PENGANTAR
Karena di WAG lagi perang puisi dan pantun, maka untuk meramaikan nuansa, tulisan ini saya beri pengantar sebuah puisi:
Sabtu Sunyi sebagai "Jeda llahi". Sabtu Sunyi adalah masa antara kematian dan kebangkitan. Keheningan bukan berarti Tuhan tidak bekerja. Kubur menjadi simbol proses
menuju kehidupan baru. Spiritualitas Sabtu Sunyi:
Harapan dalam Keheningan
Sabtu Sunyi mengajarkan iman yang tetap percaya meski belum melihat, tetap percaya meski blom ada hasil, itu lah mempercayakan diri. Dalam keadaan tanpa jawaban, umat diajak untuk tetap berharap
Harapan tidak bergantung pada
situasi, tetapi pada janji Tuhan, pada kesetiaan Tuhan. Sabtu Sunyi adalah momen ketika Allah bekerja dalam diam
Keheningan menjadi ruang
pembentukan iman. Dalam kegelapan, Allah sedang
menyiapkan terang kebangkitan.
PEMAHAMAN
Hari Pentakosta, yang adalah mahkota masa raya Paska sekaligus secara tradisi sebagai hari lahir Gereja, di dahului dengan masa raya Prapaskah. Hari Pentakosta juga sebagai penanda pengujung masa raya Paska. Mumpung masih dalam masa raya PraPaska akan masuk masa raya Paska, saya hendak menjelaskan perbedaan Sabtu Sunyi/Suci (Holy Saturday) dan Sabtu Malam Paska (Vigil Easter). Tergelitik saat mantan ketum PGI menjelaskannya di medsos kemaren, bahkan di bbrp podcast. Ternyata cukup banyak gereja yang tidak bisa membedakan Sabtu Sunyi (Holy Saturday) dan Sabtu Malam Paska (Vigil Easter). Bahkan ada sekelas (mantan) Ketum PGI ngawur menjelaskannya, di medsos kemaren. Memang itulah enaknya menjadi pemimpin gereja, ngomong ngawur saja dipercaya oleh umat. Apalagi jika umatnya childish, infantil, lalu merasa terberkati. Seperti yang pernah saya tulis anasir Trihari Suci adalah Kamis Putih, Jumat Agung, dan Sabtu Sunyi. Lihat. Sabtu Malam Paska (Vigil Easter) BUKAN anasir Trihari Suci. Linimasa menurut kalender gerejawi sudah berbeda. Sabtu malam Paska atau Paska Vigili sudah masuk ke pekan yang baru, bukan anasir Pekan Suci, kita lihat Gereja Protestan di Indonesia (saya mengambil contoh GKI hanya sekedar contoh saja, tidak bermaksud apa-apa, hanya alat belajar saja) sudah banyak yang menggunakan bacaan ekumenis RCL yang mengikuti kalender gerejawi. GKI malah secara kuat menetapkan penerapan RCL pada liturgi lewat Tata Gereja dan Tata Laksana GKI (lih. pasal 19 Tata Laksana GKI, 2023). Dengan demikian anasir waktu sudah terukur dengan cukup melihat RCL tanpa perlu penjelasan berbusa-busa yang ngawur. Jadi, kalau ada GKI tidak dapat membedakan Sabtu Sunyi dan Sabtu Malam Paska ya kebangetan banget karena tidak menjalankan amanat Tata Gereja GKI yang dirancang, dibuat, dan ditetapkan oleh para pemimpin gerejanya sendiri. Saat Sabtu Sunyi tidak ada ibadah. Tidak ada namanya ibadah Sabtu Sunyi. Wong ibadah saja tidak ada, apalagi sakramen! Ibadah Kristen berpusat pada Kristus. Pada Sabtu Sunyi Yesus berada dalam keheningan dan kesendirian di dalam kubur. Menjadi aneh ibadah Kristen tanpa dihadiri oleh Kristus. Gereja memelihara keheningan agar umat terus merenungkan kesengsaraan Yesus secara agung. Umat tinggal bersama dengan Yesus yang sedang dimakamkan. Ada tradisi umat berhimpun pada Sabtu Sunyi, yang dimula pada Jumat menjelang senja, perhatikan Sabtu sunyi dimula pada Jumat menjelang senja, setelah Jumat agung, tetapi bukan untuk beribadah selebrasi yang dipimpin oleh pemimpin ibadah. Untuk menambah kekhidmatan umat membaca Kitab Suci. Pembacaan yang dianjurkan dalam daftar bacaan ekumenis (RCL) adalah Ayub 14:1-14 yang kemudian disambut dengan Mazmur 31:1-4, 15-16 secara responsoria. Pembacaan dari Perjanjian Lama disusul dengan pembacaan Surat Rasuli dari 1Petrus 4:1-8 dan akhirnya pembacaan Injil dari Yohanes 19:38-42.
Sabtu selepas matahari terbenam masuk ke linimasa baru yang bermula dengan Paska Vigili atau Vigil Easter atau Sabtu Malam Paska. Penamaan Sabtu Malam Paska kerap diselimurkan dengan Sabtu Sunyi, jadi kegiatan gereja pada setelah Jumat petang itu lah Sabtu sunyi (kegiatan gereja setelah Sabtu petang itu vigili paskah). Padahal dua nama itu merujuk dua anasir yang berbeda menurut kalender gerejawi, ini dua Gatra yang berbeda, Gatra kematian dan Gatra kebangkitan. Ibadah Paska Vigili secara ketat dilakukan sesudah matahari terbenam. Liturgi waktu ini sangat hakiki. Begitu hakikinya Gereja Katolik Roma sampai mengeluarkan Surat Edaran: Seluruh Perayaan Malam Paska dilaksanakan pada waktu malam, tidak boleh diadakan sebelum gelap. Peraturan ini harus ditepati secara ketat. Penyelewengan dan kebiasaan yang terjadi di sana sini, yakni merayakan Malam Paska pada waktu biasanya diadakan Misa Sabtu sore tidak dibenarkan (S.E.P. 78).
Perayaan Malam Paska harus pada hari sudah gelap untuk mengajar umat bahwa kegelapan tidak lama bisa menguasai Kristus, karena terang sebentar lagi akan tiba menyibak kegelapan. Itulah sebabnya penginjil menasabahkan kebangkitan dengan keterangan waktu “fajar menyingsing”.
Pada perayaan Malam Paska umat akan merasakan Kristus mengalahkan maut ketika lilin Paska mula dinyalakan. Sinar lilin lambat laun menyibak kegelapan ketika lilin-lilin di tangan umat mula menyala.
Sakramen mula dilayankan lagi pada Paska Vigili. Secara tradisi sakramen baptis dan krisma serta sidi cukup ramai di sini. Mengapa?
Malam Paska dicerap sebagai waktu yang paling dekat untuk menghampiri makna Misteri Paska. Misteri Paska merupakan peristiwa keselamatan Allah yang berpuncak pada sengsara, kematian, dan kebangkitan Kristus, yang menjadi puncak dan pusat iman Kristen serta pusat seluruh perayaan liturgi Gereja. Dengan kata lain Misteri Paska: mati bersama Kristus, dikubur bersama Kristus, dibangkitkan bersama Kristus, dan akan berkuasa bersama Kristus, Gatra kematian dan Gatra kebangkitan.
(03062025)(TUS)