Tahun C atau yang dikenal sebagai Tahun Lukas akan berakhir pada 23 November 2025. Sejak Minggu ini sampai akhir Tahun C bacaan ekumenis (RCL) menarasikan perjalanan panjang Yesus dari Galilea sampai Ia disalib di Yerusalem (Luk. 9:51 – 23:43).
Bagian Injil Lukas yang dibaca sepanjang sisa Tahun C secara tematik setiap Minggu berisi aneka kisah, perumpamaan, dialog, dlsb. yang dikumpulkan dan dibingkai oleh petulis Lukas dalam suatu 𝘱𝘦𝘳𝘫𝘢𝘭𝘢𝘯𝘢𝘯 atau yang dikenal sebagai 𝘑𝘰𝘶𝘳𝘯𝘦𝘺 𝘕𝘢𝘳𝘢𝘵𝘪𝘷𝘦. Tujuan Lukas ialah untuk memerkenalkan Yesus (kristologi) dan Gereja (eklesiologi) dalam diri orang-orang yang mengikuti Yesus dalam perjalanan-Nya ke Yerusalem.
Gereja yang tidak menerapkan RCL akan merugi. Inilah bagian kurikulum bagi Gereja untuk mengajar umat mengenai Kristus dan Gereja secara serba cakup.
Bacaan ekumenis untuk Minggu ini diambil dari Lukas 9:51-62 yang didahului dengan 1Raja-raja 19:15-16, 19-21, Mazmur 16, dan Galatia 5:1, 13-25.
𝘒𝘦𝘵𝘪𝘬𝘢 𝘩𝘢𝘮𝘱𝘪𝘳 𝘨𝘦𝘯𝘢𝘱 𝘸𝘢𝘬𝘵𝘶𝘯𝘺𝘢 𝘠𝘦𝘴𝘶𝘴 𝘥𝘪𝘢𝘯𝘨𝘬𝘢𝘵 𝘬𝘦 𝘴𝘶𝘳𝘨𝘢, 𝘐𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘮𝘣𝘪𝘭 𝘬𝘦𝘱𝘶𝘵𝘶𝘴𝘢𝘯 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘱𝘦𝘳𝘨𝘪 𝘬𝘦 𝘠𝘦𝘳𝘶𝘴𝘢𝘭𝘦𝘮. (ay. 51) 𝘐𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘪𝘳𝘪𝘮 𝘣𝘦𝘣𝘦𝘳𝘢𝘱𝘢 𝘶𝘵𝘶𝘴𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘥𝘢𝘩𝘶𝘭𝘶𝘪-𝘕𝘺𝘢. 𝘔𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘪𝘵𝘶 𝘱𝘦𝘳𝘨𝘪, 𝘭𝘢𝘭𝘶 𝘮𝘢𝘴𝘶𝘬 𝘬𝘦 𝘴𝘶𝘢𝘵𝘶 𝘥𝘦𝘴𝘢 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘚𝘢𝘮𝘢𝘳𝘪𝘢 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘮𝘦𝘮𝘦𝘳𝘴𝘪𝘢𝘱𝘬𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘨𝘢𝘭𝘢 𝘴𝘦𝘴𝘶𝘢𝘵𝘶 𝘣𝘢𝘨𝘪-𝘕𝘺𝘢. (ay. 52)
Menurut teologi Yohanes pemuliaan Yesus dimula sejak sengsara atau penderitaan Yesus. Dalam pada itu menurut Injil Lukas pemuliaan Yesus dimula sejak kenaikan atau pengangkatan-Nya. Dengan kata lain menurut Injil Lukas secara resmi Yesus disebut Mesias sesudah Yesus dibangkitkan oleh Allah dari kematian (bdk. Kis. 2:32-36).
Dalam ayat 51 terdapat kata 𝘢𝘯𝘢𝘭𝘦̄𝘮𝘱𝘴𝘦𝘰̄𝘴 yang berarti literal 𝘱𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯𝘨𝘬𝘢𝘵𝘢𝘯. Dalam seluruh Injil kata ini hanya digunakan dalam ayat 51. Kata 𝘱𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯𝘨𝘬𝘢𝘵𝘢𝘯 ini bukan pengangkatan Yesus di tiang salib (tidak seperti peninggian Yesus dalam Injil Yohanes) atau pengangkatan Yesus ke surga, melainkan seluruh proses peralihan-Nya dari bumi kepada Bapa di surga melalui kematian, penguburan, dan pemuliaan Yesus.
Frase pembuka ayat 51 terkesan muncul tiba-tiba, mendadak. Lukas tampaknya sengaja untuk menyentak pembaca Injilnya. Lukas hendak memerkenal Yesus/ secara baru, yang menyadari tujuan hidup-Nya. Yesus secara mantap memutuskan pergi ke Yerusalem untuk memertanggungjawabkan seluruh ajaran, karya-Nya, dan sekaligus berhadapan dengan penduduk Yerusalem sebagai nabi yang mengingatkan mereka akan kehancuran Yerusalem (lih. Luk. 19:41-46).
Eksodus atau perjalanan Yesus ke Yerusalem yang sudah dibicarakan oleh Musa dan Elia (lih. Luk. 9:31) dimula. Yesus mengirim beberapa utusan mendahului-Nya yang melewati desa orang-orang Samaria.
Untuk kali kesatu Lukas menyebut 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘚𝘢𝘮𝘢𝘳𝘪𝘢 (ay. 52). Lukas tiga kali berkisah mengenai orang Samaria dalam Injilnya (lih. Luk. 10:25-37; 17:11-19). Itu berarti Lukas menaruh perhatian istimewa kepada orang-orang bukan-Yahudi untuk menegaskan bahwa keselamatan bersifat universal.
𝘕𝘢𝘮𝘶𝘯, 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨-𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘚𝘢𝘮𝘢𝘳𝘪𝘢 𝘪𝘵𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘮𝘢𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘦𝘳𝘪𝘮𝘢 𝘋𝘪𝘢, 𝘬𝘢𝘳𝘦𝘯𝘢 𝘬𝘦𝘱𝘶𝘵𝘶𝘴𝘢𝘯-𝘕𝘺𝘢 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘱𝘦𝘳𝘨𝘪 𝘬𝘦 𝘠𝘦𝘳𝘶𝘴𝘢𝘭𝘦𝘮. (ay. 53) 𝘒𝘦𝘵𝘪𝘬𝘢 𝘥𝘶𝘢 𝘮𝘶𝘳𝘪𝘥-𝘕𝘺𝘢, 𝘺𝘢𝘪𝘵𝘶 𝘠𝘢𝘬𝘰𝘣𝘶𝘴 𝘥𝘢𝘯 𝘠𝘰𝘩𝘢𝘯𝘦𝘴, 𝘮𝘦𝘭𝘪𝘩𝘢𝘵 𝘩𝘢𝘭 𝘪𝘵𝘶, 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘣𝘦𝘳𝘬𝘢𝘵𝘢, “𝘛𝘶𝘩𝘢𝘯, 𝘢𝘱𝘢𝘬𝘢𝘩 𝘌𝘯𝘨𝘬𝘢𝘶 𝘮𝘢𝘶 𝘴𝘶𝘱𝘢𝘺𝘢 𝘬𝘢𝘮𝘪 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘶𝘳𝘶𝘩 𝘢𝘱𝘪 𝘵𝘶𝘳𝘶𝘯 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘭𝘢𝘯𝘨𝘪𝘵 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘪𝘯𝘢𝘴𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢?’ (ay. 54) 𝘛𝘦𝘵𝘢𝘱𝘪 𝘐𝘢 𝘣𝘦𝘳𝘱𝘢𝘭𝘪𝘯𝘨 𝘥𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘦𝘨𝘶𝘳 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢. (𝘢𝘺. 55) 𝘓𝘢𝘭𝘶 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘱𝘦𝘳𝘨𝘪 𝘬𝘦 𝘥𝘦𝘴𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘭𝘢𝘪𝘯. (ay. 56)
Perseteruan orang Yahudi dan Samaria sudah berlangsung berabad-abad. Padahal mereka sebelumnya satu entitas dalam Kerajaan Israel Bersatu: Yehuda dan Israel Utara. Israel Utara (Samaria) takluk pada Asiria pada 721 SZB dan tinggal Kerajaan Yehuda yang masih bertahan. Rakyat Israel Utara bercampur baur dengan orang-orang Asiria sehingga sejalan dengan waktu sudah sulit menunjukkan jatidiri mereka. Itu satu penyebab belakangan orang-orang Yahudi membenci orang-orang Samaria.
Kerajaan Yehuda akhirnya juga tumbang. Kuil Agung atau Bait Allah kebanggaan mereka dihancurkan oleh pasukan Nebukadnezar. Orang-orang Yehuda dibuang ke Babilonia pada masa 586 - 538 SZB. Raja Koresh dari Persia kemudian mengalahkan Nebukadnezar dan membebaskan orang-orang Yehuda untuk kembali ke kampung halaman mereka. Yahudi merujuk orang-orang Yehuda pasca-pembuangan. Mereka mendirikan lagi Bait Allah sebagai pusat kehidupan orang-orang Yehuda secara sosio-politik, ekonomi, dan tentu saja agama. Pada masa inilah ke-𝘠𝘢𝘩𝘶𝘥𝘪-an (Yudaisme) mula menjadi suatu gaya hidup baru yang berbeda dari keagamaan sebelumnya.
Itu sebabnya Yohanes dan Yakobus, yang ditolak oleh orang Samaria, hendak membalas dendam dengan menurunkan api dari langit membinasakan orang Samaria (ay. 53-54). Tampaknya mereka mau meniru Nabi Elia yang membinasakan pasukan Raja Ahazia dari Samaria (lih. 2Raj. 1:1-18). Namun Yesus bukanlah Nabi Elia yang sadis. Yesus menegur Yohanes dan Yakobus. Yesus datang untuk menyelamatkan termasuk orang Samaria, bukan membinasakan secara brutal seperti yang dilakukan oleh Nabi Elia.
Dalam teologi Lukas tokoh orang Samaria itu mewakili orang-orang bukan-Yahudi. Keselamatan dari Allah juga diberikan kepada mereka. Ini jelas dalam perintah Yesus dalam Injil Lukas jilid kedua alias Kisah Para Rasul 1:8 “𝘛𝘦𝘵𝘢𝘱𝘪 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘦𝘳𝘪𝘮𝘢 𝘬𝘶𝘢𝘴𝘢, 𝘬𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘙𝘰𝘩 𝘒𝘶𝘥𝘶𝘴 𝘵𝘶𝘳𝘶𝘯 𝘬𝘦 𝘢𝘵𝘢𝘴 𝘬𝘢𝘮𝘶, 𝘥𝘢𝘯 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘴𝘢𝘬𝘴𝘪-𝘒𝘶 𝘥𝘪 𝘠𝘦𝘳𝘶𝘴𝘢𝘭𝘦𝘮 𝘥𝘢𝘯 𝘥𝘪 𝘴𝘦𝘭𝘶𝘳𝘶𝘩 𝘠𝘶𝘥𝘦𝘢 𝘥𝘢𝘯 𝙎𝙖𝙢𝙖𝙧𝙞𝙖 𝘥𝘢𝘯 𝘴𝘢𝘮𝘱𝘢𝘪 𝘬𝘦 𝘶𝘫𝘶𝘯𝘨 𝘣𝘶𝘮𝘪."
𝘒𝘦𝘵𝘪𝘬𝘢 𝘠𝘦𝘴𝘶𝘴 𝘥𝘢𝘯 𝘮𝘶𝘳𝘪𝘥-𝘮𝘶𝘳𝘪𝘥-𝘕𝘺𝘢 𝘮𝘦𝘭𝘢𝘯𝘫𝘶𝘵𝘬𝘢𝘯 𝘱𝘦𝘳𝘫𝘢𝘭𝘢𝘯𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢, 𝘣𝘦𝘳𝘬𝘢𝘵𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘴𝘦𝘴𝘦𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘪 𝘵𝘦𝘯𝘨𝘢𝘩 𝘫𝘢𝘭𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘠𝘦𝘴𝘶𝘴, "𝘈𝘬𝘶 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘪𝘬𝘶𝘵 𝘌𝘯𝘨𝘬𝘢𝘶, 𝘬𝘦 𝘮𝘢𝘯𝘢 𝘴𝘢𝘫𝘢 𝘌𝘯𝘨𝘬𝘢𝘶 𝘱𝘦𝘳𝘨𝘪." 𝘠𝘦𝘴𝘶𝘴 𝘣𝘦𝘳𝘬𝘢𝘵𝘢 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢𝘯𝘺𝘢, "𝘙𝘶𝘣𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘮𝘱𝘶𝘯𝘺𝘢𝘪 𝘭𝘪𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘢𝘯 𝘣𝘶𝘳𝘶𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘮𝘱𝘶𝘯𝘺𝘢𝘪 𝘴𝘢𝘳𝘢𝘯𝘨, 𝘵𝘦𝘵𝘢𝘱𝘪 𝘈𝘯𝘢𝘬 𝘔𝘢𝘯𝘶𝘴𝘪𝘢 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘮𝘦𝘮𝘱𝘶𝘯𝘺𝘢𝘪 𝘵𝘦𝘮𝘱𝘢𝘵 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘮𝘦𝘭𝘦𝘵𝘢𝘬𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘭𝘢-𝘕𝘺𝘢." (ay. 27-58)
𝘓𝘢𝘭𝘶 𝘐𝘢 𝘣𝘦𝘳𝘬𝘢𝘵𝘢 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘴𝘦𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘭𝘢𝘪𝘯, "𝘐𝘬𝘶𝘵𝘭𝘢𝘩 𝘈𝘬𝘶!" 𝘕𝘢𝘮𝘶𝘯, 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘪𝘵𝘶 𝘣𝘦𝘳𝘬𝘢𝘵𝘢, "𝘐𝘻𝘪𝘯𝘬𝘢𝘯𝘭𝘢𝘩 𝘢𝘬𝘶 𝘱𝘦𝘳𝘨𝘪 𝘥𝘢𝘩𝘶𝘭𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘶𝘣𝘶𝘳𝘬𝘢𝘯 𝘣𝘢𝘱𝘢𝘬𝘬𝘶." 𝘠𝘦𝘴𝘶𝘴 𝘣𝘦𝘳𝘬𝘢𝘵𝘢 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢𝘯𝘺𝘢, "𝘉𝘪𝘢𝘳𝘭𝘢𝘩 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘢𝘵𝘪 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘶𝘣𝘶𝘳𝘬𝘢𝘯 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘢𝘵𝘪; 𝘵𝘦𝘵𝘢𝘱𝘪 𝘦𝘯𝘨𝘬𝘢𝘶, 𝘱𝘦𝘳𝘨𝘪𝘭𝘢𝘩 𝘥𝘢𝘯 𝘣𝘦𝘳𝘪𝘵𝘢𝘬𝘢𝘯𝘭𝘢𝘩 𝘒𝘦𝘳𝘢𝘫𝘢𝘢𝘯 𝘈𝘭𝘭𝘢𝘩." (ay. 59-60)
𝘓𝘢𝘭𝘶 𝘴𝘦𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘭𝘢𝘪𝘯 𝘭𝘢𝘨𝘪 𝘣𝘦𝘳𝘬𝘢𝘵𝘢, "𝘈𝘬𝘶 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘪𝘬𝘶𝘵 𝘌𝘯𝘨𝘬𝘢𝘶, 𝘛𝘶𝘩𝘢𝘯, 𝘵𝘦𝘵𝘢𝘱𝘪 𝘪𝘻𝘪𝘯𝘬𝘢𝘯𝘭𝘢𝘩 𝘢𝘬𝘶 𝘱𝘢𝘮𝘪𝘵𝘢𝘯 𝘥𝘢𝘩𝘶𝘭𝘶 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘭𝘶𝘢𝘳𝘨𝘢𝘬𝘶." 𝘠𝘦𝘴𝘶𝘴 𝘣𝘦𝘳𝘬𝘢𝘵𝘢, "𝘚𝘦𝘵𝘪𝘢𝘱 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘪𝘢𝘱 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘢𝘫𝘢𝘬 𝘵𝘦𝘵𝘢𝘱𝘪 𝘮𝘦𝘯𝘰𝘭𝘦𝘩 𝘬𝘦 𝘣𝘦𝘭𝘢𝘬𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘭𝘢𝘺𝘢𝘬 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘒𝘦𝘳𝘢𝘫𝘢𝘢𝘯 𝘈𝘭𝘭𝘢𝘩." (ay. 61-62)
Dalam perikop Lukas 9:57-62 di atas ada tiga sosok cerita selain Yesus. Sosok kesatu mengatakan, “𝘈𝘬𝘶 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘪𝘬𝘶𝘵 𝘌𝘯𝘨𝘬𝘢𝘶, 𝘬𝘦 𝘮𝘢𝘯𝘢 𝘴𝘢𝘫𝘢 𝘌𝘯𝘨𝘬𝘢𝘶 𝘱𝘦𝘳𝘨𝘪.” (ay. 57) Yesus mengingatkan sosok kesatu bahwa mengikuti-Nya itu tidak enak, tidak nyaman, dan tidak aman hidupnya. Yesus membandingkan hidup-Nya dengan hewan rubah dan burung yang nyaman dan aman karena punya liang dan sarang. Yesus tidak punya rumah menurut narasi Injil Lukas.
Sosok kedua hendak turut Yesus, tetapi ia minta izin menguburkan ayahnya dahulu. Yesus menjawab sosok kedua, "𝘉𝘪𝘢𝘳𝘭𝘢𝘩 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘢𝘵𝘪 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘶𝘣𝘶𝘳𝘬𝘢𝘯 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘢𝘵𝘪; 𝘵𝘦𝘵𝘢𝘱𝘪 𝘦𝘯𝘨𝘬𝘢𝘶, 𝘱𝘦𝘳𝘨𝘪𝘭𝘢𝘩 𝘥𝘢𝘯 𝘣𝘦𝘳𝘪𝘵𝘢𝘬𝘢𝘯𝘭𝘢𝘩 𝘒𝘦𝘳𝘢𝘫𝘢𝘢𝘯 𝘈𝘭𝘭𝘢𝘩." (ay. 59-60) Ini perbedaan Yesus dari Nabi Elia yang membunuh orang-orang secara sadis. Yesus lebih mementingkan orang hidup. Ada yang lebih penting daripada memberi penghormatan kepada orangtua, bahkan lebih penting daripada “penghormatan terakhir” kepada seorang ayah. Hal yang lebih penting itu adalah pergi memberitakan Kerajaan Allah di mana-mana. Urusan Kerajaan Allah yang berpautan dengan banyak orang yang masih hidup dinilai lebih penting ketimbang urusan penguburan orang yang sudah mati.
Mengenai sosok ketiga tidak lepas dari bacaan pendahuluan 1Raja-raja 19:19-21 tentang Elisa mengikut Nabi Elia. Elisa, yang sedang membajak ladang, minta izin dahulu kepada orangtuanya. Nabi Elia mengizinkannya. Demikian juga sosok ketiga berkata kepada Yesus, "𝘈𝘬𝘶 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘪𝘬𝘶𝘵 𝘌𝘯𝘨𝘬𝘢𝘶, 𝘛𝘶𝘩𝘢𝘯, 𝘵𝘦𝘵𝘢𝘱𝘪 𝘪𝘻𝘪𝘯𝘬𝘢𝘯𝘭𝘢𝘩 𝘢𝘬𝘶 𝘱𝘢𝘮𝘪𝘵𝘢𝘯 𝘥𝘢𝘩𝘶𝘭𝘶 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘭𝘶𝘢𝘳𝘨𝘢𝘬𝘶." Berbeda dari Nabi Elia yang mengizinkan Elisa berpamitan, Yesus tidak mengizinkan, “𝘚𝘦𝘵𝘪𝘢𝘱 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘪𝘢𝘱 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘢𝘫𝘢𝘬 𝘵𝘦𝘵𝘢𝘱𝘪 𝘮𝘦𝘯𝘰𝘭𝘦𝘩 𝘬𝘦 𝘣𝘦𝘭𝘢𝘬𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘭𝘢𝘺𝘢𝘬 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘒𝘦𝘳𝘢𝘫𝘢𝘢𝘯 𝘈𝘭𝘭𝘢𝘩." Memang sulit menafsir 𝘮𝘦𝘯𝘰𝘭𝘦𝘩 𝘬𝘦 𝘣𝘦𝘭𝘢𝘬𝘢𝘯𝘨 ini. Boleh jadi jika orang sudah memutuskan mengikut Kristus itu diumpamakan membajak tanah, pandangan fokus ke depan agar tujuan tak berbelak-belok.
Banyak orang Kristen lebih menggandrungi khotbah doktriner dan fundamentalistik yang menyingkirkan akalbudi. Nabi Elia (dan Musa) adalah tokoh terbesar panutan orang-orang Yahudi sampai zaman Yesus. Padahal Elia sadis dan biadab (menyembelih nabi-nabi Baal). Meskipun sadis dan biadab, Nabi Elia masih permisif. Demikian juga pendeta-pendeta yang berkhotbah tampak keras dan disukai banyak orang Kristen, tetapi permisif kepada koruptor, bersekutu dengan para bohir untuk menimbun kekayaan dan kekuasaan guna mengendalikan Gereja.
Yesus berkebalikan Nabi Elia. Yesus penuh kasih, tetapi membuat syarat sangat ketat dalam mengikuti-Nya. Perasaan saja tidak cukup, tetapi juga akalbudi. Tanpa akalbudi hanya membuat orang Kristen merasa suci, tetapi permisif terhadap kejahatan kemanusiaan. Kalau sudah menyatakan ikut Kristus, tak perlu lagi menoleh ke belakang, tak perlu lagi adegan sensasional 𝘢𝘱𝘪 𝘵𝘶𝘳𝘶𝘯 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘭𝘢𝘯𝘨𝘪𝘵, apalagi menyembah pendeta fundamentalistik. Berat? Memang.
(29062025)(TUS)