Rabu, 23 Juli 2025

Sudut Pandang 𝗦𝘂𝗯𝗷𝗲𝗸 𝗟𝗶𝘁𝘂𝗿𝗴𝗶

Sudut Pandang 𝗦𝘂𝗯𝗷𝗲𝗸 𝗟𝗶𝘁𝘂𝗿𝗴𝗶

Liturgi merupakan perayaan misteri karya keselamatan Allah dalam Kristus, yang dilaksanakan oleh Kristus, Sang Imam Agung, bersama Gereja-Nya di dalam ikatan Roh Kudus. Subjek liturgi adalah Kristus dan Gereja-Nya. Pelaksana liturgi adalah Kristus dan sekaligus Gereja-Nya. Perbuatan ini bukan dua tindakan sendiri-sendiri; ada tindakan Kristus dan ada tindakan lain oleh Gereja. Bukan itu. Dalam liturgi Kristus bertindak melalui dan bersama Gereja dan sekaligus dalam liturgi yang satu dan sama itu Gereja bertindak melalui dan bersama Kristus.


Kristus memimpin liturgi melalui kehadiran-Nya dalam Gereja. Simbol kehadiran Kristus ditunjukkan melalui sakramen Ekaristi atau Perjamuan Kudus. 𝘒𝘰𝘬 simbol?

Dari masa Perjanjian Baru sampai zaman Patristik Gereja sudah terbiasa dalam pola pikir simbolik. Misal, Roh Kudus disimbolkan dengan burung merpati.


Teologi sakramental berpangkal dari kenyataan simbol yang melalui dan di dalamnya terjadi, terlaksana, dan menjadi nyata apa yang dilambangkan. Maksudnya, apabila perayaan Ekaristi atau Perjamuan Kudus menyimbolkan misteri salib Kristus, misteri salib Kristus itu bukan sekadar ditandakan, melainkan peristiwa salib Kristus ribuan tahun yang lalu itu dihadirkan dalam perayaan Ekaristi atau Perjamuan Kudus. Kata 𝘥𝘪𝘩𝘢𝘥𝘪𝘳𝘬𝘢𝘯 bukan berarti suatu pengulangan, melainkan mengenang dan pengenangan. Mengenang di sini bukan mengingat-ingat, melainkan 𝘢𝘯𝘢𝘮𝘯e𝘴𝘪𝘯 (Grika) yang dipungut dari tradisi liturgi Yahudi 𝘻𝘪𝘬𝘬𝘢𝘳𝘰𝘯. Mengenang di sini dalam anggitan biblis, yaitu sungguh-sungguh secara nyata dibuat menjadi hadir di sini dan sekarang ini. Penghadiran itu kita percayai sebagai pekerjaan Roh Kudus yang menghadirkan peristiwa salib Kristus dan Roh Kudus membawa kita masuk ke dalam peristiwa penebusan Kristus yang dilakukan-Nya sekali untuk selamanya.

Bagaimana dengan Gereja Protestan yang tidak melayankan Ekaristi atau Perjamuan Kudus pada setiap kebaktian Minggu? Kristus hadir melalui Liturgi Sabda. Itu sebabnya bacaan ekumenis (RCL) menyodor Kitab Injil untuk homili. Mengapa Kitab Injil?

Dalam RCL 𝘌𝘷𝘢𝘯𝘨𝘦𝘭𝘪𝘢𝘳𝘪𝘶𝘮 dan pemakluman Injil menegaskan maknanya sebagai simbol puncak kehadiran Kristus dalam Liturgi Sabda. Bacaan-bacaan dalam Liturgi Sabda menunjukkan bahwa sejarah keselamatan yang dimula dari Perjanjian Lama dilanjutkan pada bacaan kedua sampai akhirnya memuncak dalam diri Yesus Kristus, yang dimaklumkan dalam Injil. Dengan demikian 𝘌𝘷𝘢𝘯𝘨𝘦𝘭𝘪𝘢𝘳𝘪𝘶𝘮 dan pemakluman Injil menunjukkan Tuhan Yesus Kristus yang hadir, bersabda, dan berdialog dengan Gereja-Nya. Bacaan Injil yang bermakna simbol puncak kehadiran Kristus dalam Liturgi Sabda tidak dapat diganti oleh bacaan-bacaan lain, meskipun itu dari sumber-sumber spiritualitas (kisah-kisah orang suci, kisah-kisah inspiratif, dlsb.) atau lembaran-lembaran lepas seperti surat edaran pastoral.


Bayangkan saja dalam Liturgi Sabda yang dibaca hanya dari kitab Perjanjian Lama atau malah kitab nyanyian Perjanjian Lama (Mazmur), lalu dihomilikan, di manakah simbol puncak kehadiran Kristus dalam Liturgi Sabda?

Liturgi sebagai tindakan Kristus menunjuk makna liturgi sebagai penyerahan diri Kristus kepada Allah Bapa dan terjadi dialog Bapa, Anak, dan Roh Kudus. Kristus sebagai Sang Imam Agung menjadi Pengantara Gereja-Nya. Tindakan Kristus sebagai Sang Imam Agung dan Pengantara itu kini dilaksanakan melalui dan bersama Gereja.

Berpautan dengan tindakan Kristus sebagai subjek liturgi melalui Gereja itulah liturgi juga benar-benar tindakan Gereja. Dalam liturgi Gereja memersembahkan Kristus kepada Bapa dalam Roh Kudus dan sekaligus memersembahkan diri Gereja sendiri bersama Kristus.

 (24072025)(TUS)

Tautan sebelumnya:
1. http://titusroidanto.blogspot.com/2025/07/sudut-pandang_16.html

2. http://titusroidanto.blogspot.com/2025/07/sudut-pandang_13.html

3. http://titusroidanto.blogspot.com/2025/06/sudut-pandang.html

4. http://titusroidanto.blogspot.com/2025/06/sudut-pandang_30.html

5. http://titusroidanto.blogspot.com/2025/07/sudut-pandang.html


Sudut Pandang Ucapan Bahagia

Sudut Pandang Ucapan Bahagia PENGANTAR Memang, kita harus melihat dengan sudut pandang berbeda pada Alkitab, dengan fenomena tafsir lama, te...