถ๐ด ๐ฃ๐ข๐ฏ๐จ๐ฌ๐ช๐ต ๐ด๐ฆ๐ฏ๐ฅ๐ช๐ณ๐ช. ๐๐ข๐บ๐ข ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ฐ๐ญ๐ข๐ฌ ๐ฑ๐ข๐ฉ๐ข๐ฎ ๐ช๐ฏ๐ช. ๐๐ข๐ฉ๐ข๐ฎ ๐ ๐ฆ๐ด๐ถ๐ด ๐ฃ๐ข๐ฏ๐จ๐ฌ๐ช๐ต ๐ด๐ฆ๐ฏ๐ฅ๐ช๐ณ๐ช ๐ต๐ข๐ฎ๐ฑ๐ข๐ฌ ๐ด๐ข๐ฏ๐จ๐ข๐ต ๐ฉ๐ฆ๐ฃ๐ข๐ต ๐ฅ๐ข๐ฏ ๐ฉ๐ฆ๐ณ๐ฐ๐ช๐ฌ, ๐ต๐ฆ๐ต๐ข๐ฑ๐ช ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ข๐ฏ๐ฅ๐ถ๐ฏ๐จ ๐ฌ๐ฐ๐ฏ๐ด๐ฆ๐ฌ๐ถ๐ฆ๐ฏ๐ด๐ช ๐ฃ๐ข๐ฉ๐ธ๐ข ๐ฌ๐ฆ๐ฎ๐ข๐ต๐ช๐ข๐ฏ ๐ ๐ฆ๐ด๐ถ๐ด ๐ข๐ฅ๐ข๐ญ๐ข๐ฉ ๐ฑ๐ถ๐ณ๐ข-๐ฑ๐ถ๐ณ๐ข ๐ฅ๐ข๐ฏ ๐ฅ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ข๐ฏ ๐ฃ๐ฆ๐จ๐ช๐ต๐ถ ๐ต๐ข๐ธ๐ข๐ณ๐ข๐ฏ ๐ฌ๐ฆ๐ด๐ฆ๐ญ๐ข๐ฎ๐ข๐ต๐ข๐ฏ-๐๐บ๐ข ๐ซ๐ถ๐จ๐ข ๐ฑ๐ถ๐ณ๐ข-๐ฑ๐ถ๐ณ๐ข.]
Berita pokok itulah yang hendak disampaikan atau dideklarasikan oleh para petulis PB. Siapa aktor utama? Allah Sang Aktor. Allah mengalahkan maut dan membenarkan Yesus yang tidak bersalah itu.
Kebangkitan yang dimaksud oleh petulis PB bukanlah menghidupkan jenazah yang sudah mati (๐ณ๐ฆ๐ด๐ถ๐ด๐ค๐ช๐ต๐ข๐ต๐ช๐ฐ๐ฏ). Kebangkitan yang ๐ณ๐ฆ๐ด๐ถ๐ด๐ค๐ช๐ต๐ข๐ต๐ช๐ฐ๐ฏ merupakan menghidupkan (sementara) orang mati seperti yang biasa dilakukan oleh kedokteran modern dengan alat-kejut jantung. Dalam Injil bisa dibaca mengenai kisah Yesus membangkitkan Lazarus dari kubur.
Persoalan timbul ketika terjadi ketidakpanggahan (๐ช๐ฏ๐ค๐ฐ๐ฏ๐ด๐ช๐ด๐ต๐ฆ๐ฏ๐ค๐บ) penulisan mengenai perjumpaan murid-murid atau pengikut dengan Yesus yang dibangkitkan (selanjutnya saya sebut Yesus-Paska). Maksud saya kisah di kitab yang satu berbeda dengan kitab lainnya sehingga ada ketidakpanggahan dan tidak kronologis. Berbeda halnya dengan berita kematian Yesus yang kesemuanya sama yaitu Yesus mati di kayu salib yang memang saat itu merupakan berita umum di luar teks Alkitab.
Para pakar sejarah PB berpendapat terjadinya ketidakpanggahan itu membuktikan tidak adanya konspirasi, tidak ada rekaan, tidak ada kebohongan. PB mengisahkan pengalaman iman individu-individu yang historis, pengalaman sejarah berjumpa dengan Yesus-Paska.
Pada masa itu pengalaman bertemu dengan orang-orang yang sudah mati merupakan hal lazim. Dikisahkan dalam PB Yesus-Paska berjalan ke Emaus menemani dua orang pengikut Yesus. Setibanya di rumah mereka mengajak “orang asing itu” mampir. Ketika akan santap malam mereka baru menyadari bahwa itu Yesus dan kemudian menghilang. Dikisahkan juga para murid berkumpul di ruangan tertutup karena ketakutan diburu oleh para pemuka agama Yahudi yang berkonspirasi dengan tentara Romawi. Tiba-tiba Yesus nongol hadir di tengah-tengah mereka dan menunjukkan bekas luka paku di tangan Yesus.
Kisah itu mau menyampaikan bahwa Yesus bangkit (๐ณ๐ฆ๐ด๐ถ๐ณ๐ณ๐ฆ๐ค๐ต๐ช๐ฐ๐ฏ), bukan seperti jenazah yang dihidupkan (๐ณ๐ฆ๐ด๐ถ๐ด๐ค๐ช๐ต๐ข๐ต๐ช๐ฐ๐ฏ). Jika Yesus dihidupkan seperti itu, maka sulit untuk menerima Yesus masuk ke dalam ruangan tertutup tanpa melewati pintu atau tiba-tiba menghilang dari pandangan pengikut-pengikut Yesus. Akan tetapi dikisahkan juga Yesus-Paska bersantap bersama dengan murid-murid di tepian Danau Tiberias. Sudah barang tentu ikan bakar yang lezat adalah menu utamanya.
Kepelikan kisah-kisah di atas merupakan paradoks. Sisi satu Yesus bisa muncul dan menghilang seketika, sisi lainnya Yesus menunjukkan tanda fisikal berupa bekas luka tusukan paku salib dan makan-minum bersama dengan para murid. Petulis PB dengan segala keterbatasannya mau menyampaikan secara paradoks bahwa tubuh Yesus-Paska adalah rohaniah sekaligus alamiah. Demikian juga tubuh Yesus sebelum kematian sama sekaligus berbeda dari tubuh Yesus-Paska. Sama ditunjukkan dengan luka di tangan dan di lambung; Berbeda ditunjukkan dengan murid-murid Yesus tidak langsung mengenal Yesus-Paska. Bahasa Jawanya ๐ฑ๐ข๐ฏ๐จ๐ญ๐ช๐ฏ๐จ.
Teks-teks PB yang memberitakan Yesus yang makan dan minum serta menghilang lagi itu merupakan metafor-metafor yang mau menyampaikan, dan mengundang para pembaca serta pendengarnya untuk mengalami berita bahwa Yesus itu, sekalipun sudah mati disalibkan, dibangkitkan (๐ข๐ฏ๐ข๐ด๐ตe๐ฏ๐ข๐ช), dan terus hadir seutuhnya di antara para murid, yakni mereka yang memercayai Yesus. Yesus itu tetap peduli dan berbelarasa kepada mereka.
๐๐ฐ๐ฌ metafor? Jangan merendahkan metafor! Ajaran-ajaran Yesus banyak berupa parabel-parabel yang merupakan metafor yang memberdayakan, membebaskan, dan memanusiakan manusia. Alkitab juga penuh dengan metafor. Allah lebih besar daripada Alkitab. Allah dapat berfirman lewat apa saja termasuk metafor-metafor.
Metafor kebangkitan itu bukan dongeng, melainkan wacana untuk mengungkapkan realitas yang utuh tanpa memisahkan (apalagi memertentangkan!) hal yang subjektif dan objektif. Dalam metafor selalu ada yang kena dan yang tidak kena. Misal, Allah adalah Gunung Batuku. Secara literal Allah bukanlah gunung batu. Jadi, gunung batu ini tidak kena pada Allah. Namun, bagi orang beriman mengalami berlindung di balik gunung batu mereka merasa sangat aman. Gunung batu ini kena pada orang beriman yang berlindung pada Allah.
Metafor Yesus adalah Gembala yang baik bukan berarti Yesus tidak ada. Demikian juga halnya metafor kebangkitan Yesus bukan berarti tidak ada kebangkitan. Kebangkitan Yesus merupakan peristiwa sejarah yang dilakukan Allah pada diri Yesus, bukan pada diri jemaat di dalam narasi PB. Setelah itu apakah orang memercayainya atau tidak memercayainya, hal ini merupakan suatu reaksi atau tanggapan iman terhadap peristiwa Allah membangkitkan Yesus itu.
[Untuk itulah saya pernah mengatakan bahwa orang Kristen dewasa tak membutuhkan bukti historis dan empiris atas kebangkitan Yesus. Hanya orang Kristen ๐ค๐ฉ๐ช๐ญ๐ฅ๐ช๐ด๐ฉ, kolokan, fundamentalis yang mau menelan ๐ฑ๐ด๐ฆ๐ถ๐ฅ๐ฐ-๐ด๐ค๐ช๐ฆ๐ฏ๐ค๐ฆ kebangkitan Yesus sebagai bukti historis dan empiris.]
Metafor-metafor kebangkitan merupakan wacana yang disampaikan untuk mengundang pembaca atau pendengar mengalami realitas kehadiran seutuhnya (spiritual sekaligus fisikal) Yesus-Paska di dalam dunia ini tanpa batas ruang dan waktu: di dalam rumah, di ruang ICU rumah sakit, di kantor, di istana presiden, di dalam makanan, nasi, batagor, pempek, tempe, tahu, petรฉ, pecel, gudhรชg, wรฉdhang rondรฉ, dlsb. yang kita peroleh setiap hari sehingga kita berterimakasih, dan di dalam perjuangan orang-orang tertindas yang berseru kepada Yesus.
Meskipun demikian kehadiran Yesus-Paska di tengah-tengah para murid seperti pedang bermata-dua. Tulisan-tulisan dalam PB yang memuat perjumpaan dengan Yesus-Paska menjadi propaganda politik dan kuasa. Perjumpaan dengan Yesus-Paska menambah wibawa dan kuasa para murid. Para murid bertarung siapa yang paling berpengaruh. Paulus yang bukan murid langsung Yesus mendaku berjumpa dengan Yesus-Paska. Ia bertarung dengan Kefas alias Petrus berebut kewibawaan spiritual sampai-sampai ia mengecam Petrus orang munafik (Gal. 2:11-14). Padahal keempat Injil kanonik mengatakan bahwa orang pertama yang mendapat kabar sekaligus mengabarkan kebangkitan Yesus adalah kaum perempuan, bukan kaum laki-laki.
Di Indonesia masa kini juga kita kerap melihat banyak penginjil atau pendeta mengisahkan bahwa mereka sudah berjumpa dengan Yesus secara pribadi. Untuk apa mereka menyampaikan “perjumpaan” mereka? Untuk apa lagi kalau bukan untuk menambah wibawa! Dengan begitu bisnis agama mereka menjadi laris.
(20042025)(TUS)