PENGANTAR
Seperti yang pernah saya sampaikan bahwa pada mulanya jemaat Kristen tidak merayakan Hari Natal. Natal sebagai hari raya liturgi ditetapkan belakangan. Hari raya liturgi gereja dimula dan berpusat pada misteri Paska. Pada mulanya tidak ada susunan sistematis dan terencana untuk merayakan peristiwa-peristiwa Kristus. Secara evolusi gereja memberikan tanggapan atas peristiwa-peristiwa tersebut satu per satu. Bapak-bapak gereja sejak abad II merapikan, membentuk, menyusun, dan merekayasa (𝘵𝘰 𝘦𝘯𝘨𝘪𝘯𝘦𝘦𝘳) kisah teologinya sehingga menjadi bermakna, bertema, dan bercerita saling berurutan satu dengan lainnya. Meskipun demikian umat Kristen juga harus memahami bahwa kisah-kisah Kristus di dalam kitab-kitab Injil adalah kisah teologis, 𝗯𝘂𝗸𝗮𝗻 ulasan laporan jurnalistik historis. Setiap penulis kitab Injil memiliki teologi masing-masing yang khas, unik, berbeda dari setiap pengarang kitab Injil kanonik. Perbedaan teologi ini 𝘁𝗶𝗱𝗮𝗸 dapat digabungkan untuk diharmoniskan. Perbedaan itu justru anugerah bagi kita sebagai pembaca produk akhir Alkitab bahwa tidak ada pendapat tunggal untuk memahami Yesus Kristus. Perbedaan kisah teologis ini juga menolong kita jangan sampai terbuai kepada orang yang berjualan “kesaksian” pribadi.
PEMAHAMAN
Bacaan ekumenis untuk Minggu pertama sesudah Natal hari ini diambil dari Injil Matius 2:13-23 yang diawali dengan Yesaya 63:7-9, Mazmur 148, dan Ibrani 2:10-18.
Bacaan Injil Minggu ini oleh LAI dibagi menjadi tiga perikop (𝘱𝘢𝘴𝘴𝘢𝘨𝘦): 𝘗𝘦𝘯𝘺𝘪𝘯𝘨𝘬𝘪𝘳𝘢𝘯 𝘬𝘦 𝘔𝘦𝘴𝘪𝘳 (ay. 13-15), 𝘗𝘦𝘮𝘣𝘶𝘯𝘶𝘩𝘢𝘯 𝘢𝘯𝘢𝘬-𝘢𝘯𝘢𝘬 𝘥𝘪 𝘉𝘦𝘵𝘭𝘦𝘩𝘦𝘮 (ay. 16-18), dan 𝘒𝘦𝘮𝘣𝘢𝘭𝘪 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘔𝘦𝘴𝘪𝘳 (ay. 19-23). Bacaan Minggu ini khas Matius sehingga para ahli menyebut pengarang Injil Matius memiliki sumber sendiri alias Sumber M.
Muatan teologi di awal Injil Matius (pasal 1-2), yang mencitrakan teologi keseluruhan Injil Matius, Yesus adalah raja Yahudi mesianik keturunan Daud yang justru ditolak oleh para pemimpin Yahudi, tetapi diterima dan disembah oleh orang bukan-Yahudi. Para pemimpin Yahudi itu dicitrakan oleh Raja Herodes, sedang orang bukan-Yahudi dicitrakan oleh orang-orang majus.
Di awal Injilnya Matius langsung menggebrak bahwa Yesus juga menjadi 𝘐𝘴𝘳𝘢𝘦𝘭 𝘉𝘢𝘳𝘶 yang mengungsi ke Mesir dan dipanggil keluar (eksodus) dari Mesir. Eksodus adalah tema utama dalam sejarah keselamatan Israel (Perjanjian Lama atau PL). Tema eksodus menjiwai Injil Matius:
• Meskipun ada penolakan dan penindasan dari Raja Herodes (sejajar dengan Firaun di Mesir), Allah akan tetap berkarya melalui Anak-Nya, Israel baru (Mat. 2:15).
• Musa memimpin Israel Lama, Yesus adalah pemimpin Israel Baru.
• Apabila Musa memberi kitab Taurat kepada umat Israel, Yesus pun memberi “kitab Taurat” yang baru kepada Israel Baru: (1) Matius 5-7, (2) Matius 10, (3) Matius 13, (4) Matius 18, dan (5) Matius 24-25.
• Musa menerima Taurat di gunung, namun Yesus lebih daripada itu, bukan menerima, melainkan memberi “Taurat” pertama-Nya di gunung (lih. 𝘒𝘩𝘰𝘵𝘣𝘢𝘩 𝘥𝘪 𝘉𝘶𝘬𝘪𝘵 dalam Matius 5-7). Yesus membaharui Taurat lama dengan rumusan “𝘒𝘢𝘮𝘶 𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘯𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘳 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘪𝘧𝘪𝘳𝘮𝘢𝘯𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘯𝘦𝘯𝘦𝘬 𝘮𝘰𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘪𝘵𝘢 ...., 𝘵𝘦𝘵𝘢𝘱𝘪 𝘈𝘬𝘶 𝘣𝘦𝘳𝘬𝘢𝘵𝘢 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢𝘮𝘶 …”
Pada Minggu yang akan datang, 28 Desember 2025, saya akan berkhotbah di Hari Minggu pertama setelah Natal, ibadah sore. Gagasan utama yang ingin saya sampaikan adalah bahwa, sesuai dengan teologi Injil Matius, Yesus menjadi Israel yang baru, dengan memasuki kembali peristiwa-peristiwa Israel, dimulai dari Mesir. Jika Israel mengalami eksodus dari Mesir, kanak Yesus justru harus mengalami eksodus ke Mesir. Itu artinya, sekalipun Mesir tetap menjadi situs trauma kolektif/ketakutan kolektif bagi Israel, ia kini juga menjadi tempat perlindungan bagi kanak Yesus. Tantangan terbesar saya adalah bagaimana ini menjadi sebuah khotbah yang trauma/ketakutan sensitive. Jika Anda juga mengalami kegelisahan yang sama, beberapa catatan ini semoga bermanfaat. Pertama, jangan buru-buru menuntut umat untuk keluar dari trauma/takut dan luka mereka. Fokuskan pada kehadiran Allah melalui Yesus di dalam pengalaman trauma. Injil tidak menuntut mereka untuk memulih dengan cepat. Kedua, jangan dengan mudah menegasi pengalaman trauma/takut bernama “Mesir” itu, apalagi menjustifikasi displacement sebagai kehendak Allah. Memang tiga kali kata “digenapi” muncul di dalam bacaan Injil (ay. 15, 17, 23), seolah-olah menyiratkan bahwa Allah menetapkan peristiwa luka Mesir dan pengungsian Yesus. Namun, kita dapat memahaminya sebagai penetapan Allah untuk tetap menjadi Imanuel, yang menyertai manusia di setiap peristiwa hidupnya yang retak. Ketiga, sangat penting untuk mengakui displacement sebagai sebuah fenomena luka yang global—ingat Gaza, korban banjir Sumatra, homelessness, dll. Pengungsian keluarga kudus itu menjadi tanda bahwa Allah dapat ditemukan di sana juga, Immanuel.
Sebelum kita masuk ke pembahasan Bacaan Injil Minggu ini, kita segarkan lagi secara kelumit perikop yang mendahuluinya, yaitu perikop 𝘖𝘳𝘢𝘯𝘨-𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘢𝘫𝘶𝘴 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘛𝘪𝘮𝘶𝘳 (Mat. 2:1-13). Orang-orang Majus dari Timur itu adalah orang bukan-Yahudi pertama yang datang untuk menyembah Yesus sebagai Raja Yahudi yang baru dilahirkan (Mat. 2:2) karena mereka melihat bintang-Nya di Timur.
Pengarang Injil Matius tampaknya mendapat inspirasi membuat kisah teologisnya dari Bilangan 22-24. Di sana ada raja jahat (Balak) yang hendak mencelakai bangsa Israel dan Musa. Di sana ada juga si penenung (magi) Bileam yang bukan orang Israel. Bileam juga melihat bintang (Bil. 24:17). Bintang yang dilihat Bileam itu menandakan kelahiran Raja Daud.
“Bintang Daud” itu juga dilihat dan diungkapkan orang-orang majus kepada Raja Herodes (Mat. 2:1), si raja jahat yang mau membunuh Yesus: raja mesianik keturunan Daud, Israel Baru, 𝘔𝘶𝘴𝘢 𝘉𝘢𝘳𝘶. Raja Yahudi yang baru lahir itu adalah Sang Mesias yang dijanjikan Allah dan dinubuatkan di kitab nabi (Mikha 5:1). Ironisnya orang Yahudi sendiri tidak berusaha mencari rajanya yang baru dilahirkan itu, meskipun sudah punya petunjuk (kitab Mikha) tempat Ia akan dilahirkan: Betlehem.
Herodes versi Injil Matius dan Injil Lukas merujuk orang yang sama: Herodes Agung. Akan tetapi Herodes versi Injil Lukas tidak tahu apa-apa mengenai kelahiran Yesus dan ia tidak didatangi orang-orang majus. Herodes versi Injil Matius mengetahui kelahiran Yesus melalui informasi dari orang-orang majus dan semua imam kepala serta ahli-ahli Taurat yang dikumpulkannya (Mat. 2:2, 4). Yesus adalah raja Yahudi yang baru dilahirkan sekaligus Mesias yang dijanjikan Allah. Herodes menganggap Yesus sebagai saingannya, musuh yang harus dibunuh.
Herodes marah karena orang-orang majus itu tidak kembali kepadanya untuk memberitahu tempat Yesus berada. Ia lalu memberi perintah membunuh semua anak di Betlehem yang berumur dua tahun ke bawah. Atas ancaman pembunuhan itu Yesus harus menyingkir ke Mesir agar nubuatan nabi tergenapi: “𝘋𝘢𝘳𝘪 𝘔𝘦𝘴𝘪𝘳 𝘒𝘶𝘱𝘢𝘯𝘨𝘨𝘪𝘭 𝘈𝘯𝘢𝘬-𝘒𝘶” (lih. Hos. 11:1). Herodes adalah raja yang hendak mencelakai Yesus, sejajar dengan Balak raja jahat yang mau mencelakai bangsa Israel dan Musa.
Tema eksodus tampak dalam kisah pembunuhan anak-anak ini. Herodes adalah Firaun Mesir yang membunuh anak-anak Israel (lih. Kel. 1-2). Yesus adalah Musa yang luput dari pasukan Firaun itu. Pembunuhan anak-anak itu sekaligus menggenapi nubuatan nabi Yeremia (lih. Yer. 31:15). Matius yang mengutip ayat itu hendak memerikan (𝘥𝘦𝘴𝘤𝘳𝘪𝘣𝘦) cekaman teror itu lewat kesedihan Rahel, emak-emak Israel, yang anak-anaknya dibunuh oleh Herodes (Mat. 2:18).
Pengarang Injil Matius tampaknya tidak begitu suka memerikan Yesus sebagai Koresh, mesias dari Persia, yang mengalahkan Babel dan memulangkan orang-orang Yehuda (539-538 SZB). Matius lebih suka melukiskan Yesus sebagai Israel Baru dan Musa Baru dengan menampilkan adegan malaikat Tuhan (Yahweh) kepada Yusuf dalam Matius 2:20 yang sejajar dengan yang dikatakan Yahweh kepada Musa dalam Keluaran 4:19.
• "𝘒𝘦𝘮𝘣𝘢𝘭𝘪𝘭𝘢𝘩 𝘬𝘦 𝘔𝘦𝘴𝘪𝘳 𝘴𝘦𝘣𝘢𝘣 𝘴𝘦𝘮𝘶𝘢 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘪𝘯𝘨𝘪𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘤𝘢𝘣𝘶𝘵 𝘯𝘺𝘢𝘸𝘢𝘮𝘶 𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘮𝘢𝘵𝘪." (Kel. 4:19)
• "𝘉𝘢𝘯𝘨𝘶𝘯𝘭𝘢𝘩, 𝘢𝘮𝘣𝘪𝘭𝘭𝘢𝘩 𝘈𝘯𝘢𝘬 𝘪𝘵𝘶 𝘴𝘦𝘳𝘵𝘢 𝘪𝘣𝘶-𝘕𝘺𝘢 𝘥𝘢𝘯 𝘣𝘦𝘳𝘢𝘯𝘨𝘬𝘢𝘵𝘭𝘢𝘩 𝘬𝘦 𝘵𝘢𝘯𝘢𝘩 𝘐𝘴𝘳𝘢𝘦𝘭, 𝘬𝘢𝘳𝘦𝘯𝘢 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘩𝘦𝘯𝘥𝘢𝘬 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘶𝘯𝘶𝘩 𝘈𝘯𝘢𝘬 𝘪𝘵𝘶 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘮𝘢𝘵𝘪." (Mat. 2:20)
Yesus dibawa kembali ke Israel oleh Yusuf untuk memerikan Yesus sebagai Musa Baru untuk memimpin Israel Baru. Dengan demikian nubuatan nabi dalam kitab Hosea yang dikutip di Matius 2:15 terjadi: “𝘋𝘢𝘳𝘪 𝘔𝘦𝘴𝘪𝘳 𝘒𝘶𝘱𝘢𝘯𝘨𝘨𝘪𝘭 𝘈𝘯𝘢𝘬-𝘒𝘶.” (lih. Hos. 11:1).
Meskipun Yesus adalah Musa Baru, namun Yesus harus dikenal sebagai “Yesus Orang Nazaret”. Untuk itu pengarang Injil Matius membuat alasan agar Yusuf tidak tinggal kembali di Betlehem dengan menampilkan Arkhelaus, anak Herodes, memerintah di tanah Yudea. Lewat mimpi Yusuf dinasihati untuk membawa Yesus (dan Maria) ke Nazaret di Galilea dan tinggal di sana agar tergenapi nubuatan-nubuatan nabi-nabi (Mat. 2:23).
Entah nubuatan-nubuatan yang mana yang dimaksud oleh Matius dalam ayat 23. Tampaknya ia hanya hendak menyampaikan bahwa Allah akan selalu menggenapi janji-Nya. Hal ini sangat bolehjadi karena jemaat Matius bagian terbesar berlatar belakang Yahudi dan mengenal kitab-kitab PL sehingga tak terlalu sulit bagi Matius menulis kitab Injilnya.
(26122025)(TUS)