Sudut 𝗣𝗮𝗻𝗱𝗮𝗻𝗴 [𝗛𝗮𝗿𝗶 𝗡𝗮𝘁𝗮𝗹, 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝗔], Permulaan
PENGANTAR
24 Desember 2025, umat Kristen mengakhiri masa Adven. Adven berakhir pada saat matahari terbenam, 24 Desember 2025, selepas Maghrib 𝘀𝘂𝗱𝗮𝗵 𝗛𝗮𝗿𝗶 𝗡𝗮𝘁𝗮𝗹, Hari Kelahiran Yesus. Peralihan hari dimula pada tengah malam diperkenalkan pada 1582 bersamaan dengan penerapan kalender Gregorian. Sebelumnya hari berakhir pada saat matahari terbenam dan langsung beralih ke hari baru.
Secara internasional peralihan hari pada tengah malam ditetapkan pada 1884. Meskipun demikian Gereja tetap memelihara tradisi hari baru dimula selepas matahari terbenam untuk keperluan liturgi hari raya seperti Paska dan Natal.
Tak sedikit orang Kristen yang mencerap Hari Natal secara kalender tarikh umum dimula tengah malam pada pukul 00.00. Akan tetapi itu bukan pandangan Gereja secara ekumenis. Menurut tahun liturgi gerejawi Hari Natal dimula hari ini selepas matahari terbenam. Terlampir saya tampilkan linimasa Natal yang benar menurut tahun liturgi gerejawi.
PEMAHAMAN
Secara tradisi yang kemudian menjadi liturgi baku ada tiga sesi ibadah Hari Natal: Kebaktian Malam Natal (𝘔𝘪𝘴𝘴𝘢 𝘪𝘯 𝘕𝘰𝘤𝘵𝘦), Kebaktian Pagi (𝘔𝘪𝘴𝘴𝘢 𝘪𝘯 𝘈𝘶𝘳𝘰𝘳𝘢), dan Kebaktian Siang (𝘔𝘪𝘴𝘴𝘢 𝘪𝘯 𝘋𝘪𝘦). Dalam kebaktian-kebaktian tersebut bacaan pertama diambil dari kesaksian dan nubuat Nabi Yesaya akan kehadiran Sang Mesias. Pembacaan Injil untuk homili menyesuaikan waktu ibadah.
• Kebaktian Malam: Lukas 2:1-14, (15-20)
• Kebaktian Pagi: Lukas 2:(1-7), 8-20
• Kebaktian lanjutan: Yohanes 1:1-14 (kalau ada)
Dari dua bacaan Injil yang berbeda itu diharapkan umat menjadi jelas ragam teologi keduanya. Kehadiran Yesus versi narasi Injil Lukas dan versi madah Injil Yohanes merupakan karya sastra teologis untuk mengungkapkan iman jemaat mereka masing-masing mengenai siapa Yesus.
Di dalam Alkitab sedikitnya ada lima pandangan tentang Yesus: Menurut Matius, Markus, Lukas, Yohanes, dan Rasul Paulus. Kelima pihak ini juga membuat banyak sekali metafor untuk memerikan (𝘥𝘦𝘴𝘤𝘳𝘪𝘣𝘦) siapa Yesus. Kita sebagai penerima produk akhir Alkitab sepatutnya berbahagia dengan beraneka pandangan sehingga kita dapat merefleksikan hidup menurut kehidupan kita masing-masing. Juga perbedaan pandangan itu mengajari kita untuk tidak boleh mendaku satu-satunya ajaran yang benar tentang Yesus. Yesus tidak boleh diprivatisasi dan dimonopoli.
Dalam Sudut Pandang edisi Hari Natal ini saya mengambil bahan bacaan dari Injil Lukas, sesuai bacaan tahun A.
Pengarang Injil Matius menulis kisah kelahiran Yesus cukup singkat, penuh teror, dan langsung diceritakan sesudah Silsilah Yesus. Alur cerita Injil Matius 𝘵𝘰 𝘵𝘩𝘦 𝘱𝘰𝘪𝘯𝘵. Penulis Injil Lukas mengarang kisah Natal lebih rinci dan rumit. Pengantarnya cukup panjang.
Sebelum kisah kelahiran Yesus ada cerita kelahiran Yohanes (Pembaptis) yang ajaib. Yohanes dan Yesus menurut pengarang Injil Lukas adalah sepupu karena ibu Yohanes, Elisabet, bersaudara dengan Maria, ibu Yesus. Elisabet yang mandul mengandung secara ajaib seperti yang terjadi pada Sara istri Abraham, Ribka istri Ishak, Rahel istri Yakub, dan Hana istri Elkana. Namun keajaiban kehamilan Maria belum pernah terjadi sebelumnya karena ia masih perawan dan tak bersuami (Luk. 1:27, 34).
Lukas memberi nama malaikat yang menjumpai Maria dengan Gabriel (Luk. 1:19,26). Gabriel adalah malaikat penyingkap Akhir Zaman yang pernah ikut ke panggung cerita di kitab Daniel (pasal 8-9). Kehadiran Gabriel pada awal Injil Lukas tampaknya hendak mengungkapkan bahwa Akhir Zaman itu sudah mula digenapi dengan kelahiran Yohanes dan Yesus.
Lukas menyampaikan pendapat teologis bahwa Yesus adalah Anak Allah sejak dalam kandungan karena Yesus dikandung dari Roh Kudus. Matius pun berpendapat demikian. Kedua penulis Injil ini tidak bersependapat dengan pengarang Injil Markus yang mengatakan Yesus adalah Anak Allah sesudah dibaptis oleh Yohanes.
Berbeda dari Matius yang bermatra “nasional”, latar kelahiran Yesus dalam Injil Lukas bermatra “internasional”, seluruh dunia. Lukas 2:1 tertulis “Pada waktu itu Kaisar Agustus mengeluarkan suatu perintah menyuruh mendaftarkan semua orang 𝗱𝗶 𝘀𝗲𝗹𝘂𝗿𝘂𝗵 𝗱𝘂𝗻𝗶𝗮.”.
Para ahli Perjanjian Baru meragukan Gayus Oktavius alias Kaisar Agustus memberi perintah sensus. Di sini kita harus membaca 𝗰𝗲𝗿𝗶𝘁𝗮 𝘀𝗲𝗯𝗮𝗴𝗮𝗶 𝗰𝗲𝗿𝗶𝘁𝗮. Tampaknya Lukas hendak menyampaikan bahwa konteks kelahiran Yesus adalah Kekaisaran Romawi yang sedang memerintah “di seluruh dunia”. Sejak awal Lukas sudah menegaskan bahwa karya Yesus untuk seluruh dunia. Dalam Injil Lukas jilid kedua (Kisah Para Rasul) sesudah Yesus naik ke surga, para murid-Nya akan melanjutkan karya-Nya ke seluruh dunia atau sampai ke ujung bumi (Kis. 1:8).
Dalam versi Injil Matius rumah Yusuf dan Maria di Betlehem dan mereka belum pernah ke Nazaret, Galilea, apalagi punya rumah di sana. Dalam versi Injil Lukas rumah Yusuf dan Maria di Nazaret, Galilea, dan mereka tak punya rumah di Betlehem. Jadi pengarang Injil Lukas membuat alasan agar Yesus lahir di Betlehem sekaligus menegaskan bahwa Yesus adalah keturunan Raja Daud seperti yang sudah dinubuatkan Nabi Mikha (Lih. Mik. 5:1).
Lukas melangkah lebih jauh ketimbang Matius yang mengisahkan secara singkat kelahiran Yesus di Betlehem. Dalam Injil Lukas Yesus yang baru lahir itu dibungkus dengan lampin dan dibaringkan di palungan karena tidak ada tempat di 𝘬𝘢𝘵𝘢𝘭𝘶𝘮𝘢 (Luk. 2:7). Ada yang memberi makna kataluma sebagai rumah penginapan dan ruang khusus menginap di dalam rumah. Apa pun pilihannya akan berimplikasi pada perbedaan penafsiran.
Terlepas dari perdebatan itu, jika kita membaca cerita sebagai cerita, pengarang Injil Lukas membuat alasan teologisnya untuk menjelaskan Yesus lahir di kandang dan dibaringkan di palungan karena tidak ada tempat di tempat yang 𝘀𝗲𝗵𝗮𝗿𝘂𝘀𝗻𝘆𝗮. Mengapa?
Lukas sepertinya hendak menciptakan kesan kontras atau paradoks: Anak Allah yang Maha Tinggi ternyata lahir dengan cara yang sederhana dan di lingkungan masyarakat kelas bawah, yaitu para gembala seperti yang dikisahkan sesudah Yesus dilahirkan (Luk. 2:8-20). Juga, Lukas tampaknya merujuk kitab Yesaya “Lembu mengenal pemiliknya, tetapi Israel tidak; keledai mengenal palungan yang disediakan tuannya, tetapi umat-Ku tidak memahaminya." (Yes. 1:3). Para gembala itu merupakan Israel baru yang mengenal pemiliknya dan mengenal palungannya. Oleh karena itulah malaikat menjadikan palungan sebagai tanda bagi para gembala (Luk. 2:10-12). Sesudah malaikat itu pergi, para gembala menjumpai Yesus di palungan (Luk. 2:16).
Dari keseluruhan bacaan Injil Lukas hari ini kita dapat mengambil pesan-pesannya:
• Pesan malaikat Allah kepada kita (lewat para gembala) adalah kelahiran Yesus merupakan kesukaan besar untuk seluruh bangsa. Sejak awal Lukas sudah mengungkapkan imannya bahwa karya Yesus ditujukan kepada semua orang baik orang Yahudi maupun orang bukan-Yahudi. Berbeda dari iman penginjil Matius: karya Yesus sebenarnya hanya untuk orang-orang Yahudi, tetapi karena ditolak mereka, barulah anugerah keselamatan diberikan kepada orang bukan-Yahudi.
• Yesus merupakan Mesias keturunan Daud yang dijanjikan Allah akan duduk di tahta Daud dan kerajaan-Nya tidak akan berkesudahan (Luk. 1:32-33; Kis. 2:36). Akan tetapi untuk mencapai kemuliaan-Nya itu Sang Mesias harus menderita terlebih dulu (Luk. 24:26).
• Lukas menciptakan tokoh Maria sebagai teladan jemaat dan pembacanya bagaimana bereaksi atas kehendak Allah yang barangkali terasa menyakitkan. Misal, hamil tanpa suami itu sungguh menyakitkan. Lukas 2:19 “Tetapi Maria menyimpan 𝘀𝗲𝗴𝗮𝗹𝗮 𝗽𝗲𝗿𝗸𝗮𝗿𝗮 𝗶𝘁𝘂 di dalam hatinya dan merenungkannya.”. 𝘚𝘦𝘨𝘢𝘭𝘢 𝘱𝘦𝘳𝘬𝘢𝘳𝘢 𝘪𝘵𝘶 dapat dimaknai lebih luas pada semua yang terjadi dalam episode Kelahiran Yesus (Luk. 2:1-20). Menyimpan di dalam hati dan merenungkannya adalah tindakan penting. Itu syarat untuk berbuah (Luk. 8:15).
Dapat disarikan lagi: Natal barulah kisah permulaan. Kisah untuk direnungkan agar berbuah dalam kehidupan nyata, pengenangan harus seiring sejalan dengan perwujudan, ibadah simbolis ritual atau liturgis harus berubah dalam tindakan hidup keseharian . Tanpa berbuah membuat perayaan Natal menjadi hampa tak bermakna.
𝘘𝘶𝘰𝘵𝘦 𝘰𝘧 𝘵𝘩𝘦 𝘥𝘢𝘺: "𝘐 𝘴𝘵𝘰𝘱𝘱𝘦𝘥 𝘣𝘦𝘭𝘪𝘦𝘷𝘪𝘯𝘨 𝘪𝘯 𝘚𝘢𝘯𝘵𝘢 𝘊𝘭𝘢𝘶𝘴 𝘸𝘩𝘦𝘯 𝘐 𝘸𝘢𝘴 𝘴𝘪𝘹. 𝘔𝘰𝘵𝘩𝘦𝘳 𝘵𝘰𝘰𝘬 𝘮𝘦 𝘵𝘰 𝘴𝘦𝘦 𝘩𝘪𝘮 𝘪𝘯 𝘢 𝘥𝘦𝘱𝘢𝘳𝘵𝘮𝘦𝘯𝘵 𝘴𝘵𝘰𝘳𝘦 𝘢𝘯𝘥 𝘩𝘦 𝘢𝘴𝘬𝘦𝘥 𝘧𝘰𝘳 𝘮𝘺 𝘢𝘶𝘵𝘰𝘨𝘳𝘢𝘱𝘩." Shirley Temple
Selamat Hari Natal!
(24122022)(TUS)