Kamis, 22 Mei 2025

Sudut Pandang Fundamentalisme yang bingung pada premis tentang Roh Kudus

Sudut Pandang Fundamentalisme yang bingung pada premis tentang Roh Kudus

PENGANTAR
Saya bukan ahli liturgi, hanya peminat liturgi, bidang ilmu yang kurang laku di kalangan Protestan. Saya suka belajar kepada ahlinya. Dan, tidak bisa tidak karena mendalami sejarah, sastra dan arkeologi Alkitab, liturgi menjadi salah satu unsur nya. Pada akhir tahun lalu selama dua hari  saya mengikuti 𝘚𝘦𝘮𝘪𝘯𝘢𝘳 𝘉𝘦𝘥𝘢𝘩 𝘉𝘶𝘬𝘶 𝙀𝙠𝙖𝙧𝙞𝙨𝙩𝙞: 𝙋𝙚𝙣𝙙𝙖𝙡𝙖𝙢𝙖𝙣 𝘽𝙞𝙗𝙡𝙞𝙨, 𝙏𝙚𝙤𝙡𝙤𝙜𝙞𝙨, 𝙙𝙖𝙣 𝙈𝙖𝙜𝙞𝙨𝙩𝙚𝙧𝙞𝙖𝙡 dengan pembicara/pengajar tunggal Rm. Prof. E. Martasudjita, Pr. Acara diselenggarakan di Gereja Katolik St. Paulus Miki, oleh Seksi Katekese. Rama [baca: romo] mengajar sangat piawai dan menyegarkan. Banyak ilustrasi yang tidak ada di buku disampaikan oleh rama dengan sederhana dan jenaka. Dalam acara seperti ini saya selalu berusaha duduk di depan dengan tujuan biar kena potret...wk .... Wk, hanya selingan, mari masuk ke pengantar tulisan. Perbedaan kronologi dan isi cerita Injil memang menjadi masalah besar bagi kaum fundamentalis yang ingin membela ideologi ineransi (ketidak bersalahan Alkitab): laporan petulis Injil tidak memiliki kesalahan dalam hal apa pun. Jika kaum fundamentalis terdesak tidak dapat menjelaskan perbedaan latar waktu penyaliban Yesus di kitab-kitab Injil, mereka akan berujar: itu bukan perbedaan, itu saling melengkapi. 
Kalau argumen mereka bahwa cerita-cerita Injil saling melengkapi, saya berikan contoh mengenai pengutusan atau pencurahan Roh Kudus.
PEMAHAMAN 
𝗕𝗲𝗿𝗮𝗻𝗶𝗸𝗮𝗵 Kaum Fundamentalis 𝗕𝗲𝗿𝗸𝗵𝗼𝘁𝗯𝗮𝗵: 𝗬𝗲𝘀𝘂𝘀 𝙐𝙙𝙖𝙝 𝗕𝗮𝗹𝗶𝗸 𝗟𝗮𝗴𝗶 𝗦𝗲𝘁𝗲𝗹𝗮𝗵 𝗡𝗮𝗶𝗸?
Pentakosta,  24 Mei 2026, Yohanes 20:19-23

Selama ini banyak umat Kristen memahami Pentakosta versi 𝘒𝘪𝘴𝘢𝘩 𝘗𝘢𝘳𝘢 𝘙𝘢𝘴𝘶𝘭: Yesus bangkit → 40 hari bersama dengan para murid → naik ke surga → 10 hari kemudian Roh Kudus tercurah → Yesus belum balik lagi sampai akhir zaman. Titik.

Masalahnya, bacaan Injil untuk Pentakosta yang diambil dari Yohanes 20:19-23. Ceritanya berbeda total.

Di sini hari Minggu Paska malam Yesus berdiri di tengah murid yang ketakutan. Ia mengembusi mereka dan berkata, “𝘛𝘦𝘳𝘪𝘮𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘙𝘰𝘩 𝘒𝘶𝘥𝘶𝘴.” (ay. 22) Roh Kudus langsung diberikan. Hari itu juga. Pemberian itu sesuai dengan kronologi Yohanes 16:7 bahwa 𝘗𝘢𝘳𝘢𝘬𝘭𝘦𝘵𝘰𝘴 akan diberikan sesudah Yesus pergi kepada Bapa-Nya.

Masalahnya, kapan Yesus pergi kepada Bapa?

Pagi pada hari yang sama Yesus bilang kepada Maria Magdalena, “𝘑𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯𝘭𝘢𝘩 𝘦𝘯𝘨𝘬𝘢𝘶 𝘮𝘦𝘮𝘦𝘨𝘢𝘯𝘨 𝘈𝘬𝘶, 𝘴𝘦𝘣𝘢𝘣 𝘈𝘬𝘶 𝘣𝘦𝘭𝘶𝘮 𝘱𝘦𝘳𝘨𝘪 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘉𝘢𝘱𝘢 ... “ (Yoh. 20:17)

Pagi: BELUM pergi.
Malam: SUDAH memberi Roh Kudus

Kesimpulan 𝘯𝘨𝘨𝘢𝘬 bisa ditolak: Di antara Yohanes 20:17 dan Yohanes 20:22, Yesus naik ke Bapa, lalu turun lagi menemui murid untuk mengembusi Roh Kudus.

Jadi, pertanyaan untuk mimbar Minggu ini: Beranikah pendeta berkhotbah bahwa Yesus bangkit, naik ke surga, lalu turun dari surga pada hari itu juga untuk memberi Roh Kudus?

Kalau cuma berani khotbah versi 𝘠𝘦𝘴𝘶𝘴 𝘮𝘢𝘴𝘪𝘩 𝘥𝘪 𝘴𝘶𝘳𝘨𝘢, 𝘣𝘦𝘭𝘶𝘮 𝘣𝘢𝘭𝘪𝘬-𝘣𝘢𝘭𝘪𝘬, berarti mimbarmu cuma baca 𝘒𝘪𝘴𝘢𝘩 𝘗𝘢𝘳𝘢 𝘙𝘢𝘴𝘶𝘭. Padahal Injil Yohanes bilang: Dia sudah balik. Malam itu juga. Bawa napas hidup buat Gereja-Nya.

Yang kita tunggu sekarang bukan kedatangan-Nya kembali. Yang kita tunggu adalah keberanian Gereja untuk hidup dari embusan-Nya yang pertama.

Versi Injil Lukas dan Kisah Para Rasul

▶ Yesus akan mengutus Roh Kudus sesudah Ia terangkat ke surga (Luk. 24:49; Kis. 1:8).
▶ Yesus terangkat ke surga (Luk. 24:51; Kis. 1:9)
▶ Roh Kudus dicurahkan pada Hari Pentakosta atau Perayaan Panen Yahudi (Kis. 2:1-4).
▶ Yesus tidak hadir. Yesus akan hadir nanti saat parousia yang kita sendiri sampai sekarang tidak tahu waktunya.

Versi Injil Yohanes

▶ Yesus akan mengutus Roh Kudus sesudah Ia sampai ke rumah Bapa (Yoh. 14:16-17)
▶ Sesudah Ia bangkit, Yesus pergi ke rumah Bapa (Yoh. 20:17)
▶ Yesus datang dan menampakkan diri kepada para murid dan memberi Roh Kudus (Yoh. 20:22).
▶ Yesus sendiri hadir dan memberi Roh Kudus, bahkan petulis berikutnya mengisahkan sesudah peristiwa pengembusan Roh Kudus, Yesus makan ikan bakar bersama dengan murid-murid-Nya di tepian Danau Tiberas (Yoh. 21).

Kaum fundamentalis tentu bingung sendiri untuk mengharmoniskan dua kisah di atas apabila dalih mereka bahwa perbedaan itu untuk saling melengkapi.
 
Bagi umat Kristen beriman dewasa kisah-kisah teologis di atas adalah berkat, kekayaan iman. Kitab-kitab Injil aslinya ditulis bukan untuk orang-orang Kristen Indonesia. Kitab Injil ditujukan kepada jemaat para petulis Injil masing-masing untuk menjawab pergulatan iman mereka: mengapa Sang Mesias mati?
Setiap jemaat memiliki pergulatan sendiri-sendiri. Pergulatan Jemaat Lukas tentu berbeda dari pergulatan Jemaat Yohanes. Kita beruntung menerima pelbagai kisah teologis sehingga kita tahu bahwa setiap orang memiliki pergumulan yang berbeda, tidak seragam. Ada banyak titik pandang mengenai Yesus, Sang Mesias, sehingga cara pelayanan Yesus pun beraneka ragam.

Injil Lukas memberi tempat istimewa bagi orang-orang marginal. Lukas juga memberikan standar orang Kristen kaya yang ideal. Sila kaya, tetapi harus peduli kepada kaum pinggiran. 

Matius berbeda lagi. Jemaat Matius sudah mapan. Banyak intrik di dalam Jemaat. Orang berlomba menjadi pejabat Gereja. Matius tidak melarang itu, tetapi mereka harus melayani. Melayani berarti sadar bahwa majikan para pejabat Gereja itu adalah Jemaat. Dalam kenyataan di Gereja modern saat ini sering terjadi pemimpin gereja adalah bos atau orang-orang kaya adalah majikan para pemimpin gereja.
Kembali ke cerita, tentang saya mengikuti seminar bedah buku Rm. Prof.E. Martasudjita,Pr. Seperti yang sudah saya sampaikan bahwa pada akhir tahun lalu selama dua hari (Sabtu dan Minggu) saya mengikuti 𝘚𝘦𝘮𝘪𝘯𝘢𝘳 𝘉𝘦𝘥𝘢𝘩 𝘉𝘶𝘬𝘶 𝙀𝙠𝙖𝙧𝙞𝙨𝙩𝙞: 𝙋𝙚𝙣𝙙𝙖𝙡𝙖𝙢𝙖𝙣 𝘽𝙞𝙗𝙡𝙞𝙨, 𝙏𝙚𝙤𝙡𝙤𝙜𝙞𝙨, 𝙙𝙖𝙣 𝙈𝙖𝙜𝙞𝙨𝙩𝙚𝙧𝙞𝙖𝙡 dengan pembicara/pengajar tunggal Rm. Prof. E. Martasudjita, Pr. Saya sendiri belum pernah bertemu secara fisikal dengan Rm. Martasudjita. Hanya beberapa kali 𝘤𝘩𝘢𝘵 lewat WA. Saya juga tidak tahu ada acara di atas. 𝘒𝘰𝘬 saya bisa tahu dan datang?
Pada malam beberapa hari sebelum acara masuk pesan WA dari Rm. Martasudjita kepada saya. Beliau secara pribadi mengundang saya untuk hadir. Saya sampai 𝘯𝘨𝘶𝘤𝘦𝘬-𝘯𝘨𝘶𝘤𝘦𝘬 mata membaca layar HP. Tidak percaya. Saya ini siapa? Hanya warga awam Protestan. Bukan siapa-siapa. 𝘐’𝘮 𝘯𝘰𝘣𝘰𝘥𝘺. Namun, malam itu seorang 𝗲𝗺𝗽𝘂 𝗹𝗶𝘁𝘂𝗿𝗴𝗶 𝗞𝗮𝘁𝗼𝗹𝗶𝗸 Indonesia mengingat saya dan mengundang saya datang.
Saya langsung sadar: kesempatan seperti ini tidak datang dua kali. Saya datang bukan sekadar menghadiri seminar, melainkan untuk duduk dekat sumber mata air yang selama ini saya minum melalui buku-bukunya. Selama dua hari saya mendengar langsung cara beliau berpikir, mengajar, bercanda, menjelaskan liturgi dengan hidup. Saya pulang dengan hati penuh syukur. Kadang kebahagiaan terbesar seorang pembelajar bukan ketika ia dikenal oleh banyak orang, bukan sama sekali, tetapi ketika ia diingat oleh gurunya.

(22052025)(TUS)

Sudut Pandang Pengelolaan Progam Kerja Gereja

Sudut Pandang Pengelolaan Progam Kerja Gereja PENGANTAR DALAM SEBUAH diskusi kecil sy bbrp kali menyuarakan betapa "enaknya" garap...