Senin, 30 Juni 2025

Sudut Pandang 𝗟𝗶𝘁𝘂𝗿𝗴𝗶: 𝗕𝗲𝗿𝗺𝗮𝘁𝗿𝗮 𝗞𝗼𝗺𝘂𝗻𝗮𝗹, 𝗯𝘂𝗸𝗮𝗻 𝗜𝗻𝗱𝗶𝘃𝗶𝗱𝘂𝗮𝗹

Sudut Pandang 𝗟𝗶𝘁𝘂𝗿𝗴𝗶: 𝗕𝗲𝗿𝗺𝗮𝘁𝗿𝗮 𝗞𝗼𝗺𝘂𝗻𝗮𝗹, 𝗯𝘂𝗸𝗮𝗻 𝗜𝗻𝗱𝗶𝘃𝗶𝗱𝘂𝗮𝗹

Dalam kitab-kitab Perjanjian Lama (PL) kata liturgi baru digunakan pada abad ke-2 SZB ketika PL Ibrani diterjemahkan ke bahasa Grika atau yang dikenal dengan 𝘚𝘦𝘱𝘵𝘶𝘢𝘨𝘪𝘯𝘵𝘢 alias LXX. Liturgi dalam PL bermakna kultis.

Ada beberapa variasi kata liturgi dalam PL. Kata 𝘭𝘦𝘪𝘵𝘰𝘶𝘳𝘨𝘪𝘢 dalam PL merujuk pelayanan ibadah para imam atau kaum Lewi di Bait Allah. Tindakan kultis umat diungkapkan dengan istilah 𝘭𝘢𝘵𝘳𝘦𝘪𝘢 (penyembahan). Kata 𝘭𝘦𝘪𝘵𝘰𝘶𝘳𝘨𝘪𝘬𝘰𝘴 merujuk peralatan ibadah. Kata 𝘭𝘦𝘪𝘵𝘰𝘶𝘳𝘨𝘰𝘴 bermakna pelayan ibadah atau pelayan dalam arti umum.

Dalam kitab-kitab Perjanjian Baru (PB) makna kata liturgi baik kata benda 𝘭𝘦𝘪𝘵𝘰𝘶𝘳𝘨𝘪𝘢 maupun kata kerja 𝘭𝘦𝘪𝘵𝘰𝘶𝘳𝘨𝘦𝘪𝘯 ber-evolusi. Dalam Injil Lukas 1:23 l 𝘭𝘦𝘪𝘵𝘰𝘶𝘳𝘨𝘪𝘢 masih bermakna kultis atau pelayanan imam PL.

Surat Ibrani paling banyak menggunakan kedua kata itu (lih. Ibr. 8:6; 9:21; 10:11). Petulis Surat Ibrani memaknai 𝘭𝘦𝘪𝘵𝘰𝘶𝘳𝘨𝘪𝘢 dan 𝘭𝘦𝘪𝘵𝘰𝘶𝘳𝘨𝘦𝘪𝘯 sama sekali baru. Petulis Surat Ibrani memakai 𝘭𝘦𝘪𝘵𝘰𝘶𝘳𝘨𝘪𝘢 untuk menjelaskan makna imamat Yesus Kristus sebagai satu-satunya imamat PB untuk mengganti imamat PL. Kristus satu-satunya pelayan (𝘭𝘦𝘪𝘵𝘰𝘶𝘳𝘨𝘰𝘴), tempat kudus, dan kemah sejati (bdk. Ibr. 8:2).

Dalam kitab-kitab PB yang lain kata 𝘭𝘦𝘪𝘵𝘰𝘶𝘳𝘨𝘪𝘢 dan 𝘭𝘦𝘪𝘵𝘰𝘶𝘳𝘨𝘦𝘪𝘯 bermakna berbeda-beda. 
▶️ Kisah Para Rasul 13:2: Kata 𝘭𝘦𝘪𝘵𝘰𝘶𝘳𝘨𝘦𝘪𝘯 merujuk ibadah atau doa kristiani. 
▶️ Roma 15:16: Paulus disebut pelayan (𝘭𝘦𝘪𝘵𝘰𝘶𝘳𝘨𝘰𝘴) Yesus Kristus melalui pemberitaan Injil.
▶️ Roma 15:27 dan 2Korintus 9:12: Kata 𝘭𝘦𝘪𝘵𝘰𝘶𝘳𝘨𝘪𝘢 bermakna sumbangan, tindakan amal kasih kepada saudara-saudara seiman di tempat lain.
▶️ Filipi 2:25, 30, Roma 13:6, dan Ibrani 1:7: Kata 𝘭𝘦𝘪𝘵𝘰𝘶𝘳𝘨𝘦𝘪𝘯 bermakna melayani dalam arti umum.

Dengan demikian kata liturgi dalam PB dapat ditalikan berhubungan dengan pelayanan kepada Allah dan sesama. Menariknya istilah liturgi dalam PB tidak pernah merujuk pelayanan kultis pemimpin jemaat Kristen. Di jemaat modern kita justru kerap menjumpai pelayanan kultis pendeta.

Jemaat Kristen pada abad mula-mula baik Gereja Barat (Roma) maupun Timur menggunakan kata 𝗹𝗶𝘁𝘂𝗿𝗴𝗶 𝗵𝗮𝗻𝘆𝗮 𝘂𝗻𝘁𝘂𝗸 𝗘𝗸𝗮𝗿𝗶𝘀𝘁𝗶. Kata liturgi lalu menghilang dari kamus Gereja Barat menyusul penerbitan 𝘝𝘶𝘭𝘨𝘢𝘵𝘢, Alkitab berbahasa Latin. Gereja Timur tetap menggunakan kata liturgi untuk Ekaristi, sedang perayaan-perayaan ibadah lain menggunakan kata 𝘵𝘢𝘹𝘪𝘴. Gereja Barat menggunakan 𝘰𝘧𝘧𝘪𝘤𝘪𝘶𝘮 𝘥𝘪𝘷𝘪𝘯𝘶𝘮 untuk ibadah. Tak jarang juga menggunakan 𝘳𝘪𝘵𝘶𝘢𝘭𝘦 dan 𝘤𝘦𝘳𝘦𝘮𝘰𝘯𝘪𝘢𝘦.

Seperti yang sudah saya sampaikan sebelumnya bahwa Gereja Protestan adalah yang pertama menggunakan kata liturgi dalam arti ibadah Gereja pada abad ke-17 ZB. Ironisnya perkembangan ilmu liturgi Protestan jauh tertinggal dari GKR. Mengapa bisa begitu? 

Komisi liturgi GKR mendapat dukungan penuh dari Vatikan dan seluruh umat GKR. Padahal dukungan penuh Vatikan itu baru terjadi menjelang pertengahan abad ke-20. Menariknya, sebelum Konsili Vatikan II GKR (Gereja Khatolik Roma) sudah membuka diri untuk belajar dari Gereja-Gereja Reformasi guna membenahi liturgi mereka. 

Dalam pada itu komisi liturgi Protestan malah dicemooh oleh pendeta dan umatnya sendiri sampai sekarang. “𝘐𝘬𝘶𝘵-𝘪𝘬𝘶𝘵𝘢𝘯 𝘒𝘢𝘵𝘰𝘭𝘪𝘬,” kata mereka. Mereka yang mencemooh ini sebenarnya 𝗮𝗵𝗶𝘀𝘁𝗼𝗿𝗶𝘀!

Ilmu liturgi merupakan satu bidang teologi yang secara khusus merefleksikan misteri karya keselamatan Allah dalam Kristus dirayakan dalam rangka perjumpaan umat dan sekaligus tawaran keselamatan itu ditanggapi oleh umat beriman. Ilmu liturgi menjelaskan dua anasir perjumpaan Allah dan manusia secara metodik dan sistematik.

Ilmu liturgi bukan sekadar merefleksikan aneka tata aturan, simbol-simbol liturgi, atau gerakan manusiawi yang menghormat dan bersujud di hadapan Allah. Ilmu liturgi merefleksikan dalam berbagai matra yang tidak terbatas hanya pada matra 𝘵𝘳𝘪𝘯𝘪𝘵𝘢𝘳𝘪𝘴, 𝘬𝘳𝘪𝘴𝘵𝘰𝘭𝘰𝘨𝘪𝘴, 𝘱𝘯𝘦𝘶𝘮𝘢𝘵𝘰𝘭𝘰𝘨𝘪𝘴, dan 𝘦𝘬𝘬𝘭𝘦𝘴𝘪𝘰𝘭𝘰𝘨𝘪𝘴. 

Liturgi selalu dirayakan oleh manusia yang terikat oleh budaya, bahasa, dan pola pikir tertentu. Untuk itu ilmu liturgi juga merefleksikan menurut matra 𝘢𝘯𝘵𝘩𝘳𝘰𝘱𝘰𝘭𝘰𝘨𝘪𝘴. 

Liturgi tidak sekali jadi. Ia merupakan proses panjang yang diwariskan oleh Gereja berabad-abad. Untuk itulah ilmu liturgi juga menelaah matra 𝘩𝘪𝘴𝘵𝘰𝘳𝘪𝘴-nya untuk merefleksikan kesatuan Gereja sepanjang masa. 

Liturgi selalu dirayakan oleh Gereja nyata, konkret, dengan segala persoalan dan pergulatan mereka. Di sini ilmu liturgi merefleksikan matra 𝘱𝘢𝘴𝘵𝘰𝘳𝘢𝘭. Liturgi yang baik tidak boleh mengasingkan kehidupan spiritual orang Kristen sehingga ilmu liturgi harus menolong perayaan iman yang menginspirasi spiritualitas kristiani. 

Terakhir yang tak kalah penting dalam mengaji ilmu liturgi adalah watak ekumenis Gereja. Dengan begitu kekayaan misteri iman Gereja yang dirayakan dalam liturgi semakin terungkap dan disadari lewat ilmu liturgi.

Kalau begitu kebaktian ala kharismatik dapat diserap dan diterapkan 𝘥𝘰𝘯𝘨? Bukankah itu menambah kekayaan liturgi? Boleh-boleh saja, asalkan dapat dipertanggungjawabkan secara metodik dan sistematik. Maksudnya? Kita ambil satu contoh matra pastoralOO dari ilmu liturgi. Apakah kebaktian kharismatik membuat umat terangkat martabatnya, memampukan umat memerjuangkan hak-haknya? Itu baru dari matra pastoral. Bagaimana jika ditinjau dalam matra ekklesiologis, historis, dll.? 𝘒𝘰𝘬 jadi rumit? Ya, memang rumit, karena 𝗹𝗶𝘁𝘂𝗿𝗴𝗶 𝗯𝗲𝗿𝗺𝗮𝘁𝗿𝗮 𝗸𝗼𝗺𝘂𝗻𝗮𝗹, 𝗯𝘂𝗸𝗮𝗻 𝗶𝗻𝗱𝗶𝘃𝗶𝗱𝘂𝗮𝗹. 

tulisan terkait :
1. http://titusroidanto.blogspot.com/2025/07/sudut-pandang.html
2. http://titusroidanto.blogspot.com/2025/07/sudut-pandang.html
3. http://titusroidanto.blogspot.com/2025/07/sudut-pandang_23.html



(01072025)(TUS)

Sudut Pandang Ucapan Bahagia

Sudut Pandang Ucapan Bahagia PENGANTAR Memang, kita harus melihat dengan sudut pandang berbeda pada Alkitab, dengan fenomena tafsir lama, te...