Minggu, 20 April 2025

SUDUT PANDANG ๐—Ÿ๐—ถ๐—ธ๐—ฎ-๐—น๐—ถ๐—ธ๐˜‚ ๐—ฃ๐—ฎ๐˜€๐—ธ๐—ฎ: ๐—”๐—ฝ๐—ฎ๐—ธ๐—ฎ๐—ต ๐—ฌ๐—ฒ๐˜€๐˜‚๐˜€ ๐—ฏ๐—ฎ๐—ป๐—ด๐—ธ๐—ถ๐˜?Serial Paska



SUDUT PANDANG ๐—Ÿ๐—ถ๐—ธ๐—ฎ-๐—น๐—ถ๐—ธ๐˜‚ ๐—ฃ๐—ฎ๐˜€๐—ธ๐—ฎ: ๐—”๐—ฝ๐—ฎ๐—ธ๐—ฎ๐—ต ๐—ฌ๐—ฒ๐˜€๐˜‚๐˜€ ๐—ฏ๐—ฎ๐—ป๐—ด๐—ธ๐—ถ๐˜?Serial Paska

Tidak ada hari raya Kristen yang lebih besar daripada Paska. Jantung iman Kristen terletak pada Paska. Hari Raya Paska menjadi titik berangkat hari-hari raya lain. Tidak ada Paska berarti tidak ada kekristenan. Umat Kristen pergi ke kebaktian atau misa Minggu karena pada dasarnya merayakan Paska, kebangkitan Kristus.

Pada Jumat Agung kemarin saya menjelaskan kematian Yesus adalah faktual-historis. Bagaimana dengan kebangkitan Yesus? Apakah ini merupakan faktual-historis? Di sinilah peliknya.

Belum ditemukan sumber-sumber sejarah otentik mengenai kebangkitan Yesus di luar kekristenan. Satu-satunya sumber mengenai kebangkitan adalah dokumen Perjanjian Baru (PB). Walau PB bukan dokumen sejarah, namun teks-teks itu dapat dikaji (satu di antaranya) melalui kritik naratif. Tentu saja teks dibaca dikaitkan dengan kehidupan sosio-politik yang mengitari teks itu.

Dunia sastra saat itu memahami gagasan bahwa orang baik dan bijaksana yang sudah membawa perubahan besar banyak orang akan dibinasakan oleh musuh-musuhnya. Namun Allah tidak akan tinggal diam. Allah akan membangkitan orang yang tidak berdosa itu. Dengan latar belakang itu dapatlah dipahami berita tentang kebangkitan Yesus dalam keempat Injil itu dimaksudkan untuk menyatakan bahwa Yesus adalah korban yang dibenarkan oleh Allah, dibela oleh Allah, dan Allah membangkitkan Yesus dari antara orang mati. Allah telah menggagalkan kekejian para pembenci Yesus. 

[๐˜ˆ๐˜ญ๐˜ฌ๐˜ช๐˜ต๐˜ข๐˜ฃ ๐˜—๐˜‰ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ฆ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ต ๐˜ ๐˜ฆ๐˜ด๐˜ถ๐˜ด ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฌ๐˜ช๐˜ต ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ด๐˜ช๐˜ง. ๐˜ ๐˜ฆ๐˜ด๐˜ถ๐˜ด ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฌ๐˜ช๐˜ต๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฐ๐˜ญ๐˜ฆ๐˜ฉ ๐˜ˆ๐˜ญ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ. ๐˜ ๐˜ฆ๐˜ด๐˜ถ๐˜ด ๐˜ต๐˜ช๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฌ๐˜ช๐˜ต ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ณ๐˜ช. ๐˜ˆ๐˜ฅ๐˜ข ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ต๐˜ข ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ซ๐˜ข๐˜ณ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ธ๐˜ข ๐˜ ๐˜ฆ๐˜ด๐˜ถ๐˜ด ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฌ๐˜ช๐˜ต ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ณ๐˜ช. ๐˜š๐˜ข๐˜บ๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ฐ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฎ ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช. ๐˜—๐˜ข๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฎ ๐˜ ๐˜ฆ๐˜ด๐˜ถ๐˜ด ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฌ๐˜ช๐˜ต ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ณ๐˜ช ๐˜ต๐˜ข๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ด๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ต ๐˜ฉ๐˜ฆ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ต ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฉ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฐ๐˜ช๐˜ฌ, ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ต๐˜ข๐˜ฑ๐˜ช ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฌ๐˜ฐ๐˜ฏ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ถ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ด๐˜ช ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ธ๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ต๐˜ช๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ ๐˜ฆ๐˜ด๐˜ถ๐˜ด ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฑ๐˜ถ๐˜ณ๐˜ข-๐˜ฑ๐˜ถ๐˜ณ๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜จ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ ๐˜ต๐˜ข๐˜ธ๐˜ข๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ข๐˜ต๐˜ข๐˜ฏ-๐˜•๐˜บ๐˜ข ๐˜ซ๐˜ถ๐˜จ๐˜ข ๐˜ฑ๐˜ถ๐˜ณ๐˜ข-๐˜ฑ๐˜ถ๐˜ณ๐˜ข.]

Berita pokok itulah yang hendak disampaikan atau dideklarasikan oleh para petulis PB. Siapa aktor utama? Allah Sang Aktor. Allah mengalahkan maut dan membenarkan Yesus yang tidak bersalah itu.
Kebangkitan yang dimaksud oleh petulis PB bukanlah menghidupkan jenazah yang sudah mati (๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ด๐˜ถ๐˜ด๐˜ค๐˜ช๐˜ต๐˜ข๐˜ต๐˜ช๐˜ฐ๐˜ฏ). Kebangkitan yang ๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ด๐˜ถ๐˜ด๐˜ค๐˜ช๐˜ต๐˜ข๐˜ต๐˜ช๐˜ฐ๐˜ฏ merupakan menghidupkan (sementara) orang mati seperti yang biasa dilakukan oleh kedokteran modern dengan alat-kejut jantung. Dalam Injil bisa dibaca mengenai kisah Yesus membangkitkan Lazarus dari kubur.

Persoalan timbul ketika terjadi ketidakpanggahan (๐˜ช๐˜ฏ๐˜ค๐˜ฐ๐˜ฏ๐˜ด๐˜ช๐˜ด๐˜ต๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ค๐˜บ) penulisan mengenai perjumpaan murid-murid atau pengikut dengan Yesus yang dibangkitkan (selanjutnya saya sebut Yesus-Paska). Maksud saya kisah di kitab yang satu berbeda dengan kitab lainnya sehingga ada ketidakpanggahan dan tidak kronologis. Berbeda halnya dengan berita kematian Yesus yang kesemuanya sama yaitu Yesus mati di kayu salib yang memang saat itu merupakan berita umum di luar teks Alkitab.

Para pakar sejarah PB berpendapat terjadinya ketidakpanggahan itu membuktikan tidak adanya konspirasi, tidak ada rekaan, tidak ada kebohongan. PB mengisahkan pengalaman iman individu-individu yang historis, pengalaman sejarah berjumpa dengan Yesus-Paska. 

Pada masa itu pengalaman bertemu dengan orang-orang yang sudah mati merupakan hal lazim. Dikisahkan dalam PB Yesus-Paska berjalan ke Emaus menemani dua orang pengikut Yesus. Setibanya di rumah mereka mengajak “orang asing itu” mampir. Ketika akan santap malam mereka baru menyadari bahwa itu Yesus dan kemudian menghilang. Dikisahkan juga para murid berkumpul di ruangan tertutup karena ketakutan diburu oleh para pemuka agama Yahudi yang berkonspirasi dengan tentara Romawi. Tiba-tiba Yesus nongol hadir di tengah-tengah mereka dan menunjukkan bekas luka paku di tangan Yesus. 

Kisah itu mau menyampaikan bahwa Yesus bangkit (๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ด๐˜ถ๐˜ณ๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ค๐˜ต๐˜ช๐˜ฐ๐˜ฏ), bukan seperti jenazah yang dihidupkan (๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ด๐˜ถ๐˜ด๐˜ค๐˜ช๐˜ต๐˜ข๐˜ต๐˜ช๐˜ฐ๐˜ฏ). Jika Yesus dihidupkan seperti itu, maka sulit untuk menerima Yesus masuk ke dalam ruangan tertutup tanpa melewati pintu atau tiba-tiba menghilang dari pandangan pengikut-pengikut Yesus. Akan tetapi dikisahkan juga Yesus-Paska bersantap bersama dengan murid-murid di tepian Danau Tiberias. Sudah barang tentu ikan bakar yang lezat adalah menu utamanya.

Kepelikan kisah-kisah di atas merupakan paradoks. Sisi satu Yesus bisa muncul dan menghilang seketika, sisi lainnya Yesus menunjukkan tanda fisikal berupa bekas luka tusukan paku salib dan makan-minum bersama dengan para murid. Petulis PB dengan segala keterbatasannya mau menyampaikan secara paradoks bahwa tubuh Yesus-Paska adalah rohaniah sekaligus alamiah. Demikian juga tubuh Yesus sebelum kematian sama sekaligus berbeda dari tubuh Yesus-Paska. Sama ditunjukkan dengan luka di tangan dan di lambung; Berbeda ditunjukkan dengan murid-murid Yesus tidak langsung mengenal Yesus-Paska. Bahasa Jawanya ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ญ๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ.

Teks-teks PB yang memberitakan Yesus yang makan dan minum serta menghilang lagi itu merupakan metafor-metafor yang mau menyampaikan, dan mengundang para pembaca serta pendengarnya untuk mengalami berita bahwa Yesus itu, sekalipun sudah mati disalibkan, dibangkitkan (๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข๐˜ด๐˜ตe๐˜ฏ๐˜ข๐˜ช), dan terus hadir seutuhnya di antara para murid, yakni mereka yang memercayai Yesus. Yesus itu tetap peduli dan berbelarasa kepada mereka.

๐˜’๐˜ฐ๐˜ฌ metafor? Jangan merendahkan metafor! Ajaran-ajaran Yesus banyak berupa parabel-parabel yang merupakan metafor yang memberdayakan, membebaskan, dan memanusiakan manusia. Alkitab juga penuh dengan metafor. Allah lebih besar daripada Alkitab. Allah dapat berfirman lewat apa saja termasuk metafor-metafor.

Metafor kebangkitan itu bukan dongeng, melainkan wacana untuk mengungkapkan realitas yang utuh tanpa memisahkan (apalagi memertentangkan!) hal yang subjektif dan objektif. Dalam metafor selalu ada yang kena dan yang tidak kena. Misal, Allah adalah Gunung Batuku. Secara literal Allah bukanlah gunung batu. Jadi, gunung batu ini tidak kena pada Allah. Namun, bagi orang beriman mengalami berlindung di balik gunung batu mereka merasa sangat aman. Gunung batu ini kena pada orang beriman yang berlindung pada Allah.

Metafor Yesus adalah Gembala yang baik bukan berarti Yesus tidak ada. Demikian juga halnya metafor kebangkitan Yesus bukan berarti tidak ada kebangkitan. Kebangkitan Yesus merupakan peristiwa sejarah yang dilakukan Allah pada diri Yesus, bukan pada diri jemaat di dalam narasi PB. Setelah itu apakah orang memercayainya atau tidak memercayainya, hal ini merupakan suatu reaksi atau tanggapan iman terhadap peristiwa Allah membangkitkan Yesus itu. 

[Untuk itulah saya pernah mengatakan bahwa orang Kristen dewasa tak membutuhkan bukti historis dan empiris atas kebangkitan Yesus. Hanya orang Kristen ๐˜ค๐˜ฉ๐˜ช๐˜ญ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ด๐˜ฉ, kolokan, fundamentalis yang mau menelan ๐˜ฑ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ถ๐˜ฅ๐˜ฐ-๐˜ด๐˜ค๐˜ช๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ค๐˜ฆ kebangkitan Yesus sebagai bukti historis dan empiris.]

Metafor-metafor kebangkitan merupakan wacana yang disampaikan untuk mengundang pembaca atau pendengar mengalami realitas kehadiran seutuhnya (spiritual sekaligus fisikal) Yesus-Paska di dalam dunia ini tanpa batas ruang dan waktu: di dalam rumah, di ruang ICU rumah sakit, di kantor, di istana presiden, di dalam makanan, nasi, batagor, pempek, tempe, tahu, petรฉ, pecel, gudhรชg, wรฉdhang rondรฉ, dlsb. yang kita peroleh setiap hari sehingga kita berterimakasih, dan di dalam perjuangan orang-orang tertindas yang berseru kepada Yesus.

Meskipun demikian kehadiran Yesus-Paska di tengah-tengah para murid seperti pedang bermata-dua. Tulisan-tulisan dalam PB yang memuat perjumpaan dengan Yesus-Paska menjadi propaganda politik dan kuasa. Perjumpaan dengan Yesus-Paska menambah wibawa dan kuasa para murid. Para murid bertarung siapa yang paling berpengaruh. Paulus yang bukan murid langsung Yesus mendaku berjumpa dengan Yesus-Paska. Ia bertarung dengan Kefas alias Petrus berebut kewibawaan spiritual sampai-sampai ia mengecam Petrus orang munafik (Gal. 2:11-14). Padahal keempat Injil kanonik mengatakan bahwa orang pertama yang mendapat kabar sekaligus mengabarkan kebangkitan Yesus adalah kaum perempuan, bukan kaum laki-laki. 

Di Indonesia masa kini juga kita kerap melihat banyak penginjil atau pendeta mengisahkan bahwa mereka sudah berjumpa dengan Yesus secara pribadi. Untuk apa mereka menyampaikan “perjumpaan” mereka? Untuk apa lagi kalau bukan untuk menambah wibawa! Dengan begitu bisnis agama mereka menjadi laris.

(20042025)(TUS)

Sudut Pandang Ucapan Bahagia

Sudut Pandang Ucapan Bahagia PENGANTAR Memang, kita harus melihat dengan sudut pandang berbeda pada Alkitab, dengan fenomena tafsir lama, te...