Sudut Pandang Matius 3 : 1 - 12, Kesederhanaan hati menyiapkan ๐๐ป๐ณ๐ฟ๐ฎ๐๐๐ฟ๐๐ธ๐๐๐ฟ Kedatangan Allah
PENGANTAR
Seperti yang sudah saya sampaikan Minggu lalu bahwa masa Adven mengandung dua gatra (๐ข๐ด๐ฑ๐ฆ๐ค๐ต๐ด): historis dan eskatologis. Historis, umat bersiap diri untuk mengenang menuju perayaan peristiwa kelahiran Yesus yang terjadi sekitar 2026 tahun yang lalu. Eskatologis, umat bersiap diri dalam pengharapan akan kedatangan kembali Kristus (๐ฑ๐ข๐ณ๐ฐ๐ถ๐ด๐ช๐ข). Adven yang dikerjakan oleh Yohanes (Pembaptis) amat terang dikerjakan, siapkan infrastruktur, siapkan jalan, jangan ragu .... Yesus akan datang kembali. Adven merupakan kesibukan bekerja dalam rangka menuju kesejahteraan bagi seluruh rakyat Indonesia. Kesejahteraan tidak datang sekonyong-konyong. Ia perlu Adven. Adven bukanlah tujuan. Ia merupakan jalan untuk mencapai tujuan. Belum waktunya berpesta karena memang kita belum tiba di tujuan.Jadi, gak perlu pakai pesta, apalagi dilabeli pesta natal, perayaan natal, cukup ibadah raya natal, dan itupun dilakukan di gereja, untuk menghikmati keterhisapan kita pada anugerah persekutuan Tuhan dalam menghikmati Natal, Tuhan yang merapuh menjadi manusia, Tuhan melawat manusia, untuk menyelamatkan kan manusia, Tuhan berkarya
PEMAHAMAN
Bacaan ekumenis untuk Minggu II Adven diambil dari Matius 3:1-12 yang didahului dengan Yesaya 11:1-10, Mazmur 72:1-7, 18-19, dan Roma 15:4-13.
Bacaan Injil Minggu ini berkisah tentang Yohanes Pembaptis (untuk selanjutnya saya sebut Yohanes). Pengarang Injil Matius tampaknya menyusun perikop ini mengambil bahan dari Markus 1:1-8 dan Sumber Q. Tentu ia menyampaikan teologinya sendiri yang berbeda dari penulis Injil Markus.
Penginjil Matius tidak menjelaskan secara khusus latar waktu penampilan Yohanes, namun latar tempat ia menyebut secara khusus di padang gurun Yudea. Penampilan Yohanes yang memberitakan kedatangan Kerajaan Surga (dikenal juga dengan sebutan Kerajaan Allah) mengunjukkan (๐ช๐ฏ๐ฅ๐ช๐ค๐ข๐ต๐ฆ) zaman baru. Zaman “Perjanjian Lama” (PL) berakhir dan zaman “Perjanjian Baru” (PB) dimula; zaman Israel berakhir, zaman Yesus dimula.
Matius memautkan (dari kata dasar ๐ฑ๐ข๐ถ๐ต) pertobatan dan Kerajaan Allah sudah dekat. Hal itu tampak dari Yohanes dan Yesus memberitakan hal yang sama “๐๐ฆ๐ณ๐ต๐ฐ๐ฃ๐ข๐ต๐ญ๐ข๐ฉ, ๐ด๐ฆ๐ฃ๐ข๐ฃ ๐๐ฆ๐ณ๐ข๐ซ๐ข๐ข๐ฏ ๐๐ถ๐ณ๐จ๐ข ๐ด๐ถ๐ฅ๐ข๐ฉ ๐ฅ๐ฆ๐ฌ๐ข๐ต!” (Mat. 3:2 dan Mat. 4:17). Kerajaan Allah belum datang, tetapi sudah dekat. Yohanes dan Yesus sama-sama menekankan pertobatan adalah syarat menyongsong kedatangan Kerajaan Allah.
Sesudah Yohanes berkampanye tentang pertobatan, pengarang Injil Matius lewat narator mengatakan “Sesungguhnya dialah yang dimaksudkan Nabi Yesaya ketika ia berkata: ‘๐๐ฅ๐ข ๐ด๐ถ๐ข๐ณ๐ข ๐ฐ๐ณ๐ข๐ฏ๐จ ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ด๐ฆ๐ณ๐ถ-๐ด๐ฆ๐ณ๐ถ ๐ฅ๐ช ๐ฑ๐ข๐ฅ๐ข๐ฏ๐จ ๐จ๐ถ๐ณ๐ถ๐ฏ: ๐๐ฆ๐ณ๐ด๐ช๐ข๐ฑ๐ฌ๐ข๐ฏ๐ญ๐ข๐ฉ ๐ซ๐ข๐ญ๐ข๐ฏ ๐ถ๐ฏ๐ต๐ถ๐ฌ ๐๐ถ๐ฉ๐ข๐ฏ, ๐ญ๐ถ๐ณ๐ถ๐ด๐ฌ๐ข๐ฏ๐ญ๐ข๐ฉ ๐ซ๐ข๐ญ๐ข๐ฏ ๐ฃ๐ข๐จ๐ช-๐๐บ๐ข.’" (Mat. 3:3).
Ayat di atas sekaligus mengoreksi Injil Markus (Mrk. 1:2) yang salah kutip “Seperti ada tertulis dalam kitab nabi Yesaya: ‘๐๐ช๐ฉ๐ข๐ต๐ญ๐ข๐ฉ, ๐๐ฌ๐ถ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐บ๐ถ๐ณ๐ถ๐ฉ ๐ถ๐ต๐ถ๐ด๐ข๐ฏ-๐๐ถ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ฅ๐ข๐ฉ๐ถ๐ญ๐ถ๐ช ๐๐ฏ๐จ๐ฌ๐ข๐ถ, ๐ช๐ข ๐ข๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฎ๐ฆ๐ฎ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ด๐ช๐ข๐ฑ๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ซ๐ข๐ญ๐ข๐ฏ ๐ฃ๐ข๐จ๐ช-๐๐ถ’”. Pengarang Injil Markus salah kutip dari kitab Yesaya yang seharusnya dari kitab Maleakhi (Mal. 3:1). Ini sekaligus bukti ideologi ๐ช๐ฏ๐ฆ๐ณ๐ณ๐ข๐ฏ๐ค๐บ ๐ฐ๐ง ๐ต๐ฉ๐ฆ ๐ฃ๐ช๐ฃ๐ญ๐ฆ (ketidakkeliruan Alkitab) yang diusung oleh Kristen fundamentalis tumbang.
Meskipun pengarang Injil Markus salah kutip, ia dan Matius sama-sama meyakini bahwa kehadiran Yohanes sudah dinubuatkan oleh para nabi. Kedatangan Yohanes sudah direncanakan Allah.
Dari kutipan PL itu dijelaskan peran Yohanes sebagai pendahulu atau pembuka jalan yang memersiapkan jalan bagi Yesus. Dalam episode berikutnya Yohanes membaptis Yesus. Pembaptisan Yesus dan pencobaan Yesus di padang gurun merupakan bagian persiapan Yesus untuk berkarya, yang dalam hal ini Yohanes ikut memersiapkan Yesus berkarya.
Yohanes diperikan mengenakan jubah bulu unta (Mat. 3:4). Sangat bolehjadi yang dimaksud adalah bukan pakaian halus seperti orang-orang yang tinggal di istana raja (lih. Mat. 11:8). Penulis Injil Matius tampaknya hendak menyampaikan bahwa Yohanes adalah Elia, yang memakai pakaian bulu (lih. 2Raj. 1:7-8). Hal itu dipertegas melalui ucapan Yesus (Mat. 11:14; 17:12) dan penjelasan naratornya (Mat. 17:13).
Cerapan tentang Yohanes sebagai Nabi Elia itu didasari keyakinan umat Yahudi bahwa Elia akan datang mendahului kedatangan “Hari Tuhan” dan hal itu oleh umat Kristen dipautkan dengan kedatangan Kristus yang dijanjikan Allah. Belakangan “Hari Tuhan” merujuk ๐ฑ๐ข๐ณ๐ฐ๐ถ๐ด๐ช๐ข.
Umat Yahudi tidak memiliki ajaran inkarnasi dan kebangkitan individual sehingga cerapan tentang Yohanes sebagai Elia tidak dapat dipahami dalam dua konsep ajaran itu. Di sini Yohanes berperan laksana Elia di akhir zaman, bukan inkarnasi atau kebangkitan Elia.
Kampanye Yohanes cukup berhasil dengan melihat banyak orang berbondong-bondong datang ke Sungai Yordan untuk minta dibaptis. Pertobatan penduduk dari Yerusalem, dari seluruh Yudea, dan dari seluruh daerah sekitar Sungai Yordan itu dapat dipahami sebagai karya Yohanes dalam hal “๐๐ฆ๐ณ๐ด๐ช๐ข๐ฑ๐ฌ๐ข๐ฏ๐ญ๐ข๐ฉ ๐ซ๐ข๐ญ๐ข๐ฏ ๐ถ๐ฏ๐ต๐ถ๐ฌ ๐๐ถ๐ฉ๐ข๐ฏ, ๐ญ๐ถ๐ณ๐ถ๐ด๐ฌ๐ข๐ฏ๐ญ๐ข๐ฉ ๐ซ๐ข๐ญ๐ข๐ฏ ๐ฃ๐ข๐จ๐ช-๐๐บ๐ข.” Ritual pembaptisan dilanjutkan oleh Yesus dan para pengikut-Nya (Mat. 28:19).
Ada yang aneh dalam kisah ini. Mari kita simak Matius 3:7 “Tetapi waktu ia melihat banyak orang Farisi dan orang Saduki datang untuk dibaptis, berkatalah ia kepada mereka: "๐๐ข๐ช ๐ฌ๐ข๐ฎ๐ถ ๐ฌ๐ฆ๐ต๐ถ๐ณ๐ถ๐ฏ๐ข๐ฏ ๐ถ๐ญ๐ข๐ณ ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ฃ๐ช๐ด๐ข. ๐๐ช๐ข๐ฑ๐ข๐ฌ๐ข๐ฉ ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ข๐ต๐ข๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฌ๐ฆ๐ฑ๐ข๐ฅ๐ข ๐ฌ๐ข๐ฎ๐ถ ๐ฃ๐ข๐ฉ๐ธ๐ข ๐ฌ๐ข๐ฎ๐ถ ๐ฅ๐ข๐ฑ๐ข๐ต ๐ฎ๐ฆ๐ญ๐ข๐ณ๐ช๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฅ๐ช๐ณ๐ช ๐ฅ๐ข๐ณ๐ช ๐ฎ๐ถ๐ณ๐ฌ๐ข ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ข๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฅ๐ข๐ต๐ข๐ฏ๐จ?”. Dalam Alkitab TB (1974) mereka disebut ular beludak, sedang dalam TB II (1997) disebut ular berbisa (แผฯฮนฮดฮฝแฟถฮฝ).
Apa yang aneh? Orang Farisi dan orang Saduki ๐ฅ๐ข๐ต๐ข๐ฏ๐จ ๐ถ๐ฏ๐ต๐ถ๐ฌ ๐ฅ๐ช๐ฃ๐ข๐ฑ๐ต๐ช๐ด. Lha kok Yohanes ๐ฏ๐จ๐ข๐ต๐ข๐ช๐ฏ mereka ular beludak/berbisa? ๐๐ฐ๐ฏ๐จ mereka datang untuk dibaptis.
Frase ๐ฅ๐ข๐ต๐ข๐ฏ๐จ ๐ถ๐ฏ๐ต๐ถ๐ฌ ๐ฅ๐ช๐ฃ๐ข๐ฑ๐ต๐ช๐ด merupakan terjemahan dari แผฯฯฮฟฮผฮญฮฝฮฟฯ
ฯ แผฯแฝถ ฯแฝธ ฮฒฮฌฯฯฮนฯฮผฮฑ. Mari kita bandingkan dengan tiga penerjemahan bahasa Inggris.
• ๐๐ถ๐ต ๐ธ๐ฉ๐ฆ๐ฏ ๐ฉ๐ฆ ๐ด๐ข๐ธ ๐ฎ๐ข๐ฏ๐บ ๐ฐ๐ง ๐ต๐ฉ๐ฆ ๐๐ฉ๐ข๐ณ๐ช๐ด๐ฆ๐ฆ๐ด ๐ข๐ฏ๐ฅ ๐๐ข๐ฅ๐ฅ๐ถ๐ค๐ฆ๐ฆ๐ด ๐ค๐ฐ๐ฎ๐ช๐ฏ๐จ ๐ต๐ฐ ๐ฌ๐๐๐ง๐ ๐๐ ๐ฌ๐๐จ ๐๐๐ฅ๐ฉ๐๐ฏ๐๐ฃ๐, ๐ฉ๐ฆ ๐ด๐ข๐ช๐ฅ ๐ต๐ฐ ๐ต๐ฉ๐ฆ๐ฎ: "๐ ๐ฐ๐ถ ๐ฃ๐ณ๐ฐ๐ฐ๐ฅ ๐ฐ๐ง ๐ท๐ช๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ด! ๐๐ฉ๐ฐ ๐ธ๐ข๐ณ๐ฏ๐ฆ๐ฅ ๐บ๐ฐ๐ถ ๐ต๐ฐ ๐ง๐ญ๐ฆ๐ฆ ๐ง๐ณ๐ฐ๐ฎ ๐ต๐ฉ๐ฆ ๐ค๐ฐ๐ฎ๐ช๐ฏ๐จ ๐ธ๐ณ๐ข๐ต๐ฉ? (NIV)
• ๐๐ถ๐ต ๐ธ๐ฉ๐ฆ๐ฏ ๐ฉ๐ฆ ๐ด๐ข๐ธ ๐ฎ๐ข๐ฏ๐บ ๐๐ฉ๐ข๐ณ๐ช๐ด๐ฆ๐ฆ๐ด ๐ข๐ฏ๐ฅ ๐๐ข๐ฅ๐ฅ๐ถ๐ค๐ฆ๐ฆ๐ด ๐๐ค๐ข๐๐ฃ๐ ๐ฉ๐ค ๐ฌ๐๐ฉ๐๐ ๐๐๐ข ๐๐๐ฅ๐ฉ๐๐ฏ๐, ๐ฉ๐ฆ ๐ฅ๐ฆ๐ฏ๐ฐ๐ถ๐ฏ๐ค๐ฆ๐ฅ ๐ต๐ฉ๐ฆ๐ฎ. “๐ ๐ฐ๐ถ ๐ฃ๐ณ๐ฐ๐ฐ๐ฅ ๐ฐ๐ง ๐ด๐ฏ๐ข๐ฌ๐ฆ๐ด!" ๐ฉ๐ฆ ๐ฆ๐น๐ค๐ญ๐ข๐ช๐ฎ๐ฆ๐ฅ. "๐๐ฉ๐ฐ ๐ธ๐ข๐ณ๐ฏ๐ฆ๐ฅ ๐บ๐ฐ๐ถ ๐ต๐ฐ ๐ง๐ญ๐ฆ๐ฆ ๐๐ฐ๐ฅ'๐ด ๐ค๐ฐ๐ฎ๐ช๐ฏ๐จ ๐ธ๐ณ๐ข๐ต๐ฉ? (NLTse)
Kalau kita melihat tiga penerjemahan bahasa Inggris di atas, orang Farisi dan orang Saduki datang bukan untuk dibaptis, melainkan menonton, mengamati karena ๐ฌe๐ฑ๐ฐ. ๐๐ฆ๐ฏ๐จ๐ฆ๐ฏ ๐ต๐ข๐ถ ๐ข๐ซ๐ข. Pantas saja Yohanes ๐ฏ๐จ๐ข๐ต๐ข๐ช๐ฏ mereka.
Dalam ayat-ayat selanjutnya (Mat. 3:11-12) penulis Matius mengungkapkan pendapatnya tentang Yesus lewat Yohanes: “๐๐ฌ๐ถ ๐ฎ๐ฆ๐ฎ๐ฃ๐ข๐ฑ๐ต๐ช๐ด ๐ฌ๐ข๐ฎ๐ถ ๐ฅ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ข๐ฏ ๐ข๐ช๐ณ ๐ด๐ฆ๐ฃ๐ข๐จ๐ข๐ช ๐ต๐ข๐ฏ๐ฅ๐ข ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ต๐ฐ๐ฃ๐ข๐ต๐ข๐ฏ, ๐ต๐ฆ๐ต๐ข๐ฑ๐ช ๐๐ข (Yesus) ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฅ๐ข๐ต๐ข๐ฏ๐จ ๐ฌ๐ฆ๐ฎ๐ถ๐ฅ๐ช๐ข๐ฏ ๐ด๐ฆ๐ต๐ฆ๐ญ๐ข๐ฉ ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ญ๐ฆ๐ฃ๐ช๐ฉ ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ฌ๐ถ๐ข๐ด๐ข ๐ฅ๐ข๐ณ๐ช๐ฑ๐ข๐ฅ๐ข ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ฅ๐ข๐ฏ ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ต๐ช๐ฅ๐ข๐ฌ ๐ญ๐ข๐บ๐ข๐ฌ ๐ฎ๐ฆ๐ญ๐ฆ๐ฑ๐ข๐ด๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฌ๐ข๐ด๐ถ๐ต-๐๐บ๐ข. ๐๐ข ๐ข๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฎ๐ฆ๐ฎ๐ฃ๐ข๐ฑ๐ต๐ช๐ด๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฌ๐ข๐ฎ๐ถ ๐ฅ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ข๐ฏ ๐๐ฐ๐ฉ ๐๐ถ๐ฅ๐ถ๐ด ๐ฅ๐ข๐ฏ ๐ฅ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ข๐ฏ ๐ข๐ฑ๐ช. ๐๐ญ๐ข๐ต ๐ฑ๐ฆ๐ฏ๐ข๐ฎ๐ฑ๐ช ๐ด๐ถ๐ฅ๐ข๐ฉ ๐ฅ๐ช ๐ต๐ข๐ฏ๐จ๐ข๐ฏ-๐๐บ๐ข. ๐๐ข ๐ข๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฎ๐ฆ๐ฎ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ด๐ช๐ฉ๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ต๐ฆ๐ฎ๐ฑ๐ข๐ต ๐ฑ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ช๐ณ๐ช๐ฌ๐ข๐ฏ-๐๐บ๐ข ๐ฅ๐ข๐ฏ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ถ๐ฎ๐ฑ๐ถ๐ญ๐ฌ๐ข๐ฏ ๐จ๐ข๐ฏ๐ฅ๐ถ๐ฎ-๐๐บ๐ข ๐ฌ๐ฆ ๐ฅ๐ข๐ญ๐ข๐ฎ ๐ญ๐ถ๐ฎ๐ฃ๐ถ๐ฏ๐จ, ๐ต๐ฆ๐ต๐ข๐ฑ๐ช ๐ฅ๐ฆ๐ฃ๐ถ ๐ซ๐ฆ๐ณ๐ข๐ฎ๐ช ๐ช๐ต๐ถ ๐ข๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฅ๐ช๐ฃ๐ข๐ฌ๐ข๐ณ-๐๐บ๐ข ๐ฅ๐ข๐ญ๐ข๐ฎ ๐ข๐ฑ๐ช ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ต๐ช๐ฅ๐ข๐ฌ ๐ต๐ฆ๐ณ๐ฑ๐ข๐ฅ๐ข๐ฎ๐ฌ๐ข๐ฏ."
Apabila dibandingkan dengan Yesus, Yohanes jelas tidak ada apa-apanya. Bahkan Yohanes tidak layak membuka tali kasut Yesus. Pelayanan membuka tali kasut biasanya dilakukan oleh budak. Yohanes lebih rendah daripada budak. Malahan untuk zaman sekarang Yohanes jauh lebih rendah daripada “hamba Tuhan”, sebuah istilah eufemisme untuk penguasa gereja.
Masa Adven adalah waktu penantian. Menanti bukan berarti berdiam diri. Yohanes sudah memberi teladan mengisi saat penantian dengan bekerja memersiapkan infrastruktur bagi Kristus. Dalam bahasa masa kini seperti saat pemerintahan Pak Jokowi bekerja membangun infrastruktur untuk memersiapkan bangsa menyongsong masa depan yang lebih baik. ๐๐ข๐ณ๐ฐ๐ถ๐ด๐ช๐ข Indonesia adalah masa depan yang lebih baik, lebih manusiawi, lebih beradab, lebih berkeadilan sosial. Kesederhanaan hidup Yohanes menunjukkan bahwa untuk
menyambut Allah yang datang, untuk mempersiapkan infrastruktur bagi kedatangan Allah, manusia perlu melepaskan
kemelekatan pada hal-hal duniawi. Ia menantang orang-orang
Farisi dan Saduki yang mengandalkan status rohani dan kebanggaan leluhur, tetapi tidak menunjukkan buah pertobatan (ay.7–9). Seruannya: “Hasilkanlah buah yang sesuai dengan pertobatan”. Buah itu tidak lain adalah hidup yang meninggalkan kerakusan, kesombongan, dan kepura-puraan, serta digantikan dengan gaya hidup yang jujur, bersahaja, dan rela berbagi, gaya hidup sederhana seperti Yohanes. Dalam konteks ini, kesederhanaan menjadi jalan yang membentuk hati yang siap untuk menyambut Sang Mesias. Kesederhanaan membebaskan manusia dari ilusi kepuasan duniawi dan menuntunnya kepada sukacita sejati yang hanya ditemukan
dalam kehadiran Allah.Yohanes menyadari bahwa tugasnya adalah mempersiapkan umat — mempersiapkan infrastruktur bagi kedatangan Allah, bukan dengan simbol-simbol
keagamaan luar, melainkan dengan membentuk kehidupan yang benar. Ia sendiri tidak mengejar kekuasaan atau pujian; ia berkata, “Ia yang datang kemudian dari padaku lebih berkuasa
daripada aku” (ay.11). Ungkapan ini menunjukkan bahwa kesederhanan terlebih fokus pada kesederhanaan hati, juga mencakup pengakuan akan keterbatasan diri dan penyerahan kepada Tuhan. Oleh karena itu, Matius 3:1–12 mengajarkan bahwa pertobatan sejati menuntut hidup dalam kesederhanaan hati
— tidak berlebihan, tidak sombong, tidak melekat pada dunia, kesederhanaan hati di sini adalah kontra kemelekatan pada hal duniawi,
tetapi terbuka kepada Allah. Dalam kesederhanaan itulah, hati menjadi
tanah yang subur bagi benih pertobatan yang sejati. Pada Minggu Adven ke-2 ini, kita diajak menyadari bahwa menyambut lawatan Allah, menyiapkan infrastruktur bagi kedatangan Allah, bukan hanya soal menanti secara rohani, tetapi juga mempersiapkan hati melalui
pertobatan yang nyata. Yohanes Pembaptis menyerukan agar umat menghasilkan buah pertobatan — bukan dalam simbol atau
status, melainkan dalam cara hidup yang sederhana, hati yang sederhana (kontra kemelekatan dunia), jujur, dan rendah hati. Kesederhanaan menjadi jalan pertobatan karena ia menanggalkan kesombongan dan ketamakan yang menghalangi kehadiran Allah, menanggalkan kemelekatan duniawi untuk kehadiran Allah. Yesaya menubuatkan bahwa Sang Mesias datang bukan dengan kemegahan, tetapi dalam keadilan dan damai; dan Paulus mengajarkan bahwa hidup yang tidak
mementingkan diri sendiri akan membawa kesatuan dan sukacita. Maka, kesederhanaan hati bukan hanya gaya hidup, tetapi sikap
iman yang menyambut Kristus dan membuka ruang bagi damaiNya mengatasi segala ketakutan.
๐๐ถ๐ฐ๐ต๐ฆ ๐ฐ๐ง ๐ต๐ฉ๐ฆ ๐ฅ๐ข๐บ: “๐๐ณ๐ข๐บ๐ฆ๐ณ๐ด ๐ฅ๐ฐ๐ฏ'๐ต ๐ฃ๐ถ๐ช๐ญ๐ฅ ๐จ๐ฐ๐ฐ๐ฅ ๐ช๐ฏ๐ง๐ณ๐ข๐ด๐ต๐ณ๐ถ๐ค๐ต๐ถ๐ณ๐ฆ๐ด. ๐๐ฉ๐ฆ๐บ ๐ฅ๐ฐ๐ฏ'๐ต ๐ฅ๐ฆ๐ท๐ฆ๐ญ๐ฐ๐ฑ ๐ค๐ฐ๐ถ๐ฏ๐ต๐ณ๐ช๐ฆ๐ด. ๐๐ฐ๐ฅ ๐ฉ๐ข๐ด ๐ฑ๐ญ๐ข๐ค๐ฆ๐ฅ ๐ฎ๐ข๐ฏ ๐ช๐ฏ ๐ค๐ฉ๐ข๐ณ๐จ๐ฆ ๐ฐ๐ง ๐๐๐.” Oyekunle Bamigboye
(04122022)(TUS)